
Ketika tangan ku akan membuka perekat amplop, tiba-tiba ada suara dari atas tangga yang mengejutkan...
“Dor... hayoo apaan itu?”
Ternyata Ika dari lantai atas yang tahu aku diam-diam mencari tempat aman.
“Aiish... apaan sih bikin aku kaget saja,” sambil pukul lengannya saat ia mendekatiku. Matanya mengarah ke tanganku yang memegang amplop.
“Waah dapat uang tuh kayaknya. Traktiran doonk...” ucapnya sambil tersenyum penuh harap.
“Ini tadi uang saku buat pelatihan aku ke kota sebelah, semoga saja ada sisa. Pasti aku traktir deh sepulang pelatihan, kalo uangnya masih. Hahahaha....” Ucapku sambil tertawa dan memasukkan amplop ke dalam tas.
Tak lama kemudian Nurul dan Ika datang dari arah samping ikut bergabung.
“Wah ada kabar apa nih sepertinya kalian ketawa ketiwi siih.” Ucap Widya yang lalu dijawab oleh Ika.
“Ini nih, Zia baru dapat amplop. Kita mau ditraktir jika uangnya masih sepulang pelatihan. Kita doain saja semoga benar.”
“Waah, asyiiik... bakalan mangan gedhen (makan besar) niih... hehehe.” Sahut Nurul.
“Iya...doain saja semoga pelatihannya lancar ya teman-teman, dan yang paling penting niih... Semoga amplopnya banyak. Hihihii...” Ucapku setengah berbisik dan menutup mulut dengan satu tangan pada kalimat terakhir.
“Aamiin....” Kompak mereka bertiga mengamini ucapku.
Ika bertanya, “Emang mau berangkat kapan dan berapa hari?”
“Kegiatannya dimulai besok lusa, tepatnya hari Senin. Jika sesuai jadwal kemungkinan sampai hari Sabtu depan. Jadi seminggu deeh...” jawabku.
__ADS_1
“Pokoknya tetap semangat dan jaga kesehatan ya Sob!” Sahut Widya.
“Insya Allah. Terimakasih atas dukungan kalian, semoga bisa mengikuti kegiatan dengan lancar ya! By the way jika ada tugas dari Dosen kita, tolong kabari ya! Semoga ada waktu untuk mengerjakan sehingga aku tidak tertinggal mata kuliah.” Jawabku.
“Pastilah. Tenang saja. Kamu fokus saja kepada pelatihan. Soal tugas seperti biasa... kita kan mengutamakan kerja sama. Ya nggak teman-teman?” Jawab Nurul yang diiyakan oleh yang lain.
“Berhubung kuliah hari ini sudah selesai, mari kita pulang!” Ajak Ika.
Kami semua menyetujui ajakan tersebut dan pulang ke rumah masing-masing. Aku pulang dengan perasaan lega dan senang sebab memiliki sahabat yang baik seperti mereka. Memang benar kata Pak Guru di sekolah yang dulu, bahwa “mencari musuh itu mudah tapi mencari teman yang baik itu tidak mudah. Jika Allah SWT memberimu teman yang baik, yang tetap mendukungmu dalam suka dan duka maka pertahankan dan bersyukurlah.”
* * *
Keesokan harinya aku bersiap-siap packing, mulai menata pakaian untuk keperluan pelatihan yang wajib dibawa, mulai dari bawahan hitam, atasan putih, baju olahraga, jas almamater, dan lain sebagainya. Tidak lupa aku juga melengkapi dengan peralatan mandi, handuk, dan selimut. Belum lagi ditambah sepatu olahraga dan sandal. Peralatan tulis juga tidak boleh ketinggalan. Jilbab dan aksesoris, kaos kaki, dan baju-baju ganti yang lain.
Lumayan banyak barang-barang yang harus aku bawa. Sampai-sampai Kak Khotim yang lewat depan kamar berhenti dan berkata,
“Ini mau pelatihan atau mudik yaa? Banyak banget bawaannya.”
“Ya kurangilah apa gitu yang tidak terlalu penting gak usah dibawa.” Saran Kak Khotim sambil berlalu lewat.
Benar juga sih katanya. Tapi bagiku semua penting siih... kayaknya perlu penataan ulang supaya praktis deh. Akhirnya ku manage ulang barang-barang bawaan. Yang tidak terlalu penting untuk ganti aku tinggalkan.
