Cerita Cinta Rianda

Cerita Cinta Rianda
Bayangan Wajahmu


__ADS_3

Selamat Membaca


“Kakak kelas itu tampan ya, Rianda.”


Mona menunjuk ke arah  Dani yang sedang berdiri dan menjadi pemimpin upacara, sementara Mona dan Rianda berbaris dengan teman-teman kelasnya. Rainda diam tidak menjawab apa yang diucapkan Mona karena upacara bendera akan segera dimulai. Rianda matanya tajam tak pernah lepas memandang Dani, Rianda seolah menangkap sinyal mata Dani juga menatap ke arah dirinya, Apa Rianda  Kegeeran ya? Rianda mencoba mengalihkan pandangan dan fokus untuk upacara bendera hari ini.


Setelah selesai upacara bendera Rianda dan Mona bergegas ke kelasnya, Tetapi Mona minta diantar ke toilet. Rianda pun mengangguk setuju.


“Rian, kita ke toilet dulu yuk. Aku gak tahan kebelet nih.”  ucap Mona sambil menahan, Rianda tersenyum dan berjalan mengikuti Mona. Mona masuk kedalam toilet sementara Rianda mencoba merapikan kerudungnya sambil mencuci tangan.Masuk Langgeng Monica, Monica tersentak kaget dan berniat jahat kepada Rianda.


“Hai. adik kamu kelas satu ya? Kamu kenal Dani dari mana?” tanya Monica to the point  sambil menatap Rianda dengan bertolak pinggang, Rianda membalikkan badannya dan menatap mata kak Monica.


“Iya ka, aku kelas satu. Aku tetangga Kak Dani ka,” jawab Rianda singkat. Monica tidak saja mudah percaya mencoba bertanya lagi.


“Rumah lo deket gak sama dia? ko akrab gitu?” tanya Monica lagi. Rianda ketakutan agak menangkup kedua tangannya yang gemetaran.


“Rumahku ka, beda satu gang sama kak Dani. Tadi di jalan mama meminta aku ikut bareng kak Dani.” jawab polos Rianda, Monica tersenyum tipis.


“Well, Kamu mau gak ikut team cheerleaders nanti?” ucap Monica tiba-tiba mencoba menetralkan keadaan Rianda yang tegang.


“Iya, nanti aku pikirkan kak.’ jawab Rianda singkat, dan Monica mengangguk, beruntungnya Mona cepat keluar dari kamar mandi sambil menyeret tangan Rianda.


“Permisi kak, ayo Rian nanti kita telat masuk!’ ajak Mona sambil menatap Monica yang sedang melihat ke arah Mona. Rianda diam saja saat Mona menarik tangannya dan sedikit menunduk kan kepalanya.


“Permisi kak, aku ke kelas dulu...’ ucap Rianda, dan Mona tersenyum melihat mereka berdua kemudian mereka bertiga tertawa terbahak-nahak setelah Rianda dan Mona pergi.

__ADS_1


“Hahaha..mereka berdua cocok sekali yan satu cupu yang satu bego.” ucap Monica, dan kedua temannya sependapat dengan Monica.


“Yap, betul kata lo Monic, gue setuju banget sama lo.” jawab Dian dan Rara mentos Dian.


Rara menatap Dian dan Monica, seolah-olah akan melakukan sesuatu yang jahat terhadap Rianda dan Mona. Monica mengerutkan alisnya dan mengangkat tangannya.


“Tunggu dulu, guys. Menurut gue kita lihatin dulu aja. kalo bener tuh anak suka sama Dani baru kita kerjain!’ titah Monica, Dian sih oke aja namun Rara sepertinya kurang setuju.


“Kalo menurut gue sih lebih baik kita isengin aaj tuh anak, kerjain ngapain ke, kita sekarang tak ada yang bisa kita isengin lagi Monic. Saingan lo gak sebenarnya buat dapati Dani, usaha lo kurang kali Monic.’ jawab Rara dengan tatapan menyelidik pada Monica. Monica menatap tajam Rara.


“Ra, lo pikir gue gak usah apa. Gue udah dapetin nyokap si Dani. Masa gue harus pake hijab juga dapetin si Dani sih gak mungkin deh, gue sama Dani beda agama.” jawab Monica diplomatis mirip sama calon -calon yang mau naik  ke tingkat tinggi.


“Yaelah pikiran lo Monic. Emang lo ada niatin mau nikah sama Dani dan pindah agama, santai aja kali. Lo pacaran sama dia aja belum?” ucapan Rara terpotong sama Dian yang menengahi perdebatan mereka.


“Dah..udah sekarang kita masuk kelas, telat nech. Ntar kita pikirkan gimana caranya supaya lo, Monic bisa jadi pacarnya Dani oke.” ucap Dian sambil menarik tangan Monic dan pergi keluar dari toilet dan berjalan menuju kelas mereka.


