
Yuli terkagum mengamati gedung universitas di depannya. Ia tidak bisa berhenti berdecak kagum, tatkala sebuah rasa sakit di kepalanya terus menghantam. Susah payah ia menepi dari tengah jalan menuju pintu gerbang, kemudian dengan tertatih ia berjalan masuk ke area gedung.
Yuli si gadis berpakaian rapat itu menyusuri lorong asrama perempuan, mencari dimanakah kamar dengan nomor 102 itu. Ketika ia menemukan kamarnya, ia langsung membuka pintu itu. Kamar yang luas dengan berisikan lima ranjang, dua ranjang tingkat dan satu ranjang biasa. Namun, ranjang single itu telah ditempati, sementara tiga lainnya juga sudah terisi. Tinggal ranjang atas bagian kiri yang belum terisi, sudah pasti ia harus tidur di sana.
Saat itu, Yuli tidak memperhatikan sekitarnya, melihat ada sosok berpakaian syar'i memasuki kamar, keempat orang yang sedang beres-beres menoleh. Wajah Yuli terlihat pucat, sementara itu keempat yang lain hanya melihatnya dengan tatapan beragam.
"Assalamu'allaikum, semua!" sapa Yuli dengan senyum cerianya.
Walaupun wajahnya pucat, ia masih saja berusaha ceria untuk menjaga kesan pertama tetap baik.
"Wa'allaikumsalam," jawab mereka serempak.
"Wah kamu baru dateng yah, asal kamu dari mana?" tanya seorang gadis manis berhijab pendek ungu tua dengan senyum imut, ia mengulurkan tangan.
Yuli menerima uluran tangan itu, "Aku dari Kebumen, Jawa Tengah. Kamu dari mana?" tanyanya balik.
"Aku dari Manado, oh ya kenalan dulu yuk temen-temen! Biar gak canggung hehe ...." ajak gadis manis itu.
Anehnya ia yang mengajak tapi belum memperkenalkan diri, tapi kemudian ia berbalik dan tersenyum lebar, "Namaku Vika Liliana. Kalian bisa panggil aku Vika. Salam kenal semuanya!"
Gadis berhijab pendek hijau muda mendekat, "Aku Tania Putri, dari Padang. Biasa dipanggil Tania, salam kenal semuanya ...." balasnya tersenyum seadanya.
"Aku Yuli Ambarwati, cukup dipanggil Yuli. Salam kenal, semoga kita bisa bekerjasama yah."
"Aamiin," jawab semuanya.
Gadis paling cantik dengan senyum miring mendekat, ia tidak memakai hijab, sepertinya non muslim dilihat dari matanya juga sipit seperti orang Chinese. "Aku Alin Siska Susanto, dipanggil Alin. Aku asli sini (Jakarta)."
Terakhir, gadis berhijab navy dengan baju dan jins senada, ekspresinya agak dingin. "Aku Anisa Puri, dari Bali. Bisa dipanggil Anis, Nisa atau Puri," ujarnya cepat.
"Bagaimana kalau dipanggil Puri saja, biar beda sama temen-temenku?" ujar Vika tersenyum ramah.
Puri mengangguk cuek, setelahnya mereka mulai merapihkan barang-barang mereka. Sebelum akhirnya berkeliling asrama bersama-sama.
•••
Yuli mengambil jurusan Bisnis dan Managemen bersama Alin dan Tania, Vika mengambil jurusan Sastra Bahasa Inggis, dan Puri mengambil jurusan Arsitek.
"Kayaknya kita nggak sekelas deh Tan, Lin ..." ujar Yuli setelah melihat mading pembagian mata kuliah.
Tania membenarkan, "Iya. Padahal aku pengen banget kita bareng," ujarnya lesu.
__ADS_1
Sementara Alin santai saja, "Tapi kita sekelas Tan," ujarnya.
"Alhamdulillah, jangan khawatir Yul, kan kita bisa bareng di asrama. Hehe ...."
Yuli mengangguk dengan senyum pasrah, kemudian Alin dan Tania pamit ke kelas mereka yang memilki jadwal mata kuliah ekonomi pagi itu. Sementara Yuli memiliki jadwal mata kuliah Kalkulus, ia mulai berjalan mencari kelasnya.
Di perjalanan melewati koridor fakultas ekonomi bisnis, Yuli heran dengan para gadis yang tengah heboh membicarakan seseorang.
"Sumpah tuh cowok cakep banget!"
"Gila, beneran gue gak tau lagi harus ngomong apa. Keren bangeeet!"
"Makanya gue jomblo sampai sekarang, ternyata jodoh gue ada di sini."
"Dasar halu! Mana mau dia sama cewek pecicilan kayak lo."
