CINTA 9 NYAWA

CINTA 9 NYAWA
PROLOG


__ADS_3

Mata itu. Belum pernah aku melihat mata Kisa yang semarah itu. Merah menyala. Biasanya kutemukan kedamaian di mata itu, tetapi tidak sekarang. Mata itu juga yang membuatku tersadar. Mata dan sebuah tamparan keras yang mendarat di pipiku.


PLAK!


Tamparan yang membuatku bergetar. Seharusnya aku kesakitan, tetapi aku sama sekali tidak merasakan sakit. Sakit di dadaku lebih sakit daripada sakit di pipiku. Aku tahu bahwa hati Kisa juga sakit saat menamparku. Sakit melihat keadaanku. Belum pernah aku melihat kemarahannya sebesar itu. Selama ini aku mengenalnya sebagai seorang laki-laki yang sabar. Sangat sabar malah.


"Sampai kapan kamu mau seperti ini?"


Suara lantang Kisa membuat separuh kesadaranku kembali. Dengan cepat, tangan Kisa menyambar sebuah botol yang ada di tanganku dan langsung membantingnya. Botol itu terlempar jauh dari tempatku dan aku tidak tahu kenapa tubuhku bergerak untuk mengambil botol itu. Susah payah aku bergerak bahkan aku merangkak untuk mendapatkan botol itu. Semua tubuhku yang sakit seolah tidak aku pedulikan dan aku terus pergi ke botol itu. Tetapi, semua usahaku sia-sia karena Kisa kembali menendang botol itu semakin jauh. Aku hanya bisa menggapai-gapai tanganku yang tidak akan dapat meraihnya lagi.


"Tolong...aku butuh botol itu."


"Untuk apa?"


"Kamu enggak usah ikut campur urusanku. Berikan botol itu." Aku tidak tahu dari mana kekuatan itu muncul. Kekuatan untuk membentak Kisa. Bentakan yang selama ini tidak pernah keluar dari mulutku. Apalagi untuk Kisa, seorang laki-laki yang sudah menjadi temanku sejak kecil. Lelaki yang selalu menemaniku saat sedih. Bahkan ketika tidak ada orang yang mau menemaniku. Kisa selalu ada.


"Oke. Kalau itu mau elo."


Langkah Kisa terlihat bergetar menuju ke botol yang ditendanya. Botol obat serangga itu terlempar sepuluh meter saat Kisa menendangnya dengan keras. Jika tidak terkena tembok yang ada di taman, tentu saja botol serangga itu akan terlempar lebih jauh lagi. Aku tahu tendangan Kisa sangat kuat. Apalagi dia adalah seorang yang gemar bermain sepak bola. Kisa mengambil botol itu dan berjalan ke arahku dengan cepat. Kemarahan masih terlihat jelas di wajahnya. Kisa membuaka botol seranga yang ada di tangannya dan memberikan ke tanganku. Kisa menggenggamkan botol obat serangga itu di tanganku. Tangannya bergetar.

__ADS_1


"Ayo minum obat ini, Cathy. Ayo."


Tangan Kisa bergetar. Aku merasakan dingin di tangannya. Entah kenapa tangannya bisa sedingin itu, padahal aku merasakan udara sangat panas. Dan memang aku lihat hampir seluruh mukanya dipenuhi keringat. Juga tangannya. Keringat sebesar jagung mengucur deras.


"Ayo minum. Tunggu apalagi? Setidaknya aku tidak perlu repot-repot lagi ngurusin elo."


Entah kenapa saat mendengar kata-kata Kisa, seluruh badanku seperti membeku. Aku tidak bisa bergerak. Botol serangga yang ada di tanganku juga terjatuh. Air mata sudah tidak tertahan lagi keluar dari kedua mataku. Aku limbung dan terjatuh. Untunglah Kisa sigap memegangku sehingga tubuhku tidak sampai terkena tanah. Perlahan, Kisa duduk di atas tanah yang berumput. Rumput hijau yang ada di taman itu biasanya mampu menghilangkan semua sedih yang ada di hatiku, tetapi entah kenapa kali ini terasa sakit. Aku pun ikut duduk bersamanya. Kisa menatapku tajam. Amarah yang tadinya terlihat jelas di matanya, sekarang berubah menjadi tatapan penuh kasih.


