
"Yuli!" panggil Tania yang datang dari arah kantin. "Sini, makan dulu."
"Eh, bisa?" tanya Yuli.
Tania tak memperdulikan pertanyaan Yuli dan mulai menyeret Yuli ke arah kantin dimana Tania dan teman-temannya berkumpul.
Namun, sebelum itu teman sekelas Yuli memanggilnya.
"Yul, ke sini!" panggil Lia.
"Hei," ujar Inggrid.
Tania yang mengerti akhirnya melepaskan tangan Yuli dan membiarkan ia bersama teman sekelasnya.
"Ya udah sana, nanti kamu canggung juga kalau sama temen-temenku."
"Iya Tan, makasih ya. Aku ke sana," ujar Yuli.
"Oke," ujar Tania kemudian melampaikan tangann sebelum pergi.
Sampai di bangku teman-temannya, Yuli langsung menitip tas sebelum memesan makanan.
"Eh, gue tadi nyariin lo malah ngilang.
"Maaf, gue kesasar," ujar Yuli ngengir. "Abis dari toilet soalnya."
"Owalah, harusnya bareng gue tadi ..." ujar Inggrid. "Biar kesasar bareng, haha!" lanjutnya.''
Hal itu mengundang sorakan dari Lia dan Ema yang kesal dengan celetukan Inggrid yang tak berfaedah itu.
"Eh, tau gak sih kalau gue udah jatuh cinta sama Kak Darling?" tanya Inggrid yang tak perlu dijawab.
"Tau banget, gak usah pengumuman deh," ujar Ema.
"Haha, gue juga kok tenang aja," ujar Lia.
"Eh, jangan samaan dong, lo Kak Leo aja."
"Kalo ggue maunya Kak Darling, lo mau apa?"
Yuli dan Ema menghela napas lelah melihat pertengkaran mereka yang tak ada habisnya. Hingga atensi semua orang teralihkan pada kedatangan Darling, Leo, Prabu dan Bagas yang diikuti Yura, Kiki dan Putri.
"Anjirlah kek berasa di red karpet mereka," ujar Lia.
"Ho'ohlah, mempesona," sahut Inggrid.
"Tersepona, aku tersepona ...." gumam Lia seolah bernyanyi.
__ADS_1
Tak hanya mereka, banyak yang juga terpesona dengan keberadaan Darling and the genk dan Yura ant the genk.
Memanglah, tak hanya dari penampilan mereka populer, latar belakang mereka juga tak main-main. Mereka adalah anak-anak konglomerat yang terkenal di Jakarta bahkan lingkup nasional. Dalam beberapa kesempatan mereka juga memberikan apresiasi terhadap banyak hal, utamanya dalam posisi menyampaikan pendapat.
Setiap kesempatan jika ada isu-isu nasional, mereka juga maju sebagai pendorong demo dan menjadi mercusuar bagi kampus lain. Meski mereka kampus swasta, mereka memiliki peran yang cukup berpengaruh, utamanya daalam menggerakan opini.
Mereka tak akan seberani itu dan tidak akan sekonsisten itu jika mereka tidak memiliki backing kuat. Seperti itulah Darling yang merupakan ketuanya, ia adalah anak dari pengusaha yang kini tinggal di China bersama keluarga barunya.
Sebenarnya, ayah Darling sudah lama meninggalkan keluarganya hingga saat ia kelas 5 SD ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi.
Darling dititipkan oleh dua orang ber-ras China yang sama dengan latar belakang sang ayah yang merupakan asli China.
Kini ia hidup tanpa ada kedua orang tua asli, tetai ia sudah merasa cukup, toh segala kebutuhannya dipenuhi oleh ayahnya.
Entah nantinya, apa yang akan terjadi, intinya, Darling tak lagi mau memusingkan sang ayah yang sudah menikmati kehidupannya di China.
Mereka kemudian duduk dekat sana, hingga membuat Inggrid dan Lia jejeritan, sementara Ema menghentikan mereka karea malu.
"Hai, Say."
Datanglah Levi yang sangat terobsesi pada Darling dan mengganggunya, tetapi ia baru menyadari kalau pandangan mata Darling menuju ke meja sampingnya dimana ada seorang gadis berpakaian rapat sedang memakan makanannya dengan tenang.
"Kenapa ...."
Akhirnya, semua atensi semua orang tertuju pada Yuli karena Levi terang-terangan menatapnya juga.
