
Selamat Membaca
"Oke kalian gadis-gadis tunggu disini ya. kami akan melayanimu.”
Di samping kiri terlihat Monica dan teman-teman sedang memperhatikan Rianda dan Mona. Perhatian Monica selalu tertuju ke arah Rianda yang menurutnya ada sesuatu tentang Rianda, hatinya terlihat iri dan terluka melihat jika Dani lebih care ke anak baru kelas satu itu. Keinginan hati Monica melabrak langsung, tapi tidak mungkin itu akan membuat Dani semakin membencinya.
"Lo lihat tuh, Monic!" tunjuk Rara, jengah cowok incaran Dani malah ikutan seperti Dani. Ingin rasanya menjambak rambut Mona yang panjang dan diikat kuda itu.
"Hush, diam dan perhatian dulu!" cegah Monica kali ini, berusaha meredam emosinya dan mengalihkan memandangi Rars yang terlihat marah pujaan hatinya mendekati gadis lain.
"Tenangkan dirimu, Ra." ucap Dian, tidak ada masalah di saat jatah makan siangnya. Monica mengangguk dan memegang tangan Rara, sambil menatapnya tajam.
"Lo, pesankan makanan buat kita Dian, dan suruh Dani kesini, kalau lo, bisa. Apapun yang lo mau gue kasih." ucap Monica, Dian diam dan mengacungkan dua jempolnya.
"Tara pesanan sudah datang. Oh, ya minuman nyusul ya sama si abang diantar." ucap Andi datang membawa pesanan bakso dan menaruhnya di depan Mona dan Rianda juga Dani yang duduk berhadapan dengan Rianda.
"Oh, jantung kenapa kamu jadi tidak beraturan berdetak." batin Rianda bergejolak, Ingin berteriak tetapi malu.
"Ayo dimakan adik-adikku" goda Andi, dan Mona menatap Rianda yang tertunduk.
"Makasih ka, Rian, ayo makan!" bisik Mona dan Rianda mengangkat wajahnya dan mengangguk mengambil mangkok bakso nya.
Andi yang sudah lapar, langsung saja memakan bakso tanpa berdoa dulu seperti yang Rianda lakukan, Mona diam dan mengikuti Rianda makan. Dani makan dengan tenang. Setelah Dani dan Andi makan mereka berdua pergi entah kemana, jus mereka berdua baru datang.
Kring…kriing
Suara telepon Dani berbunyi dan Dani segera mengangkat dan mendengar dari dari nada suara sepertinya sangat mengkhawatirkan, membuat Andi yang menguping di sebelah Dani menjadi khawatir dan Dani segera menutup telepon dan pergi begitu saja, Andi mengikuti Dani, tanpa menanyakan lagi masalah apa yang terjadi.
__ADS_1
"Neng ini jusnya.. Kemana den Andi sama ddn Dani nya?" tanya Bapak kantin melihat ke kursi sudah tidak ada mereka.
"Gak tahu pak, tadi ka Dani do telpon jadi buru-buru pergi, kak Andi ikut sama ka Dani katanya urgen." jawab Mona, bapak kantin tadi mengangguk paham.
"Halo, adik-adik boleh gabung?" tanya Monica dan Rara juga Dian membuat Mona dna Rara yang sedang meminum tersedak.
"Uhuk..uhuuk.."
"Nih, minum.."
Byuuur… Byuuur..
Bukannya gelas ditaruh di meja dan dikasih ke Rianda, ini Monica sama Rara malah mengguyur ke muka mereka dari atas kepalanya. Jus alpukat warna hijau menetes ke bawah ke baju putih mereka, semuanya yang ada di kantin menertawakan dan meledek.
"Huh, makanya lo jangan cari masalah sama ratu sekolah kita"
Mona dan Rianda tertunduk, sedangkan Rianda menangis, dia tidak pernah seumur hidup diperlakukan seperti itu, sama mama dan papa yang penuh kasih sayang. Mona mendengar tangisan Rianda mengajak Rianda pergi.
"Hussh.. Hush. Pergi sana lo bau. Emang enak, maka jangan sok-sok dekat sama Dani. Gue." ucap Monica.
