
"Makanlah, Nak. Kumohon," pintaku pada si bungsu, Hala, yang sejak kemarin hanya meminum air susuku saja. Padahal, ia sudah harus makan makanan pendamping ASI. Namun, sudah beberapa hari ini, ia tak berselera.
Memberi makan anak-anak adalah sebuah kemewahan di Gaza ini. Aku dan warga lain bahkan kesulitan mendapatkan pasokan air bersih. Jangankan untuk memasak, minum air aman tanpa tercemar limbah adalah suatu keberuntungan.
"Baba! Dimana Baba?" tanya si sulung, Yahya, sambil merengek padahal usianya sudah tujuh tahun. Ia tiba-tiba datang dari ruang tengah dan berlari terengah-engah ke dapur untuk mencariku. Tadinya, Yahya begitu anteng bermain sendiri di ruang TV. Sekarang, Yahya ikut-ikutan rewel karena ada suara ‘gedebuk’ yang tiba-tiba terdengar dari atap rumah.
Aku dan warga Gaza lainnya memang sangat sensitif terhadap suara-suara berisik karena setiap hari, bom dan roket mengguncang tanah ini. Aku bahkan tidak bisa tidur dengan tenang. Setiap malam, aku merasa seperti diteror. Serangan dari para zionis yang ingin berkuasa sepenuhnya di wilayah ini begitu membabi-buta. Tidak ada hari-hari tanpa jerit tangis kepergian seseorang. Ribuan warga telah meninggal.
“Baba masih kerja, Nak,” ucapku sambil mengusap pucuk kepalanya. Tak bisa kupungkiri, tanganku pun gemetar. Aku berusaha untuk tetap tenang agar anakku tidak ikut-ikutan was-was.
Mata mereka berair, raut ketakutan memancar di setiap gerak-gerik Yahya dan Hala. Aku tidak bisa melepaskan diri dari mereka barang sedetik pun. Ke kamar mandi saja, mereka ikut serta. Buang air juga tidak bisa lama. Aku bahkan tidak menutup pintu toilet agar mereka tidak histeris dan mencari-cariku di seluruh sudut rumah.
Hidupku begitu sengsara. Rutinitasku diselimuti oleh ketakutan dan ketidakberdayaan akan serangan yang tiba-tiba datang. Pesawat-pesawat perang sering berlalu-lalang di atas kepala. Suara gemuruh yang tidak biasa begitu menakutkan bagi siapa pun yang ada di bawahnya. Aku selalu khawatir jika pesawat itu tiba-tiba meluncurkan bom dan meluluh-lantakkan rumah dan bangunan yang berisikan orang-orang yang tidak bersalah.
Entah apa yang ada di pikiran para Zionis itu. Apa yang mereka cari dengan membantai warga tak berdaya? Aku pribadi hanya ingin makan dan tidur dengan tenang, bukannya hidup dalam keputusasaan.
Dhuar!
Suara dentuman tiba-tiba terdengar, tidak begitu jauh dari tempatku berdiri.
“KYA!”
Yahya dan Hala menjerit dan menangis bersamaan. Tubuhku pun ikut bergetar. Reflek, aku memeluk anak-anakku ke dalam dekapan. Suara itu tidak berarti apa-apa. Itu hanya suara.
“Ma! Ma!”
“Tenanglah, Nak. Itu hanya suara saja, kok. Kan, kita baik-baik saja,” ucapku berpura-pura tenang. Padahal, hatiku rontok. Jantungku berdebar tak karuan. Tapi, demi anak-anakku, aku harus berusaha untuk menyembunyikan segala ketakutanku.
Yahya dan Hala masih histeris sambil memelukku erat.
Kali ini, Hala bahkan kejang-kejang.
