
Yuli menghindari kejaran Darling yang terus mengejarnya, tetapi kaki pendeknya tidak bisa dibandingkan dengan kaki panjang Draling. Meski ia sudah berlari dan mengundang banyak pasang mata untuk menonton kejar-kejaran itu, teap saja ia kalah. Ia segera mempercepat jalannya hingga berlari tetapi Darling lebih dulu meraih tangannya dan menghentikan langkahnya.
Saat itu Yuli langsung menghentakkan tangan Darling agar lepas dari tangannya, ia berhasil melepaskan diri tetapi Darling tetap menghadangnya untuk tetap di sana.
"Apa maksud dari perlakuan Kakak seperti itu? Semua orang jadi salah paham dan mengira kalau kita ada hubungan apa-apa. Hal itu mungkin nggak masalah bagi Kakak yang sudah biasa dengan keopuleran Kakak, tapi tidak untuk saya. Saya bakalan kena banyak masalah, apalagi tadi tatapan orang-orang di kantin udah kayak mau membunuh saya. Apakah Kak Darling mau bertanggung jawab atas hal itu, nggak kan? Kalau misal Kak Darling tak bisa menyelamatkan diri dari orang yang mengejar-ngejar Kakak, lebih baik cari orang lain saja yang mau jadi tameng, tapi itu bukan saya!" omel Yuli panjang lebar.
Darling terkejut dengan omelan itu, ia tak menyangka ada adik tingkat yang berani bicara demikian padanya. Mereka cenderung menjunjungnya tinggi sehingga ia tak biasa dengan perlakuan tidak baik setelah keluar dari sekolah internasional itu.
"Maaf ... sebenarnya saya cuma tahu kalau kamu nggak tertarik sama saya, jadi saya berpikir kamu bisa bekerja sama dengan saya."
"Tapi kita nggak saling kenal. Kenapa bisa Kak Darling tahu kalau saya nggak tertarik sama Kakak;"
"Ya karena sampai sekarang pun kamu nolak saya dan itu memperkuat persepsi saya bahwa kamu memang nggak suka sama saya. Jadi, please tolongin saya."
Yuli menghela napas kasar, ia melihat sekeliling, semua orang menatapny dengan pandangan beragam.
"Kak ... ini agak tiba-tiba dan saya merasa Kak Darling hanya main-main ...."
"Terlepas dari itu, kalau misalnya nanti ada masalah sama kamu, saya akan bertanggung jawab ... maksudnya saya akan bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan sama kamu."
Yuli terkejut, "Hah, maksudnya?!"
Bukannya menjawab, Darling malah mengeluarkan sebuah kotak yang mana itu berisi cincin. Ia langsung memakaikannya di jari Yuli yang saat itu tidak siap. Yuli shock dan tidak tahu apa yang terjadi, karena itu semua terjadi secara cepat.
Setelah itu Darling pamit pergi.
"Simpen dengan baik, itu peninggalan Nyokap saya. Saya pamit dulu, kamu jaga diri ya ... kalau misalnya ada apa-apa, kamu bisa hubungi saya," ujarnya sebelum pergi.
__ADS_1
Yuli mematung dan melihat cincin di jari manis kirinya. Ia tidak tahu apa maksud Darling memasangkan cincin tersebut di jari manisnya, yang pasti itu bukan cincin imitasi.
Setelah kembali ke kantin Darling jelas di ditanyai oleh teman-temannya.
"Lu kenapa sih, Ling? Kelihatannya lu tertarik sama cewek itu?" tanya Bagas.
"Iya, tapi kan dia itu bukan tipe elu. Gue agak aneh kalau lu tertarik sama dia beneran." ujar Prabu.
"Aneh gimana sih?" tanya Darling sewot.
"Menurut lo?" balas Bagas.
"Aneh banget lu masa nggak pernah deket sama cewek tiba-tiba aja lu kayak mengakui cewek yang tadi itu sebagai pacar lo. Seriusan?" tanya Prabu.
"Siapa bilang dia pacar gue?"
"Dah lah, gak usah bahas itu lagi."
Darling langsung meninggalkan teman-temannya dan pergi dari sana.
***
"Pah, Mah, Darl pulang!"
Ci Vita seorang ibu angkat dari Darling keluar dari dapur dan menyambutnya dengan suka cita. Ia adalah perempuan yang tidak bisa memiliki anak, sehingga ia menerima tawaran dari Ayah Darling untuk mengasuh anaknya sejak bayi.