"Emang dia suka sama lo? Ngaca!"
"Kayak Oppa gue yang ada di kamar."
"Ounch! Hansome banget."
"Nggak kuat, mirip Yang Yang gege!"
Di tengah bisikan-bisikan itu, Yuli menatap bagian atas pintu-pintu yang ia lewati. Hingga ia menabrak beberapa cewek yang langsung mengomelinya. Dengan malu, Yuli meminta maaf dan menerima kemarahan itu.
"Aduh, sialan siapa sih yang nenggol gue??" omel salah satu orang yang ditabrak Yuli.
"Maaf Mba, maaf ...saya gak sengaja," ujar Yuli dengan ekpresi menyesal.
"Jalan tuh pake mata, pake tuh mata jangan cuma dipajang doang!" omel yang lain.
"Maaf, sekali lagi maaf ...saya gak sengaja," ujar Yuli merasa sangat bersalah.
"Udah sana ah, ganggu aja."
Yuli kemudian pergi dari sana. Setelah melewati kerumunan, ia menemukan kelasnya dan terkejut melihat ada seorang cowok yang dikelilingi banyak cewek, sementara cowok itu hanya diam, stay cool.
Yuli menghela nafas, ia kira idola kampus hanya ada di novel atau film, tapi ia baru saja melihat bukti nyatanya hari ini. Parahnya, ia satu kelas dengan idola kampus itu. Bakal pusing dia kalau setiap hari mendengar teriakan-teriakan seperti itu.
Dengan perlahan Yuli mencari tempat duduk yang paling nyaman, ia mendapat tempat duduk di depan bagian tengah. Tepat tiga kursi di depan si cowok idola itu. Yuli memcoba untuk tak memperdulikan kerumunan itu dan mengeluarkan buku catatannya dan menulis sesuatu.
__ADS_1
"Kak Darling kok masuk kelas ini?" tanya salah satu cewek yang mengerumuninya.
"Enggak kok, cuma mampir aja tadi. Kalau dosen masuk bilang yah, biar gue siap-siap kabur," ujarnya santai.
"Iya Kak!" jawab cewek-cewek itu kompak.
"Siap Kakak!"
Sementara itu Darling yang dikerumuni fansnya, menangkap sosok cewek berhijab lebar di depannya dengan heran. Namun, keanehan itu justru menarik baginya.
Darling atau Ling Darl adalah seorang mahasiswa semester lima yang menjadi idola sejak pertama masuk kuliah. Dirinya selain tampan, ia juga cerdas. Latar belakangnya tak main-main, ia merupakan anak tunggal dari pengusaha bidang telekomunikasi.
Jarang ada anak orang kaya yang memiliki paras bak model, sayangnya Darling seolah menjadi bukti nyata dari fantasi semua wanita. Namun, meskipun sebagai anak orang kaya ia bukan tipe laki-laki yang rusak. Kalau Darling mau ia bisa gonta-ganti pasangan tiap hari, tetapi ia lebih nyaman dengan kesendirian.
Sebenarnya ia masuk ke kelas Yuli bukan hanya mampir, tapi ia menghindari kejaran Levi and the genk. Namun, seperti keluar dari kandang macan dan masuk kandang komodo, Darling malah terjebak di kelas adik tingkat yang malah lebih parah lagi.
Tak lama dosen benar-benar datang, Darling buru-buru menggendong tasnya dan kabur diiringi tatapan kecewa para fansnya itu.
"Ling, woy!" panggil sebuah suara dari arah koridor yang menghubungkan fakultas manajemen bisnis dan fakultas teknologi informatika.
Darling langsung menoleh dan mendapati tiga temannya, Bagas, Prabu dan Leon. Suara yang tadi memanggilnya adalah milik Bagas.
Darling langsung berlari menghampiri ketiganya.
"Dari mana aja lo?" tanya Leon melihat Darling yang berkeringat.
"Kabur dari Levi," jawab Darling santai.
"Ah elah, kenapa sih lo nolak Levi? Tinggal terima aja, kan Levi cantik ..." ujar Prabu tersenyum jenaka.
"Bagi lo, bagi gue enggak. Gue gak suka cewek agresif," jawab Darling.
Mereka kemudian berjalan menuju fakultas mereka untuk mengikuti kelas pagi.
"Udah kenyang Darling ama cewek cantik, jadi si Levi itu minus di sikapnya," ujar Leon memperjelas.
"Bener," tanggap Darling.
"Tapi lo gak bisa kabur terus dari Levi, Bro," ujar Bagas.
"Iya juga tuh, lo harus hadapi," ujar tambah.
__ADS_1
Darling menghela nafas lelah, "Gue tau, nantilah gue bilang langsung, capek gue."