“Oh, Tidak!” aku melakukan segala upaya darurat agar ia tak sampai melukai dirinya sendiri. Dengan tremor yang terus menyerang, aku berusaha menenangkan anak-anakku. Napasku sesak, mataku tiba-tiba berkunang-kunang. Namun, aku harus bertahan. Kejadian seperti ini sudah biasa kurasakan.
Tak berlangsung lama, Hala kembali tenang. Aku sangat bersyukur. Aku memeluknya dalam dekapan. Kulihat, Yahya juga sudah tidak rewel lagi. Aku mengajak anak-anak untuk melihat ke luar jendela dan menikmati udara malam. Setidaknya, hanya ini yang bisa kami lakukan.
“Ngantuk, Ma.”
Yahya berujar sambil mengucek sebelah matanya. Aku menuntunnya untuk tidur di kamar. Syukurlah, akhirnya ia bisa merasakan kantuk yang biasa ditolaknya.
Kemarin malam, serangan bom lagi-lagi terjadi dan mengejutkan kami semua. Di Gaza, serangan seperti ini sudah berlangsung sekian tahun lamanya. Aku bahkan tidak ingat, kapan terakhir kali aku bisa menidurkan anak-anak tanpa dentuman dan jeritan pilu dari luar. Anak-anakku sangat ketakutan, sama seperti anak lain yang ada di tanah ini. Mereka selalu hidup dalam ancaman dan sering kali merasa tidak aman.
__ADS_1
Anak-anak Gaza jarang bermain di luar. Mereka bersembunyi di dalam rumah. Bahkan, ketika perang Isra-el dan Ha-mas pecah, beberapa pekan lalu, kondisi wilayah kami semakin mencekam. Banyak warga yang sudah mengungsi ke kamp-kamp pengungsian.
Aku beruntung. Aku termasuk ke dalam warga yang masih bisa tinggal di wilayah aman. Aku tinggal di kawasan Rimal, kawasan permukiman yang tenang, berjarak sekitar 3 kilometer dari pusat kota.
Suamiku–seorang dokter yang sedang bekerja di lapangan–tentu saja sangat sibuk. Kami bahkan jarang bertemu. Mendengar suaranya di telepon saja, sudah menenangkan hatiku. Setidaknya, ia masih selamat dan belum menjadi mayat.
Kematian adalah hal yang wajar. Kami selalu bersiap untuk situasi terburuk yang bisa kami atasi. Termasuk, tiba-tiba pergi meninggalkan dunia ini.
***
“Ma, kapan Baba pulang?” tanya Yahya ketika kami sudah berada di kamar. Suasana kamar yang tenang, turut memberi ruang untuk bernapas bagi kami yang sejak tadi dilanda ketakutan. Tidak ada bombardir misil. Langit gelap malam ini terasa begitu pekat. Listrk padam dan semuanya menjadi gelap.
“Mungkin, beberapa hari lagi? Doakan Baba, ya,” sahutku sambil tersenyum agar perasaan Yahya tidak terlalu terluka.
Sudah seminggu ini, Yahya dan Hala belum bertemu ayahnya. Suamiku memang sangat sibuk, kudengar, banyak ledakan yang terjadi di jalanan. Bahkan, kali ini, para zionis itu menyerang rumah sakit, sekolah dan juga kawasan kamp pengungsian.
Tidak ada tempat yang aman di Gaza.
“Tidur, yuk.”
Aku menepuk punggung Yahya dan mengelus kepala Hala sambil menyanyikan lagu nina bobo. Kami harus beristirahat. Kami tidak tahu kapan hal buruk akan terjadi. Setidaknya, untuk saat ini, kami bisa merasakan ketenangan di alam mimpi.
Aku mengelus lembut rambut Hala yang bergelombang indah, mirip ayahnya. Aku menciumi pipi Yahya, yang bersemu merah meski agak pucat karena kekurangan nutrisi untuk ukuran anak seusianya. Kami bersyukur, meski sulit, kami masih sanggup bertahan hingga saat ini.
