
Selamat Membaca
"Tunggu saja Rianda, sekarang kamu boleh menang, besok kamu pasti kalah."
Monica mengepalkan tangannya, dan meninju ke tembok, darah pun keluar dari tangannya. rara yang melihat hal itu semakin marah melihat kelakuan Monica yang malah meninju kenapa bukan orangnya.
“Ck.Ck..Kenapa lo malah ngelukain tangan lo sendiri. Lo bego tinggal nanti lo hajar tuh cewek atau lo jambak ke. Jadi kan tangan lo luka. Udah sini tangan Lo , gue balut dulu. Ke rumah gue dulu yuk, lo perlu nenangin diri. Dian lo bawain tas Monica!’ ucap Rara sambil merangkul Monica yang muka merah menahan emosi.
Monica, Rara dan Dian pulang bersama ke rumah Rara, dimana Rara yang membawa mobilnya sendiri dan kedua temannya, Monica duduk di sebelah Rara sedangkan Dian di belakang. Monica hanya diam saja, Rara melirik ke arah Monica sedangkan Dian yang duduk di belakang maju ke depan duduknya melihat ke arah yang Rara lihat.
“Don’t worry beb, aku tahu tidak mudah. Bagaimana kalo nanti malam kita party?” ucap Rara, dan Dian mengacungkan jempolnya.
“Ya..ya…aku setuju. Yeay kita party.” sorak dian sambil bergoyang-goyang mendengarkan music di mobil Rara.
Sementara Rianda yang pulang bersama Dani berboncengan seperti tadi pagi, Rianda di paksa tangan memegang erat pinggang Dani, dan dani melajukan motornya sangat kencang membuat Rianda harus memeluk erat tubuh Dani dari belakang, Dada Rianda menyentuh punggung Dani, Kabar jantung Rianda mau loncat dari tempatnya.
“Oh,astaga. Aku seperti mau terbang.” batin Rianda berteriak.
Dani yang mengendarai motor tersenyum melihat raut muka Rianda yang seperti ketakutan dan pucat sambil memejamkan matanya.”Gadis ini imut, dia begitu ketakutan, apa dia pertama kali naik motor bersama cowok?”batin Dani menerka-nerka, sambil melirik kerah spion kaca motornya.
__ADS_1
Sampailah mereka di kompleks perumahan Rianda, Dani sebenarnya tahu rumah Rianda dari yang Guntur kasih tahu, ternyata Guntur rumahnya beda dua rumah dengan Rianda. Di depan rumah Rianda, motor Dani berhenti sedangkan Rianda yang ketakutan masih memejamkan matanya.
“Mau sampai kapan kamu memeluk aku?” tanya Dani, Rianda yang mendengar hal itu sedikit tersentak dan membuka matanya.
“Ah, sudah sampai rumah. Aku kira sampai di surga.’ gumaman Rianda yang masih terdengar Dani, Dani tersenyum tipis.
“Kamu pikir, aku malaikat pencabut nyawa!’ ucap Dani, membuat Rianda memiringkan bibirnya dan tertawa kecil.
“Ya, kamu memang malaikat pencabut nyawa. Mengendarai motor kencang begitu, jantungku mau copot. Oh, iya terima kasih kak sudah mengantarkanku, hati-hati dijalan!’ ucap Rianda yang langsung nyelonong begitu saja, membuat Dani menggelengkan kepalanya.
“HEI, TUNGGU. KAMU TIDAK MENYURUHKU MAMPIR KE RUMAH DULU KASIH MINUM KE.” teriak Dani membuat Rianda menghentikan langkahnya.Rianda menepuk jidatnya, dan berbalik menghadap Dani.
“Assalamualaikum.” ucap Dani dan Rianda bersamaan, dan ternyata Soni sudah berada di rumah. Melihat kakak perempuannya pulang bersama cowok, Soni langsung menggoda kakak.
“Waalaikumsalam.Cieee..katanya gak punya pacar, pulang sekolah dianterin cowok kerumah. Aku bilangin mama ya?” ucap Soni sambil menggoda Rianda dan menjulurkan lidahnya, Rianda kesal langsung mencubit adiknya itu.
