
OSEK hari terakhir rasanya harus meninggalkan bekas yang berarti, yah setidaknya begitu. Bagaimanapun OSPEK tidak bisa diulang kan?
Namun, Yuli tidak pernah membayangkan bahwa dia akan seterkenal ini. Ia hanya ingin jadi mahasiswi biasa, hidup tenang tanpa harus diperhatikan orang lain.
Sekarang ketika ia berjalan di koridor bersama teman asramanya, ia menjadi pusat perhatian. Berita-berita tentangnya mungkin sudah surut, tapi tentu bisikan-bisikan itu masih menghantuinya. Entah itu diurus oleh siapa, atau mungkin seperti kata Alin bahwa Darling akan mengurus semuanya. Tapi tetap saja, Presiden Mahasiswa itu tidak bisa melindunginya secara langsung, meski ia tetap tidak terima dengan hal ini.
Ia benar-benar tidak ada hubungan apa-apa dengan Darling, lalu kenapa seniornya itu malah memilihnya untuk dijadikan pasangan sandiwaranya?
Sandiwara yang sebenarnya sangat tidak berguna bagi Yuli. Lamunannya berakhir ketika ia dan kedua teman asramanya berpisah di kelasnya.
Drama dimulai lagi ketika semua orang langsung menatapnya dan bertanya-tanya apalagi para penggosip yang langsung menyerbunya dan menanyainya perihal hubungannya dengan Darling, mereka sangat heboh membuat Yuli langsung pusing.
"Yuli! Lu beneran pacarnya Kak Darling?"
Yuli akhirnya dikerumuni banyak orang, ia merasa semakin pusing ketika kamera-kamera ponsel teman sekelasny ikut nimbrung, mereka mengabadikan moment itu untuk dijadikan bahan gosip lagi, pasti.
Sebagai orang introvert sepertinya, ketika dikerumuni banyak orang, ia akan merasa pusing dan merasa agak sesak di dadanya.
Hingga tak lama Ema, Inggrid dan Lia langsung melindunginya dan mendorong orang-orang yang mengarumunya.
"Minggir lo semua!" bentak Lia.
"Dih apaan sih, dateng-dateng maen serobot aja," sewot salah satu dari mereka.
"Woylah, gak usah dorong-dorong kale!" bentak salah satu dari mereka yang terdorong.
"Biasa aja dong, orang kita cuma tanya doang," lanjut yang lain.
"Ya nggak usah kerubunin kayak gitu, Yuli kan jadi tertekan gitu. Lo mau kalau Kak Darling yang ke sini, mau lo semua diomelin?" ujar Inggrid tak terima temannya dipojokkan.
"Iya, dasar lo ya pada norak!" tambah Ema.
"Ya kan kita belum tahu emang si Yuli bener-bener pacarnya Kak Darling?" ujar salah satu dari mereka yang tidak suka dengan Yuli karena ia fans Darling.
"Eh udahlah, daripada kalian ribut kayak gitu, mendingan kita dengerin apa kata dia," ujar salah satu cowok di kelas itu.
"Coba Yul, gimana itu, lu beneran ceweknya Kak Darling?" tanya Lusi yang santai tapi tetap kepo.
Yuli langsung menggeleng, "Gue bukan ceweknya Kak Darling," jawabnya pelan.
"Tuh dengerin," ujar Ema nyolot.
"Lah tapi kok di video, lu katanya mau ditanggung jawabin sama Kak Darling. Emang lu kenapa?" tanya salah satu dari mereka tak puas dnegan jawaban Yuli.
"Lo hamil ya, hamil anak Kak Darling?"
"Eh bacot lu! Ngomong asal jeplak kek mulut Tokek!" sontak Lia yang tidak terima langsung berteriak.
Orang yang asal omong tadi langsung mengkerut takut, Lia galak sekali.
"Iya, tuh mulut pengen dijahit ya?" omel Ema.