Kami hanya bisa bertahan, sebisa mungkin, sebaik mungkin, dengan sisa-sisa kekuatan dan doa yang tak pernah putus.
“Laa hawla wa laa quwwata ‘Illa Billah …”
***
Menjelang malam, jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Aku terbangun dan tidak bisa tertidur lagi. Entah kenapa, aku merasa sesuatu akan terjadi.
“Evakuasi! Evakuasi!”
Terdengar, suara lantang tetangga yang membangunkan kami secara tiba-tiba. Mereka mengebrak pintuku dengan tergesa. Aku bahkan bisa mendengar suara gemuruh lantang yang datang dari arah luar.
“Yahya, Hala!”
Aku langsung bangkit dari tidurku dan mencari-cari Yahya yang tak ada dalam jangkauanku. Aku meraba tubuh Yahya, mencarinya kemana-mana. Akhirnya, kutemukan ia di ujung kasur. Sepertinya, tadi ia menggelinding ke sana.
Segera saja aku mengangkatnya, meski ia masih tertidur. Hala sudah ada dalam dekapanku. Aku tidak memiliki waktu lagi. Aku harus cepat keluar dari rumah ini.
__ADS_1
“Ma, ada apa, Ma?”
Yahya terlihat membuka matanya ketika aku menurunkannya sebentar di anak tangga terakhir untuk menuju ke area parkir. Aku harus mengambil napas untuk kembali menggegas langkah.
Saat ini, kami sudah berada di luar rumah susun yang baru saja kami beli sebagai hunian permanen. Nahas, rencana tinggal tanpa berpindah-pindah tentu hanya tinggal kenangan. Saat ini, kami terusir secara tiba-tiba bahkan tanpa membawa apa-apa.
“Huwee …”
Hala mulai menangis saat mengetahui banyak suara berisik dan dentuman di sekitarnya. Yahya yang sudah bisa berjalan sendiri kini memeluk kakiku dan tidak ingin beranjak ke area parkir yang sedang kami tuju.
“Yahya, ayo anak pintar. Kita sebentar lagi sampai ke mobil,” ucapku membujuk. Tenagaku tiba-tiba melemah. Aku harus menghemat stamina agar bisa melanjutkan menyetir ke rumah ibuku di Rafah. Daerah itu cukup aman karena berada di perbatasan Mesir. Kami bahkan bisa menyebrang melewati Rafah Crossing Gate jika memungkinkan.
Aku akan menghubungi suamiku jika sudah berada di sana dengan aman.
“Ma …”
Yahya tiba-tiba mendongak ke atas, antara terkejut dan terpesona dengan semburat jingga yang menerangi langit kelam malam ini.
Jejak asap dan juga suara luncuran yang berdesing membuat kami semua membeku. Kegelapan yang sedari tadi mencekam, mendadak penuh dengan keheningan.
Semua orang yang sibuk berlalu-lalang untuk menyelamatkan diri, kini mematung di tempat dan memekikkan nama sang Ilahi.
“Allah … Allah … Allahu Akbar!”
Kami benar-benar mengetahui bahwa pertemuan dengan sang pencipta begitu dekat, hanya berjarak sepersekian menit.
BLAR!!!
Sebuah ledakan besar terdengar dengan debu dan asap yang kini berterbangan, kemudian semua menjadi gelap. Aku tidak bisa melihat apapun lagi.
Akan tetapi, aku dapat merasakan kehangatan genggaman tangan anak-anak yang begitu erat. Aku juga masih bisa mendengarkan mereka memekikkan namaku sebelum suara jerit itu tertelan oleh ketiadaan.
Ah, Nak.
Itu adalah kembang api surgawi.
Kita hanya sedang diantar menuju ke peristirahatan yang abadi. Sampai jumpa lagi, anak-anakku. Kita akan bertemu lagi di tempat yang begitu aman dalam penjagaan Ilahi.
*
Tamat.
__ADS_1
Jombang, 04 Nov 2023