
Seperti biasa sepulang kuliah Nadia sudah di jemput sopir keluarga. Sesampai di rumah Nadia melihat mobil berjejer di parkiran rumah nya.
"Ada tamu ya pak?" tanya Nadia
"Oh itu tamu nya nyonya non." jawab nya.
"Oh......
Nadia keluar dari mobil dan langsung masuk ke rumah. Terdengar suara teman teman Clarisa yang sedang mengobrol di ruang tengah.
"Iisshh....ngapain sih jam segini masih ngumpul di sini." gumam Nadia karena hari sudah sore teman teman mami nya masih asyik ngobrol dan obrolan nya terlihat seru tidak lain dari belanja barang mewah, biasalah.......ibu ibu sosialita gitu loh.
"Sudah pulang sayang?" tanya Clarissa.
"Ya ampun jeng! ini anak mu yang nomor dua itu?" tanya salah satu ibu sosialita itu, dan yang lain memperhatikan Nadia dari ujung kaki sampai ujung kepala memang cantik, putih idaman untuk di jadikan mantu menurut mereka apalagi keturunan candrama.
"Sini sayang! tante ingin mengenal kamu." panggil ibu yang lainnya.
Mami Clarisa hanya tersenyum saat Nadia sudah pulang ke rumah. Nadia mendekati teman teman mami nya dan menyalami satu persatu.
"Nadia tante." ucap nadia mencium tangan satu persatu teman mami Clarisa namun ada satu ibu yang begitu terpesona dengan Nadia.
"Panggil tante Mira, sayang." ucap teman Clarisa yang bernama mira saat Nadia memperkenalkan dirinya.
"Ah iya tante." kata nadia kemudian beringsut ingin pergi ke kamar nya.
"Mi, Nadia ke atas dulu ya." pamit nya yang di angguki kepala Clarisa.
Nadia memilih pergi ke kamar nya dari pada ikut mengobrol dengan teman teman mami nya.
"Eh jeng, gimana jadi kita buat arisan nya." lanjut obrolan mereka.
"Jadi dong, kan biar sering jalan jalan keluar negeri."
"Berlian yang dipakai bu Clarisa cantik loh? boleh deh pesan tapi harga kawan dong."
"Saya juga mau satu jeng."
Begitulah obrolan para ibu ibu sosialita itu yang terdengar ditelinga Nadia.
Sampai dikamar Nadia merobohkan tubuh nya di kasur mewah miliknya. Nadia melihat sekeliling kamar banyak barang mewah berada di kamar nya bahkan orang lain belum tentu nasibnya seperti diri nya. Nadia langsung teringat dengan kakak tercinta nya yang sedang di luar negeri bersama suami nya. Nadia membuka ponsel nya kemudian menghubungi seseorang.
^^^"Iya halo Nad.^^^
^^^"Kak, Nadia kangen. Kapan ke Indonesia?"^^^
^^^"Kenapa sayang? nggak ada teman kalau gitu cari pacar dong biar nggak suntuk."^^^
^^^"Ah kakak nih, gimana mau punya pacar tiap keluar rumah di buntuti Helder nya papi."^^^
__ADS_1
^^^"Hahaha.....Ya begitu lah sayang jadi anak penurut aja ya."^^^
^^^"Kapan kakak ke Indonesia sih?"^^^
^^^"Belum tahu nad, suami kakak masih banyak kerjaan."^^^
^^^"Kakak gitu deh, sudah^^^
^^^senang bisa bebas nggak di kekang lagi."^^^
^^^"Cup.. cup... cup... jangan nangis dong ntar adik kakak ini jadi jelek."^^^
^^^"Siapa juga yang nangis cuma meratapi nasib aja kak."^^^
^^^"Memang nya kenapa? kamu di coret di kartu Keluarga candrama."^^^
^^^"Enggak.... sampai kapan sih Nadia akan di kekang seperti ini."^^^
^^^"I don't know. Sampai kamu ada yang menjaga dirimu dan mengikatmu."^^^
^^^"Ah kakak nyebelin ngomong seperti itu, nggak tahu apa adik kesayangan nya sedang suntuk lihat teman temannya pada nongkrong sepulang kuliah."^^^
^^^"Eh udah dulu ya nad, suami kakak memanggil kakak tuh. Bye nad..... "^^^
Nadia melempar ponsel nya di kasur setelah mengakhiri panggilan nya.
Nadia tahu bagaimana kakaknya bisa menghibur karena dulu juga mengalami nasibnya seperti Nadia yang di kekang dan di atur hidup nya hingga sekarang sudah tidak lagi karena sudah memiliki suami juga dari perjodohan orang tuanya.
"Argghhh......" Nadia mengacak rambut nya karena kesal akhirnya memilih mandi.
Nadia memilih menghabiskan waktu nya dengan rebahan dikamar mendengarkan musik sambil membaca novel.
