CEO Itu Mantan Kekasih Ku

CEO Itu Mantan Kekasih Ku
Bertemu Mantan


__ADS_3

Hari ini Lisa bangun agak telat, karena semalam ia tidur nyenyak sekali. Dengan langkah terburu-buru Lisa bangkit dari tempat tidur lalu menuju kamar mandi. Lisa mandi secepat dan sesingkat mungkin. meskipun Durasinya sudah dikurangi, namun tetap saja memakan waktu yang cukup lama.


Selesai mandi, Lisa meraba bagian pojok dinding, tempat dimana Lisa meletakkan handuk seperti biasanya. "kok ga ada sih" Lisa berguman sendiri. Lalu ia melihat kelantai mengira bahwa handuknya terjatuh. Namun sejurus kemudian dia ingat bahwa ia tidak membawa haduknya ke kamar mandi tadi.


"Ah, kebiasaan deh" Lisa menggerutu sendiri. beruntung dia hidup sebatang kara di dalam kos ini, meskipun masalah yang satu ini sering kali terjadi berulang kali, tidak masalah. Toh, tidak ada juga orang yang akan melihatnya.


Setelah keluar dari kamar mandi, Lisa berlari menyambar handuk yang berada di kaki sofa tempat tidur, lalu melangkah menuju Lemari.


Lisa memakai baju yang biasa ia kenakan saat berada di kampus. meskipun sekarang ukurannya sedikit sempit, setidaknya masih bisa di pakai sebelum waktu gajiannya nanti.


Lisa menyengir menatap tubuhnya dari pantulan kaca. tubuhnya terbilang sangat berisi.


"walaupun setiap hari Aku hanya makan ketoprak di warung sebelah, ku rasa tubuhku ini menerimanya dengan baik" Lisa berbicara sendiri. Hidup hemat adalah prinsip Lisa. Meski itu hanya uang makan sekalipun.


Setelah siap-siap, Lisa segera keluar dari kosnya. lalu menju jalan raya. Kali ini ia akan berangkat naik ojek. Bukan ojek online, karna Hp jadulnya tidak bisa memakai jasa tersebut.


Untuk menemukan ojek, Lisa harus berlari menuju pangkalan ojek yang ada di sekitar jalan.


"ojek pak"


"kemana Neng?"


"Perusahaan xxxx"


"Siap neng!, helemnya di pakai dulu neng" ujar tukang ojek mengingatkan.


Lisa memakai helem sesuai peritah si tukang ojek. Setelah itu ojek itu melaju dengan kecepatan tinggi sesuai dengan intruksi Lisa. setibanya di Kantor prusahaan, lisa membayar tukang ojek tersebut dengan uang recehnya.


"Dihitung dulu pak" perintah Lisa. ojek itupun menghitung jumlahnya.


"Kurang seribu neng."

__ADS_1


Lisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. karna teburu-buru ia jadi lupa membawa uang tambahan. Dan uang yang ia berikan ke tukanng ojek itupun adalah uang sisa bayar angkot kemarin.


Lisa meronggoh isi tasnya dan menemukan 1 bungkus coklatos dan tiga buah permen.


"Seribunya pake ini saja ya pak" Lisa memberikan sebungkus coklatos dan tiga buah permen kepada tukang ojek tersebut.


"Lha kok?"


Lisa tidak mengubbris protes si tukang ojek. lantas ia langsung berlari masuk kedalam gedung perusahaan.


" BUSET DAH, Kerja kantoran kok bayar ojek pake baginian" grutu tukang ojek. lalu pergi melajukan motornya.


Sesampainya Lisa diruangan perusahaan, Aldi sudah menunggu Lisa disana. "Maaf, saya telat" Lisa menundukkan wajahnya dalam-dalam.


"Minta maafnya nanti saja," Ayo ikuti aku!"


Lisa menurut. Aldi membawanya kelantai 15, di situ ruangan tempat Lisa bekerja dan juga Ruangan CEO perusahaan Hardware group.


"ini tempatmu," dan itu adalah ruangan CEO Hardware grop. Aldi menunjuk ke sebuah pintu ruangan yang tertutup. Lisa mengangguk mengerti.


"Iya"


"hm, Aku memaafkanmu" ujar Aldi dengan wajah yang dibuat sebiasa mungkin. "Kau masuklah keruangan itu," CEO Hardware menunggu mu." kata Aldi memberi tahu.


"Langsung masuk saja, tidak usah mengetuk pintu." lanjut Aldi.


Lisa mengangguk. Ketika ia sampai di depan pintu,


Bukannya tidak sopan ya, masuk tanpa mengetuk pintu. batin Lisa.


Lisa melihat kebelakang, memastikan bahwa Aldi sudah pergi. Dengan begitu dia bisa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dan ternyata Aldi masih berdiri disana sambil memberi intruksi agar ia segera masuk.

__ADS_1


Perlahan Lisa membuka pintu itu. lalu menutupnya kembali. Lisa mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. "perfect. ruangannya sangat besar dan luas" guman Lisa. Baigroun dindingnya yang begitu bagus membuat Lisa tersenyum kagum. namun senyuman itu memudar ketika Lisa mendengar suara orang berdehem.


Mata Lisa tertuju pada sosok lelaki yang tengah membaca dkumen di tangannya.


"Permisi," ujar Lisa sambil membukkan setengah badannya.


"harusnya Kau mengatakan itu sebelum mengetuk pintu" ujar Dalzen dengan tenang.


Lisa menundukkan wajahnya, tidak berani menatap pria itu"


"Duduklah"


Lisa pun menurutinya.


"Kau bahkan tidak mengetuk pintu terlebih dahulu" Lanjut Dalzen yang masih fokus dengan dokumennya.


"M-maafkan saya"


"Hm. Siapa namamu?" Dalzen pura-pura bertanya.


"Lisa pak"


"Dalzen meletakkn Dokumennya di atas meja. lalu menatap Lisa dengan intens. ia memperhatikan Lisa yang masih merudukkan kepalanya.


" Mau sampai kapan Kau seperti itu?" tanya Dalzen dengan tenang. dan Akhirnya Lisa memberanikan diri untuk menegakkan kepala, lalu membalas tatap Dalzen.


Deg


Tatapan mereka bertemu. Lisa menatap Dalzen dengan tatapan tak percaya sekaligus bingung. Pertama, tak percaya akan bertemu dengan mantan kekasihnya di sini. Kedua, bingung kenapa Dalzen bisa berada di prusahaan ini. bukankah dulu setelah lulus SMA dia pergi kuliah keluar negri? seharusnya sekarang dia juga berkerja disana kan?


Terlintas masalalu ketika mereka maih SMA. Waktu itu Dalzen duduk di bangku kelas dua belas, sedangkan Lisa baru menduduki kelas sepuluh.

__ADS_1


Mereka menjalin hubungan selama 1 tahun. Karna setelah Dalzen Lulus ia memutuskan untuk Kuliah keluar Negri. Mereka tidak putus, ataupun mengakhiri hubungan, karna sebelum pergi Dalzen hanya mengatakan bahwa dia akan menjeput Lisa suatu hari nanti. Lisa hanya menurut saat itu, karna waktu itu Lisa masih terlalu labil untuk mengerti bertapa manisnya janji seorang lelaki.


Lisa juga teringat dengan permintaan Dalzen yang terakhir kalinya sebelum mereka benar-benar berpisah. "berikan ciuman pertamamu" seperti kucing yang takut dengan mentimun Lisa mengabulkan permintaan Dalzen. dan Peristiwa itu selalu terngiang-ngiang di kepala Lisa sampai saat ini.


__ADS_2