Cerita Cinta Zia

Cerita Cinta Zia
Bab 1 Kawan, keluarga, dan desa tercinta


__ADS_3

Hidup memang penuh liku-liku dan cerita yang berbeda pada setiap orang. Semua orang tahu bahwa berbeda kepala tentu berbeda pula pemikiran dan pendapat. Tidak ada cerita kehidupan yang sama pada setiap orang. Kalaupun ada biasanya hanya pada beberapa sisi saja. Kata orang, tentu bingung memilihnya jika semua orang sama. Termasuk kisahku ini, jika ada yang sama itu hanya kebetulan belaka.


Eeits....


Santai saja ya, tidak perlu seserius itu dan inilah kisahku. Aku lahir sebagai putri bungsu dari tiga bersaudara. Namaku Fauzia Natasya Henari putri bungsu dari pasangan Bapak Hendri Wiriatmaja dan Ibu Fatimah Sri Wulansari. Kakak pertamaku laki-laki bernama Imam Ashari, sering aku panggil Kak Ashar. Dia seorang yang pendiam namun penyayang. Kata ibuku ia seperti gong, kalau tidak dipukul maka tidak bunyi. Hehehe, mungkin karena pendiam sekali kakakku itu.

__ADS_1


Kakak keduaku perempuan dengan nama Kharisma Husnul Khotimah. Tetangga dan orang-orang di rumah sering memanggil Khotim, tapi teman-temannya di sekolah dan di tempat kerjanya memanggil Risma. Biasalah nama depan yang biasa dipanggil dahulu. Kakakku satu ini super cerewet tapi sebenarnya baik dan penyayang sih. Kak Khotim akan marah-marah jika aku membuat kesalahan. Terkadang Kakakku satu ini aku jailin sebab cerewet banget siih.


Kak Ashar bekerja pada suatu perusahaan sejak aku duduk dibangku SMP. Selisih usia kami 9 tahun, sedangkan selisih usiaku dengan usia Kak Khotim tiga tahun. Saat aku masuk SMP, Kak Khotim masuk SMA, sedangkan Kak Ashar sudah bekerja. Karena keluarga kami termasuk keluarga yang pas-pasan, maka ayah kami semua menyetarakan pendidikan kami hanya berakhir di SMA saja. Itupun dirasa sudah tinggi mengingat kedua orang tua kami hanya lulusan SD. Namun demikian tidak menyurutkan tekad kami untuk meraih prestasi mengejar cita-cita dan impian kami.


Ayahku bekerja sebagai buruh serabutan. Kadang kuli bangunan, kadang tukang panjat kepala, eh maaf maksudku panjat kelapa, terkadang juga kuli panggul. Apapun itu semua dilakukan ayah dengan ikhlas dan pantang menyerah demi nafkah keluarga. Sedangkan Ibuku selain menjadi ibu rumah tangga juga membantu bekerja dengan membuat bakul dari anyaman bambu. Bakul tersebut lalu di jual ke pasar.

__ADS_1


Jadi teringat masa kecil dulu saat aku masih SD bermain air di sungai bersama teman-teman sekelas. Ada Eko, Rian,Taufik, Karin, dan Erna. Setiap hari Minggu saat kami tidak bersekolah, maka kami memanfaatkan waktu untuk bermain bersama. Saat itu kami membuat parit kecil-kecil di sungai yang jernih. Pemenangnya adalah yang berhasil membuat parit terpanjang.


Hari itu karena asyiknya main, kami tidak memperhatikan matahari yang semakin naik. Kami juga tidak mendengar bunyi kumandang adzan dhuhur siang itu. Entah karena riuhnya kami bermain atau memang tidak sampai terdengar di sungai. Tiba-tiba terdengar bunyi dentuman keras di tengah-tengah kedung dekat kami bermain.


Blooom....

__ADS_1


Suara itu keras sekali dan membuat kami semua berdiri menatap ke arah asal suara di jeram yang dekat dengan tempat kami bermain. Kami semua saling pandang.


__ADS_2