Cerita Cinta Zia

Cerita Cinta Zia
Bab 7 Menyusul Menikah


__ADS_3

Pembukaan dimulai. “Menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Hadirin dimohon berdiri!” Kata pembawa acara yang diikuti oleh semua hadirin berdiri dari tempat duduk mereka masing-masing.


Ada rasa grogi dalam hati saat memimpin lagu Indonesia Raya. Semua mata peserta tertuju padaku. Tidak terkecuali Deni yang terus memandangku dengan sorot yang berbeda. Namun hatiku biasa-biasa saja seperti teman-teman baru yang lain.


”Marilah kita menyanyikan lagu Indonesia Raya dimulai setelah hitungan ketiga. Indonesia tanah airku... satu dua tiga.” Ucapku ketika memimpin lagu menjadi dirigen di depan semua peserta dan tamu undangan.


Pandanganku beredar ke sekeliling ruangan sambil memperhatikan wajah-wajah peserta. Sekilas mulutku ikut terbuka meskipun tanpa suara pada lirik-lirik tertentu di awal bait lagu. Tak sengaja pandangan ku tertuju kepada Deni yang berada di tengah-tengah peserta. 


Deni memandang dengan sorot kekaguman seakan tidak percaya bahwa aku mampu menjadi dirigen. Atau mungkin hanya taksiran ku saja ya. Aku yang merasa ke-PD-an barangkali. Hahaha... dalam hati aku berkata sendiri. Ku alihkan pandanganku kepada yang lain sambil terus memimpin lagu. Akhirnya dengan penuh khidmat semua peserta dan tamu undangan menyanyikan lagu sampai selesai.


Aku kembali ke tempat duduk semula yang berbeda baris dengan Deni. Dia duduk di barisan lain deretan paling belakang. Aku duduk di baris kedua sesuai dengan nama dan asal kampus kami masing-masing sebagaimana yang telah dibuat panitia.


Sesudah acara pembukaan sesuai jadwal yakni acara ishoma (istirahat, sholat, makan). Saat itu jam menunjukkan pukul 12.10 WIB, kami serentak bergegas ke ruang makan yang telah disediakan oleh pihak panitia dan hotel. Saat makan siang tersebut kami melanjutkan acara berkenalan kami dengan peserta lain yang belum sempat berkenalan tadi. Termasuk aku yang berkenalan dengan teman sekamarku. Dia datang saat aku mau masuk ke kamar untuk pertama kalinya untuk memasukkan barang bawaan. 


Kami buru-buru hanya meletakkan barang bawaan sebab acara pembukaan akan dimulai. Masih sebatas tukar nama saja. Jadi kami lanjutkan saat makan siang. Tadi saat masuk ke dalam kamar kami sepakat meletakkan sepatu dekat pintu, supaya kamar tetap bersih. Tentunya juga tetap suci untuk kami beribadah sholat.


“Hai, namaku Rahayu Pangestu,” ucapnya sambil mengulurkan tangan di depan kamar tadi.


“Aku Fauzia Natasya, kita sekamar ya?” Jawabku.


“Iya, mari kita masuk meletakkan bawaan dan langsung menuju ruang pertemuan!” Sahutnya.


Memori percakapan singkat tadi masih terekam jelas di kepalaku. Saat kami makan siang, kami duduk di meja yang sama setelah mengambil menu makan siang sesuai keinginan kami. Dia mulai bercerita alamat rumahnya. Aku juga bercerita ketika dia menanyakan hal yang sama. Kami juga bercerita naik kendaraan apa perjalanan tadi.


Tak terasa makan siang telah usai. Kami memutuskan untuk kembali ke kamar dan beristirahat. Tentu aku akan melaksanakan sholat Dhuhur. Sesuai kesepakatan kami, alas kaki kami letakkan dekat pintu masuk. Ada dua bed terpisah di dalam kamar. Dia memilih bed dekat jendela saat meletakkan tasnya, sehingga aku kebagian bed yang berada dekat kamar mandi. 


Buru-buru aku masuk ke kamar mandi sebab terasa mau buang air kecil. Saat masuk kamar mandi sudah disediakan dua pasta gigi mini beserta sika giginya. Hmm... tahu gini aku gak perlu bawa peralatan mandi, hehehe. Ada dua handuk dan dua penutup kepala yang dalam kamar mandi. Tidak ada bak mandi atau pun gayung. Hanya ada satu shower dan wastafel serta closet duduk. Wah... ngalamat gak bisa segar nih mandinya, maklum biasa di desa dengan bak mandi dan gayung sehingga bisa jibar jibur, hehehe.