Darling ditinggal ibunya meninggal ketika masih bayi dan kemudian ayahnya pindah ke Cina. Ayahnya tak bisa mengurus Darling karena bekerja. Ketika Darling tumbuh besar, ia berusia 5 tahun Ayah Darling pulang membawa istri baru dan saudara tiri untuknya.
__ADS_1
Itu adalah pengalaman paling pahit dalam hidupnya. Ketika ia baru tahu siapa ayahnya, tapi ia harus menelan kenyataan pahit bahwa ayahnya sudah memiliki istri baru dan dua anak tiri.
Darling tidak tahu mengapa ayahnya tak membawanya kembali ke Cina saat itu, tapi ia mulai mengerti ketika perlahan ia tumbuh dewasa. Rupanya ayahnya menuruti apa kata ibu barunya bahwa ia tidak suka ada Darling di antara keluarga kecil mereka.
Darling dianggap sebagai penghalang untuk mereka bahagia, padahal yang ia tahu dia berhak atas kasih sayang ayahnya. Namun ayahnya mungkin terlalu mencintai istri itu dan memilih untuk melukai perasaannya dan meninggalkannya dengan masa kecil yang tidak baik.
Ia pikir, tak berguna baginya untuk meratapi semua kemalangan masa lalunya, toh ia sudah bahagia bersama Ci Vita dan Koh Deni. Ia ikhlas dengan semua yang terjadi. Mungkin jika ia tidak diurus oleh Ci Vita dan Koh Deni, ia tidak akan hidup dengan baik seperti saat ini.
Setidaknya mentalnya bisa terjaga. Ci Vita benar-benar memperlakukannya selayaknya anak kandung. Koh Deni juga mereka adalah sosok orang tua ideal yang ia rindukan dan mungkin jika ia diajak oleh ayahnya ke Cina, ia tidak akan merasakan kehidupan yang baik.
Ia merasa sangat bersyukur atas hal itu dan mulai melupakan kehadiran Ayah Kandungnya di dunia ini. Jadi setelah dia mulai menata hati, ketika ia SMA, ia tidak lagi bertanya tentang ayahnya.
Ia tidak lagi memperdulikan keberadaan ayahnya apapun yang terjadi pada ayahnya dan dia benar-benar menghapus jejak Ayahnya di dalam pikiran dan hati. Tentu itu tidak mudah dan ia berhak atas itu. Toh hak-hak yang harus ia dapat dari ayah kandungnya, tidak dipenuhi. Untuk apa ia masih mengharapkan kasih sayang dirinya.
"Eh udah pulang, makan dulu sini, pasti capek."
"Iya, Mah."
Darling tersenyum, ia memeluk Ci Vita dan mulai masuk ke ruang makan untuk makan siang.
Ia pulang cepat hari ini karena ospek berjalan dengan lancar. Besok adalah acara hari terakhir ospek dan ia harus merencanakan kenangan yang baik untuk adik-adik tingkatnya itu. Meskipun ada tim kreatif yang sudah mempersiapkan, ia juga harus mempersiapkan secara personal.
Dari SMP hingga SMA dan kuliah ia memang melakukan hal-hal positif seperti masuk organisasi dan mulai mengikuti Olimpiade yang ia bisa. Sehingga ia bisa memenuhi pikirannya dengan hal-hal baik dan menghapus jejak masa lalunya yang kelam.
Orang-orang tidak ada yang tahu kalau ternyata Ci Vita dan Koh Deni adalah orang tua angkatnya bahkan sahabat-sahabatnya dari SMP hingga SMA dan kuliah, hanya teman-teman SD yang tahu kalau sebenarnya ayah kandungnya ada di Cina, karena ada beberapa kolega Ayah kandungnya yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang sama dengannya.
Hal itu juga merupakan kenangan buruk dalam hidupnya, di sekolah internasional. Ia kadang dibully oleh teman-temannya itu, akhirnya setelah ia lulus SD. Ia memutuskan untuk memilih sekolah umum, karena sekolah internasional yang dipilihkan oleh Ci Vita dan Koh Deni membuatnya tidak nyaman karena mereka memiliki gap atau mengelompokkan diri sendiri.
__ADS_1
Sehingga orang yang tidak ada di sana tidak tahu kalau sebenarnya sekolah internasional adalah sekolah elit yang cukup buruk pergaulannya. Buruk dalam artian sosialnya dan selain karena bullying itu, Darling tidak suka dengan tatanan sosial yang seperti itu. Seolah kasta sangat terasa di sana, membuatnya merasa asing.