"Gue kan nanya," ujar gadis itu.
"Nuduh namanya, goblok!"
"Eh lah malah ribut lagi, sih. Gimana dengerin dulu Yuli bilang," ujar ketua kelas si cowok berkacamata bernama Anung.
"Terus tadi dia ngomong bukan ceweknya Kak Darling, tapi Kak Darling deket banget sama dia, liat coba omongannya itu nggak bisa dipercaya tahu!" tuduh salah satu dari mereka.
"Ya lo kalo nggak mau percaya, ya udah nggak usah dengerin, lu nggak usah tanya! Buat apa kalau kalian tanya pada akhirnya nggak percaya sama Yuli, hah?! Mendingan lu kalau penasaran tanya aja ke Kak Darling langsung, berani?" tantang Ema panjang lebar.
Ucapam Ema membuat mereka bungkam, sementara Yuli akhirnya memegang kepalanya. Ia sangat pusing dengan keadaan sekarang, tapi ia harus menjelaskannya pada semua orang agar mereka berhenti menggosip yang tidak-tidak tentangnya.
Ia menggunakan keterdiaman teman-temannya untuk menjelaskan sebisanya.
"Gue bukan pacarnya Kak Darling, gue bukan ceweknya atau gak dekat dengan dia, apalagi hamil. Gue nggak hamil, jadi kalian nggak usah ngada-ngada deh."
__ADS_1
"Maap ya Yul, yang ngada-ngada bukan kita. Kita juga baca di internet," ujar salah satu dari mereka.
"Nah kalian bisa mempertanggungjawabkan kata-kata kalian gak?" tentang Inggrid.
"Apaan sih lu, semua orang juga cuma dapat informasi dari internet. Tanya ke yang lain, mereka juga dapet dari internet dengan bukti kuat. Ya gak?"
Mereka semua mengangguk, Yuli hanya bisa menghela napas.
"Intinya terserah misal kalian percaya atau nggak percaya. Gue nggak hamil, gue nggak deket sama Kak Darling dan kalau misalnya kalian penasaran dengan apa yang terjadi kemarin, kalian tinggal tanya kepada Kak Darling langsung."
Sekali lagi mereka tidak bisa menjawab lagi, sampai suara langkah kaki masuk ke dalam kelas.
Mereka adalah Chika, Darling bersama Leo. Chika seperti biasa ceria.
Kedatamgan mereka langsung membuat anak-anak yang mengerumuni Yuli langsung kembali ke bangku masing-masing.
"Coba kita lihat," ujar salah satu dari mereka sambil melirik Darling yang baru masuk.
Yuli tak menanggapinya dan membiarkan gadis usil itu pergi, segitunya mereka percaya dengan omong kosong di interet.
"Hai! Ada apa ini, kok pada kerubutin kayak gitu?"
Tak ada yang menjawab, tapi Chika tetap tersenyum dan meneruskan intermezo itu.
"Jangan-jangan ada gula ya, kalian berarti semutnya nih," ujar Chika bercanda tapi garing.
Namun meski begitu, para mahasiswa pecinta gadis cantik pura-pura tertawa agar Chika yang cantik itu tidak kecewa.
"Dasar laki-laki, pencitraan," sindir Lusi yang tidak suka dengan sikap para cowok itu.
"Iri lo, dasar nenek lampir!" jawab salah satu dari mereka.
"Hem, baik kita mulai ya ... udah masuk jam 08.00 nih, seperti yang udah ada di scedule."
"Selamat pagi, semuanya! Apa kabar?" sapa Leo membantu Chika.
"Alhamdulillah baik," jawab para mahasiswa dan mahasiswi.
"Baik Kak."
"Hem, oke hari ini adalah OSPEK terakhir kita ya. Siapa yang antusias nih?"
Para laki-laki semangat sekali, mereka bersorak ria dan beberapa perempuan yang antusias dengan OSPEK itu, Lusi dan kawan-kawan tentunya.