Sebagai muslim, sesudah mengambil air wudhu di bawah shower ku laksanakan sholat dengan khidmat. Tidak lupa kucari petunjuk arah kiblat yang ada dalam kamar. Saat aku tanya Ayu dia bilang dia tidak sholat. Ya, sudah aku pikir dia sedang berhalangan sholat. 


Setelah acara istirahat usai kami bergegas kembali menuju ruang pertemuan dan saat kami masuk, meja yang tadinya berbaris dan berderet telah disulap menjadi bentuk U. Sehingga kami semua bisa menatap teman-teman peserta yang lain. Meskipun aku sekamar dengan Ayu, tapi kami duduk terpisah jauh. 


Di atas meja kami sudah terpampang nama dan asal kampus kami. Aku membaca satu persatu nama-nama yang dapat kulihat. Sambil menunggu pemateri kami masih berkenalan lebih lanjut. Mataku terbuka lebar saat membaca asal kampus Ayu. Ternyata dia dari kampus Kristen. Oh... Yaa Allah, pantesan dia gak sholat. Ternyata non muslim, hehehe. Dalam hati aku berbicara sendiri dan menerima kebodohan ku. Tadi saat berkenalan dan menyebutkan asal kampusnya aku tidak mencatat dalam otak, hanya keluar masuk telinga saja.


Meskipun dia non muslim dia sangat menghormati yang notabene aku berjilbab dan seorang muslim. Terbukti dari sikapnya yang tidak mau memberi tahu langsung jika dia non muslim. Dia juga mengikuti saran ku saat aku minta meletakkan alas kaki di dekat pintu. Sungguh dia menghormati perbedaan. Wah... kelihatannya bakalan seru nih punya pengalaman sekamar dengannya.


Hari terus berganti hari, acara demi acara terlewati. Penyaji materi silih berganti mengisi acara kami. Bapak dan Ibu dosen yang luar biasa menambah wawasan kami dalam hal kebangsaan, leadership, dan kerja kelompok. Tugas demi tugas juga sudah kami selesaikan satu per satu. Tak terasa kebersamaan begitu cepat berlalu saat pelatihan. Tiba saatnya hari terakhir yakni hari Sabtu. 


Saat sarapan pagi Deni menghampiriku dan bertanya tentang perjalanan pulang.


“Zia, kamu nanti mau pulang naik apa?” Tanya Deni selepas sarapan sambil menunggu acara hari ini dimulai.

__ADS_1


“Tadinya sih aku mau pulang naik kereta lagi, tapi setelah melihat banyak teman yang berasal dari kota yang sama dan berdekatan aku ngikut saja deh.” Jawabku.


Sambil tersenyum dia bilang, “Kita kan searah nanti pulangnya bareng aku saja ya?”


“Baiklah kalo begitu, tapi jujur niih...aku gampang mabuk kendaraan lhoh, maka dari itu kemarin aku memilih naik kereta. Hehehe..” Kataku sambil tertawa malu.


“Tidak apa-apa. Kan ada aku.” Jawabnya sambil tersenyum dan aku mengiyakan saja.


Acara penutupan dimulai dan setelah penutupan seluruh peserta di harapkan bisa meninggalkan hotel sebelum pukul 13.00 WIB. Kami dan beberapa teman yang searah kurang lebih 13 orang mencari angkutan umum. Aku duduk di samping Deni. Sebenarnya aku ingin duduk dekat jendela dalam angkutan, tapi keburu Deni yang duduk disana. Sebelumnya aku membeli obat anti mabuk kendaraan dan sudah aku minum setengah jam yang lalu.


Alhasil rasa kantuk yang luar biasa efek obat anti mabuk pun menyerang. Tadinya aku duduk bersandar, kulihat jam tangan menunjukkan pukul 13.30 WIB. Masih sekitar 4 jam lagi sampai di rumah. Lama-kelamaan aku tertidur. 


