
Selamat Membaca
“Apa boleh? Nanti aku kena marah gak bukan buatan aku sendiri?”
Rianda termenung sebentar dan mengambil kembali bukunya mencoba membuatnya sendiri, sambil berpikir , pulpen pun sering di ketukan di meja dan jidatnya.
“Ah, susah banget. ya ampun. Masa sih aku harus ngechat ka Dani. Hmmm, gimana kalo aku buat sambil bayangi kak Dani.” gumaman Rianda terdengar pasrah.
Rianda pun mulai menulis puisi tentang khayalan nya se sosok Dani yang menjadi inspirasinya dalam membuat puisi, Rianda menuliskan dimana sosok Dani itu seorang pemuda yang berkharisma dan energik, cerdas dan kuat. Entah berapa lama, Rianda menulis puisi tentang bertema pemuda seperti Dani sehingga Rianda tidak mengetahui jika Sonii sudah berada di belakang sambil membekap mulutnya membaca tulisan puisi Rianda,
“Hmmm, beginilah rasanya jatuh cinta., Sampai dibuatkan puisi segala.” ledek Soni membuat Rianda menghentikan menulis puisi tersebut, menyimpan pena diatas buku, dan langsung membalikkan badan.
“Kebiasaan banget deh kamu, bikin copot jantung kakak.” ucap Rianda melipat tangan di dadanya. Soni semakin tertawa terbahak-bahak.
‘Hahaha …aku suka banget gangguin kakak, apalagi kalau lagi cemberut gitu.” jawab Soni, Rianda melempar penghapus ke muka Soni.
“Awwww, kakak dih KDRT sama aku. Penganiayaan anak kecil.” ucap Soni mengelus kepalanya yang kena lemparan penghapus Rianda.
“Pergi sana! Jangan ganggu kakak. Atau mau kakak laporin lagi ke mama, biar hukuman kamu ditambah.” usir Rianda membuat Soni mengedikkan bahu,
“Oke..Oke, ga usah ngusir gitu kali.” jawab soni sambil berlari ke arah pintu, membuat Rianda mendengus kesal sama adiknya itu.
“Huh, pengganggu. Untung saja aku sudah selesai bikinnya. Ah, sekarang aku belajar yang lainnya. “ gumam Rhyanda sambil membereskan buku-buku buat hari esok.
***
__ADS_1
Di dalam kamar mandi Dani, bersiul dan bernyanyi-nyanyi tidak seperti biasanya. Sore itu Dani merasa bahagia melihat tadi betapa kaget dan imut Rianda. Rianda yang berhijab dengan ginsul giginya menambah manisnya Rianda. Dani sendiri terdiam, Dani merasa aneh kenapa setiap teringat sosok Rianda hatinya merasa senang dan bahagia. Dani berpikir apa dia mulai menyukai Rianda gadis imut.
“Apa aku mulai suka Rianda. Rianda manis sekali.” gumamnya sambil berkaca di kamar mandi.
Setelah ada satu jam di kamar mandi Dani segera memakai celana levis pandek dan t-shirt warna hitam, menuju ke meja belajarnya. Diambil nya buku dan pulpen, membuka lembaran bukunya dan mulai menuli bait demi bait puisi tentang gadis santri yang cantik jelita. Dani membayangkan sambil tersenyum. Ada setengah jam menuliskan puisi, akhirnya Dani puas karena sesuai dan cocok untuk Rianda.
“Nanti malam , aku antarkan sajalah sambil main kerumah Guntur.” ucap Dani pelan sambil menutup buku tadi, dan mengambil ponselnya mengetik chat ke Rianda.
“Nanti malam, aku antarkan puisinya sambil ke rumah Guntur.”
Dani langsung keluar untuk bermain futsal sore ini. Mengambil sepatu dan membawa motornya, di depan rumah bertemu dengan bik Sum.”Den, sudah makan? Hati-hati ya den.” ucap bik Sum menghentikan aktivitas menyapu di halamannya. Dani tersenyum menghampiri bik Sum, dan menyalami nya takzim. Bik Sum sudah merawat Dani dari kecil, ibu dan ayahnya selalu sibuk bekerja, mereka ada di rumah kalau hari Sabtu dan Minggu, di pagi hari dan malam hari untuk hari biasa.
