Cerita Cinta Rianda

Cerita Cinta Rianda
Kedekatan Rianda - Dani


__ADS_3

Selamat Membaca 


"Apa nanti kita tidak dalam bahaya Mona, Aku takut"


Mona terdiam, benar juga kata Rianda, Rianda panik tapi matanya terlihat jelas kekhawatiran walaupun Rianda sedang tersenyum. Mona jadi salah tingkah. Kenapa dia jadi keceplosan bilang ke pak Eko gak memikirkan akibatnya nanti, jika geng kakak kelas dilaporkan kemungkinan masalah akan datang lagi.


“Apa itu benar? Kalian berdua tidak sedang berbohong?” tanya pak Eko sambil meluruskan kumisnya yang tidak bergelombang atau keriting..Mona terdiam, sementara Rianda menarik nafas kasar.


“Begini, pak. Mungkin kesalahpahaman antara kakak kelas dan kami, kami akan menyelesaikan secara dewasa dan baik-baik.” jawab Rianda memberanikan diri menatap pak Eko. Pak Eko sedikit tertegun melihat Rianda yang pendiam dan introvert itu tampak dewasa dalam mengambil keputusan.


“Oke, kalau begitu. Bapak tidak ingin mendengar berita buruk atau heboh seperti tadi di sekolah ini. Bapak yakin kalian berdua anak-anak yang baik dan berbakti.Silahkan hanis ini kalian kembali ke kelas ya!” ucap pak Eko sambil menopang kakinya duduk di kursi kebesarannya.


Rianda dan Mona saling melempar tatapan, mereka berdiri  dari tempat duduknya dan membungkuk sedikit.


“Kalau begitu kami permisi dulu pak.” ucap mereka berdua berbarengan. Pak Eko mengangguk dan melambaikan tangan nya menyuruh mereka keluar dan menutup pintu ruangannya kembali.


Bugggh…


Ketika Rianda sudah menutup pintu dan berjalan bertabrakan dengan Dani. Mona yang berada dibelakang Rianda mencubit pinggangnya memberi isyarat kepada Rianda.


“Kalian habis dari ruangan pak Eko ya? Kalian tidak apa-apa kan? Aku dengar Monica mengerjai kalian.” tanya Dani menyelidik ke wajah Rianda yang tampak ragu menjawab, melirik ke arah Mona.


“Hei, Kenapa kamu tidak mau menjawab?” tanya Dani kembali agak kesal dengan sikap Rianda yang mendiamkan dirinya. Mona tersenyum tipis, langsung menarik tangan Rianda.

__ADS_1


“Hei, kalian harus bicara dulu denganku. Jangan main lari saja!” teriak Dani agak sedikit kesal, kecewa dengan sikap Rianda.


“Kenapa dengan gadis kecil imut itu apa dia marah padaku?” tanya Dani sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal itu. Kemudian Dani pun melanjutkan menuju kelasnya, baru melangkah sebentar Dani sudah mendengar seseorang memanggilnya. Yang memanggil Dani tidak lain adalah pak Eko yang mendengar percakapan mereka bertiga tadi.


“Dani, ke ruangan bapak!” panggil pak Eko yang berada di depan pintu ruangannya. Dani menengok ke belakang dan membalikkan badannya. Melangkahkan kakinya ke ruangan pak Eko yang sudah masuk kembali. Pak Eko tampak duduk di sofa dengan kaki yang bertumpang, tangannya tengah menulis sesuatu.


“Duduk, Dani. Kamu sebagai ketua OSIS tahu kejadian tadi siang di kantin? 


Kenapa di sekolah kita masih saja ada yang suka membully yang lemah apalagi anak baru.” tanya pak Eko menatap Dani yang baru duduk dan membenarkan duduknya. Dan menatap kembali sambil menarik nafas pelan-pelan.


“Hmm, begini pak. saat kejadian di kantin saya mendapat telepon dari anak-anak basket ada kecelakan kakinya terkilir saya segera membawanya ke UKS dan menelpon dokter jaga kebetulan sedang keluar pak. Menurut teman-teman saya Anton dan DIra yang mengerjai mereka berdua itu Monica dan teman-temannya, pak.’ jawab Dani membuat pak Eko sedikit melotot matanya.


