Chasing My Soulmate

Chasing My Soulmate
Prolog


__ADS_3

Terlahir hidup mewah dari keluarga bergelimang harta dengan kekayaan yang tiada tara sangat di dambakan setiap manusia karena kekayaan seseorang menjadi daya ukur status di mata orang. Tapi berbanding terbalik dengan seorang gadis yang terlahir hidup mewah bahkan tidak akan pernah merasakan hidup kekurangan menganggap dirinya hanyalah takdir yang tidak diinginkan.


Nadia rouland candrama anak dari keluarga Candrama merasa hidup nya selalu di atur dan dikekang menurut nya. Bahkan sedari kecil saat di luar lingkungan rumah harus di kawal oleh bodyguard suruhan keluarga Candrama karena tidak ingin anak nya terluka atau di incar oleh musuh bisnisnya.


Nadia terkadang ingin menjalani hidup normal tanpa harus diatur oleh kedua orang tuanya apa lagi nadia cucu kesayangan dari keluarga Candrama.


Kekayaan yang tidak akan habis tujuh turunan dari Ibu yang memiliki usaha perhiasan terkenal dan ayah yang memiliki usaha properti, pertambangan dan banyak bisnis lainnya di bawah naungan Candrama group. Tak heran jika barang yang dipakai Nadia bermerk dan branded.


"Nadia nggak mau ke kampus pakai di kawal para bodyguard lagi mi! Nadia ingin naik mobil sendiri." ujar Nadia di sela sarapan pagi nya.


"Nggak boleh! nanti papi kamu marah dan akan melarang mu untuk keluar rumah meskipun hanya ke kampus." sentak Clarissa ibu dari nadia yang masih terlihat awet muda dan cantik.


"Please mi, itu akan membuat ku terlihat buruk di mata teman aku mi yang harus di awasi kemana mana, Nadia bukan anak kecil mi." rengek nya.


"Sekali tidak tetap tidak nggak ada pilihan kecuali kamu sudah menikah nanti." Nadia cemberut tidak bisa melawan perintah mami dan papi nya.


Clarissa pergi meninggalkan meja makan dan bersiap untuk berangkat kerja bahkan tuan Harvey Candrama sudah tidak terlihat karena ada urusan bisnis ke luar negeri. Oleh sebab itu Harvey menempatkan bodyguard untuk anak nya kecuali Madia anak sulung nya yang sudah menikah dan saat ini tinggal di luar negeri ikut suami nya.


Kesibukan kedua orang tuanya membuat hidup nya terus di awasi.


"Jalan pak!" perintah Nadia ketika sudah berada di dalam mobil.


"Baik non.....


Dalam perjalanan Nadia selalu melamun membayangkan hidup normal seperti teman teman yang bebas nongkrong, bermain ke mall bahkan diperbolehkan membawa kendaraan sendiri.


Hidup layak orang normal mungkin lebih menyenangkan dan nyaman tapi itu tidak semudah yang di bayangkan karena status keluarga Candrama yang begitu pesohor tidak luput dari pengawasan media atau rival bisnisnya yang suatu saat bisa menjatuhkan kerajaan bisnis keluarga Candrama.


"Sudah sampai non." ujar sopir keluarga candrama membuyarkan lamunan Nadia.


"Pak joni saya minta kedua orang itu untuk pulang saja." tunjuk nadia ke dua pria yang berbadan tegap berdiri di sebelah pintu gerbang kampus.


"Maaf non, saya tidak ada kewenangan untuk itu."


"Isshhh menyebalkan...... Blam....." gerutu nadia keluar dari mobil dengan membanting pintunya.


Pak joni hanya menggeleng melihat kelakuan anak majikan nya itu yang tiap hari kesal harus di awasi para bodyguard suruhan tuan Harvey.


Nadia masuk ke dalam kampus dengan wajah tertunduk karena banyak orang yang memperhatikan nya apalagi di belakang ada 2 pria berbadan tegap mengikuti nya. Kadang banyak cowok kampus ingin mendekatinya selain anak orang kaya tapi juga berparas cantik, namun saat melihat ada bodyguard yang menjaga nya mereka jadi mundur.


Karena risih Nadia menghampiri kedua pria itu.


"Pak, ini dilingkungan kampus harus ya! kalian mengikuti kemana aku pergi. Kalau aku mau ke toilet pun masih juga di awasi? sudah berapa kali sih di kasih tau." ucap Nadia kesal.


"Maaf nona, ini perintah jadi saya tidak bisa menuruti kemauan nona." ujar salah satu bodyguard.


"Mending kalian duduk di depan itu karena saya mau masuk kelas jadi jangan berpikir saya kabur." suruh Nadia menyuruh mereka menunggu di dekat pos sekuriti.

__ADS_1


"Nona tidak bisa mengatur kami karena bukan nona yang menggaji kami."


Mendengar itu Nadia langsung naik darah dan pergi begitu saja mengabaikan keberadaan dua bodyguard itu.


Dari jauh terlihat teman-teman nya sedang menunggu di taman dekat kantin. Dengan langkah cepat Nadia berusaha menjauh dari pengawasan pengawal itu.


"Nah, tuh Nadia. Nad... sini..... " panggil Dea salah satu teman baiknya.


Nadia menghampiri teman temannya dengan wajah cemberut dan kesal tentu nya.


"Kenapa? belum bisa lepas dari para bodyguard?" tanya Selvi namun iba dengan keadaan nya yang selalu diatur oleh keluarga.


"Memang sialan mereka selalu aja membuat ku kesal." jawab nya


"Sepertinya elo harus membujuk papi kamu deh Nad, biar tuh bodyguard pensiun tidak buntuti elo terus." kata Dea.


