Cerita Warga

Cerita Warga
Bab 05 # Liebe in Berlin


__ADS_3

Dingin menusuk hingga ke tulang, saat aku berdiri di balkon apartemen yang tertutup salju di Jerman. Langit gelap dan mendung, seakan mencerminkan hatiku yang beku. Musim dingin di Berlin tak pernah ramah, dan aku merasa terisolasi dalam harapan yang tak kunjung dapat terealisasi.


Aku adalah seorang mahasiswa di salah satu Institut Jerman yang terletak di kota Berlin, sebuah kota yang penuh sejarah dan keindahan yang tak terlupakan. Institut ini adalah tempat di mana aku menjalani hari-hari sebagai seorang mahasiswa sastra. Meski usiaku sudah mencapai 30 tahun, tekadku untuk mengejar impian akademikku tidak pernah pudar.


Namun, itu adalah pemikiran lampauku. Tentu saja, segala hal menjadi berbeda dengan usiaku yang baru. Dua hari lagi, umurku bertambah satu tahun. Sepertinya, semakin menua, aku juga memerlukan seorang pendamping setia. Pikiran tentang pernikahan mulai terbersit, meski bukan merupakan tujuan hidupku dalam waktu dekat. Ada satu gadis yang sedang kupikirkan untuk kuberikan cincin lamaran, meski aku masih sedikit enggan.


"Sudah bangun?" tanyaku pada seorang gadis yang ada di tanah air sana, melalui telepn genggam. Gadis itulah yang menjadi satu-satunya sahabatku, sekaligus orang yang telah menawan hatiku selama ini, tanpa ia tahu.


"Hmm…" gumamnya masih bermalas-malasan. 


Aku melirik arloji yang ada di tangan kiri. Saat ini, pukul 11 malam. Seharusnya, dia sudah bangun untuk bersiap solat subuh, mungkin? Di Indonesia, seharusnya waktu subuh sudah hampir tiba.


"Kenapa?" tanyanya lagi. Kali ini dengam suara yang sudah tervokal sempurna. Sepertinya, dia sudah sadar dan bangkit dari ranjangnya.


"Gak papa, pengen ngobrol aja," ucapku samar. 


"Huh! Kebiasaan! Belom tidur, Ya?" tanyanya menyelidik. Aku hanya terkekeh pelan. 


"Mau gangguin kamu dulu, baru tidur," ucapku sedikit berbohong, karena sebetulnya, aku ingin mendengarkan suaranya terlebih dahulu, sebelum masuk ke alam mimpi.


Kami pun mulai berbicara tentang kegiatan seharian ini. Tennang dia, tentang usaha rumah makan keluarganya, dan juga tentang…


"Aku mau nikah, Ren!" 


Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Lilis Berliana–nama gadis itu–menyentak kesadaranku.


"Ren? Rendy?" panggilnya berulang, membuyarkan lamunanku.


"Sa—sama siapa? Pengacara itu?" tanyaku tergagap. Hatiku sangat sakit, seperti tercabik-cabik. Aku mengira, hubungannya dengan si pengacara muda di Jakarta itu hanya cinta monyet saja, seperti yang sebelum-sebelumnya. Ternyata, mereka akan menikah? Oh tidak! Apakah aku akan melewatkan kesempatan untuk sehidup-semati dengannya?


“Ya, kau benar! Sama Haris. Kamu datang ya?” 


“Entahlah. Kapan?”

__ADS_1


“Dua bulan lagi! Kami minggu ini lamaran, lalu langsung persiapan nikahan. Nggak pake lama, Ren! Aku sudah kebelet, Hehe…” Lilis tertawa dengan penuh semangat.


“Dua bulan lagi aku tidak bisa. Doaku, semoga pernikahan kalian bahagia,” Aku mengakhiri panggilan. Kudengar, Lilis masih tertawa sambil mengucapkan terima kasih atas doaku yang tidak tulus itu. Mana mungkin aku mendoakan kebahagiaan, untuk pujaan hati yang telah dirampas orang? Hal itu sungguh di luar nalar.


***


“Maaf, Ren. Aku udah gabisa jawab panggilan teleponmu. Suamiku melarangku. Dia bilang, laki-laki dan perempuan tidak boleh terlalu dekat. Maaf ya, Bestie. Kita masih bisa bertukar cerita lewat email, Okay?”


Beberapa bulan setelah pernikahannya, Liebe–panggilan sayangku untuk Lilis Berliana–memutus kontak denganku. 


“Dan jangan panggil aku Liebe. Pamali! Aku kan bukan pacarmu, Ren! Hihi… Panggil Lilis aja kayak teman-teman lainnya. AKu takut suamiku cemburu.”


