
Lisa mengerjapkan mata dua kali. memutuskan kotak matanya dengan Dalzen. ia gugup tidak tahu harus berekspresi seperti apa lagi. Mau lari, Itu tidak mungkin. Mau mengusir Dalzen dari sini, Memangnya siapa Lisa bisa seenaknya mengusir orang sembarangan. Menunggu Dalzen pergi? Hah! Sekarang dia baru ingat, bahwa Hardware adalah nama dari Dalzen Hardwarenzel. tanpa menanyainya pun sudah Pasti dia CEO di perusahaan ini.
Tujuh tahun adalah waktu yng sangat lama bukan?, tidak ada salahnya jika Lisa berpura-pura tidak mengenalinya. Lagi pula Dalzen juga belum tentu masih mengingatnya. Ya, ini adalah cara jitu agar Lisa tetap bisa bekerja disini.
Lisa memasangkan senyumnya setipis mungkin. menghilangkan kegugupannya dengan menautkan kedua tangannya di bawah kolong meja.
"Saya harus mulai dari mana ya pak?" tanya lisa thedopoin. Dalzen menatapnya dingin. lalu berdiri mencondongkan badannnya kedepan kursi yang Lisa duduki.
Tangan kanannya menyentuh bibir Lisa dan tangan kirinya bertumpu di atas meja. "Kau bisa memulainya dari sini" ucap Dalzen.
Lisa glagap. Apakah Dalzen masih mengingatnya? pertanyaan yang ingin Lisa ketahui kebenarannya. Lisa menyingkir tangan Dalzen dari bibirnya secepat mungkin.
"Hahaha, bapak bisa aja" Lisa tertawa garing. sungguh di dalam lubuk hatinya yang terdalam, ingin sekali rasanya ia menendang muka Dalzen sekarang juga.
Dalzen menatap Lisa dengan intens lalu pura-pura bertanya. "Apa aku mengenalimu sebelumnya?"
__ADS_1
"tidak! em, karna saya baru pertama kali bertemu bapak disini," jawab Lisa dan dibalas dengan anggukan oleh Dalzen.
Dalzen mengambil dokumen yang sempat iya baca tadi. lalu memberikannya kepada Lisa. "ini peraturan-peraturan yang harus di patuhi oleh para pekerja di prushaan ini. " Coba Kau baca peraturan nomor tiga baik-baik"
Lisa mengambil Dokumen tersebut, lalu membacanya. perturan nomor tiga itu menjelaskan bahwa semua para pekerja harus berkata jujur tetang segala hal, baik hal kecil sekalipun.
Lisa menatap Dalzen yang kebetulan juga sedang mentapnya. "Ku tanya sekali lagi, apa kita pernah saling mengenal sebelumnya?" ucap Dalzen dengan penuh penekanan. Lisa menjabnya dengan menggelengkan kepala.
Dalzen berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati Lisa. Mengukung lisa menggunakan tangan kirinya yang bertumpu pada kursi yang Lisa duduki.
"Kau benar-benar telah melupkan orang yang pertama kali mencicipi manisnya bibir ini?" ucap Dalzen sambil mengusap bibir Lisa dengan ibu jarinya.
Lisa merasa kesal dan risih dengan apa yang Dalzen lajukan. Lisa menurunkan bola matanya kebawah. melihat gerakan ibu jari Dalzen dengan leluasa menari di atas bibirnya.
HAP
__ADS_1
"AGRRHH!!" Dalzen meringis kesakitan ketika Lisa tba-tiba saja melahap ibu jarinya dengan sangat ganas. Dalzen berusaha menarik ibu jarinya yang masuk di dalam mulut Lisa.
" Hey gem-bul, Lepaskan!" ucap Daren terbata-bata di sela-sela menahan rasa sakit. Lisa menggelengkan kepalanya, menandakan bahwa ia tidak akan melepaskan gigitan tersebut.
HAH. "itulah akibat karna kau berani menyentukku!" teriak Lisa sambil mengadahkan keplanya, lalu menatap Dalzen dengan Tajam. Dalzen berdiri tanpa menghiraukan teriakan Lisa. ia sibuk mengibas- mengibaskan tangannya yang terasa sakit dan kepanasan.
"Dan Kau panggil aku apa tadi? Gembul?, Jangan panggil Aku dengan sebutan itu lagi!." lanjut Lisa menatap Dalzen dengan tatapan Sinis.
Dalzen membalas tatapan itu. ia mengesmpingkan rasa sakitnya dengan menyunggingkan sebuh senyuman kepada Lisa. Wanitanya yang dulu penurut dan penakut kini sudah tumbuh menjadi wanita yang ganas dan pemberani. Dalzen senyum-senyum senddiri ketika mengingat kenangannya dan Lisa tujuh tahun yang lalu. bertapa penakut dan penurutnya Lisa di masa itu. Wajahnya penuh kepolosan dan kegemassan. Dalzen melihat setiap inci perubahan di wajah Lisa. menyadari itu membuat Lisa memalingkan wajahnya.
"Maafkan aku" ucap Dalzen dengan tulus. "Aku tau kau sangat membenciku."
Dalzen berlutut di hadalan Lisa. "Hey, Lihat aku" ucap Dalzen sambil memegang kedua tangan Lisa. Lisa menoleh. "Apa Kau ingat dengan janjiku?" tanya Dalzen. "tidak!" jawab Lisa dengan ketus. Dalzen menghela nafas berat, lalu kembali berdiri.
"Aku tau kau tidak akan membuat ini mudah." Dalzen kembali ke posisi semula. lalu mengambil beberapa berkas kemudian memberikannya pada Lisa.
__ADS_1