
Malam yang panas dan lembab, terjadi di hari itu, kala memasuki bulan April, di Indonesia.
Sosok Titi, tampak mengendap dari kejauhan, namun, detik berikutnya, ia langsung sampai di ambang pintu rumah, siap untuk bertamu secara tiba-tiba.
Dung!
"Hihi..."
Dung!
"Hihi..."
Dung!
"Hihi..."
Tidak berhasil.
Berkali-kali ia mencoba masuk, namun, seolah ada tangan tak kasat mata yang mendorongnya ke luar.
"Percuma, Ti!" teriak Wowo, yang baru saja tiba, tepat di belakangnya.
"Kenapa, Wo?" tanya Titi tampak tak yakin dengan argumen Wowo.
"Aku juga sudah berkali-kali ingin masuk ke rumah itu. Tapi juga gagal kayak kamu!" sahut Wowo dengan suara menggelegar, namun ada sedikit pekikan tinggi yang terdengar, karena baru saja diremehkan oleh anak baru seperti Titi.
"Duh!" Titi mendengkus. Sepertinya, ia harus mulai mengatur strategi, agar hasratnya terpenuhi. "Aku suka banget bangunan tua kayak gitu...jadul bin klasik," lanjutnya, kemudian berlalu pergi.
***
Keesokan malamnya, Titi kembali mengintai rumah yang seakan telah ditarget menjadi mangsanya.
Dilihatnya ke sekeliling, tidak juga ia temukan si pemilik rumah yang bisa diikuti olehnya.
Namun, Titi bersabar.
Ia akan menunggu hingga hasratnya terpenuhi dengan tenang. Titi memang sangat ahli dalam mencari kesempatan.
"Nah! Itu dia!" pekik Titi, ketika melihat gerombolan orang yang hendak masuk ke pintu depan.
Titi mengekor di belakang, di barisan paling akhir, untuk dapat menyusup masuk di antara kerumunan.
Namun, nahas, rencana tinggalah rencana, lagi-lagi, Titi terlempar ke luar.
"Nggak kapok, Ti?" ejek Wowo sambil tampak menikmati makanannya yang berbau anyir dan berwarna merah.
"Huh! Apaan sih!" Titi kesal, seolah, tidak berguna telah menjadi makhluk dengan kekuatan yang tidak biasa.
__ADS_1
"Aku tidak akan menyerah!"
***
Malam berganti pagi, hari berganti bulan, dan tidak terasa, Titi setia menunggu, hingga ia bisa masuk ke dalam rumah tua itu.
Seakan tidak ada pekerjaan lainnya, Titi tetap mengintai kelalaian dari si pemilik rumah, dari seberang ambang pintu, yang lekat dengan pepohonan di dekat sawah.
Namun, kelalaian itu tak kunjung datang, dan, kesempatan Titi untuk masuk ke dalam, semakin tidak ada harapan.
"Nggak capek, Ti?"
Lagi-lagi, suara Wowo mengganggu konsentrasinya, Titi merengut dan tidak menjawab setiap pertanyaan dari Wowo yang terkesan selalu ingin tahu urusannya itu.
"Besok coba masuk aja, pemiliknya sudah ganti."
Seakan mendapatkan angin baru, Titi mendongak dan mulai mengembangkan senyum ke arah musuh bebuyutannya itu.
Titi benar-benar tidak tahu, bahwa akan ada penghuni baru.
Sontak, ia memamerkan giginya yang tak lagi utuh itu dan baru kali ini berterima kasih kepada Wowo yang sering mengganggu.
***
"Hihi..."
Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba.
"Akhirnya..." pekik Titi gembira. Ia menari-nari di udara, kemudian menukik dan menyusuri ruangan di dalam sana dengan gegap gempita.
"Seru, Ti?" tanya Wowo, yang kini ikut mengekor di belakangnya.