Namun, Yuli hanya diam diantara riuhnya teman-temannya yang juga antusias karena ada Darling dan Leo. Yuli merasa sangat kesal dengan keberadaan Darling.
Mengapa di saat seperti ini, Darling justru ke ruangannya lagi. Kenapa harus kelasnya, padahal ada banyak kelas puluhan kelas di angkatan mereka, tapi kenapa harus di kelasnya. Yuli bertanya-tanya di dalam pikirannya.
Begitu juga dengan Darling yang menatap ke arah Yuli, ia tak bisa fokus hari ini. Padahal bisanya ia yang paling profesional.
Di antara teman-temannya yang bersorak-sorai, Yuli terlihat sangat sedih. Darling jadi merasa bersalah, ia telah membuat salah seorang gadis harus merasakan perasaan tidak nyaman, hanya karena kepentingannya sendiri. Ia egois tentu saja, ia menyadari itu dan ia akan meminta maaf pada Yuli.
"Hai, semuanya!" sapa Darling akhirnya.
"Hai, Kak!" balas para mahasiswi mulai bersemangat ala fans girl.
"Udah ya hai-hai-nya. Oke kalian semangat sekali ya karena ada Kak Darling," ujar Chika tertawa.
"Iyaaaaa!"
"Eh, karena ada Kak Leo juga kok," ujar salah satu mahasiswi centil.
Leo hanya tertawa mendengarnya ia memang terkenal ramah, soft dan ia jomblo bukan karena gay tentu saja. Ia normal, hanya sesutau terjadi sehingga ia trauma.
"Hem, hari ini karena OSPEK terakhir ya ... jadi acara kita itu satu jam di kelas dan selebihnya kita di lapangan dan kita akan membuat game yang sangat seru untuk OSPEK terakhir kita ini. Tentunya sebelum upacara penutupan OSPEK," ujar Chika menjelaskan.
Semua orang bersorak kecuali Yuli tentunya, ia masih tak mau menatap ke depan dimana ada Darling di sana.
__ADS_1
Maka setelah sejam berlalu, mereka digiring ke lapangan. Darling juga terlihat tidak banyak bertindak dan bicara, sekarang yang ia pikirkan hanya Yuli. Apa yang akan ia lakukan pada Yuli, agar ia bisa setidaknya menebus kesalahannya pada gadis itu.
Kerumunan mahasiswa dari semua kelas memenuhi koridor menuju lapangan, begitu juga Darling yang tenggelam sulit bergerak di tengah-tengah.
Namun, anehnya ia masih sempat-sempatnya melamun dan memikirkan rencana agar dimaafkan oleh Yuli. Ia memang salah sejak awal, ia membuat masalah baru alih-alih menyelesaikan masalah.
Ketika ia melihat ke arah rombongan Yuli, Yuli ternyata terpisah dari teman-temannya karena terdorong-dorong oleh orang-orang ketika menuju lapangan.
Namun ia tak bisa bergerak menuju ke arah Yuli ketika anak-anak fakultas sebelah juga menyerbu koridor, ia akhirnya mencoba menenangkan kerumunan agar tidak ada yang cedera. Bisa bahaya kalau ada yang jatuh kemudian terinjak.
"Berhenti semua!" bentaknya keras.
Kerumunan itu langsung berhenti dan dengan tenang mengikuti intruksi dari Darling, mereka menjadi lima baris.
Fokus Darling teralihkan, ia tak lagi memperhatikan Yuli dan apa yang terjadi pada Yuli.
Di sana Darling benar-benar fokus pada adik-adik mahasiswa baru yang bahkan ada yang sempat-sempatnya minta foto dengannya atau sekedar modus menyenggolnya. Untung ia sudah biasa jadi idol meski tak bisa ngedance macam idol K-Pop.