Sejak saat itu, aku telah memutuskan hubungan komunikasi dengan Lilis, atau lebih tepatnya, Lilis yang memutuskannya. Persahabatan kami yang telah terjalin selama puluhan tahun, hancur hanya karena status Lilis berubah. Walaupun ketika aku mendengar Lilis akan menikah, aku berusaha keras untuk tidak membiarkan perasaanku terlalu terlihat. 


Aku selalu menghormati keputusan Lilis, bahkan ketika ia memutuskan untuk menikah, dan kini mencampakkanku. Sebenarnya, aku menyadari bahwa Lilis tidak mengetahui perasaanku, karena aku tidak pernah mengungkapkannya. Aku terlalu pengecut. Aku takut akan ditolak oleh Lilis dan hubungan persahabatan kami akan turut hancur. Ironisnya, sekarang hubungan persahabatan kami benar-benar sudah terputus, dan aku merasa, sikap kehati-hatianku selama ini sia-sia belaka.


***


Tiga tahun telah berlalu sejak saat aku dan Lilis putus komunikasi. Tidak terasa, aku telah menyelesaikan studi di Fakultas Sastra di Berlin, Jerman, dan sekarang aku sedang berada pada tahap baru dalam hidupku.


“Lilis, Mein Liebe¹,” gumamku pelan sambil menyeka air mata yang tiba-tiba meluruh seperti air hujan. Lilis, terlalu sulit untuk melupakan jejakmu yang telah membekas begitu dalam di hatiku. Beberapa tahun telah berlalu, namun aku tak kunjung menyudahi perasaan ini untukmu.


***


“Herr Rendy, im Raum A1-5, bitte²!”


“Ja³.”


Setelah lulus, Aku tidak langsung kembali ke Indonesia. Aku memutuskan untuk tinggal di Jerman dan mengejar gelar master dalam bidang sastra Jerman klasik. Selama masa studi, aku mendalami karya-karya Goethe, Schiller, dan Nietzsche. Aku terpesona oleh keindahan bahasa Jerman dan warisan sastra yang ditawarkannya.


Saat ini, aku sibuk mengikuti klub sastra dan menjadi pengajar tamu saat ada acara bedah buku atau diskusi tentang kesusasteraan. Aku juga menemukan pekerjaan paruh waktu sebagai penerjemah dan penulis lepas untuk sebuah penerbit sastra terkenal di Berlin. Pekerjaan ini memungkinkanku untuk terus terlibat dalam dunia sastra dan seni yang kucintai, dan tentu saja, melupakan Lilis.


“Permisi, tempat ini kosong kan? Saya bisa duduk di sini?" tanyaku dalam Bahasa Jerman pada perempuan yang belum kuketahui wajahnya. Ia mengenakan gaun merah menyala, dan duduk dengan tampilan yang sangat rapi dan berkelas. Aromanya khas, sepertinya aku pernah mencium aroma ini di suatu tempat.

__ADS_1


"Ja, Bitte⁴," sahutnya dengan ramah, kemudian dia menoleh ke arahku.


Detak jantungku seakan berhenti saat mata kami bertemu. Wajah itu, rambut itu, dan aroma yang akrab. "Lilis?"


"Re-Rendy?" Ia turut tergagap.


Ruang diskusi di dalam kafe yang kami datangi tersembunyi di sudut kota Berlin. Tidak banyak yang mengetahui tempat ini, kecuali ia adalah pencinta sastra sejati. Kafe ini terletak di sebuah bangunan tua yang memiliki jendela-jendela besar. Lampu-lampu kecil yang tergantung di langit-langit memberi sentuhan hangat di musim dingin yang begitu menggigit ini.


“A–apa kabarmu?” tanyanya canggung. Namun, aku masih belum ingin memberikan respons. Bagaimana ia bisa berada di sini, apa yang sedang terjadi?


“Aku mengikuti media sosialmu, dan aku mengetahui tempat ini dari insta. Aku… aku… bercerai dari Haris, sudah enam bulan ini. Aku merindukanmu, Ren…”


Kata-kata Lilis menancap ke jantung hatiku yang baru saja kututup rapat. Bagaimana bisa wanita ini begitu meresahkan? Hilang dan muncul sesukanya? Namun, aku bisa apa?


“Ren…” panggilnya lagi. 


Kali ini, aku segera bertindak sigap. Cup! Kulayangkan sebuah kecupan hangat untuk menyambut separuh jiwaku yang telah kembali. Lilis, Mein Liebe. “Tentu, aku juga merindukanmu.”


Tamat.


***


Catatan kaki:


Percakapan dalam bahasa Jerman:


¹\= Cintaku.


²\= Tuan Rendy, di ruangan A1-5, silakan.


³\= Ya.


⁴\= Ya, Silakan.

__ADS_1


Shei Layla, 05091989, Jombang.



__ADS_2