
Masih tidak habis pikir kenapa Cathy belum merubah sikapnya kepadaku. Apakah aku harus menyerah saja untuk mencoba mendapatkan Cathy? Aaarghh…Memang manusia sangat sulit ditebak. Tidak seperti alam yang akan selalu menemanimu. Menyejukkan hatimu dengan keindahan alamnya. Menghilangkan penatmu dengan keheningannya. Alam akan mendukungmu. Memberikan semuanya demi kehidupan manusia. Memberikan air sebagai sumber kehidupan. Pohon sebagai paru-parunya. Dan juga makanan yang menjadi bahan pokok manusia. Alam benar-benar tidak pernah mengeluh memberikan semuanya kepada manusia. Dan memang sudah sifat manusia yang angkuh dan tidak pernah berterimakasih kepada alam. Tega-teganya manusia menghancurkan alam demi keserakahannya. Saat alam marah dengan banyaknya bencana, masih saja manusia tidak mau memahami apa yang dimaui oleh alam itu. Bukanlah pengakuan kalau alam itu maha segalanya, tetapi cukup dengan menjaga alam itu sendiri agar tidak habis.
“Nak Tuta.”
Panggilan dari Mama Cathy mengagetkanku. Jujur, sekarang aku jadi malu. Mungkin tadi aku terlihat seperti orang ***** yang sedang menatap anaknya dengan melamun. Atau mungkin saja dia bisa membaca pikiranku? Kalau memang itu yang terjadi, tentu aku sangat senang bisa berbagi pikiran tentang alam ini. Tidak melulu tentang manusia dan manusia lagi. Berbicara manusia seolah bicara tentang makhluk rakus yang tidak pernah terpuaskan nafsunya. Dan mungkin aku bagian dari itu. Yang jelas, sekarang aku harus memerhatikan Mama Cathy, karena aku tidak mau terlihat ***** untuk kedua kalinya.
“Sabar ya, Ta.”
Kisa ikut duduk di sebelahku. Dengan sikap yang dibuat agar tampak tenang, aku tersenyum kepadanya dan menepuk pundaknya.
“Tenang saja. Aku enggak apa-apa.”
Kisa pun tersenyum kepadaku. Sedang Mama Cathy terlihat menghela nafas dengan berat.
“Maafin kelakukan Cathy ya Nak Tuta. Dia memang keras kepala. Apa yang sudah jadi keputusannya sulit buat dirubah.”
“Enggak apa-apa, Tante. Saya sudah tahu. Itulah kenapa saya masih tetap berusaha untuk mendapatkan cinta Cathy. Saya tahu hal itu akan sangat sulit karena cinta Cathy hanya untuk Sega. Tetapi, tidak ada yang tak mungkin di dunia ini selama kita mau berusaha.”
Kali ini giliran Mama Cathy yang tersenyum kepadaku. Entah kenapa senyuman itu yang aku tunggu. Senyuman yang selama ini memberiku kekuatan untuk usahaku mendapatkan hati Cathy. Bisa dibilang kalau bukan karena senyuman itu, mungkin sekarang aku sudah pergi meninggalkan Cathy. Kenapa aku harus susah-susah mendapatkan cinta dari orang yang mungkin tidak pernah menganggap keberadaanku. Mungkin kalau hanya dia satu-satunya wanita di dunia itu menjadi masalah lain. Akan tetapi, di dunia ini banyak sekali wanita yang bisa aku jadikan pujaan hati. Yang tidak membuatku pusing untuk bisa mendapatkan hatinya. Memang wajahku jauh dari ganteng kalau ukuran ganteng itu seperti Brad Pitt, atau seperti bintang film Korea Kang Ji Hwan. Tetapi dengan wajahku yang kata orang mirip dengan Dude Herlino ini, aku yakin masih bisa mendapatkan hati wanita dengan mudah.
Sampai sekarang aku juga masih belum tahu sebenarnya apa yang membuat aku mengangguk saat mama Cathy memintaku untuk membantunya agar Cathy bisa melupakan Sega. Mama Cathy tidak mau Cathy ketergantungan kepada Sega. Saat itu, yang ada dalam pikiranku hanyalah rasa kasihan karena mendengar tentang cerita Mama Cathy atas apa yang dilakukan Cathy. Dan apa yang disampaikan oleh Kisa, tentu saja membuatku ingin menjadi penolong Cathy dan menjauhkannya dari Sega. Bagiku, hati manusia itu seharusnya bisa mendapatkan keindahan dengan berpasangan. Bukan hanya dengan memuja seseorang dengan membabi buta.
Memuja orang memang memerlukan balasan dari orang yang dipuja, tetapi tidak jika kita memuja alam. Memuja bagaimana keindahan alam itu bisa membiusmu. Melupakan segala beban yang ada di pikiran. Kalau kata orang-orang back to nature, menurutku itu adalah kalimat yang pas karena awal manusia adalah dari bumi itu sendiri dan dia pastilah akan sangat nyaman ketika berada di tengah-tengah alam nyata. Di tengah-tengah pegunungan dengan banyak pohon hijau yang tinggi menjulang. Merasakan sejuknya udara yang bersih dari polusi dan memandangi birunya langit. Bukan di alam yang penuh dengan pohon beton yang ditanam tinggi menjulang. Berdiri di atas tanah yang sudah berubah menjadi beton dan juga memandang langit yang penuh dengan polusi. Itu semua bukanlah tempat yang tepat untuk manusia. Karena satu alasan yang pasti, manusia bukan berasal dari beton, tetapi dari tanah.