Tanpa kusadari tiba-tiba aku terbangun dan ternyata aku tertidur di pundak Deni. Wuih... malunya diriku kala kusadari akan hal itu. Mengingat aku tadi tidurnya di sandaran bus. Aku kucek-kucek mata dan meminta maaf karena tidak sadar. Dia pun hanya mengangguk dan tersenyum. Teman-teman yang lain ada yang tertawa dan kebanyakan diam saja sih.


Tiga setengah jam telah berlalu dan banyak teman yang turun sesuai dengan alamat rumah mereka masing-masing. Aku dan Deni turun yang paling akhir karena kota kami agak jauh. Namun lebih dekat dengan daerah Deni tinggal. Sehingga dia pun turun duluan, sementara aku terus naik sampai di terminal bis.


Kak Ashar yang akan menjemput sudah aku hubungi dan sudah berangkat menunggu di terminal juga. Ketika turun aku langsung mencarinya. Aku menyalami Kakak dan dia bertanya, “Tadi bareng siapa?” Aku jawab, “Bareng orang dari kampus sebelah Kak. Rumahnya itu daerah pegunungan sebelah barat.” Jawabku menerangkan. Sementara Kak Ashar hanya beroo ria.


*


*


*


Sebagai orang Jawa yang tinggal di desa, kami masih menjaga tradisi rewang (membantu tetangga yang punya hajat), sehingga urusan makanan kami tidak perlu memesan catering. Cukup dibantu para saudara dan tetangga. Berbagai snack dan beberapa jenis makanan sudah ada yang mengerjakan sendiri. Bagian perairan, hehe maksudnya penyaji minuman juga sudah ada sendiri. Rasa guyub rukun (gotong royong) masih sangat kental di daerah kami.


Ditengah-tengah hari yang sibuk itu, ada sebuah pesan di HP ku. Wah, ternyata dari Deni. Dia mengirimkan kata-kata manis yang aku bingung untuk menjawabnya. Ku jawab sebisaku dengan biasa-biasa saja. Tidak lupa aku meminta maaf karena terlambat membalas pesannya sebab di rumah lagi ada persiapan hajatan kakakku.


Hampir setiap hari dia selalu bertanya kabar, mengirim pesan dengan kata-kata manis. Hingga lama-lama aku jadi terbiasa dan entah mengapa ketika dia terlambat berkirim pesan, aku memikirkan dirinya. Pesan darinya seolah-olah aku nantikan setiap hari. “Apa ini ya yang namanya rindu? Hehehe... Jangan-jangan dia menyukaiku. Entahlah, atau dia hanya menggodaku ya?” batinku saat merasa gelisah.


Sebenarnya aku merasa kita belum terlalu mengenal jauh. Bagiku hanya sebatas teman saja menurut logika ku. Tapi mengapa batinku berkata lain. Apa aku mulai menyukainya ya. Atau aku hanya berangan-angan tinggi.


Siapa siih yang tidak melayang saat pagi hari diberi pesan seperti ini;


Jalan-jalan sendiri ketika senja


Yang ada hanya angin malam sepi


    Selamat pagi wahai kau disana


    Marilah kita menyatukan hati

__ADS_1


Agak siang berbeda lagi,


Berakit-rakit ke hulu


Berenang-renang ke tepian


    Gimana mau ke penghulu


    Kalau sekarang masih temenan


Malamnya lanjut menggombal,


Buah kemumu dimakan ikan,


Senyuman itu tak bisa dilupakan.


    Satu titik dua koma,


    Si cantik siapa yang punya.


Jika akan ke Surabaya,


perginya naik kereta;


Jika belum ada yang punya,


ijinkan aku berkata cinta.


        Pergi ke Aceh makan dendeng rusa


        Dendeng dibungkus daun pepaya


        Kalo emang kamu ada rasa


        Buruan terima cinta saya


Aah...setiap hari terima pesan-pesan kayak gitu dari Deni. Sebelumnya aku cuma balas pakai satu atau dua kata saja. Jujur tidak bisa balas hal-hal seperti itu. Tapi aduh lama-lama jadi kangen juga niih.


Ya sudahlah aku balas saja iseng sih, “Sehabis kakak ku menikah kita menyusul menikah ya.” Yah dianya langsung telepon. Hehe, akhirnya jujur ku katakan masih dalam pemikiran. Aku sendiri aja masih gak percaya kalau hatiku ternyata rapuh seperti ini. Apa memang efek aku yang tak pernah kenal laki-laki atau efek lain-lain. Hmm...pusing memikirkannya.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2