Chasing My Soulmate

Chasing My Soulmate
Curhat Nadia


__ADS_3

Sabtu malam atau malam minggu untuk anak remaja selalu dihabiskan bersama teman ada yang nongkrong atau bersama pacar tapi tidak untuk seorang Nadia yang lebih suka rebahan di kamar dan mendengarkan musik. Nadia teringat dengan teman kecilnya dulu yang pernah ia sukai.


Tangan Nadia meraih sebuah foto yang terdapat dua anak kecil sedang bergandengan tangan dekat taman.


"Raditya......." ucap nya.


Nadia masih teringat dengan kata Raditya jika dia akan menjadi pacar nya saat sudah dewasa nanti.


"Kata mu sungguh konyol Radit, akan selalu di sisiku tapi kamu malah pergi keluar negeri." gumamnya jika mengingat waktu itu saat masih kelas 1 SD.


Raditya pindah keluar negeri tanpa memberitahukan nya karena perusahaan orang tua Raditya mengalami kebangkrutan nya. Dielus nya lagi foto itu kemudian diletakkan kembali di tempat nya tadi. Jika mengingat waktu kecil dulu sungguh senang nya Nadia karena masa kecil nya dulu tidak seperti sekarang kemana pun pergi selalu ditemani bodyguard.


Melihat di grup chat nya tidak ada notifikasi pesan dari teman nya, kemudian Nadia menempel kan earphone di telinga yang sudah terhubung dengan ponsel nya. Sambil mengerjakan tugas Nadia mendengar kan musik lagu kesayangan nya.


Tok Tok Tok


Madia mengetuk pintu kamar Nadia setelah beberapa kali namun tidak ada jawaban, madia langsung masuk kedalam dan menemukan nadia sedang sibuk mengerjakan tugas.


"Kamu ngapain sih Nad? kakak ketuk pintu dari tadi sampai nggak dengar." kata madia sambil mendarat kan bokong nya di bibir tempat tidur nadia.


"Eh kak...." ucap nadia sambil melepas earphone yang di telinga nya. "Mana Danish?"


"Sama mami di ruang tengah. Sibuk banget deh, ngerjain apa sih?" tanya Madia memperhatikan beberapa kertas yang terjatuh di bawah meja tempat Nadia mengerjakan tugas.


"Oh ini? tugas kuliah aku kak." jawab nya.


"Rajin banget, bukan nya besok kuliah libur?"


"Daripada bosan kak."


"Maka nya cari pacar Nad, biar nggak bosan."


"Ini malam minggu ya kak?"


"Yaps.... dasar jomblo sampai lupa hari." ujar madia di sela ketawa nya.


"Bagaimana mau punya pacar kak, bodyguard papi aja selalu ngawasin terus! pakai pasang muka serem lagi."


"Hahaha...... Oh iya ya." kata madia sambil tertawa kemudian terlintas dirinya saat punya pacar waktu sekolah menengah hingga akhirnya ketahuan dan tidak direstui oleh tuan candrama raut wajahnya seketika suram.

__ADS_1


"Kakak nggak papa?" tanya Nadia khawatir ikut duduk di tepi kasurnya.


"kakak nggak papa Nad." jawab nya.


"Kak, masih lama di sini kan?"


"Mungkin lusa kakak dah balik ke Jerman."


"Hah...... Nadia masih kangen kakak loh apalagi sama si bocil itu."


"Kakak nggak bisa lama ninggalin suami kakak, Nad." Seloroh nya.


"Kak, apa kakak bahagia dengan kehidupan sekarang?"


"Eh.... koq pertanyaan nya aneh deh." ucap madia kemudian terdiam sejenak.


"Ayo lah kak, apa kakak bahagia menikah dengan pria pilihan orang tua kita?" Nadia maksa.


"Hmm.... kakak bahagia koq Nad, kan tau sendiri sampai ada Danish tuh!" jawab nya sambil tersenyum namun Nadia masih enggan untuk percaya karena tidak pernah bertemu.


"Syukur deh kalau begitu. Kadang Nadia terpikir pindah kuliah keluar negeri seperti kakak." keluh Nadia kemudian merebahkan tubuhnya dengan kaki masih menyentuh lantai.


"Bagus sih kak tapi kan hari hari selalu di awasi. Nadia berasa seperti anak kecil."


"Jalani aja toh sekolah di luar negeri sekalipun pasti papi juga nggak akan tinggal diam, lebih ketat lagi!" jelas madia.


"Oh ya kak, dulu kakak punya pacar nggak sebelum nikah?"


"Hmm......" madia nampak berpikir. "Ada! teman dekat. Kenapa? ada cowok yang kamu suka?" goda nya dan teringat pacar pertama nya sebelum kuliah ke luar negeri.


"Hah! nggak lah. Papi will definitely punish me, bagaimana bisa kakak punya pacar?"


"Hahaha......sudah lah! Danish pasti nyariin kakak." elak nya karena terlalu sedih untuk diingat.


Madia beranjak dari kamar Nadia dan keluar. Madia beruntung memiliki adik yang tidak keras kepala dengan sikap orang tuanya yang mengatur kehidupan Nadia hingga saat ini bahkan dirinya juga pernah merasakan meskipun bukan berarti dirinya sudah tidak diawasi tapi berbeda semenjak bersuami kerena jadi anak pengusaha sukses pasti ada musuh dalam persaingan bisnis orang tuanya.


Nadia membenarkan posisi tubuh nya dan memilih tidur tanpa membereskan tugas nya.


"Mommy......" teriak Danish langsung menghambur ke pelukan madia.

__ADS_1


"Kenapa sayang?......" tanya madia terus menggendong nya.


"Mungkin Danish ngantuk. Tidur kan sana!" suruh Clarisa.


"Iya mi, papi kemana mi?"


"Papi ada acara pertemuan dengan rekan bisnisnya." jawab nya.


"Ohh......mami nggak ikut?" tidak heran lagi jika papi nya selalu sibuk.


"Hanya acara biasa jadi mami nggak ikut. Nadia sudah tidur?"


"Belum mi. Madia bawa Danish ke kamar ya mi."


"Ya......


Madia masuk ke kamar nya yang sudah beberapa tahun terakhir ditempati nya dan membawa Danish tidur.


Di lain tempat tepatnya di kota S. Seorang pria sedang mengamuk karena kalah dalam persaingan bisnis nya. Lagi lagi kekalahan berpihak pada nya. Sebuah tender besar yang bernilai puluhan trilyunan tidak bisa di raih nya.


Prang Prang Prang


Semua benda yang berada di meja ruang kerja nya berserakan di lantai. '


"Brengsek aku akan mengalahkan mu dan merebut semua nya." maki pria itu dengan tangan meremas gelas kristal ditangan nya.


"Tangan anda terluka tuan." kata asistennya saat masuk melihat bos nya sedang emosi melampiaskan amarah nya dengan menghancurkan benda yang ada di ruang kerjanya.


Dalam sekejap barang yang ada di atas meja kerja termasuk laptop sudah terbengkalai di lantai bersama dengan kaca dan berkas yang berserakan.


"Jika cara benar tidak berhasil maka cara kotor pun aku lakukan." maki nya sedangkan asistennya hanya terdiam.


"Bagaimana kalian akan mengatasi kekalahan ini?" tanya nya


"Kita akan menggunakan kelemahan nya tuan." jawab asisten.


"Ya, aku tidak perduli meski ada hubungan darah ditubuh ku dengannya sekalipun." ucap pria itu penuh dendam.


"Harvey candrama, aku akan merebut apa yang kamu miliki." gumam pria itu dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2