Tok Tok Tok
Pintu kamar nya ada yang mengetuk namun Nadia hanya mengabaikan nya karena asyik mendengar kan musik pakai earphone diselipkan di telinga nya.
"Non, dipanggil nyonya untuk makan malam." suara pembantu rumah tangga keluarga candrama.
"Non.... nyonya sudah menunggu." terdengar ketukan lagi membuat Nadia melepas earphone ditelinga nya.
"Ada apa bi?" tanya Nadia membuka pintu kamarnya.
"Non Nadia ditunggu nyonya diruang makan."
"Oh.... teman teman mami sudah pulang bi?"
"Sudah semua non, maaf nyonya menyuruh non Nadia turun sekarang."
"Ya bi, terimakasih."
__ADS_1
Dengan malas Nadia menuruni tangga menuju ruang makan yang sudah ditunggu Clarisa. Suasana sepi saat di ruang makan hanya terlihat mami Clarisa dan beberapa pelayan yang menyiapkan makan. Keluarga candrama memperkerjakan puluhan pembantu rumah tangga di setiap bagian rumah.
"Mi......" panggil Nadia sambil menarik kursi.
"Iya sayang kita makan bersama karena mami malas makan sendirian." ujarnya.
"Kapan papi pulang mi?"
"Paling 1 atau 2 hari lagi kalau urusan di kantor cabang sudah selesai."
Nadia terdiam mendengar penjelasan dari Clarisa dan benar saja saat ini bisnis keluarga candrama bukan hanya di Asia saja tapi juga merambah ke Eropa.
"Kamu mau pesan apa biar papi bawain untuk mu."
Lagi lagi seperti itu apa yang diinginkan Nadia selalu di penuhi tanpa harus Nadia yang pergi membeli nya dan itu bukan merek biasa tapi barang branded dari luar negeri.
"Nggak mi, Nadia nggak mau apa apa."
Dalam hati Nadia hanya ingin bebas bersosialisasi dengan teman tanpa di kawal dan di atur.
"Oke.......habiskan makan nya. Mungkin minggu depan mami ada urusan bisnis di Paris."
Nadia menghentikan makan nya seakan tidak berselera lagi. Di rumah selalu ditinggal pergi urusan bisnis orang tuanya tapi jika ingin pergi keluar rumah harus di kawal bodyguard, Nadia merasa muak dengan takdir hidup nya.
"Kalau bosan di rumah kamu bisa ajak teman mu kesini tapi jangan mencoba keluyuran di luar tanpa sepengetahuan mereka." Clarisa menekan mereka yang berarti para bodyguard.
Nadia benar-benar sudah tidak ingin makan lagi sudah kenyang rasanya.
"Mi, bisa nggak Nadia hidup normal seperti orang lain pada umumnya." kata Nadia tiba-tiba meluncur begitu saja karena sudah muak.
"Apa maksud mu ngomong seperti itu? Kamu harus sadar dari sekarang nadia, bahwa keluarga kita bukan keluarga sembarangan jadi jangan membuat kesalahan hingga meruntuhkan apa yang sudah dibangun." seru Clarisa.
"Ishh........" Nadia meninggal meja makan kemudian kembali ke kamar nya.
"Nadia...... mami belum selesai bicara....." panggil clarisa namun diabaikan oleh Nadia.
"Nadiaa........" teriaknya lagi karena Nadia tak menghiraukan.
Nadia membanting tubuh nya saat sampai di kasur dengan posisi tengkurap dan wajahnya di tenggelam kan di atas bantal.
Nadia nangis tanpa suara, hati nya merasa kacau.
Pintu kamarnya terbuka dan muncul Clarisa yang ternyata menghampiri Nadia.
"Sayang, maafkan mami nak. Mami sudah bentak kamu mami cuma ingin melindungi mu bukan berarti membuang atau mengabaikan mu karena kamu tahu kan kesuksesan keluarga kita pasti ada yang ingin menghancurkan milik kita." ucap Clarisa sambil mengusap rambut Nadia yang masih tengkurap memeluk bantal.
"Mami tahu kamu pasti tersiksa atau membenci nya tapi sebenarnya mami dan papi khawatir dengan mu sayang apalagi mami dan papi tidak bisa menjaga mu seharian karena pekerjaan jadi tolong dimengerti. Mami ke Paris karena ada pameran perhiasan jadi mami ikut berpartisipasi di pameran itu akan ada fesyen show nya juga jadi mami nggak mungkin membawa mu ke Paris karena kamu harus kuliah. Mami dan papi sangat menyayangi mu, sayang." Clarisa mencium pucuk kepala Nadia sebelum meninggalkan kamar.
Nadia menoleh saat Clarisa sudah tidak di kamarnya kemudian membenarkan posisi tidurnya dan memilih tidur.
__ADS_1