"Sampai kapan kamu seperti ini, Cathy?"


Laki-laki itu menangis. Kisa menangis. Pundaknya terguncang. Selama 22 tahun kehidupanku mengenal Kisa, baru kali ini aku melihat Kisa menangis. Apakah dia menangis melihat keadaanku?


Tanganku berusaha untuk mengusap air mata yang keluar dari mata tajam Kisa. Aku tidak sanggup melihat air matanya. Dadaku semakin sesak dengan semua keadaan ini. Tidak sadar aku sandarkan kepalaku di pundak Kisa. Kisa hanya terdiam.


"Sampai kapan kamu seperti ini, Cathy?"


Entah sudah berapa kali pertanyaan itu keluar dari mulut Kisa. Pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dia sampaikan karena Kisa sudah tahu jawaban apa yang akan kuberikan.


"Sampai sembilan kali aku ungkapkan rasa  cintaku ini."

__ADS_1


Iya. Sembilan kali. Sembilan kali adalah jumlah yang aku putuskan untuk menyatakan perasaanku ini kepada Sega. Dan ini adalah yang kedelapan kalinya cintaku ditolak oleh Sega. Aku tidak pernah tahu kenapa Sega sanggup melakukan penolakan sebanyak itu. Dan aku juga tidak pernah tahu kenapsa aku sampai bisa sebanyak itu mengungkapkan perasaanku kepada Sega. Yang jelas, dalam hatiku hanya ada Sega. Sosok laki-laki dengan tatapan penuh kasih sayang. Semua yang dilakukannya dapat membuatku bahagia.


"Tapi, enggak harus seperti ini kan cara kamu menyikapi penolakan Sega?"


Aku kembali terdiam. Kutegakkan kepalaku agar bisa melihat raut muka Kisa. Terlihat jelas gundah dalam wajah itu. Dan aku tahu bahwa apa yang kulakukan ini salah. Mencoba untuk meminum obat serangga setelah yang kedelapan kalinya Sega menolak cintaku. Kosong. Perasaanku kosong saat Sega menolak cintaku. Dan aku tak pernah tahu apa yang kulakukan selanjutnya. Yang aku ingat, Kisa sudah ada di depanku tepat seperti saat ini. Bedanya, aku selalu melakukan hal yang berbeda untuk bunuh diri. Saat Sega menolak cintaku untuk yang pertama kali, hal pertama yang kuingat adalah senyum Kisa yang membopongku dari atap gedung.


Apakah aku akan bunuh diri setelah ditolak cintaku oleh Sega? Aku sama sekali tidak tahu dan mungkin aku tidak akan mau tahu. Yang aku tahu bahwa Kisa tidak akan membiarkanku melakukan itu. Kisa adalah sahabat terbaik untukku dan selalu menjagaku apapun yang akan terjadi.


"Kehidupan itu terus berjalan. Kita tidak bisa berhenti apalagi mundur ke belakang. Ketika kita berhenti, orang lain akan menabrak kita. Dan ketika kita mundur ke belakang, tentu kita yang akan menabrak orang dan akan membuat orang lain menabrak kita. Jalan terus ke depan adalah satu-satunya pilihan dalam hidup ini."


Sudah tidak teringat lagi berapa kali Kisa mengatakan itu kepadaku. Memang, aku tahu aku harus maju ke depan dalam hidup ini. Tetapi aku tidak tahu bagaimana cara untuk maju ke depan ketika  cintaku untuk Sega ditolak mentah-mentah. Kehidupan seakan berhenti saat Sega menolakku. Seperti saat tombol pause ditekan hanya untukku saja. Dan aku baru bisa berjalan kembali saat ada Kisa.


"Masih ada kesempatan lagi untuk mendapatkan cinta Sega. Kamu harus percaya kalau kamu bisa mendapatkan cintanya."


Aku pun kembali bangkit setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Sega. Setidaknya, aku masih mempunyai dua kesempatan lagi mengutarakan perasaanku kepada Sega. Dan Kisa berjanji untuk membantuku mengungkapkan perasaanku tersebut.


"Ingat, Cathy. Cinta kamu kepada Sega adalah cinta sembilan nyawa."


♥♥♥

__ADS_1


__ADS_2