“Seperti biasanya, bik. Anisa kemana bik?’ ucap Dani ramah menatap Bik Sum yang cantiknya sudah luntur ditambah usia. Menanyakan dimana keberadaan sang adik kini yang dari tadi siang pulang belum melihatnya.
“Oh, yaudah kalo lagi ngaji. Aku pikir Anisa lagi main ke temannya. Aku berangkat dulu,bik . Takut telat.” ucap Dani sambil berjalan mengeluarkan motor dari garasi, menstarter motornya dan perg. Bik Sum melambaikan tangannya dan berteriak,
“Hati-hati, Den. Jangan malam-malam!”
Dani tersenyum mendengarnya, Dia tahu bik Sum sangat baik dan sangat menyayangi Dani dan Anisa. Jika tidak ada bik Sum mungkin Dani dan Anisa sudah menjadi anak yang tidak terurus dan salah pergaulan. Dani sangat bersyukur, bik Sum sebagai ibu pengganti. Karena bik Sum tidak mempunyai anak setelah anaknya meninggal dan suami menikah lagi, bik Sum sudah menganggap Dani dan Anisa sebagai anaknya sendiri.
Selama latihan futsal Dani tidak konsentrasi entahlah pikiran hanya ingin cepat bertemu dengan Rianda. Dani mencoba istirahat dan menepi, Guntur menghampiri Dani. Guntur merasa Dani tidak maksimal hari ini sepertinya Dani ada yang sedang dipikirkan , terlihat jelas Dani sedang melamun di sisi lapangan.
“Kenapa Dani, kok gak fokus hari ini. Ada masalah apa?” tanya Guntur mendudukkan pantatnya di sebelah Dani. Dani menengok ke arah Guntur, menarik nafas berat.
“Gak ada. Aku hanya ingin cepat bertemu gadis itu?’ ucap Dani pelan, Guntur mengernyitkan alisnya dan tidak ingat yang dimaksud Dani malah mengulang kata Dani.
__ADS_1
“Gadis itu? Gadis yang mana, yang kamu maksud Dani?” tanya Guntur sambil menggoyangkan tubuh Dani.
“Yaelah, masa kamu tidak mengerti yang aku maksud. Ya tetangga kamu, Rianda.” jawab Dani kesal memukul tangan Guntur.
“Oa;ah anak itu toh, yang gak pernah keluar rumah kecuali sama mamanya..’ ucap Guntur menggaruk kepalanya. Dani hanya diam.
“Oke, nanti malam kamu antar aku ke rumahnya buat nganterin catatan.” ucap Dani kemudian, Guntur mengangguk mengerti.
“Oke, jam berapa kamu akan kesana?” tanya Guntur, Dani melihat jam di pergelangan tangannya.
“Mungkin setengah delapan, kamu tunggu aku di gang dekat rumah Rianda atau di cafe itu.” ucap Dani, kali ini Guntur tidak menjawab hanya mengangguk, Dani menoleh karena Guntur tidak menjawabnya. Guntur mengernyit dan mengangkat bahunya.
“Iya..iyaa , ngerti deh.” ucap Guntur tiba-tiba membuat Dani memberi tanda Guntur untuk diam.
Senja hari mulai menguning dan terlihat sangat indah di lapangan itu. Pertandingan futsal pun berakhir anak-anak banyak kecewa karena Dani tidak maksimal hari ini. Dani pun pamit pulang tidak menghiraukan apa kata teman-temanya tadi. Dani menaiki motornya, Guntur menaiki motornya dan melambaikan tangannya.
Sesampainya di rumah Dani melihat Anisa yang sudah pulang dari rumah temannya, menghampiri Anisa. anisa tersenyum melihat kakaknya menghampirinya dan langsung mendekap tubuh Dani yang berbau keringat itu.
“Jangan peluk kakak dek, kakak bau keringat.” ucap Dani melepaskan pelukannya, Anisa tersenyum kecut.
“Iya nech bau kecut. Ih kakak mandi sana. Gak ada cewek yang suka lo.’ jawab Anisa menutup hidung dengan tangannya. Dani gemas mengacak-acak hijab Anisa. Anisa ngambek dengan cemberut.
“Ih, kakak hjabku berantakan. Mandi sana!’ usir Anisa sambil mendorong tubuh Dani, Dani pun akhirnya pergi ke kamarnya dan mandi.
“Hmm, ternyata bau.’
__ADS_1