“Eh, kamu dek. Jangan asal nuduh, kak Dani ini kakak kelas aku. Senior di sekolah, aku hanya kebetulan saja nebeng kak Dani pulang.” jawab Rianda sambil mengacak rambut adiknya. Soni gak percaya, dia melotot dan pergi meninggalkan Rianda.
“Oh,iya kak duduk dulu. Aku ambilkan minum dulu.” Rianda menaruh tasnya di kursi, berjalan ke ruang tengah yang tersedia air minum dan snack ringan. Dani yang dari tadi berdiri dan memandangi arsitektur rumah Rianda yang bergaya klasik itu membuatnya kagum. Rianda ternyata anak yang tidak pernah sombong bahkan dia menyembunyikan status keluarganya hidup sederhana. Dani duduk, dan melihat Rianda membawakan dua gelas air minum dan snack.
__ADS_1
“Silahkan diminum kak.Hanya ada ini saja di rumahku. Mamaku lagi di bengkel.” ucap Rianda menaruh gelas air minum untuknya dan Dani juga snack buatan mamanya. Dani yag haus langsung meminum sampai tandas. Dan mencoba snack itu, rasanya seperti kue yang mamanya belikan di toko kue langganan mama kue coklat kesukaan Dani. Dani pun langsung menanyakan hal itu.
“Kamu beli kue coklat ini dimana, rasanya aku kenal khas kue ini?’ tanya Dani membuat Rianda tersenyum kecil , ingin rasanya Rianda membanggakan itu buatan mamanya. Tapi Rianda malah tidak ingin kelihatan sombong di depan Dani.
“Oh, itu mama beli di toko kue langganan mama. Aku tidak tahu dimana mama beli kuenya.” jawab Rianda membuat Dani mengangguk. Rianda mengambil air minum karena sedari tadi haus. Dani pun melihat jam di pergelangan tangannya.
“Oh, iya terima kasih kue nya. Aku harus pulang sebentar lagi ada latihan Taekwondo. Oh iya apa boleh aku minta nomor kamu?” ucap Dani sambil mengeluarkan handphonenya, Rianda pun langsung mengambil handphone di dalam tasnya.
“Ini nomor aku kak,” ucap Rianda, dan Dani mensave nomor Rianda dengan sebutan Gadis Imut. Rianda men save kontak Dani dengan nama Pujaanku.
Setelah itu Dani memasukkan handphonenya begitu pun dengan Rianda, Dani pun berdiri pamit dan Rianda mengikutinya dari belakang. Melihat kepergian Dani dari rumahnya di balik tirai jendela dari Dani menyalakan motornya sampai Dani menghilang dari pandangan matanya. Rianda menarik nafas sambil menahan debaran jantungnya. Ketika Rianda hendak membalikkan badan menuju kamar, Rianda tersentak kaget.
“Door..hahaha segitunya melihat pujaan hati pulang mengantarkan bidadari ke kayangan.’ goda Soni, membuat Rianda menggeram marah dan merah mukanya karena ketahuan adiknya. Rianda kontan menginjak kaki adiknya.
“Rasain tuh, sok kepo urusan orang..hahaha.’ Rianda setelah menginjak kaki adiknya langsung kabur ke dalam kamarnya membawa tas yang tadi dia taro di meja dan mengunci kamarnya dari dalam karena tidak ingin diganggu adiknya. Terdengar teriakan adiknya dari luar kamar.
“Kakak, aku laporin mama ya. Kakak sekarang dekat sama kak Dani. Aku tahu semuanya loh.” ancam Soni sambil berteriak keras. Rianda yang mendengar hal itu, mencibir di dalam kamarnya.
“Bodo amat lo, dek. Mau laporin ke mama ke ke papa ke. I don’t care.” cerocosnya sambil bersenandung riang, hati Rianda sedang berbunga-bunga. Rianda masuk kedalam kamar mandi, lima belas menit kemudian keluar dan terdengar bunyi sms dari handphonenya. Rianda pun penasaran siapa yang menghubunginya , apa mama, apa Soni, apa Mona yang tadi pagi bertukar nomor handphone.Rianda mengambil handphone dan terlonjak kaget dan langsung melempar handphonena ke kasur ternyata yang mengirim nya sms yaitu Dani.
__ADS_1
“Hai, kamu lagi apa? Aku suka melihat kamu tersenyum.”