
Selamat Membaca
“Hai, kamu lagi apa? Aku suka melihat kamu tersenyum.”
Rianda berjaln, tersentak kaget melihat kata-kata dari Dani aku suak melihat kamu tersenyum, Rianda melempar ponselnya, terus berlari ke arah kaca. Rianda berkaca dengan sambil tersenyum di kaca. Rianda tersenyum lalu cemberut, mengekspresikan jika dia tersenyum manis apa tidak. Kalau cemberut keliatan lucu apa tidak?
“Masa sech, senyum aku manis kaya gula…hihi nanti daibates kak Dani.” gumamnya sambil mangatup kedua tangan di mulutnya.
“Eh, aku lupa. aku harus mengerjakan PR dulu.” ucapnya kembali.
Kruyuuk…kruyuk…”Duh, ini perut gak bisa diajak kompromi.’ ucap Rianda terus berjalan menuju pintu, turun ke bawah. SAmpai di bawah melihat Soni sedang makan dengan lahap.
“Dek,makna pelan-pelan kaya orang kesurupan kamu.” ucap Rinada menepuk pundak Soni, membuatnya tersedak. Rianda menyodorkan air minum lalu duduk di depan Soni.
“IIh,kakak. Aku kan jadi tersedak.” keluh Soni setelah habis minum, kemudian melanjutkan makan lagi. Rianda menatap adiknya sebentar, kemudian mengambil piring yang tersedia dan mengambil nasi lauk pauknya. Rianda berdioa sebentar , baru saja akan memasukkan nasi ke mulutnya.
“Nah, gitu akur. Makan bareng. akur, gak seperti Tom and Jerry.” ucap mama yang ikut nimbrung dan langsung duduk diantara Rianda dan Soni. Rianda memasukkan nasinya.
“Ih, punya mama gini mamat ya , Tuhan.” batin Rianda sambil melirik mama yang sibuk ngeluarin belanjaan.
“Bukan mama ke bengkel, ko banyak belanjaan mama.” ucap Soni yang habis menghabiskan makanan dan menegak air minum. Mama tersenyum sebentar, dan memberikan tisue pada Soni sementara Rianda tidak memperdulikannya.
__ADS_1
“Mama gak belanja Soni. Tadi di bengkel ada teman mama juga lagi servis mobil. Teeus cerita-cerita abis pulang dari luar negeri. Eh.mama di suruh mampir ke rumahnya. Ya, mama mampir lah. Jadi ini semua di kasih teman mama alias gretong loh.” jawab mama dengan tangan yang sengaja di lentikan dan tersenyum ke arah Rianda yang tak memperdulikan obrolannya dengan Soni.
“Ih,mama gaje. Cwek gretongan hahaha..” meledak sudah ejekan anak kesayangan mama, saat mama ingin di puji malah dilunjak anaknya. Rianda sedikit tersenyum mendengar ucapan adiknya.
“Eh, anak siapa sih itu? Gak sopan ya kamu sama mama. Yaudah uang jajan kamu mama potong ya. Minggu ini kamu puasa!” teriak mama sambil mengancam Soni. Soni langsung berlari ke arah mamanya.
“Ampun, Yang Mulia Ratu. Jamgan dong mah, ih kok gitu, aku kan cuman becanda.” jawab Soni sambil menciumi mamanya.
“Kamu tuh kebiasaan ya, Soni. Suka ngeledekin mama yang suka gretongan. Kamu juga bukannya gitu sama teman kamu, dek?” jawab mama menghempaskan tangannya dari tangan Soni membuat Soni kaget. Kok, mama bisa tahu akan hal itu. apa mama suka nguping Soni bicara sama teman-temannya.
“Mama, nguping ya?” ucap Soni mencoba mengorek dari apa yang mama dengar tentang pembicaraan Soni dan temannya. Mama mengernyitkan alisnya mengingat kapan mama dengar hal itu.
“Mama udah lupa, Soni. Ini Rianda tolong diberesin dan simpan saja di kulkas cake nya biar enak.” ucap mama bangkit dari duduk dan berjalan menuju kamar. Sedangkan Soni merasa diabaikan dan tak terima dengan sikap mama, berbalik ke kamarnya.