“Wah ternyata benar kata Kakak, jadi praktis dan mudah membawa deh setelah aku tata lagi.” Ucapku bergumam di dalam kamar sendirian.
Hari keberangkatan pun tiba, Kak Ashar mengantar aku ke stasiun saat dini hari usai sholat Subuh. Dengan menggunakan kereta api yang tiketnya aku pesan jauh-jauh hari aku berangkat. Meski hanya ke kota sebelah namun perjalanan lumayan jauh kurang lebih tiga jam.
Setelah naik kereta aku harus menggunakan angkutan untuk sampai lokasi pelatihan yakni di Hotel xx. Sebenarnya jika mau naik bis langsung lokasi hotel, tapi aku suka mabuk kendaraan jika naik bis. Selain itu harga tiket kereta juga lebih murah, mengingat uang saku yang harus bersisa untuk traktiran teman-teman.
__ADS_1
Akhirnya setelah satu jam dalam angkutan sampai juga di hotel. Waktu menunjukkan 08.30 WIB. Aku sengaja datang lebih awal supaya bisa beristirahat. Sesuai jadwal memang acara check in sampai jam 10.00 WIB, dilanjutkan dengan pembukaan dan ishoma (istirahat, sholat, makan).
Saat check in sudah ada beberapa mahasiswa lain yang datang. Kurang lebih ada 10 orang. Kebanyakan mereka berasal dari kota tersebut dan beberapa dari kota sebelahnya. Termasuk salah satu diantara mereka ternyata dari kota yang sama denganku. Namanya Deni. Dia berasal dari kampus lain di kotaku.
Saat melihatnya, kesan pertama dalam hatiku, oke juga orang ini. Begitu ku tanya alamat, oh ternyata dari kecamatan ujung barat kota yang mana itu daerah pegunungan. Dalam hatiku ternyata wong gunung (orang pegunungan). Otak ku secara tidak langsung berselancar ke area pegunungan dan kehidupannya. Yang terbersit kala itu di daerah pegunungan masih kesulitan air.
Kami sebagai peserta yang datang awal sesudah melakukan registrasi sambil menunggu yang lain maka saling berkenalan. Peserta lain yang datang satu per satu mulai menyebutkan nama, alamat, dan kampus serta jurusan masing-masing. Tiba-tiba panitia datang untuk meminta tolong peserta menjadi petugas acara pembukaan. Ibu tersebut mendaftar nama dan tugas. Tinggal satu tugas yang belum ada orangnya.
“Ini satu orang lagi yang mana saya kesulitan mencari.” Kata Ibu tersebut.
“Jika boleh tahu tugasnya apa ya Bu?” Jawabku memberanikan diri yang diikuti semua mata peserta lain yang memandangku.
“Ini pemimpin lagu Indonesia Raya atau dirigen,” jawab ibu itu sambil memandangku penuh harap.
“Baiklah Bu, saya siap.” Jawabku sambil tersenyum.
“Nah...ini yang aku tunggu. Baiklah, namanya siapa?” tanya ibu tersebut.
“Saya Fauzia, Bu.” Jawabku.
“Terimakasih ya, nanti acara kedua setelah pembukan oleh pembawa acara atau MC.” Sahut ibu tersebut.
“Iya, Bu. Terimakasih kembali.” Jawabku.
Tanpa aku sadari ternyata Deni sejak tadi memandangku dengan sorot kekaguman. Usai bercakap-cakap dengan ibu tadi aku secara spontan melihat ke arahnya. Ternyata dia berusaha mengalihkan pandangannya. Wah curi-curi pandang rupanya. Aku sih biasa-biasa saja.
Sesaat kemudian sudah banyak peserta yang datang dari berbagai kota di Jawa Timur. Kami diberi kunci kamar dan memasuki kamar masing-masing untuk meletakkan barang-barang. Setelah itu kami kembali ke ruangan pelatihan untuk acara pembukaan.
__ADS_1
Acara gladi sebelum pembukaan dilakukan sekali untuk menentukan tempat bagaimana posisi kami saat acara. Tibalah pejabat penting dan panitia yang akan membuka acara tersebut. Pembukaan dimulai. Ada rasa grogi dalam hati saat memimpin lagu Indonesia Raya. Semua mata peserta tertuju padaku. Tidak terkecuali Deni yang terus memandangku dengan sorot yang berbeda. Namun hatiku biasa-biasa saja seperti teman-teman baru yang lain.
Tbc