Rianda menahan malu, begitupun dengan Mona. Mereka berdua segera pergi ke toilet dan membersihkan rambut mereka yang menjadi bau jus alpukat berwarna hijau itu, dan Rianda menangis dan tertunduk lesu hijab putihnya berwarna hijau. Rianda membuka hijabnya dan mencuci di dalam kamar mandi. Sedangkan Mona membersihkan rambutnya dengan apa. Mona kebingungan.Beruntungnya ada kakak kelas yang melihat mereka dan memberikan shampo dan handuk untuk mereka berdua.
"Kalian tidak apa-apa. Hati-hati sama genk Monica. Jangan mau kalau kalian diajak cheerleaders oke. Dia itu iblis wanita." ucap kakak kelas itu sambil menatap Mona dan Rianda bergantian. Lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kamu bawa ganti hijabmu tidak?" kakak kelas itu berhenti sebentar,sambil mengambil sesuatu dalam tasnya.
"Ini hijab untukmu,Namaku Shofia kelas 3 A. Sampai ketemu nanti, jangan bilang aku yang bantu kalian ya! Aku tidak mau ada masalah dengan wanita iblis itu." ucap kak Shofia, dan Rianda juga Mona mengangguk setuju.
__ADS_1
Shofia pergi. Rianda dan Mona lekas berdandan, dan Mona dengan rambutnya yang basah mengundang banyak orang melihat pada dirinya. Sedangkan Rianda sudah berganti hijab. Hijabnya seperti baru. Rianda menciumnya dan emang baru. Wangi toko.
Rianda dan Mona kembali ke dalam kelas membuat semuanya menjadi melihat kepada mereka. Mona yang risih dengan tatapan mereka,tersulut emosi. Dan segera berdiri dan berkacak pinggang.
"HEI, KENAPA KALIAN MENATAPKU SEPERTI ITU HAH! KALIAN BAHAGIA GUE MENDERITA." teriak Mona membuat semuanya menjadi diam. Rianda lalu berdiri menyuruh Mona duduk dan menepuk bahu Mona untuk bersabar.
"Sabar. tenangkan dirimu.Nyebut..nyebut.. Astagfirullah." bisik Rianda sambil mengusap bahu Mona, Mona pun berbalik dan memeluk Rianda.
Beruntungnya jam pelajaran kosong, tak lama guru BP datang, dan menyuruh Rianda dan Mona ke kantornya, membuat kedua hanya menunduk lesu.
"Rianda dan Mona, ikut keruangan bapak sebentar!" titah pak Eko si Guru BP yang berkumis lebat, seperti pak Raden.
Rianda dan Mona mengikuti pak Eko dibelakang sambil berpegang tangan, untungnya lorong koridor sekolah sepi tidak ada yang melihat mereka dipanggil guru BP kecuali teman-teman satu kelas.
Sesampainya di ruangan BP, Rianda dan Mona yang masih berdiri di depan ruangan pak Eko. Pak Eko yang melihatnya hanya mengelus-elus kumisnya saja.
"Ada apa pak kami, dipanggil?" tanya Mona dengan gemetar tangan Rianda begitu dingin masih berpegangan tangan dengan Mona.
"Kalian duduk dulu, ada yang mau saya tanyakan bicarakan." ucap pak Eko menatap anak-anak didiknya.
"Iya, pak." jawab mereka berdua serempak. Dan kemudian duduk berseberangan dan di depan pak Eko.
"Kenapa kamu rambutnya basah. Kamu mandi di sekolah. Apa di rumah mati air nya. Belum mandi?" tanya pak Eko. Membuat Rianda dan Mona saling pandang. Mereka serempak menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kalian tidak ngomong. Tidak bisa bicara. Apa lagi puasa bicara?" tanya pak Eko lagi membuat Mona menarik nafas kasar, memandangi Rianda sebentar.
"Ehm..bapak ku yang terhormat, saya inj bukan tidak ada air di rumah pak. Tapi saya abis kena hujan lokal tadi di kantin.. Byuuur..kami disiram jus alpukat sama kakak kelas kami yang cantik dan populer disini. Setelah itu kami pergi ke kamar mandi. Begitulah ceritanya pak." jelas Mona dan Rianda hanya diam menatap sambil berbisik pada Mona. Pak Eko sedikit kaget dengan kata-kata Mona, dia diam-diam mencerna kata-kata Mona.
__ADS_1
"Apa nanti kita tidak dalam bahaya Mona, Aku takut."