Cerita Warga

Cerita Warga
Bab 06 # Kesempatan Kedua


__ADS_3

"Fuh … Dingin sekali."


Aku bergumam sambil mengulum bibir, mencoba memberi sedikit kehangatan sebelum membiarkan semuanya berjalan sesuai rencana.


Udara dingin di sekitar jembatan ini begitu menusuk tulang. Entah mengapa, tiba-tiba aku teringat tentang kenangan di masa lalu ketika aku berusia 8 tahun.


Memori kehidupanku berputar cepat seperti sebuah rol film. Kala itu, aku harus pergi atas perintah ibuku. Beliau menyuruhku untuk membelikan obat penenang. Katanya, ibu sedang merasa tertekan.


Kejadian itu tentu saja sudah belasan tahun silam saat aku masih bocah. Sekarang, aku sudah hampir melahirkan seorang putera. Ya. Aku sedang mengandung anak pertama.


Masa lalu yang suram, ternyata sama saja dengan masa depan yang tidak terlalu terang. Aku adalah anak broken home dari pasangan yang telah bercerai dan saling memusuhi selama bertahun-tahun lamanya.


Ayah dan ibu yang dulu mencintaiku, tiba-tiba tdak lagi ingin mengetahui keadaanku. Aku merasa seperti anak hilang karena tinggal berdua dengan ibu yang doyan mabuk-mabukan.


Aku menjadi semakin kurus setiap harinya karena jarang makan. Jangankan makan, menjalani hari-hari dengan tenang saja adalah sebuah kemewahan.


Pasca perceraian, ibuku menjadi pecandu alkohol. Ia tidak lagi mengurusiku. Ia bahkan tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Saat itu, usiaku baru delapan tahun. Aku sudah harus hidup mandiri atau aku tidak dapat bertahan dengan baik di sini.


Begitulah, pada akhirnya, setelah susah payah bertahan sendirian, ibuku tiba-tiba meninggal. Ia ditemukan tewas dalam bak mandi, katanya overdosis. Ternyata, ibu juga memakai obat-obatan terlarang.


Aku diasuh oleh dinas sosial setelah insiden kematian ibu yang tragis itu. Aku bahkan tidak bisa menangis karena air mataku sudah mengering. Aku telah mengeluarkannya setiap hari selama menjadi anak ibuku.


Aku sering menangis ketika tidak ada makanan. Aku sering menangis ketika tidak ada pakaian bersih atau ketika tidak ada kasur, bahkan ketika tidak ada air untuk diminum.


Aku menumpahkan semua air mataku untuk hal itu sehingga aku tidak punya air mata lain yang tersisa. Semua sudah kukeluarkan. Air mataku telah mengering sempurna.


Entah mengapa, kengerianku untuk hidup seperti ibuku, akhirnya kualami juga. Aku terlalu fasih melihat bagaimana ibu minum alkohol setiap harinya. Mengutuk dan melontarkan sumpah-serapah adalah hal yang lumrah baginya. Aku begitu mudah menirunya, sampai-sampai, aku juga mengikuti jejaknya menjadi pecandu alkohol dan sering marah tanpa sebab.


Sulit sekali untuk menyembuhkan diri dari ketergantungan ini. Sampai suatu ketika, seorang pria—yang juga mengalami nasib sama—menyemangatiku dengan gagahnya.


Pria itu, Louis namanya. Suamiku saat ini.


Kami sama-sama seorang pecandu alkohol yang berjuang untuk sembuh. Aku mempercayainya. Ia begitu manis. Wajahnya tampan, matanya biru terang, kulitnya pucat dengan kantung mata tebal. Bibirnya seksi. Bagian itu yang sangat aku sukai.


Kami berjuang untuk sembuh, meski dalam kurun waktu yang cukup lama. Sampai pada akhirnya, aku dan Louis dinyatakan bebas dari ketergantungan alkohol secara nyata.


Hubungan kami pun menjadi lebih dalam dari yang kami bayangkan. Aku dan Louis tidak lagi hanya menjadi mantan pecandu alkohol. Hubungan kami berubah menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai.


Sampai pada akhirnya, kami melangsungkan pernikahan kecil-kecilan di rumah orang tua Louis di Austin, Texas.


Meskipun sederhana, pernikahan kami tetap menjadi momen yang sangat istimewa bagi kami berdua. Kami mengundang keluarga terdekat dan teman-teman terbaik untuk berbagi kebahagiaan pada hari istimewa tersebut.


Tiga bulan setelah pernikahan, aku dinyatakan hamil. Aku tidak mempercayai keajaiban ini. Hari-hari di masa laluku yang suram telah terhapus oleh kenangan indah yang kurajut bersama Louis.