"Seru! Aku suka! Aku suka!" pekik Titi sambil masih menari-nari di sana.
Mereka tertawa-tawa, dan juga menggagahi seluruh ruangan di dalam sana dengan aura yang tidak biasa.
"Itu dia pemilik barunya!" seru Wowo sambil menunjukkan sekelompok pemuda yang tampak oleng, dan masuk begitu saja ke dalam rumah tua mereka.
"Aku suka yang bertopi itu," ucap Titi malu-malu.
"Aku yang pakai giwang saja ya, di sebelahnya," sahut Wowo yang juga ikut memekik seru.
Mereka kemudian melanjutkan rencana, untuk menguasai apa saja yang ada di sana.
CRAK!
Terjadilah insiden yang mereka cita-citakan.
__ADS_1
"Ah... lega ya..." seru Titi, yang kini mewujud menjadi pria bertopi.
"Kamu hebat!" desis Wowo, dengan cairan merah yang mulai mengucur deras, dari tengkorak kepalanya.
***
Epilog:
"Pemirsa, telah terjadi pembun*han di sebuah rumah kontrakan, di Depok, Jawa Barat, tadi malam. Diduga, karena pengaruh alkohol, sekelompok pemuda saling serang dan berakhir tewas mengenaskan."
Suara di televisi, memecah konsentrasi perempuan paruh baya yang sedang menjahit kemeja tua suaminya.
Ia lantas beranjak mendekat, agar dapat mendengar setiap kata yang diucapkan oleh sang presenter berita.
"Pak... pak..." panggilnya pada sang suami, yang tampak sedang merapikan sajadahnya, usai melaksanakan shalat zuhur, baru saja.
"Ada apa, Bu?"
"Itu... bukannya rumah kontrakan kita dulu?' tanya sang istri sambil membesarkan volume benda pipih lebar yang ada di hadapannya.
"Innalillahi, iya bener, Bu. Ya Allah..." Sang suami tampak terkejut, karena tidak menyangka dengan kabar yang baru saja ia dengar itu.
"Assalamu'alaikum..." ucap suara perempuan, yang tampak akrab di telinga suami istri itu.
"Laili, jangan lupa baca Ayat Kurai, dan Al Ikhlas 3x ya..." pesan sang ayah, kepada putrinya yang baru saja pulang sekolah itu.
Gadis berusia 9 tahun itu mengangguk, sambil komat-kamit, merapalkan ayat-ayat suci yang tadi disuruh oleh sang ayah.
Adik kecilnya yang berusia TK, tampak mengucek mata, karena baru bangun dari tidur siangnya. Melihat kakaknya pulang dari sekolah, ia menghambur untuk memeluknya.
"Ayah, kenapa sih kita harus baca doa panjang banget gitu? Salam saja nggak cukup?" tanya sang adik, sambil menoleh ke arah ayahnya.
"Nak, salam dan doa-doa itu adalah benteng kita dari setan yang ingin masuk ke rumah ini. Kamu kira, makhluk Allah cuma kita saja? Kalau setan yang ada di sekolah kakakmu, ikut pulang ke rumah ini, gimana?"
Mendengar penjelasan sang ayah, si bungsu tiba-tiba bergidik ngeri. Ia tidak akan pernah keberatan untuk merapalkan ayat suci seperti yang disuruh oleh sang ayah, agar tidak ada setan yang mengikuti.
"Ayo, sekarang wudhu dulu, sholat zhuhur, Kak..." perintah sang ibu, kemudian menyambut uluran tas sekolah dan kotak bekal kosong anaknya itu.
Pintu tertutup, dan di luar sana, gerombolan teman-teman Titi--si kunti--dan wowo--si genderuwo--yang ingin ikut masuk ke dalam rumah Laili, terlempar ke luar, tanpa bisa kembali.
*
Tamat
*****
Jombang, 05/09/23
__ADS_1
Dibuat sehabis mimpi pas bobok siang.