Cerita Cinta Rianda

Cerita Cinta Rianda
Apa Salahnya Jatuh Cinta


__ADS_3

Selamat Membaca


"Apa salahnya aku menyukai cowok? Aku tanyakan ibu tidak ya? Tapi aku takut"


Rianda tengah mondar-mandir di kamarnya sendiri.dia sudah mengenal menyukai seorang pemuda yang dirasakannya sangat menarik di mata, begitu hadir dalam mimpi, dalam setiap langkahnya juga selalu teringat bila sedang makan ,sedang minum apapun yang Rianda lakukan.


“Aku takut mamaku marah? Apalagi papaku, bisa-bisa aku digantung di pohon toge.” gumam Rianda sambil mengacak rambutnya jadi seperti macan bangun tidur.


“Kakak, ayo lekas turun! kamu mau berangkat sendiri atau diantar? Ayo ini sudah jam setengah tujuh bisa telat masuk sekolah.” omelan sang  mama memekikkan telinga di pagi hari. Rianda cepat-cepat merapikan kembali rambutnya yang seperti singa, Rianda mengambil sesudah menyisir rambutnya rapi, memakai hijab sekolahnya dan segera turun ke bawah.


“Kebiasaan deh kakak lama.” omel mama kembali yang sudah siap mengantarkan Rianda dan adiknya Soni ke sekolah, Soni sang adik tersenyum mengejek.


“Mah. Kakak punya pacar.” celetuk Soni tiba-tiba, Rianda yang mendengar Soni mengadu ke mama langsung memelototinya. Mama tersentak kaget, dan tersenyum tipis.


“Apa benar itu, ka?” tanya mama, Rianda sedikit gelagapan.


“Gak, kok Mah. Cuman temenan sok tau tuh Soni, orang dia kakak kelas aku yang ospek mah. Itu rumahnya di gang sana mah." jawab polos Rianda.membuat mama mengangguk mengerti.


“Okw, Soni kamu jangan asal nuduh kakakmu ya,belum tentu mereka pacaran baru temenan.’ tegas mama sambil menggoda Rianda..


“Ya..ya, aku ngerti. Sudah mah, ayo berangkat nanti aku telat nih bagian aku petugas upacara.” jawab Soni sambil melihat jam di tangannya.


Soni segera masuk ke mobil, begitu juga dengan Rianda,. Dan  mama masuk di samping kemudi, mobil pun melaju kearah sekolahan Soni dan rianda. Kebetulan sekolah Soni dan Rianda searah, sekolah Soni duluan yang dituju. Suasana pagi hari begitu padat merayap, Rianda dan Soni tampak gusar, takut mereka kesiangan di hari Senin mana tahun pertama masuk sekolah setelah liburan panjang..


“Akh,macet nih mah.Kakak turun aja pake gojek,telat lo!’ ucap Soni memberikan saran, Rianda melihat ke arah kaca di sebelahnya.


“Iya,nih kakak kesiagan kalo gini dek.Mah,kakak turun disini naik ojek apa gojek ya.: jawab Rianda .sang mama yang dipanggil putrinya melihat ke belakang dan mengangguk.


“Kak, itu seragamnya sama dengan kamu, Sana kamu nebeng dia aja gih!: ucap mama menunjuk pemuda di sebelah  kaca depan mama yang  memakai motor sport warna merah.Belum Rianda menolak jangan mah, mama membuka kaca jendela dan memanggil pemuda itu.

__ADS_1


“Nak, tunggu sebentar. Anak ibu bisa ikut nebeng ke sekolah SMA Tunas Bangsa, Kamu sekolah disana kan?’ tanya mama, dan pemuda itu menengok dan membuka kaca helmnya.


“Boleh, tante. Kebetulan macet parah ini.” jawab Pemuda itu.. Mama mengangguk dan menyuruh Rianda cepat keluar mobil. dan juga menengok Soni, mengambil uang untuk Soni naik gojek di depan sana.


“Sudah sana kakak,Iya, Soni kamu juga turun disini jalan sedikit  lima langkah di depan ada banyak ojek di perempatan , kamu juga naik ojek nih uangnya takut telat kamu.” ucap mama, Rianda dan Soni turun di jalan yang macet, Rianda segera mendekati pemuda bermotor itu sedangkan Soni berjalan ke depan lima langkah menuju perempatan jalan tempat dimana banyak ojek atau gojek mangkal di sana.


Rianda berjalan cepat menuju motor pemuda itu, pas mendekat sedikit kaget. Ternyata pemuda itu adalah pemuda yang Rianda sukai, yang selalu ada dalam mimpi dan bayangannya. Mencintaimu dalam diam seperti itulah Rianda sekarang. salting pastinya Rianda.


“Mmm, ayo cepat naik nanti kita telat!” perintah pemuda itu, Rianda hanya mengangguk kikuk. Menahan detak jantung yang hendak loncat dan pipi Rianda yang kemerahan.


Rianda mendekat dan menaikkan kakinya ke motor dan mendudukkan pantatnya di kursi belakang motor. Namun Rianda bingung harus pegangan kemana, ke baju sekolah ke belakang di tengok tidak ada, tidak seperti motor bebek lainnya, ini motor sport.


“Pegangan sini ke pinggang gue!” titah pemuda itu, tahu kalau Rianda tengah bingung nggak tahu harus bagaimana. Mengambil tangan Rianda mengarahkan untuk memeluknya. Rianda diam hanya menurut,


“Ini anak kaku banget,gak pernah boncengan sama cowok ya,norak.’ batin pemuda itu.