Takdir yang kuterima sungguh membahagiakan. Seorang jabang bayi akan segera lahir dari rahimku sendiri. Aku benar-benar sangat mensyukuri hal ini.


"Jika anak kita laki-laki, pasti akan gagah sepertiku. Namun, jika anak kita perempuan, dia pasti secantik ibunya," ucap Louis dengan rona bahagia.


Kami benar-benar merasa beruntung dapat memiliki keluarga kecil yang kami impikan.


Masa laluku dan masa lalu Louis, tidak jauh berbeda. Hanya saja, keluarga Louis masih tetap mendukung, meski kedua orang tua Louis juga tak lagi bersama.


Berbeda dengan keluargaku yang membenci satu sama lain, sampai-sampai, ibuku harus tewas secara mengenaskan akibat terlalu banyak pikiran.


Aku tidak ingin menjadi seperti ibu.


Tetapi, takdir ternyata seperti sedang meledekku.


Tepat pada satu bulan sebelum kelahiran anak kami, Louis menghilang.


Beberapa bulan sebelum Louis menghilang, sebenarnya, kami baru saja pindah ke Baytown.


Louis mendapatkan pekerjaan di sana. Aku tidak begitu mengerti, pekerjaan macam apa yang ia terima. Yang pasti, kami tinggal di sebuah rumah sewa.


Kami tidak mungkin tinggal terpisah karena jarak Austin ke Baytown sekitar 200-an mil atau setara perjalanan 4 jam jika mengendarai mobil. Aku tidak ingin tinggal terpisah dan mengalami rasa kesepian seperti yang biasa kurasakan. Aku ingin terus berada di dekat suamiku, di mana pun ia berada.


Untuk itulah, Louis menyewa sebuah rumah kecil sebagai tempat tinggal. Aku pernah bercanda untuk membeli rumah sewa itu, siapa yang menduga? Louis ternyata mengabulkannya.

__ADS_1


"Rumah ini adalah hadiah pernikahan kita," katanya dengan mata berbinar.


Indah, memang.


Namun, aku baru mengetahui bahwa Louis sebenarnya berhutang besar untuk membeli rumah tersebut. Dan, sudah bisa diduga, penjamin pinjaman tersebut adalah aku, istrinya.


Beberapa waktu ini, sekelompok pria bertato singa sering datang menerorku untuk menagih hutang. Mereka bahkan tak segan menamparku jika melawan. Aku tidak bisa menghubungi polisi karena mereka mengancam akan semakin membuatku sengsara.


Aku benar-benar putus asa.


Di saat genting seperti ini, suamiku malah tidak bisa dihubungi.


Ponselnya mati. Aku kehilangan kontak dengan Louis.


Apakah, dia kabur dan membebankan hutang ratusan ribu dollar ini kepadaku?


Teganya dia!


***


Suasana di Jembatan Fred Hartman di malam hari seperti ini sangatlah indah.


Aku bahkan dapat melihat kilau lampu yang seperti permata, memantul dari riak air di bawah kakiku ini.


Embusan angin yang semakin kencang, seakan mengajakku menari bersamanya, untuk kemudian bergabung bersama gelombang kecil yang menggelung menuju ke ketiadaan.


Asin.


Aku sudah tidak sanggup lagi hidup dalam ketakutan.


Para penagih utang itu kini suka bermain kasar. Bahkan, baru saja, mereka melukai wajahku dengan goresan cincin emas bertakhtakan permats merah, sepertinya batu rubi.


Ujung mahkota cincin itu menggores sudut bibirku ketika pria besar itu menamparku karena aku menolak membayar hutang Louis ysng telah jatuh tempo. Katanya, hari ini adalah hari ke-10 Louis mangkir dari perjanjian pelunasan mereka.


Padahal, aku sudah bilang, aku tidak tahu apa-apa. Namun, mereka bersikeras bahwa aku harus menanggung akibatnya.


"Maaf, Sayang."


Setidaknya, aku bisa memastikan bahwa kami bisa mati dengan tenang, dipeluk oleh hangatnya pusaran gelombang yang mungkin sedikit memiliki belas kasihan kepada jiwa yang lelah digerus keadaan.


"Selamat tinggal."


Sepatuku meluncur jatuh terlebih dahulu. Diikuti oleh tetes air mata yang tiba-tiba tumpah. Hatiku sakit. Kepalaku terasa berputar-putar.


Aku sudah bersiap untuk melompat dari jembatan ini, namun tiba-tiba saja ada keinginan untuk ingkar. Perasaanku menjadi bimbang. Aku benar-benar pengecut yang tidak berani bersikap tegas. Aku—takut.


