Cerita Warga

Cerita Warga
Bab 02 # Mengais Rezeki Di Jalanan


__ADS_3

Hari ini mendung, ah, hari yang sial.


Aku sangat tidak menyukai hari mendung, karena sebentar lagi akan turun hujan, itu artinya, orang yang menggunakan jalan menjadi sedikit.


Aku adalah seorang tukang tambal ban, yang mengais rezeki di jalan.


Aku akui, aku orang baru di daerah sini, ya bukan mauku ingin ikut numpang makan di daerah mereka. Namun, apa mau dikata? Nasibku jadi begini.


Dahulu, aku adalah manajer yang dihormati di perusahaan bonafide, di Jakarta, yah tidak jauh lah dari daerah sini. Namun, tiba-tiba aku di-PHK.


Dedikasiku pada perusahaan, dibayar dengan surat pemberhentian sepihak, pasca virus korona menyebar di seluruh dunia.


Waktu itu, semua lini bisnis mengalami kesulitan, tidak terkecuali, perusahaan tempatku bekerja.


Sebagai seorang manajer, tentu aku harus memutar otak tentang keberlanjutan bisnis kami, di saat semua pegawai terkena pemotongan gaji secara massal.


Aku tidak berpangku tangan. Dengan kegigihan dan kreativitasku, akhirnya, aku tetap membawa pulang uang yang sama besarnya dari gajiku sebelum terkena imbas virus korona.


Namun, nahas, ketika virus mereda, aku malah di-PHK.


Ketika kutanya alasan pemberhentian kerja sepihak ini, bos malah menantang, "Mau di-PHK atau dilaporkan polisi?"


Seakan-akan, pegawai yang bertanya adalah sebuah dosa.


Yasudah, aku menerima saja surat pemberhentian hari kerja itu, dan pulang dengan membawa sisa pembayaran gajiku yang tertunda.


Demikianlah, akhirnya aku berakhir di jalanan, mengais rezeki di sini dan menyewa sebuah kios untuk membuka usaha tambal ban.

__ADS_1


Penderitaanku tidak berhenti di situ saja.


Aku-- yang sudah cukup kepayahan harus bekerja keras, masih saja harus berhadapan dengan orang-orang picik yang tidak menyukai usahaku.


Padahal, dulunya aku terbiasa duduk manis saja di ruangan dengan penyejuk udara.


Sekarang? Aku harus berpanas-panas di pinggir jalan, sambil menunggu pelanggan datang.


Katakanlah, si Supri-- seorang tukang sapu jalanan, yang sepertinya memusuhiku.


Mungkin, hal itu dikarenakan, aku adalah orang baru di daerah sini. Dia sering jahat padaku, dan bilang bahwa aku tidak bisa mencari rezeki dengan benar.


Apa yang dia tahu? Bahwa, aku sudah sangat mentok dan hanya memiliki pikiran seperti ini untuk mengais rezeki.


Orang bermuka jelek seperti dia, entah bagaimana, memiliki hati yang jelek juga. Aku sampai tidak habis pikir dibuatnya.


***


"Iya, Pak. Kebetulan mobil dipakai suami. Bapak... ehm... sudah lama bekerja seperti ini?" sahutnya berbasa-basi, karena mungkin merasa simpati padaku.


"Lumayan, Lin. Sudah tiga bulan ini."


"Semoga lancar ya, Pak."


Setelah kebocoran di dalam bannya kuperbaiki, Erlin melambaikan tangan untuk pamit.


Aku mengangguk dan melempar senyum sedikit, agak kesal dengan tingkahnya yang sok.

__ADS_1


Dikira aku miskin apa dengan kerja begini? Dia bahkan tidak tahu, penghasilan mingguanku bisa setara dengan gaji UMR di perusahaan kami dulu.


Erlin dulunya memang bawahanku, dan dia orangnya sangat lelet juga kaku.


Aku tak suka bekerja dengannya.


***


"Bu Erlin, tumben telat? Anak-anak magang juga tadi, banyak yang telat," tanya kepala HRD menyelidik, ketika manajer baru, Erlin, seharusnya bisa datang tepat waktu.


"Maaf, Bu. Ban saya bocor."


"Astaga, apa tidak ada alasan lain?"


"Maksudnya, Bu?"


"Anak-anak magang tadi juga sama alasannya, ban bocor, ban bocor, telinga saya sampai sakit mendengarnya!"


"Loh, memang benar loh, Bu. Bentar-bentar, mereka lewat jalan mana katanya?"


"Ya jalan Adhiwangsa, Bu Erlin. Hanya jalan itu yang tidak ada tol dalam kota, kan?"


"Loh. Iya, saya memang lewat jalan itu. Eh, jangan-jangan..."


Erlin baru menyadari gelagat aneh si tukang tambal ban, yang dulunya adalah mantan atasan yang dipecat akibat skandal korupsi.


Erlin tidak menyangka bahwa, pria itu rupanya tidak berubah dan tetap berbuat curang, meski tidak lagi menjabat sebagai atasan dengan pangkat tinggi.

__ADS_1


Tamat.



__ADS_2