Cerita Cinta Zia

Cerita Cinta Zia
Bab 3 Kuliah Sambil Bekerja


__ADS_3

Selepas lulus dari MAN, maka Zia ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun Zia tahu akan keadaan ekonomi keluarga yang pas-pasan. 


Kak Ashar selepas tamat SMA sudah bekerja di sebuah pabrik di Surabaya. Setiap sebulan sekali Kak Ashar pulang ke rumah. Kak Khotim juga bekerja di sebuah toko baju di desa sebelah dan malam harinya membantu anak-anak tetangga kiri kanan belajar di rumah.


Zia merasa dia harus bisa melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi lagi. Pendidikan yang dirasa paling murah biayanya adalah sekolah tinggi keguruan yang mana tentu lulusannya akan menjadi seorang guru.


Dari awal memang cita-cita menjadi guru sudah dari kecil ia impikan. Selain bisa menyalurkan ilmu yang dimiliki, menjadi seorang guru akan memberi ilmu yang bermanfaat bagi muridnya sehingga ilmu itu akan terus mengalir pahalanya meski sang guru telah meninggal.


Dengan dasar itulah maka begitu kuat tekad Zia untuk melanjutkan studinya. Meski ia nanti akan kesulitan mencari kerja, serta gaji guru yang tidak seberapa, namun itu semua tidak menyurutkan cita-citanya.


"Zia…duduklah di sini! Ayah mau bicara." Panggil ayah kepada Zia.


"Ada apa ya Ayah?" Tanya Zia dengan penasaran sambil duduk di dekat ayahnya di ruang tamu.


"Ayah sudah memberikan apa yang ayah mampu berikan terkait pendidikan. Ayah sudah menyekolahkan kalian dengan jenjang yang sama. Bahkan kamu yang bersekolah di Madrasah Aliyah Negeri…sedangkan Kakak-kakakmu hanya di swasta. Jadi jika kamu ingin kuliah, terus terang ayah tidak bisa membiayai mu. Pundak dan punggung ayah sudah tua. Tanyalah pada kakakmu yang sudah bekerja!" Ucap ayah dengan nada penekanan.


Aku sesekali menunduk sambil mendengarkan perkataan ayah. Apa yang ayah kata memang benar.


"Baik Ayah, aku akan berusaha mencari cara dan bertanya kepada Kak Ashar. Terima kasih atas kerja keras Ayah selama ini, maafkan Zia yang belum bisa membalasnya." Ucapku sambil ku peluk ayah dengan rasa haru.


Ayah memang bekerja keras demi keluarga. Ibu juga membantu ayah dengan ikhlas. Ibu memilih menahan keinginan untuk membeli sesuatu yang tidak terlalu penting hanya untuk melihat kami bisa bersekolah.


"Apa yang dikatakan Ayahmu memang benar Nak, Ibu dan Ayah sudah menyekolahkan kalian dengan pendidikan yang lebih tinggi dari kami. Ayah dan Ibu hanya tamatan SD, kami berharap dengan menyekolahkan kalian maka akan menjadi bekal yang kekal untuk masa depan kalian yang lebih baik lagi." Sahut Ibu yang tiba-tiba datang mendekati kami.


"Iya Ibu, Zia juga mengerti akan hal itu. Kerja keras dan doa dari kalian yang menjadikan kami maju seperti hari ini. Terima kasih ya Ibu." Ucapku sambil memeluk Ibu.

__ADS_1


Suasana haru sore itu menyelimuti kami. Kak Khotim belum pulang dan Kak Ashar tidak pulang Minggu ini.


*


*


*


Setelah berpikir dan merenung apa yang telah disampaikan ayah dan ibu, akhirnya aku memutuskan mencari informasi. Semua informasi baik dari media elektronik atau bertanya kepada teman-teman yang lulus SMA aku dapatkan dalam waktu yang singkat.


Kebetulan di kota kecilku tepatnya di Kabupaten Tulungagung ada beberapa sekolah keguruan. Diantara sekolah tersebut ada beberapa yang memiliki jadwal kuliah sore. Aku pun mempunyai ide untuk kuliah sambil bekerja.


Ketika Kak Ashar pulang ke rumah, aku sempatkan diri berbicara dengannya.


Kak Ashar menjawab, "emang ada apa ya Zia?"


"Kak, aku ingin minta tolong. Tolong bantu aku masuk kuliah dan tolong beri biaya kuliah aku sampai 2 tahun saja ya…" Pintaku sambil merapatkan kedua tangan bentuk permohonan.


"Karena adik Kakak gak cuma kamu, coba tanya dulu sama Kak Khotim ya! Jika Kak Khotim setuju, kakak akan bantu." Jawab Kak Ashar.


"Iyess… aku akan tanya Kak Khotim…pasti setuju niih." Ucapku dengan semangat.


Tanpa sengaja Kak Khotim lewat dan mendengar.


"Ada apa nih, sebut-sebut nama saya?" Tanya Kak Khotim agak sewot. 

__ADS_1


Waduh…Kak Khotim mode galak niih.. 


Ucapku dalam hati. Perlu rayuan ini.


"Kak Khotim yang cantik, baik hati dan tidak sombong, adikmu satu ini mau minta tolong niih…" ucapku mengiba.


"Udah gak usah bertele-tele, cepat katakan apa maumu!" 


"Begini Kakak, aku mau minta tolong,-"


"Dari tadi tolong-tolong… cepet katakan ada apa? Aku sibuk niih." Potong Kak Khotim.


Kak Ashar yang duduk di samping hanya mendengar dan menahan tawa atas perseteruan kecil yang terjadi.


Gimana mau cepet, Kak Khotim motong terus siih..


Ucapku dalam hati.


"Iya Kak, tolong izinkan Kak Ashar bantu kuliah aku selama 2 tahun. " Kataku dengan hati-hati.


"Tidak boleh!" Jawab Kak Khotim sambil menaruh kedua tangan di pinggang. Secara tak langsung membuat pucat pasi wajahku sambil menutup mulutku dengan kedua tangan.


Oh Tuhan…kenapa jadi begini.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2