"Norah!"


Kudengar suara teriakan yang memanggil namaku dari kejauhan.


"Norah Moore!"


Lagi.


"Lo—louis?"


Aku melihat Louis sedang berlari tertatih ke arahku.


"Louis!"


Aku gemetar. Kakiku bahkan sulit berdiri tegak. Pegangan tanganku pada kabel-kabel yang menyangga jembatan menjadi menguat. Aku tidak ingin lagi lompat.


"Louis!"


Aku berteriak sebagai penyemangat. Aku harus turun, kembali ke tepi jalan. Aku tidak ingin melompat ke dasar sungai yang dingin itu. Aku ingin hidup.


"Norah! Ya Tuhan!"

__ADS_1


Kami akhirnya berpelukan setelah Louis sampai di dekatku dan membantuku turun dengan aman. Aku langsung melupakan segala amarah dan kebencian yang telah kupendam. Aku bahkan melupakan ide untuk mengakhiri hidup dan ingin lebih lama menghabiskan waktu, memeluk sosok suamiku yang telah kembali.


"Louis, dari mana saja kau?"


"Norah. Maafkan aku … semua di luar rencanaku."


Aku memerhatikan kaki Louis yang pincang sebelah. "Kenapa kakimu?"


"Aku kecelakaan. Aku koma selama beberapa waktu. Aku—"


Kuhentikan perkataannys dengan sebuah ciuman lembut untuk mengusir kerisauan hatinya. "Oh, Louis. Oh, Sayang! Apa yang terjadi padamu?"


Aku benar-benar tak mengira, Louis ternyata sedang bertaruh nyawa untuk sembuh dari kecelakaan kerja.


"Maaf, aku seharusnya jujur padamu. Aku tidak ingin kau khawatir, Norah. Kau seharusnya merasa yakin padaku. Apa yang ingin kau lakukan? Aku tidak bisa hidup tanpamu."


Louis menangis, mengingat momen ketika aku hendak mengakhiri hidupku bersama dengan anak yang belum sempat terlahir ini. Aku benar-benar tidak berpikir jernih. Aku ingin melarikan diri dari semua hal rumit yang membelitku tanpa henti.


Louis baru saja menceritakan bahwa urusannya dengan rentenir laknat itu sudah selesai. Ia memang tidak membiarkanku mengetahui perihal hutang pembelian rumah itu supaya aku tak khawatir.


Siapa sangka?


Ketidaktahuanku itu malah menjadi bumerang. Kukira aku sedang dikhianati, rupanya aku salah. Louis adalah pria yang selalu menanggung beban sendirian.


"Bagaimana kau melunasi hutang sebanyak itu, Sayang?"


"Aku mendapatkan kompensasi dari kecelakaan ini."


"Astaga …"


Aku tidak bisa berkata-kata. Mengapa Louis sampai mengalami nasib seperti ini. Kakinya bahkan memerlukan waktu yang cukup lama untuk pulih. Fraktur yang dialami di tulang kering Louis cukup parah.


"Maaf, aku telah membuatmu khawatir," Aku memeluk Louis erat. Aku bersyukur karena ia telah kembali bersamaku.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau juga harus berjanji tidak akan pernah melakukan hal itu lagi, Okay?" Louis menatap mataku lekat. Aku hanya mengangguk lemah dan menahan malu. Aku memang sangat payah.


"Kau adalah wanita paling hebat yang pernah kutemui, Norah. Percayalah."


Oh, Louis.


Lagi-lagi, perkataanmu itu yang menjadi cahaya di dalam hatiku.


Sungguh, jika aku tidak dipertemukan denganmu, mungkin aku tidak akan mengerti arti dari mencintai dan dicintai hingga seperti ini.


Masa laluku, menggerogoti jiwaku.


Kerapuhan itu, mendorongku untuk menghancurkan diri sendiri.


"Terima kasih."


Aku kembali larut dalam kehangatan pelukan suamiku, Louis.


Udara dingin yang menusuk tulang ini, menjadi tidak terasa apa-apa. Bahu lebar Louis dan eratnya pelukan yang tercipta, menghalau segala angin yang mencoba menyusup ke dalam rongga tubuh kami.


"Aku mencintaimu, Norah."


"Aku juga."


Malam itu, di tengah siraman cahaya rembulan, ikrar cinta kami kembali terucapkan.


Aku beruntung memiliki kesempatan untuk memulai kembali hidup yang tercerai-berai ini.


Aku akan mewujudkan hidup bahagia, versi diriku sendiri.


Tamat.


*

__ADS_1


Jombang, 04 Nov 2023



__ADS_2