Yuli yang tidak peka, kemudian melihat ke arah teman-temannya.
"Noleh ke arah kanan," ujar Inggrid.
Yuli langsung menoleh ke arah kanan, lalu bertemu tatap dengan Darling yang dengan terang-terangan memandanginya.
Ditatap begitu Yuli langsung gugup dan menatap ke arah tubuhnya takut ada sesuatu yang salah, tetapi tidak ada, ia panik dan bertanya kepada ketiga temannya.
"Kenapa sih, kok pada liatin gue?" tanya Yuli bingung.
"Gue udah bilang kan, Lev?"
Levi langsung menoleh ke arah Darling dan melihat bahwa pria itu tengah tersenyum iblis.
"Gue udah punya seseoraang itu," lanjutnya.
"Gak mungkin yang model beginian kan?" tunjuk Levi pada Yuli tak terima.
"Loh, ya terserah gue dong," ujar Darling kemudian mengangkat kotak nasi miliknya dan pergi ke arah belakang Yuli.
Yuli sendiri sudah menghindari adegan berikutnya, tetapi Darling malah memanggilnya untuk duduk bersama dengannya.
__ADS_1
"Ling, kamu gak usah pura-pura deh ...." ujar Levi menggeram.
"Pura-pura apa maksud kamu, Lev?"
Yuli sudah gerah dengan semua ini, lalu ia pergi membawa kotak makan miliknya untuk menyudahi semua adegan drama yang tiba-tiba melibatkan ia.
Ia tak ingin menjadi salah satu figuran dalam drama murahan itu, tetapi siapa sangka kalau justru Darling mengejarnya.
"Tuh kan ngambek, elu sih!"
Levi menyingkir seiring Darling yang menyenggol lengannya agar ia tak menghalangi jalannya. Darling benar-benar menyusul Yuli dan membuat seantero kantin heboh sendiri.
Tak hanya teman-teman Yuli yang heran, teman-teman Darling juga heran kalau Darling memiliki tipe unik yang jauh dari ekspektasi mereka.
"Si anjir, itu ada hubungan apa Yuli sama Kak Darling?" tanya Inggrid heboh.
"Gak mungkin mereka ada hubungan apa-apa kan?" tanya Ema.
"Enggak tau, bisa aja Kak Darling sengaja gunain Yuli buat menghindari si lampir yang kek ****** itu," ujar Lia.
"Masuk akal," balas Ema setuju.
"Tapi kasian woy, kalau sampe dia jadi bahan bully sama si lampir, gimana?" tanya Inggrid.
"Gue juga takut hal itu terjadi," ujar Ema.
"Serem njir," gumam Lia.
Tak lama Levi and the genk pergi dari kantin dan mencari Darling untuk memastikan hal yang bisa ia percayai.
Di sisi teman-teman Darling juga bingung saling pandang, tetapi ada Yura yang dengan tenang menjelaskan.
"Lo kayak baru pertama ngadepin Darling yang tiba-tiba kacau gini, apalagi kalau bukan buat menghindari Levi?"
"Iya sih itu lebih masuk akal daripada Darling jatuh cinta sama cewek begituan," ujar Leo.
"Iya, dia juga non Islam, masa suka sama yang pake baju rapet gitu ...." ujar Kiki.
"Iya, bener banget, gue malah lebih setuju kalo Kak Darling sama lo Ra," ujar Putri.
"Haha, gue juga setuju dong," ujar Kiki.
"Duh, gak usah ngeship orang deh, terserah Darling mau sama siapa juga," ujar Bagas yang diam-diam menyukai Yura.
Tentu Bagas tidak setuju jika Darling bersama Yura, ia juga tau bahwa Yura menyukai Darling, tetapi ia tidak mau merenggangkan hubungan mereka yang sudah dekat sebagai teman.
"Tapi cocok sih," ujar Leo memanasi.
__ADS_1
Leo tau kalau Bagas menyukai Yura, makanya ia menggodanya karena tau arahnya akan kemana. Bagas hanya diam, jangan sampai Yura menyadari perasaannya. Ia tak ingin dijauhi Yura dan memilih memandam rasa.
Yura sendiri tak menyadari perasaan Bagas, sebab ia terlalu fokus dengan bagaimana cara agar ia bisa menyentuh hati Darling yang beku itu.