Cerita Warga

Cerita Warga
Bab 01 # Bu Haji Sombong


__ADS_3

Aku memarkirkan motor di depan halaman sekolah dasar anakku, siang ini sangat terik, entah kenapa, pemerintah sekarang memberlakukan program full day school. Bikin keringetan saja!


Biasanya aku menjemput anakku pukul 11, sekarang, aku harus menjemputnya pukul 2 siang.


Hari ini, aku sengaja datang lebih awal, karena mau mengunjungi sahabatku yang baru saja pulang dari Mekah. Rumahnya tepat berada di depan sekolah dasar anakku, jadi, bisa sekalian mampir.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, Eh, Mama Rena, ayo masuk."


Aku melempar senyum, meski dia tidak begitu senang menyambutku. Dalam hati saja aku menggerutu, mengapa perangainya seperti itu? Bukankah, Bu Haji seharusnya murah senyum? Senyum kan ibadah.


"Maaf, Ma. Lagi sakit gigi."


Seakan bisa mendengar raungan hatiku, tiba-tiba, Bu Haji Lula, atau kupanggil Lula saja ya? Kan kita sahabatan, merespon tatapan tajamku ke arahnya.


"Iya," sahutku singkat.


"Mari, masuk," Lula akhirnya mempersilahkan aku masuk. Semoga saja dia menyajikan es teh atau jus kurma sekalian, kan baru dari Mekah? Masa tidak memuliakan tamu?


"Ini, jus kurma. Silakan diminum. Alhamdulillah, makasih ya sudah mampir. Aku doakan---,"


"Stop!"


Aku segera menyeruput jus kurma itu dengan rakus. Benar-benar deh, hari ini panas sekali.


"Baru mau didoain, kok distop?" tanya Lula terkejut.


"Sebentar, biar aku minum dulu. Nggak bisa 'Amin' kalau belum minum," kataku membela diri.


Lula hanya mematung. Aku baru ingat, dia tidak bisa tersenyum karena sakit gigi.


Setelah mengobrol sebentar, aku pamit dengan hati gusar. Benar dugaanku, dia memang sombong. Baru juga ke Mekah, perangainya sudah berubah. Lula tidak seperti dulu.


"Aku harus menyuarakan isi hatiku, agar tidak setress," gumamku sambil duduk di jok motor. Anakku kok belum pulang-pulang, jadilah aku membuat grup "Curhatan Seorang Dewi" dan kuundang sahabat-sahabat lainnya.

__ADS_1


Aku ingin mereka tahu, bahwa Lula berubah. Aku mengetik pengalamanku siang ini, beruntung, semua sahabat-sahabatku yang lain meng-amini-nya.


'Lula berubah'


'Iya, aku juga dari saja, dia tidak seperti dulu. Jengkel kali aku dibuatnya'


'Eh, benarkah? Aku baru mau kesana, tak jadilah kalau seperti itu. Bisa naik pitam aku nanti'


Aku menghela napas dengan kelegaan. Rupanya memang, menuliskan keluh-kesah seperti ini dapat menyehatkan jiwa. Seperti kata para psikolog-psikolog di tik-tok.


Aku juga merasa berguna, karena telah berhasil memberi informasi pada sahabatku yang lain, agar tidak pergi lagi ke tempat Lula, atau mereka akan kecewa, sama sepertiku.


***


"Paket!"


"Taruh aja di situ!" teriakku, karena masih sibuk memandikan anakku.


"Mama, paketnya kok banyak setiap hari?" tanya Rena, anakku.


"Bukan urusanmu," sergahku dan buru-buru mengeringkannya serta memakaian pakaian.


"Hore, bisa anboksing!" pekikku dengan kegembiraan tak terkira. Akhirnya, paket make up terbaru telah ada di tangan juga.


***


Tok tok!


"Permisi!"


Sial. Pria itu datang lagi.


"Buka pintunya!"


"Nggak ada orang!" teriakku marah.

__ADS_1


BRAK!


"Heh kurang ajar!"


Pria itu telah mendobrak pintu rumahku.


"Kulaporin polisi kau!"


Belum sempat aku berhenti mengoceh, pria itu sudah datang membawa petugas polisi ke rumahku.


***


"Eh, dengar nggak? Katanya, Mamanya Rena ditangkap polisi."


"Iya. Katanya dituntut penggelapan gitu. Apa ya? Utang nggak bayar lah... kayaknya sih... Ih, dasar emang tukang ngutang!"


Beberapa ibu yang sedang berbelanja di warung dekat sekolah, tampak bergosip.


Tak lama kemudian, Lula menyapa mereka.


"Assalamu'alaikum,"


"Waalaikumsalam. Eh, Bu Haji. Bu.. Bu.. Sudah denger belom? Mamanya Rena ditangkap!'


"Innalillahi. Beneran, Bu?"


"Ih, bener! Untung aja saya nggak kena!" cibir ibu itu dengan wajah mencebik. Lula hanya mengelus dada.


Ia merasa kasihan pada Rena, karena mamanya harus mendekam di penjara.


"Seandainya, saat itu saya hutangi dia, apa Mama Rena tidak ditangkap polisi ya?" gumam Lula menyesal.


Mama Rena memang sempat meminjam uang, sepulangnya ia dari pergi haji. Namun, Lula menolak halus karena pinjaman-pinjaman sebelumnya juga belum dikembalikan.


Sepuluh juta rupiah, bukanlah nominal kecil untuk ibu rumah tangga sepertinya. Meski dipaksa, Lula tidak memberikannya.

__ADS_1


"Jika saja Mama Rena mengetahui bahwa hutang adalah beban baik di dunia, maupun di akhirat, mungkin, ia tidak akan menyepelekan persoalan ini," batin Lula miris.


"Semoga Allah membuka hatinya."


__ADS_2