“Wah, anak itu lagi. Bagaimana saya melaporkannya ini anak yang punya sekolah Dani? Tapi kita harus adil buat mereka berdua, Mona masuk dapat beasiswa begitu juga Rianda walaupun Rianda orang tuanya berada tapi dia gadis cerdas yang introvert. Bagaimana menurut kamu Dani? Haruskah bapak bikin laporan walaupun ujung-ujungnya bapak kena marah juga dianggap gak becus?” ucap pak Eko setelah berkata-kata menghembuskan nafasnya berat.


“Oke, nanti saya sudah susun laporan, akan saya kirimkan. Kamu ada bukti foto atau videonya Dani? kirimkan ke ponsel saya!”


“Ada pak. ini Anton yang gak sengaja videoin soalnya dia suka lagi videoin acara ultah temannya di kantin. akan saya kirim pak.”


“Udah masuk belum pak, videonya.” tanya Dani memperlihatkan di ponselnya sudah terkirim.


“Sudah Dan, sebentar saya lihat dulu videonya.” jawab pak Eko  kemudian kedua alisnya mengerut, matanya menyipit. “Ini anak kemasukkan apa Dan? Ko wajah cantik kelakuan seperti iblis.” ucap pak Eko kembali kemudian mematikan videonya.


“Bapak tidak memanggil mereka berdua?” tanya Dani, pak Eko menyimpan ponselnya ke kemejanya. Dan menarik nafas berat . 

__ADS_1


“Sudah Dani, dan mereka berdua mengelak bilang tidak sengaja gelasnya jatuh sendiri.” ucap pak Eko sambil tersenyum.


“Hahaha..mereka berdua pandai bersandiwara pak.” ucap Dani dan pak Eko pun tertawa.


“Kamu bisa saja Dani, ya sudah kamu masuk ke kelas sana! Terima kasih Dani bantuannya.” ucap pak Eko, Dani pun tersenyum.


“Sama-sama pak. Saya ke kelas dulu pak.” jawab Dani, pak Eko mengangguk sambil menatap kepergian dani dan menghilang depan pintu. pak Eko menghela nafasnya berat.


Kemudian mengirimkan video dan laporannya pada Direktur sekolah SMA Tunas Bangsa.


Beberapa jam kemudian waktunya jam pulan tiba, Mona dan Rianda sedang menunggu jemputannya. tampaknya Mona sudah di jemput kakaknya memakai motor. Rianda hanya terdiam sang mama belum ada datang, sopir papa tidak juga mengangkat telepon darinya.


“Rian, aku duliuan ya.Sampai ketemu besok.Bye!” pamit Mona yang berada diatas motor sambil melambaikan tangannya. Tiab-tiba telepon dari mama.


“Sayang , mama gak bisa jemput mobil mogok. Papa gak ada lagi keluar kota sama pak sopir. Kamu pulang pake grab aja ya, mama lagi di bengkel. dah sayang.” ucap mama tanpa membiarkan Rianda bicara sekata pun, uuh dasar mama.


Rianda mengotak -atik handphonenya memesan grab namun semua tidak ada yang jawab. Tiba-tiba ada Dani di sebelah Rianda membuat Rianda tersentak kaget dan sedikit melompat ke samping.


“Segitu takut sama aku. Ayo pulang bareng kita kan searah. Pasti mama kamu sibuk!” ajak Dani sambil menyeret tangan Rianda, Rianda kaget sambil melirik kanan dan kiri.


“Aduh, kak  Dani sakit tanganku. Bukan kambing pula aku harus diseret.” celetuk Rianda bibir mengerucut dan sedikit membantingkan kakinya. dani yang melihat hal itu kadang merasa lucu dengan sikap Rianda yang kadang cuek, kadang juga kekanak-kanakkan.


“Ayo cepat naik, nih pakai helm nya!” ucap Dani memberikan helm cadangannya. pada Rianda, sementara Rianda diam dan memakai helmnya. Setelah Rianda naik ke atas motor dan sudah siap, Dani melajukan motornya meninggalkan halaman sekolah. Semetara itu ada dua pasang mata yang memandangi merah dengan kemarahan.

__ADS_1


“Tunggu saja  Rianda, sekarang kamu boleh menang, besok kamu pasti kalah.”


__ADS_2