Cerita Warga

Cerita Warga
Bab 03 # Aku Yang Dulu, Bukanlah Yang Sekarang


__ADS_3

Aku membenci tetanggaku, mereka seringkali ingin tahu urusan-urusanku.


Katakanlah, seperti bu RT saat ini, yang sedang ingin mengurus anakku.


Aku sudah memberitahukan kepadanya, bahwa aku bisa mengurusnya sendiri. Namun, wanita paruh baya itu bersikeras ingin meminta anakku. Aku marah padanya!


Kulihat, ibu mertuaku juga turut memohon agar aku menurut. Namun, aku enggan.


Lagipula, wanita tua itu lah penyebab semua kecemasanku, andai saja, dia tidak menjodoh-jodohkan suamiku dengan mantan pacarnya, pasti urusannya tidak serumit ini.


***


Aku dulu adalah seorang karyawan di kios sablon dekat terminal, ketika baru saja dinyatakan sembuh dari sakit mental yang kuderita.


Menjadi yatim-piatu membuat hidupku tidak mudah.


Aku diasuh oleh bibi, yang kemudian menyerahkanku ke dinas sosial untuk dirawat secara profesional.


Katanya, aku menderita depresi berat yang mengharuskanku mengkonsumsi obat-obatan.


Tiba di sana, aku dirujuk ke rumah sakit jiwa, akhirnya, selama beberapa tahun, aku menjalani perawatan di sana.


Sampai pada akhirnya, aku dinyatakan sembuh, namun harus rutin mengkonsumsi obat-obatan agar tidak kambuh.


Setelah menjalani kehidupan normal, aku pun bekerja.


Orang bilang, parasku cantik, tapi aku tidak mengetahuinya.


Sampai pada akhirnya, banyak pria datang dan ingin melamarku, tapi aku menolak mereka semua.


Sampai suatu ketika, Mas Jaka hadir dalam hidupku. Pria tampan dan gagah itu ingin menikahiku, aku menerima lamarannya.


Akhirnya kami menikah, namun, ibu mertua tampak tak suka.


Ia sering membandingkan-bandinkan aku dengan mantan pacar mas Jaka.


"Kamu wanita miskin, tidak cocok jadi menantuku!" serunya suatu ketika, saat kutanya, mengapa ia begitu membenciku.

__ADS_1


Setiap hari ibu mertua memusuhiku, aku sering dimarahi, padahal, aku sedang mengandung calon cucunya.


Aku mulai menderita kecemasan, namun, tidak bisa mengkonsumsi obat-obatan karena sedang hamil.


Kecemasan berlebih kembali melanda diriku yang tengah berbadan dua.


Hormon kehamilan membuat wajahku tidak lagi rupawan.


Ibu mertuaku sering mengejekku karena bertambah jelek setiap harinya, detik itulah, ia mulai mengungkit-ungkit mantan pacar suamiku yang cantik dan sudah bekerja sebagai pegawai negeri.


Mirisnya, wanita itu sekantor dengan suamiku. Bagaimana aku tidak mulai berpikir buruk tentangnya?


Aku marah, namun, kutahan, demi kesehatan mental.


Biasanya, Mas Jaka akan menenangkanku dan membuat ibu mertuaku bungkam, ketika ibu mulai bicara yang tidak-tidak.


Namun, entah mengapa, kali ini sikapnya berubah. Ia tidak begitu perhatian padaku. Bahkan, celaan ibu mertua tidak lagi ditepisnya. Aku menjadi semakin sakit hati.


Beberapa kali kuamati, Mas Jaka mulai jarang pulang. Katanya, ada dinas luar kota. Namun, ketika kutanya pada sahabatku yang sekantor dengannya, dinas-dinas yang disebutkan tidak ada.


Aku mulai curiga.


Sahabatku yang kasihan kepadaku, mulai bercerita bahwa suamiku main gila dengan mantan pacarnya.


Hatiku tercabik-cabik rasanya, depresi kembali merajai, aku hilang kendali dan tidak ada cara untuk mencegahnya.


Aku melaporkan suamiku ke pihak yang berwajib, beruntung, mungkin karena kasihan, mereka langsung bergerak.


Tidak lama, suamiku dan mantan pacarnya digerebek di sebuah hotel.


Suamiku pun akhirnya mendekam di penjara, atas dakwaan perzinahan.


Segurat kelegaan muncul di dalam hatiku, meski itu hanya sementara.


Sejak saat itulah, ibu mertuaku tidak lagi menjelek-jelekkan diriku.


Ia menyesal karena sering memanas-manasi suamiku agar menjalin cinta dengan mantan pacarnya, yang akhirnya berakhir secara mengenaskan.

__ADS_1


Ibu mertua sering menangis dan memohon ampunanku, namun aku tidak menggubrisnya. Aku sibuk memikirkan persalinan, yang hanya tinggal menunggu hari.


Tibalah waktu bersalin yang kutunggu-tunggu.


Aku akhirnya melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik, seperti diriku.


Depresi yang kuderita, bertambah setiap harinya, tanpa kehadiran suami.


Namun aku mencoba sabar dan tabah, meski tidak mudah.


Hanya saja, ada beberapa kala, aku tidak tahan lagi, akhirnya, aku mencari suatu cara agar dapat mendiamkan bayiku yang rewel terus setiap harinya.


Aku teringat, dulu nenek-nenek di terminal, sering memberikan pisang pada cucunya, agar ia berhenti menangis.


Aku melakukannya juga pada bayiku, ajaibnya, cara itu berhasil.


Sudah 10 hari ini aku tidak bisa tidur, karena bayiku terus menangis.


Sampai akhirnya, pisang menjadi penyelamatku dikala aku mulai kehilangan akal sehatku.


Ibu mertua kembali menangis, hanya gara-gara pisang! Aku heran padanya. Padahal, biasanya mulutnya sangat pedas, namun akhir-akhir ini, ia jadi sering menitikkan air mata.


Mungkin itu adalah karma, karena dulu dia sering menjelek-jelekkan aku. Akhirnya, ia sadar bahwa kata-kata pedas dan jahat pada orang lain, akan kembali kepada dirinya.


***


"Tolong, Bu. Kemarikan anaknya," Bu RT masih bersikeras untuk mengambil anakku.


Aku menggeleng kuat, mendekap erat tubuh anakku yang dingin. Aku memeluknya agar terasa sedikit hangat. Kasihan dia.


"Nduk... tolong..." Ibu mertua ikut memohon, aku tetap teguh tidak ingin menyerahkan anakku. Tahu apa dia? Mengurus anak sendiri saja tidak becus. Mengapa aku harus menyerahkan buah hatiku kepadanya?


"Bu... tolong... jenazah adik bayinya harus segera dikebumikan."


*


TAMAT

__ADS_1



__ADS_2