Cewek Udik untuk Presma

Cewek Udik untuk Presma
7. DIKEROYOK


__ADS_3

Di asrama, Yuli langsung dikeroyok oleh teman-temannya, maksudnya dikeroyok dalam artian ia dicecar banyak pertanyaan tentang hubungannya dengan Primadona kampus atau Presiden Mahasiswa yang terkenal itu.


Namun, Yuli pun akhirnya jujur kepada mereka semua bahwa ia juga tak tau kenapa si Presiden Mahasiswa itu tiba-tiba seolah mendeklarasikan hubungan mereka dengan cara yang ambigu.


"Aku sebenarnya juga bingung, tapi aku jujur sama kalian ... aku sebenarnya gak ada hubungan apa-apa sama dia."


Teman-temannya masih belum percaya, terbukti dari tatapan mereka yang tak yakin.


"Kalian tahu kan, Kak Darling itu punya banyak fans dan mereka itu pada fanatik, makanya dia itu kayak ngerasa butuh penyelamat dan aku nggak tahu kenapa dia malah ngejar aku. Tadi dia bilang, katanya karena aku kelihatan nggak tertarik sama dia, makanya dia pilih aku."


"Masa sih?" gumam Alin.


"Ya kenapa kalau aku nggak tertarik sama dia justru malah dia milih aku. Aneh kan, hanya karena aku nggak tertarik sama dia, terus dia seolah ngajak aku buat sandiwara. Harusnya kan dia milih orang yang tertarik sama dia, biar dia dengan senang hati berpura-pura pacaran sama dia. Kalau kayak gini kan dia malah nyusahin aku. Aku digosipin macam-macam kan, aku sampai enggak berani tuh buka HP gara-gara beritanya nyebar ke seluruh kampus kalau aku ada hubungan sama dia hiks ...."


Yuli ingin menangis rasanya, kenapa harus dia yang dipilih sih.


"Ya juga sihh, gak masuk akal kalau kalian punya hubungan. Secara dari kemarin lo aja cuek sama sekitar," ujar Tania.


"He'em, kasian banget sih lo, Yul. Gosipnya tambah parah lagi, nih ...." ujar Vika menunjukan berita di platform lambe turah milik tukang gosip di kampus.


Yuli dan yang lainnya pun melihat apa yang diberitakan, mereka terkejut dengan berita gila itu.


"Si anjir, bosen idup mereka!" geram Tania tak terima.


"Udah gitu, masa ada yang bilang kalau Yuli tuh hamil di luar nikah sama Kak Darling. Udah gitu ada yang nuduh kalau itu bukan bayinya Kak Draling," jelas Puri polos.


"Astaghfirullahaladzim aku bingung. Aku bingung banget. Aku nggak pernah yang namanya deket sama cowok apalagi Kak Darling," ujar Yuli frustasi. "Kalian coba deh pikirkan baik-baik dengan logika yang matang. Masa ada orang ganteng, populer kaya, terus deketin orang kayak aku. Masuk akal gak?" tegas Yuli.


Keempat teman sekamarnya menggeleng, memang tidak masuk akal.


"Tapi cinta kan gak pake logika," ujar Vika.


"Itu mah elo yang bucin sampe gak ngotak," sahut Alin.


"Tau nih Vika, ini bukan drama yah, jadi tolong logic sedikit," sahut Tania.

__ADS_1


Vika cemberut karena ditampar kenyataan itu, "Abis mau gimana coba, orang gue juga gak terfikir kalo itu bener, tapi kemungkinannya ada."


"Lu yang ngada-ada," celetuk Tania.


"Bukan gitu maksud gue Vik, dengan perbandingan secara fisik, setidaknya kalau dia mau deketin tuh kayak Puri yang cantik. Dia kayak gak liat spek, langsung comot aja ranting di sungai kayak kalo dia lagi tenggelam."


"Apaan sih," ujar Puri malu.


"Yaa kan emang bener, kan. Coba logikanya nggak nyampe, kalau dia milih gue."


"Iya sih ...." ujar Alin.


"Hem, jadi sebenarnya kalian enggak ada hubungan apa-apa?" tanya Tania.


Yuli mengangguk, "Yah terus cincin itu?" tanya Vika menatap cincin yang ada di atas nakas milik Yuli.


"Nah itu dia, aku juga bingung kenapa sih dia malah ngasih aku cincin dan itu peninggalan Mamanya dia."


Semuanya shock, masa cuma sandiwara sampai tahap ada cincin, udahlah dari mendiang ibunya lagi, kan terlalu sakral.