Di kejauhan sana, Yuli dihadang oleh beberapa mahasiswi, tapi ternyata itu bukan hanya mahasiswa baru tetapi juga mahasiswi senior yang seperti biasa terang-terangan menyukai Darling dan membully orang yang dekat dengan Darling.
"Oooooh, jadi ini Yuli?"
Semua yang menonton dan temna-teman Levi mengangguk, ada yang berkata 'Ya'.
Tak lama kata-kata menyakitkan keluar dari mulut pemimpin pembully itu. Siapa lagi kalau bukan Levi si Queen of Bullying.
"Jadi lu itu Yuli, si cewek yang udah berhasil buat Darling nidurin lo?" tanya Levi dengan seringai jahat.
"Iya!"
Yuli terpojok, ia tak membayangkan situasinya akan semakin oarah dan terlibat dengan karakter orang macam Levi. Seorang yang sangat terobsesi dengan Darling.
"Ini maksud Kakak apa?" tanya Yuli berusaha untuk kuat.
Hampir semua mahasiswa baru sudah berkumpul di lapangan tapi sisanya mereka menonton pertunjukan di mana Yuli dibully oleh Levi and the gank.
"Nggak usah pura-pura lo! Darling nggak pernah memperlakukan cewek kayak dia memperlakukan lo. Dia nggak pernah deket sama seseorang, lu jebak dia ya, biar dia nikahin lu, biar dia mempertanggungjawabkan kesalahannya ke elu? Karena lu udah ditidurin sama dia, atau jangan-jangan bayi yang lu kandungnya itu bukan bayinya Darling?" tuduh Levi lagi.
Yuli menggeleng keras. "Aku nggak tahu apakah Kakak bakal percaya atau enggak sama aku, tapi aku sama sekali nggak pernah deket sama Kak Darling. Apalagi hamil seperti yang Kakak bilang," belanya keras.
"Oh ya? Bahkan semua orang udah tahu gimana busuknya lu! Saran gue sih lu harusnya lepas kerudungnya biar kelihatan kalau llu beneran ayam kampus."
"Oh apakah ini yang dinamakan ayam kampus Syariah?" ujar salah satu teman Levi.
Orang-orang langsung tertawa mendengar ejekan itu. Yuli sudah berkaca-kaca mendengar itu.
"Aku nggak hamil Kak. Apakah itu gak cukup untuk menjawab kabar burung itu?!" teriak Yuli menangis.
"Heh, kabar burung? Hello!"
Banyak dari mereka yang merekam video kejadian itu, bahkan ada juga yang live.
"Hai kalian semua! Lihatlah, Yuli yang tersayang ini yang kelihatannya lugu, ternyata adalah orang yang telah mengandung anak dari Presiden Mahasiswa tercinta kita. Apakah kalian setuju bahwa dia adalah ayam kampus Syariah?"
"Hahahahaha!"
Yuli masih berusaha untuk lepas dari mereka, tapi di antara banyak orang yang membullynya, Levi dan pasukannya melihat semua itu dan menahannya.
Tak lama seorang mendekat dan menarik Yuli untuk pergi dari sana.
Kekuatan laki-laki itu yang juga gesit tak bisa ditahan oleh Levi and the gank dan penontonnya.
"Dasar eh! Berhenti lu, dasar lu!"
"Yuli belum jawab, dasar ayam kampus!" teriak salah satu dari teman Levi.
Namun Levi sudah puas telah mempermalukan orang itu. Sementara Darling yang sejak tadi sibuk dengan kegiatannya, ia keget melihat dari jauh Yuli diseret oleh seorang mahasiswa baru dengan simbol fakultas Informatika dan Elektri.
__ADS_1
Ia langsung mengajar Yuli yang dibawa oleh salah satu mahasiswa baru itu. Entah siapa itu, sepertinya Darling menyadari bahwa ia sudah membuat masalah besar bagi Yuli, dan ia melihat Levi and the gank yang menatap kepergian Yuli dengan puas. Ia harus membereskan ini semua itu sebelum Yuli tambah menderita.