“Ada apa?’ bisik Rianda mendekati Mona sementara Mona menggeser Rianda biar tidak ketahuan guru. Mona menulis di bukunya.


“Kenapa kamu senyum-senyum melihat pak guru. Kamu suka guru itu?’ yang Mona tulis membuat Rianda menggelengkan kepalanya.Dan Mona terdiam dan tidak menanyakan lagi. Rianda berusaha fokus kembali belajar.


“Ah, kenapa bayangan wajahmu terus melintas di kepalaku, Ya Tuhan.” batin Rianda berteriak.


Pelajaran hari ini sebenarnya belum terlalu full belajar, perkenalan dengan guru-guru baru dan teman-teman baru, kadang suasana menjadi riuh karena  gurunya kadang suka ikutan seperti gaya anak muda, bercanda dengan bahasa gaul masa kini. Bahasa anak gaul sekarang yang lagi ini. Bunyi bel sekolah, pertanda jam istirahat pun membuat beberapa teman-teman Rianda bersorak dan sebagian dari mereka berlarian keluar dari kelas.


“Mona, ayo kita ke kantin bersama?” ajak Rianda, namun Mona sedikit menggelengkan kepalanya. Membuat Rianda yang sudah bangkit dari kursi terdiam.

__ADS_1


“Aku bawa makanan Rian.’ jawab Mona sedikit menunduk, ak makan disini aja. Rianda mengerutkan alisnya , kemudian terciptalah idenya Rianda.


“Mon, gimana kalo lo bawa makanan kamu ke kantin, gue pesankan minuman buat kamu. Masa sih kamu tega membiarkan aku ke kantin sendirian, ayo temani yuk?!’ rayu Rianda sambil mengimutkan mukanya, membuat Mona tidak tahan pengen ketawa melihatnya.


“Oke, oke. Aku temenin kamu ..hahaha. tapi muka kamu lucu, Rian tadi swear deh.” jawab Mona membuat Rianda mencebikkan mulutnya.


“Aku lucu kayak badut dong..hahaha.” akhirnya Rianda pun tertawa mengingat tingkahnya tadi.


Mona dan Rianda berjalan ke kantin dan seseorang berlarian di lorong sekolah dan akhirnya menabrak Mona, nasi kotak yang Mona bawa tersenggol dan terjatuh berserakan di lantai pinggiran jalan kelas itu, membuat semua orang melihatnya. Mona terdiam mematung uangnya tidak cukup buat makan di kantin elit itu, Rianda melihat itu tidak tega.


“Kamu tidak apa-apa? Tenang saja hari ini aku yang traktir.’ ucap Rianda menenangkan Mona, Mona menarik nafas kasar dan segera mengambil kotak nasi dan membuang sisa makanan yang masih ada.


“Maafkan aku mama, nasi buatanmu ke buang.” gumam Mona, Rianda hanya diam dan memperhatikan apa saja yang dikerjakan Mona.


“Ayo, Mona nanti kita kehabisan bangku!” ajak Rianda, Mona pun mengangguk dan menggandeng tangan Rianda. Rianda dan Mona berjalan menuju kantin dan dipojokkan sebelah kanan ada bangku kosong empat.


“Kita duduk disana!” tunjuk Mona, Rianda pun mengangguk setuju, mereka pun menuju bangku dan duduk disana. Rianda bangkit dari kursinya , namun tiba-tiba ada dua pemuda menghampiri mereka berdua.


“Tunggu, Maaf..maaf tadi aku sudah menabrakmu tadi,” ucap Andi tulus, dan Dani yang di samping menatap Mona dan Rianda bergantian.


“Tidak apa-apa ka. Sudah aku maafkan.” jawab Mona lemah. sebenarnya Mona sedih mamanya sudah memasak nasi  bento kesukaan  Mona, akhirnya terjatuh.


“Oke, makasih sebagai gantinya biar aku pesankan kalian berdua oke!” ucap Andi tidak bisa ditolak lagi oleh Rianda dan Mona karena Andi memohon, Dani yang berdiri di belakang Andi mengangguk, Rianda dan Mona pun akhirnya setuju.


“Oke, aku pesankan bakso malang yang enak disini, jus dan air mineral ya. Jus kalian mau apa? Alpukat? Mangga? Jeruk?” tanya Andi. Rianda dan Mona saling melemparkan pandangan membuat Dani yang menyimak dari tadi tersenyum tipis.

__ADS_1


“Mangga” Jawab Rianda dan Mona serempak membuat keduanya saling menengok dan tertawa.


“Oke kalian gadis-gadis tunggu disini ya. kami akan melayanimu.”


__ADS_2