
Bloom...
Suara itu keras sekali dan membuat kami semua berdiri menatap ke arah asal suara di jeram yang dekat dengan tempat kami bermain. Kami semua saling pandang.
Serentak kami terdiam. Tidak ada pergerakan sama sekali di jeram itu. Hanya suara gemericik air yang terdengar. Air dalam jeram juga kelihatannya tidak bergerak.
“Suara apa itu?” tanya Rian, disusul pertanyaan Karin, “iya suara pa ya?”
Eko, Taufik, Erna, dan aku serempak menggelengkan kepala.
“Kira-kira suara apa ya?” Tanyaku juga.
Tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing di telingaku.
“Hahahahaha..., kalian lucu sekali, baru dengar suara aneh langsung ketakutan.” Kata Kak Khotim sambil tertawa dan berjalan ke arah kami dari balik pohon.
“Oalah, ternyata Kak Khotim yang mengagetkan kami? Bikin jantungan saja.” Kata Erna sambil geleng kepala.
“Iya niih...iseng banget sih Kakak,” akupun turut menimpali, dan mulailah ceramah Kakakku yang super cerewet.
__ADS_1
“Kalian ini ya, meskipun hari ini hari Minggu harusnya kalian itu bisa bagi waktu. Tidak hanya main melulu. Lagian panas-panas gini main di sungai. Tuh, matahari dan naik. Kalian semua sudah sholat apa belum? Sudah makan apa belum? Emangnya gak ada PR dari sekolah? Malah asyik enak-enak main di sungai. Itu lihat! Kaki kalian sudah keriput kelamaan di air.” Kata Kak Khotim.
Kami semua terdiam sambil melihat Kak Khotim. Kami juga serempak lihat kaki masing-masing yang masih terendam aliran air sungai yang jernih. Benar juga kata Kakak, kaki kami terlihat pucat dan keriput.
Tak berselang lama Eko menjawab sambil cengengesan, “satu-satu kali Mbak nanyanya. Kami kan bingung mau jawab yang mana?”
“Iya Mbak, tapi benar juga apa yang dikatakan Mbak Khotim.” Sahut Erna.
Taufik menambahkan,” kami juga sudah kelaparan. Ngomong-ngomong jam berapa ya sekarang Mbak?”
“Sekarang sudah hampir jam dua siang.” Jawab Kak Khotim cepat.
“Nah gitu donk, kalian ini mengganggu tidur siangku saja. Kalau gak Ibu yang nyuruh aku pasti asyik bermimpi. Sudah semua pulang-pulang!” Perintah Kak Khotim.
Kami semua membubarkan diri dan berjalan keluar dari area sungai dan menuju rumah masin-masing.
Sambil berjalan di belakang Kak Khotim aku bertanya, “tadi Kakak bikin suara aneh yang mengagetkan kami ya?”
Kak Khotim malah tertawa terpingkal-pingkal, “hehehehe.... Emang enak dikerjain? Kalian sih ganggu Kakak duluan. Lagi asyik tidur, Ibu ngebangunin suruh cari kalian. Ya udah, aku isengin aja.”
__ADS_1
“Walah...ternyata Mbak Khotim balas dendam.” Celetuk Taufik dari belakang yang mendengar kami bicara karena masih berada di jalan yang sama.
Tiba di persimpangan kami pulang ke rumah masing-masing. Eko, Rian dan Erna belok ke kanan menuju dusun sebelah. Sedangkan Taufik dan Karin belok ke kiri ke arah rumah mereka. Kak Khotim dan aku lurus menuju persimpangan berikutnya dan belok kiri maka sudah sampai ke rumah.
Kami semua tinggal di salah satu desa di Jawa Timur, tepatnya pesisir selatan Jawa Timur. Kebanyakan anak-anak di desa bersekolah di satu SD yang berada di desa ini. Teman kelasku berjumlah 15 orang. Namun yang terbilang akrab cuma beberapa. Seperti aku dan kelima kawanku.
Seiring waktu yang terus bergulir, enam tahun di bangku SD terlewati dengan penuh suka dan duka. Kami lulus sesuai dengan kemampuan kami masing-masing. Kebanyakan kawan-kawan melanjutkan ke jenjang SMP, yang terdekat adalah SMP Negeri 1. Namun aku tidak melanjutkan ke sana sebab keluarga kami memilih sekolah madrasah, meski jarak dengan rumah gak sedikit jauh. Kedua kakakku juga telah melanjutkan disini. Meski bukan sekolah negeri namun lebih banyak pendidikan agamanya sehingga kedua orangtuaku bertekad menyelesaikan sekolah disana.
Akhirnya semenjak masuk sekolah setelah SD aku dan kawan-kawan SD ku jarang bertemu lagi sebab sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Akan tetapi sesekali waktu kita sempatkan mabar (main bareng) di salah satu rumah kawan-kawan secara bergantian. Kadang sebulan sekali, bahkan sempat dua bulan kita berkumpul. Jika sudah demikian kami sibuk dengan cerita masing-masing.
*
*
*
Setelah tiga tahun di bangku SMP maka waktunya kita menimba ilmu ke tempat yang lebih jauh. Ada yang di SMK, SMA, dan aku juga memilih di MAN. Semakin hari kesibukkan belajar dan kesibukkan lainnya semakin bertambah dan kami sudah jarang sekali berkumpul seperti dulu. Bahkan saat lebaran kita juga tidak bisa berkumpul. Hingga hanya berkomunikasi lewat media elektronik saja.
Yaa... begitulah kehidupan, yang muda pasti tumbuh dewasa, yang dewasa pasti akan tua juga. Hidup terus berlanjut. Hingga saatnya kami bekerja atau kuliah.
__ADS_1