"Percuma gw ngomong sama mereka ujung-ujungnya gw kalah berargumen dengan mereka. Apalagi tadi pagi mami bilang kalau nggak mau di kawal bodyguard nanti kalau sudah married seperti kakak gw."


"Ah memang susah hidup sebagai putri dari keluarga konglomerat yang berkelas serba di awasi dan tidak bisa sembarangan berbuat sesuatu." keluh Selvi juga dari keluarga berada tapi masih di bawah keluarga Candrama jika di hitung kekayaannya.


"Ya sudah lah kita masuk kelas bentar lagi dosen kita datang." ajak Dea.


Mereka kemudian masuk kelas mengikuti jam kuliah. Kedua bodyguard itu memilih menunggu di kantin selama anak majikan nya itu sedang mengikuti jam kuliah.


Beberapa jam kemudian mata pelajaran kuliah sudah berakhir, mereka memilih ke kantin untuk menunggu jadwal pelajaran kuliah berikut nya.


"Iya nih lapar gw." seru Selvi.


"Oke deh kita ke kantin aja." Nadia mengikuti langkah kedua teman nya.


Saat mereka akan sampai di kantin Nadia melihat kedua bodyguard nya sudah duduk di sana.


"Mending kita putar balik deh nggak jadi ke kantin." ucap Nadia.


"Memang nya kenapa nad?" tanya Selvi.


"Tuh di sana ada helder papi nya Nadia." tunjuk dea dengan dengan dagu nya, mata selvi langsung tertuju dua bodyguard yang sedang duduk di kantin.


Nadia yang menghentikan langkah nya diikuti Selvi dan Dea.


"Kenapa sih orang itu harus disitu?" geram Nadia.


"Ya udah deh kita pesan gofood aja deh kita makan di tempat biasa." usul Selvi.


"Oke good idea..." sahut dea yang diangguki kepala Nadia.


Mereka akhirnya putar balik dan memilih duduk di taman di lingkungan kampus sambil memesan gofood dan tentunya Nadia yang mentraktir mereka. Dari jauh kedua pengawal itu bangkit dari duduk nya saat melihat target yang harus di awasi nya meninggalkan kantin, namun saat mengikuti dari jauh mereka memilih menunggu di dekat pos karena melihat anak majikan nya itu masih di area kampus.

__ADS_1


"Nah kita makan, dah lapar gw." seru selvi saat petugas gofood mengantar pesanan mereka diikuti dea dan nadia.


"Pulang nanti kita mampir ke cafe mangunan yuk sekalian beli buku di sebelah cafe itu." ajak dea


"Kalau gw sih iyes aja, elo mau ikut nad?" tanya selvi.


Nadia menghentikan minum nya.


"Gw nggak bisa kan kalian tau sendiri." kata nadia sedih, mereka mau beli buku untuk tugas dari pak candra dan nadia juga perlu buku itu.


"Ah iya gw lupa." seru dea menepuk jidatnya pelan.


Ya iyalah mana bisa nadia mampir mampir sepulang kuliah kecuali ditemani para bodyguard itu.


"Elo nggak ingat waktu Nadia SMP ikut kita nongkrong di mall tanpa sepengetahuan pengawal nya, terus dikerahkan semua bodyguard mencari Nadia hingga menutup akses semua pintu masuk mall itu." cerita selvi. Mereka tertawa saat mengingat kejadian itu.


"Gw jadi iri sama kalian." ujar nadia membuat dea dan selvi melongo.


"Kenapa kan kau tahu perusahaan bokap gw masih kalah besar dengan punya bokap lo. Dari finansial elo nggak bakalan kekurangan tujuh turunan." celetuk Dea.


"Sama, elo punya segalanya Nadia sayang..... kenapa elo iri sama kita kita??" selvi ikut nimbrung.


"Logika nya kalian enak nggak di atur hidup kalian dan tidak di awasi seperti gw, menurut ku ini seperti nggak adil hidup gw." gumam Nadia.


"Mungkin ada maksud dari bokap elo harus giniin elo sih."


"Gue kesal aja hidup dikekang sampai gw ingin jadi orang biasa yang hidup nya sejahtera tanpa ini itu." keluh Nadia.


"Yakin kamu bisa seperti itu? Karena hidup itu tak semudah yang kita inginkan harus ada perjuangan." dea mencoba Menceramahi.


"Iya kita mestinya bersyukur punya segalanya, dari kecil kebutuhan kita terpenuhi." ujar selvi.


"Itu kalian! kalau gw? kalian tahu sendiri. Bahkan teman hidup saja ditentukan keluarga." jelas Nadia teringat nasib kakak nya yang di jodohkan juga.


"Hahaha kalau ganteng, mapan sih nggak masalah ya gaes." ujar dea.


"Tapi kalau ganteng, mapan tukang selingkuh gimana?" tanya selvi.


"Ya ogah lah... enak aja." kesal dea membuat selvi tertawa.


"Aku tidak mau, lebih baik jodohku orang biasa tapi setia dan membahagiakan gw dan kalau dia ganteng itu bonusnya."


"Hah! serius nad? Gw nggak percaya itu." seru dea.


"Seadanya begitu gw mah bersyukur aja dari pada saya di jadikan pernikahan bisnis."


Mereka berdua mengangguk setuju dengan Nadia karena yang pasti mereka akan seperti itu jika kemungkinan terjadi toh orang tua mereka semua pembisnis dan pengusaha pasti bisa saja terjadi pada mereka. Apalagi selvi sudah pendekatan dengan teman sekampus juga.

__ADS_1


__ADS_2