
Maaf, untuk segala yang melukai hatimu
Setelah kejadian kemarin, Kia tidak masuk sekolah selama seminggu tanpa keterangan, Tian merasa frustasi, ia merasa bersalah tapi disisi lain ia tak melakukan apa apa.
Teman teman Kia pun kehilangan akses untuk menghubungi Kia, segala cara mereka lakukan untuk menghubunginya, namun semuanya gagal.
Segala kemungkinan sudah Bermunculan satu persatu di benak Tian sejak hari pertama Kia tidak masuk sekolah, ia takut Kia sakit, namun setelah beberapa hari Kia pun tetap tidak menampakkan dirinya di sekolah, entah apa yang terjadi, Tian semakin khawatir, dan tidak bisa fokus terhadap segala hal kecuali memikirkan Kia.
"Dimana lagi kamu Nona ngessellin, harusnya kamu datang saja dan marah padaku setiap hari sepuasmu, bukan menghilang seperti ini, aku tak suka"
Teman teman Kia setiap hari mengunjungi rumahnya namun rumah yang di huni Kia dan neneknya nampak kosong setiap hari sehingga teman temannya pun sudah tak tau lagi harus bagaimana dan dengan cara apa untuk mencarinya.
"Tiaaaaannnn...." terdengar suara teriakan dari seorang wanita usia 35 tahunan yang masih terlihat sangat muda dan cantik berteriak dari arah dapur rumah, meneriaki Anak laki laki kesayangannya namun tak terdengar jawaban apapun sehingga membuatnya berjalan meninggalkan dapur untuk menuju kamar anak bungsunya itu
Tok..tokk..tokk (mengetuk pintu)
__ADS_1
"Tiannn.... Tiannnnnnn... Kamu kenapa, tidak biasanya nak kamu begini, pulang sekolah langsung masuk kamar dan tidak keluar sampai sekarang, kamu baik baik saja kan??"tanya ibunda Tian yang khawatir dengan keadaan anaknya
Kian membuka pintu dengan lesu
"Kenapa kamu? Gak main basket? Tumben benner" tanya ibunya yg tidak biasa melihat anaknya berdiam diri di kamar itu
"Duh mahh, kehilangan motivasi akuh" jawab kian sambil berjalan keluar menuju arah kulkas
"Ma, aku keluar dulu yah, mungkin agak sore pulangnya" sambil mengambil kunci motor dan jaketnya setelah meminum beberapa teguk air dari dalam kulkas
"Mau kemana?"
Dibawah cuaca mendung Tian melajukan motornya menyusuri jalan menuju rumah kia dan berkeliling di tempat yang ia anggap mungkin kia bisa saja ada di sana
"Kemana kamu Nona? Kemana kamu pergi? Apa karna aku? Apa karna kau marah padaku? Apa kau membenciku?(gumam Tian )
__ADS_1
Apa yang harus ku lakukan Nona?
Kemana aku harus mencarimu?
Kemana aku bisa menemukan mu?
Datanglah lagi Nona,
datang dan marahlah padaku setiap hari, itu lebih baik bagiku daripada kehilangan mu seperti ini (Tian terus berbicara sendiri), kenapa kau menghilang seperti ini, jika karna ku, kau harusnya datang dan memintaku saja yang pergi, bukan menghilang seperti ini.
Nona, dimanapun kau kini ku harap kau baik baik saja,
Dan maaf untuk segala hal yang melukai hatimu" ucap kian dengan hatinya yang hancur.
Hari sudah semakin sore, telpon genggam milik Tian pun sudah tak henti hentinya berdering, dan ia tau itu dari ibu nya.
__ADS_1
hatinya masih sangat gelisah karna belum juga mengetahui keberadaan Kia, tapi ia tau ibunya pasti juga akan khawatir terhadapnya jadi ia memutuskan untuk pulang kerumah.
"Kia, tunggu, aku akan mencarimu lagi besok, dan akan terus mencarimu sampai kita bisa bertemu lagi" ucap Tian seolah Kia akan mendengar semua perkataan tulusnya itu.