“Duh, ini jantung tidak aman. Selamatkan jantungku, Tuhan. Ohn Jantung kamu bisa diem gak!” batin Rianda bergejolak. Dalam pelukan punggung pemuda itu, Rianda merasa hangat. dan jantung yang berdebar-debar, seperti sedang berdansa. Apa begini rasanya jatuh cinta?


Dua puluh menit, akhirnya Rianda sampai di gerbang sekolah. Motor pemuda itu memasuki gerbang sekolah yang tampak ramai, ada beberapa orang menatap pemuda dan Rianda berboncengan dengan  rasa iri, ada juga yang yang heboh..


“Siapa yang dibonceng Dani, dia gak pernah mau boncengan sama cewek yang gak dia kenal.” ucap Monica teman sekelas Dani juga pengagum Dani sang ketua OSIS dan pemain handalan basket ball di sekolah SMA Tunas Bangsa. Monica ini gadis populer keturunan Indo-Jerman yang sudah lama mengagumi Dani ,tetapi sering diabaikan Dani karena Monica suka membuat ulah membuat Dani Irfill.


“Gak usah cemburu Sin, modelan kayak gitu paling juga besok dibuang Dani. Dia mah gak ada apa-apanya sama lo. Paling juga tuh cewek tetangga dia, yang nebeng ke sekolah aja.” hibur Dian sambil mengusap bahu Monica, dan Monica mengangguk setuju.


“Ya, gue harap begitu. Tapi kalo tuh cewek ada maunya berhadapan sama gue!’ jawab Monica, Dian mengangguk mengerti.


“Lo tenang aja, biar gue cari tahu tentang gadis baru itu. Dia sepertinya adik kelas kita deh.” ucap Rara menimpali diantara kedua temanya yang dari tadi mengamati Rianda yang baru turun dari motor dan pergi ke kelasnya.


Riamda turun dari motor Dani, dan membereskan roknya kembali. Rianda mendekati Dani dan mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


“Terima kasih sudah dikasih tumpangan.’ ucap  Rianda menatap mata Dani, Dani diam dan menyibakkan rambutnya sambil menaruh helm diatas motornya.


“It’s oke. Nama kamu siapa? kamu anak kelas satu ya?” jawab Dani sambil menanyakan yang dari tadi ingin Dani tanyakan, Rianda seperti tersetrum saat melihat mata Dani.


“Mmm, namaku Putri Rianda Hapsari kak. Iya aku anak baru, kelas satu C.” jawab Rianda mengalihkan pandangannya berharap ada teman SMP nya yang sekolah disini.


“Ya sudah .Cepat cari kelas kamu. Kelas satu sebelah kiri sana, Sudah gitu langsung kelapangan buat upacara bendera hari Senin.” titah Dani sambil menunjukkan arah Kirinya, dan Rianda  mengangguk dan berbalik , berjalan ke arah kiru mencari kelasnya berada.


Dani pun turun dari motor, mendapat ejekan dari teman-teman kelasnya termasuk geng Monica yang dari tadi melihat pemandangan Dani memboncengi Rianda. Guntur teman sebangku Dani mendekati dan tersenyum geli dengan gaya meledeknya.


“Bos, tumben boncengin cewek anak baru lagi, mana bening begitu belum kena bedak kosmetik ala putri Monica.’ goda Guntur sambil menepuk pundak Dani, Dani melototi Guntur dan menjitak kepalanya.


“Lah, kepala lo isinya cewek mulu, itu anak tetangga gue beda gang. Gue cuman kasihan tadi, mamanya minta tolong, kan gue gak enak nolak mamanya..’ jawab  Dani dan guntur hanya membulat mulutnya kemudian di comot mulutnya sama Dani.


“Mulut lo, mirip Donal bebek” ucap Dani sambil tertawa terbahak-bahak, Guntur gak terima bibirnya tiba-tiba di comot Dani.


“Anjir, Dani tangan lo bau motor. Ya ilah, mulut gue diperawani Dani kasihan amat calon pacar Gue, Dani.”  teriak Guntur. Dani bertolak pinggang dan menyuruh Guntur bergegas ke lapangan upacara.


“Eh, udah lo perasaan banget kaya cewek lo. Sudah sana siapin buat upacara , jangan lupa Si Anton, dan Si Andi juga, gue ke kelas sebentar gue nyusul kesana!’ Dani mengusir Guntur dan menyuruh Guntur ke lapangan, Guntur menggerutu sepanjang jalan.


“Untung lo bos gue yang selalu bantu gue kalo gak, Ogah gue” gerutu Guntur sambil berjalan dan diliatin anak-anak cewek yang dilewatinya, tetapi Guntur tidak peduli omongan mereka.


“Ayo, kita kita ke lapangan sebentar lagi upacara!” ajak Monica pada kedua temannya, mereka pergi mengikuti langkah Monica yang berjalan duluan sambil melewati kelas Rianda. Rianda yang belum mempunya teman akhirnya duduk dengan gadis cupu yang bernama Mona.


“kamu, duduk sini aja sama aku! Aku kebetulan sendiri, kursi lain sudah penuh. Oh,iya kenalan dulu namaku Mona, kamu siapa?” ajak Mona menunjukkan kursi di sebelahnya.


“Terima kasih Mona, namaku Putri Rianda Hapsari” jawab Rianda polos, Mona tersenyum. Dia tidak salah memilih teman,  instingnya cukup tajam. Mona tidak ingin punya teman yang pecicilan dan bar-bar, begitulah Mona sangat pemilih dalam hal berteman.


“Taro tasmu, ayo kita ke lapangan upacara bendera.’  ajak Mona, Rianda menurut dan menaruh tasnya dan mengikuti Mona berjalan berdampingan menuju lapangan.

__ADS_1


“Kakak kelas itu tampan ya, Rianda.”


__ADS_2