
“Ayo kita pergi.”
Sri sudah memegang tanganku dan kurasakan tarikannya sangat kuat. Tetapi, dengan cepat kutampik tangan Sri.
"Oh, iya. Aku mau ngambil Si Putih." Jawabku datar kepada Sega dan membuat Sega kembali tersenyum.
"Pilihan yang tepat Cathy."
Sega kemudian membawaku ke tempat makanan. Digandenganya tanganku dan membuat diriku melayang. Untung saja ada Sega yang memegang tanganku, kalau tidak, mungkin aku sudah terbang ke langit-langit toko binatang ini.
Sama halnya saat memilihkan Si Putih, Sega juga sigap dalam memilihkan makanan untuk Si Putih. Sega mengambil sepaket makanan kucing dan memberikannya padaku. Aku tidak tahu apa nama makanan kucing itu, tetapi aku menerimanya dengan senang. Tentu saja karena yang memberikan adalah Sega.
“Bayarnya di kasir.”
Aku mengangguk mendengar apa yang dikatakan oleh Sega yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju kasir. Dari ekor mataku, aku bisa melihat Sri dan Sega mengikutiku. Baguslah kalau begitu, jadi aku tidak perlu marahan dengan mereka berdua. Sega berdiri di belakang meja kasir. Aku melihat banyak kandang berukuran lebih kecil di belakang meja kasir dan Sega mengambil kandang yang tepat untuk si Putih.
“Aku yakin kamu bisa merawatnya dengan baik.”
Sega memberikan Si Putih yang sudah ada di dalam kandang. Aku pun menerimanya dengan perasaan sangat bahagia. Menerima Si Putih seperti mendapatkan amanah dari Sega. Amanah yang harus aku jaga apapun yang terjadi. Tentu saja dengan perasaan yang sangat senang tak terkira. Seperti mendapat durian runtuh? Tentu tidak. Ini lebih dari itu. Mendapat amanah dari seseorang yang sangat kita cinta tentu menjadi sesuatu yang sangat istimewa. Aku berjanji akan menjaga Si Putih layaknya adik kandung sendiri. Walaupun aku sendiri tidak tahu bagaimana menjaga adik kandung, yang pasti aku akan sangat menyayanginya. Lebih baik aku yang kelaparan daripada melihat Si Putih kelaparan. Lebih baik aku tidak mandi, asalkan Si Putih bisa mandi setiap hari. Kalau yang terakhir, aku sangat senang karena aku paling malas untuk mandi.
Setelah memberikan uang kepada Sega, aku tidak segera pergi. Masih ingin kupandangi wajah Sega hingga puas hati ini. Senyum itu masih ingin lebih lama aku memandangnya. Tetapi lamunanku tersentak saat Kisa dan Sri mendorongku untuk keluar dari toko binatang itu.
“Kamu sudah dapet kan kucingnya? Sekarang kita pulang.”
“Apa-apaan sih?” Aku berusaha untuk mengabaikan Sri. Tetapi genggaman tangan Kisa tidak bisa aku lepaskan. Kisa membawaku keluar dari toko binatang itu. Sesekali aku melihat ke belakang untuk tahu bagaimana reaksi Sega. Tetapi, aku kecewa karena Sega sama sekali tidak bereaksi apa-apa dengan kejadian tersebut. Sega hanya tersenyum kepadaku. Beda sekali dengan apa yang aku bayangkan seperti di film-film bahwa Sega akan menepuk pundak Kisa kemudian melepaskan pegangan tangan Kisa dari tanganku. Saat Kisa menolak, Sega dengan kerasnya memukul Kisa. Tetapi, semua itu hanya angan semata. Sekarang, aku sudah berjalan keluar dari toko binatang itu.
Setelah berada di depan toko binatang, aku melotot kepada Kisa dan Sri. Tidak aku hiraukan lagi pandangan orang-orang kepada kami.
“Kisa lepaskan. Aku bukan anak kecil lagi.”
__ADS_1
“Dan aku juga tidak akan membiarkanmu bertingkah seperti anak kecil Cathy.” Kisa tidak kalah berteriak keras kepadaku. Sri yang melihat ini, berusaha untuk menenangkan Kisa.
“Kisa. Jangan teriak. Malu dilihat orang.”
“Sri. Aku tidak akan berteriak kalau anak kecil ini mau mendengarku.”
“Iya. Tapi, kamu juga jangan terlalu keras kepada Cathy.”
“Sri. Anak kecil ini tidak akan bisa dibilangin kalau tidak dikerasi. Asal kamu tahu. Tidak akan ada yang bisa membuatku melepaskannya.”
“Oh, begitu? Apa itu termasuk aku?”
Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari arah belakang. Perlahan aku menoleh. Tuta tampak sudah bersiap dengan kepalan tinjunya. Dan saat aku sudah sepenuhnya menoleh ke belakang, Tuta sudah melayangkan pukulan ke wajah Kisa. Kisa terjatuh dan pegangan tangannya dariku terlepas. Sri langsung membantu Kisa berdiri. Sementara Tuta terlihat sangat marah kepada Kisa. Tuta sudah mendekat ke Kisa dan merenggut kerah baju Kisa. Dan tanpa menunggu lama, BUK...Tuta sudah memukul muka Kisa. Kisa terjengkang ke belakang untuk beberapa langkah.
“Tuta. Hentikan!”
Aku berteriak untuk menghentikan apa yang dilakukan oleh Tuta dan tanpa berpikir panjang, aku langsung mendorong tubuh Tuta. Tubuh Tuta yang besar, tampak bergeming saat aku dorong. Sorot matanya yang tajam, langsung meneduh saat melihatku.
“Stop!”
Aku tidak memedulikan lagi omongan Tuta. Dengan cepat, aku langsung mendatangi Kisa.
“Kamu enggak apa-apa, Kisa?”
Kisa menggeleng dan dia malah tersenyum. Aku heran dengan senyumnya yang aneh saat melihatku dan Tuta bergantian.
“Apa yang lucu?”
“Enggak. Sama sekali enggak ada yang lucu. Aku tersenyum karena aku senang melihat kalian berdua. Pasangan serasi.”
__ADS_1
Kali ini ganti aku yang mencubit Kisa saat matanya mengerling genit ke arahku. Sekuat tenaga aku mencoba untuk memasang wajah cemberut saat melihat ekspresi Kisa. Sebenarnya aku ingin tertawa, tetapi aku takut hal tersebut malah akan membuat Tuta geer alias gede rasa dan menganggap kalau aku suka kepadanya. Dan itu memang harus kuusir jauh-jauh karena selama ini, aku selalu menanggapi Tuta dengan dingin.
“Ah, yang benar?” Aku langsung melotot kepada Kisa. Rasa kesal kembali datang saat melihat reaksi Kisa yang mencoba untuk merapihkan rambut ikalnya.
“Memangnya aku tipe orang yang suka berbohong?”
“Kamu memang bukan orang yang suka berbohong, tetapi kamu juga bukan orang yang suika berkata jujur.” Aku langsung pergi ke mobil. Tidak tahu lagi apa yang diperbincangkan oleh Kisa, Tuta, dan juga Sri. Yang jelas, sangat menyebalkan harus menunggu di dalam mobil yang panas sendirian. Saat kulongokkan kepalaku ke luar jendela, masih saja Kisa, Tuta, dan Sri berbincang seru, seolah mereka tidak menganggap keberadaanku. Dan ini adalah yang paling aku benci. Tidak dianggap oleh orang. Sekuat tenaga aku pencet klakson mobil. Suara nyaringnya cuku menghentikan percakapan Kisa, Sri, dan Tuta. Dan tidak sengaja membuat seorang bayi yang ada di dalam kereta dorong, menangis dengan keras. Kisa dan Sri langsung mendatangi mobil dan tidak lupa Kisa meminta maaf kepada ibu yang bayinya menangis. Sri tampak berusaha tersenyum.
“Gitu saja ngambek sih tuan putri.”
“Cepetan. Gue enggak mau lama-lama di sini. Enek gue ngelihat mukanya Tuta.” Saat itu, pandanganku tepat mengarah ke Tuta, dan aku semakin kesal dengan senyum yang ada di bibir Tuta.
“Sok banget sih jadi orang?”
BRUK...Kisa masuk mobil dan langsung menyambar omonganku.
“Enggak kok. Dia memang baik. Ganteng lagi. Iya, enggak Sri?”
Sri mengacungkan dua jempol tangannya, dengan segera, kupegang handel pintu mobil. Tetapi Kisa sudah memegang tanganku dengan cepat.
“Iya..Iya...sori. Cuma bercanda.”
“Enggak lucu tahu.”
Kisa dan Sri tidak memedulikan ucapanku. Sepertinya mereka sadar bahwa tidak ada gunanya berdebat denganku, karena aku adalah tipe orang yang tidak mau kalah kalau ngomong.
Kisa menstarter mobil dan perlahan meninggalkan toko binatang tempat Sega bekerja. Harapanku untuk bertemu dengan Sega, hilang bersama dengan lambaian tangan Tuta yang sama sekali tidak kuharapkan. Memang benar kata-kata yang selama ini kudengar, manusia berusaha Tuhan yang menentukan. Tetapi, usahaku untuk mendapatkan cinta Sega, belum berakhir. Ini barulah awal. Sega, tunggu aku. Tunggu cintaku.
Perjalanan pulang dari toko binatang, sangat berbeda dengan perjalanan saat berangkat. Senyap. Tidak ada suara yang keluar dari mulutku atau dari mulut Kisa dan Sri. Masing-masing sibuk dengan pikirannya dan yang pasti, aku sudah tidak sabar untuk menunggu minggu depan untuk memeriksakan kesehatan kucing baruku. Saat di mana aku akan bertemu lagi dengan Sega.
__ADS_1