“Hmm..segarnya. Tapi ada di sebelah ya, ko rame orang berantem. Ah, mungkin ibu itu sedang berantem sama suaminya lagi.” ucap Rianda ketika mendengar suara berisik dan pecahan dari rumah depannya, yang saat itu tampak sepi. Kalau rame suaranya mungkin terdengar agak samar.
Rianda membuka pintu, masuk lagi ke kamarnya, Duduk dan membuka tas nya mencoba mengerjakan PR Bahasa Indonesia tentang Sastra Puisi, yang sebenarnya Rianda kurang suka puisi karena Rianda lebih suka curhat sama diary nya. Ada setengah jam mencoba membuat puisi, frustasi gagal dan gagal lagi, Rianda akhirnya mencoba menanyakan ke Mona. Mengambil ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur, mulai mencari nama Mona. Saat akan menekan tombol panggil ke Mona, bunyi panggilan dari pujaanku berbunyi.
“Ah, dia telepon. Gimana ini angkat jangan. Aduh gimana ini video call lagi, aku gak siap.’ ucap Rianda resah sambil meremas tangannya erat. Karena terlalu lama telepon berhenti kemudian berbunyi kembali, Rianda menghembuskan nafas berat. Telepon pun diangkat.
“Hallo, Assalamualaikum..” terdengar suara di sana dan gambar Dani pu muncul . Rianda membalikkan layar kamera ke arah dimana meja belajar yang menyajikan buku-buku berantakan dan coretan -coretan bekas Rianda bikin puisi.
__ADS_1
“Waalaikum salam kak Dani.” jawab Rianda dengan suara lemah, Rianda bingung apa yang dibicarakan ya? Dan Dani yang melihat itu tertawa , Dani juga melihat banyak coretan di buku tentang puisi.
“Hei, kamu gak sopan mana wajah kamu? Kamu lagi ada tugas iu ya?” tanya Dani , Rianda membalikkan layar kameranya dan Dani tersenyum melihatnya. Rianda yang tengah nervous membuat Dani ingin mencubit nya, hijab instan Rianda yang dipakai pun terkesan childish.
“Maaf kak , Dani. Iya kak dani aku ada tugas bikin puisi . Cuman belum dapat yang aku mau.” jawab Rianda yang malu ketahuan tengah mengerjakan tugas dan banyak coretan di bukunya. Dani tersenyum dan menawarkan bantuannya.
“Boleh, aku bantu?” ucap Dani yang menawarkan bantuan membuat Rianda salting.
“Boleh kak. Tapi ganggu kakak gak?” jawab Rianda yang sungkan. Dani diam dan kemudian tersenyum melihat ke arah Rianda.
“Gak ganggu, tadi habis latihan sekarang mau mandi dulu ya. Nanti kalau udah aku kirim via chat.” ucap dani yang mengambil handuknya, Rianda diam melihat itu.
“Oke, Rianda aku nanti chat kamu lagi. Sorry badan aku lengket, gerah. Bye.” ucap Dani, Rianda diam melongo. Dah, dia yang telpon , dia yang memutuskan duluan batin berteriak. Rianda menarik nafas berat. Akhirnya Rianda mencoba menelpon Mona. Akhirnya telepon tersambung dan diangkat Mona.
“Assalamualaikum Mona, kamu sudah mengerjakan tugas sastra bikin puisi itu?” ucap Rianda bertanya langsung , membuat Mona yang di sebelah tertawa dan terdiam melihat raut wajah Rianda yang tegang.
“Waalaikumsalam Rian. Aku sudah dong, aku buat ada tiga malahan. Kalau bikin puisi sih aku paling bisa , kalau cerpen nah aku suka mentok ujungnya.” jawab Mona polos dan membanggakan dirinya.
“Kamu sudah belum, Rian?’ tanya balik Mona ketika melihat kesedihan pada temannya itu. Rianda hanya diam.
“Kamu pasti belum ya? Dari wajahmu menggambarkan itu?’Hahaha..” ucap Mona tertawa puas meledek Rianda. Rianda semakin cemberut.
__ADS_1
“Apa mau aku buatkan?” tanya Mona, Rianda yang enggan meminta seperti mendapatkan angin surga. Rianda langsung menganggukkan kepalanya.
“Apa boleh? Nanti aku kena marah gak bukan buatan aku sendiri?”