"Katanya semuanya sandiwara, kok dia seriusan saam lo?" tanya Alin.


"Tapi dia kelihatan banget serius sama lu, jadi mencurigakan," ujar Vika.


"Nah kan, gue juga bingung. Gimana sih, gue baru masuk beberapa hari udah ngerasain tekanan mental."


Teman-temannya prihatin tapi tak bisa membantu, lagian kenapa juga sih harus Yuli yang kena.


"Intinya, gue gak ngerti kenapa tiba-tiba begini, dan yang terpenting adalah, gue gak hamil."


Keempat temannya langsung mengerti, meski mereka baru kenal lima hari itu, mereka memang tau bagaimana Yuli yang paling pendiam dan terkesan kuper (jurang pergaulan).


Akhirnya si Alin yang memiliki kakak yang dekat dengan Darling, jadi ia membantu Yuli agar kakaknya membujug Darling. Namun, saat Alin menghubungi kakaknya, kakaknya tak bisa melakukan apapun karena Darling punya alasan penting untik memilih Yuli sebagai rekan sandiwara.


Akan tetapi Darling berjanji akan menyelesaikan tuduhan-tuduhan tak berdasar yang dialamatkan pada Yuli, ia akan melindungi Yuli dalam bentuk apapun. Tentu saja Yuli tak bisa menerima semua itu dengan cepat, ia sebal harus berurusan dengan orang terkenal.

__ADS_1


Padahal ia ingin menjadimahasiswa biasa yang tenggelam dalam lautan mahaiswa, bukan malah menjadi lampu boklam yang menjadi pusat perhatian dalam kegelapan biang gosip.


Andai ia punya kekuatan super, ia akan menendang bokong Presiden Mahasiswa itu ke daau buaya biar dimakan buaya sampai tak tersisa. Itu kejam, tapi sekarang Yuli juga sedan merasakan kekejaman bullying dari netizen yang mulutnya di atas kepala. Dimana mereka bicara tanpa berpikir terlebih dahulu, padahal kan kenapa otak di atas kepala karena disuruh mikir dulu sebelum bicara.


Ah daripada memikirkan kemalangannya, Yuli lebih baik pergi mandi kemudian mengerjakan tugas untuk OSPEK terkahir besok pagi. Toh yang membuat perkara belum tentu memikirkan kondisinya yang kena mental itu.


•••


Darling tentu memikirkan apa yang ia perbuat, ia sedikit menyesal ketika Leon berkata kalau adiknya Alin yang merupakan teman sekamar Yuli tengah menkhawatirkan keadaan Yuli yang murung gara-gara berita viral di jagat kampus mengenai hubungannya dengan Darling.


Leon menelponnya dan berkata kalau ia harusnya jangan menyeret anak baru ke dalam masalahnya, tetapi Darling punya alasan khusus yang ia tak bisa ungkapkan untuk saat ini. Kenapa harus Yuli dan kenapa bukan yang lain, bahkan orang-orang yang selama ini digosipkan sebagai couple goalsnya.


"Ya lagian lo ngapa pake ngomong tanggungjawab segala kayak ngamilin tuh cewek, Darling ******," ujar Prabu yang juga bergabung dalam obrolan mereka.


"Ya kan gue spontan."


"Masalahnya tuh cewek kena masalah dikira hamil," ujar Bagas.


"Gue belum kasih ****** ke siapa-siapa, seinget gue, masih perjaka."


"Gak penting, intinya tuh cewek kena imbasnya dan dikira melendung," sahut Leon.


"Hooh, lu knapa sih Darl? Gak biasanya lo usil gini," ujar Bagas aneh.


"Gak tau, gue juga bingung. Besok deh gue tanggungjawab ke dia," balas Darllng seolah tak perduli.


"******, lu ngomong tanggungjawab lagi, gue semprot muka lo pake air comberan biar waras lu, Darling," balas Prabu tak habis pikir.


"Iya, Ling. Lo jangan keseringan pakai kata 'tanggungjawab', artinya beda kalo yang denger orang lain."


Darling menghela napas, "Iya-iya, pokoknya gue besok minta maaf ke dia."


"Ya udah terserah lo, tapi jangan main-main ama anak orang, kesian," ujar Prabu.


"Iya, masa depannya masih cerah, jangan lo rusak," ujar Bagas.

__ADS_1


"Apaan sih lo, berdua?" sangah Leon tak mengerti.


"Dahlah gue tutup," ujar Darling dan menutup panggilan itu meninggalkan tiga temannya yang harus bersabar menghadapi sikap es-nya yang kadang menyusahkan itu.


__ADS_2