“Sekarang apa rencana kita?”
Pertanyaan Kisa membuyarkan lamunanku. Apa yang sekarang harus dilakukan? Ingin rasanya kukatakan kalau aku sudah menyerah untuk menaklukkan Cathy. Tetapi, itu bukanlah sifatku. Bagaimanapun juga, aku harus bisa mendapatkan hati Cathy. Aku harus berencana. Lengkungan senyum pun aku berikan kepada Kisa sebagai jawabannya.
“Tenang saja. Aku sudah punya rencana.”
Seperti dugaanku, Kisa dan Mama Cathy juga ikut tersenyum mendengar jawabanku.
“Rencana? Apa itu?”
__ADS_1
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Kisa, entah mengapa aku lebih memilih untuk berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Tiba-tiba saja aku mengkhawatirkan Cathy. Di mana dia? Tidak biasanya dia menghilang begitu saja. Biasanya dia akan berkeras untuk bisa mendapatkan apa yang dia mau. Apalagi ini tentang Sega, seorang yang dia puja dan dia rela melakukan apa saja untuk bisa mendapatkan Sega.
“Cathy!”
Langsung kulangkahkan kaki menuju ke dalam rumah. Mencari di mana Cathy berada. Kisa dan Mama Cathy juga mengikutiku dan terdengar langkah kaki mereka yang juga terburu-buru. Kisa yang berjalan lebih cepat dariku, langsung masuk ke dalam rumah. Aku mengikutinya dari belakang.
“Cathy! Cathy.”
Kisa berteriak keras memanggil-manggil nama Cathy. Kisa tampak memeriksa beberapa ruangan yang ada di dalam rumah. Mama Cathy juga tidak tinggal diam dan memanggil-manggil Cathy.
“Cathy! Cathy! Di mana kamu, Nak? Cathy!”
Dadaku berdetak keras. Aku pernah mengalami peristiwa seperti ini. Saat Cathy mencoba untuk mengutarakan cintanya kepada Sega yang ke tujuh kalinya. Saat itu, waktu berjalan sangat cepat dan ketika kami masih panik mencari Cathy, kami mendapat telepon dari seseorang yang mengatakan bahwa Cathy di rumah sakit. Aku sama sekali tidak mau hal itu terulang lagi. Karena berarti aku sudah gagal melakukan tugasku menjauhkan Cathy dari Sega.
Jelas terlihat wajah tegang Kisa dan juga Mama Cathy.
“Bagaimana, Kisa?”
Mendengar jawaban dari Kisa, aku langsung pergi ke luar rumah. Kisa juga ikut berlari bersamaku. Dengan cepat, Kisa masuk ke dalam mobil. Aku pun mengikuti langkah Kisa masuk ke dalam mobil. Wajah Mama Cathy tampak sangat panik.
“Cepat susul dia. Jangan buang waktu lagi, Kisa.”
Seolah mengikuti apa yang dikatakan oleh Mama Cathy, Kisa langsung menjalankan mobil ke luar dari halaman. Satu yang tidak habis kupikir. Bagaimana Cathy bisa keluar dari rumah tanpa ketahuan? Padahal pintu depan adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari dalam rumah.
***
Untung saja Kisa, Tuta, dan Mama tidak melihatku keluar rumah. Sudah aku bilang kalau aku tidak suka dengan Tuta yang selalu mengangguku. Dan apa mereka sudah lupa kalau aku paling tidak suka kalau dilarang-larang buat ngelakuin sesuatu? Apalagi kalau aku mau bertemu dengan Kisa. Jangankan tembok rumah yang tingginya hanya beberapa meter, gunung pun akan kudaki agar bisa bertemu dengan Sega. Bagaimana wajahnya sekarang ya? Pasti dia terlihat lebih ganteng dari yang terakhir kulihat. Dan pasti Sega juga akan kaget melihat kedatanganku.
Dari jauh bisa kulihat toko binatang tempat Kisa bekerja. Sampai sekarang aku tidak pernah bisa paham kenapa Kisa memilih bekerja di toko binatang itu. Padahal aku tahu kalau Sega bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan lain yang lebih baik dari itu. Atau jika dia mau membuat bisnis sendiri, pastilah dia tidak akan kesulitan. Karena aku tahu Sega adalah orang yang bagus dari sisi akademik maupun dalam ide-ide berbisni. Dari segi gaji, pastilah gajinya hanya pas-pasan. Dari segi gengsi, menurutku pekerjaan Sega yang sekarang sama dengan pramuniaga pusat-pusat perbelanjaan. Atau mungkin saja office boy di kantor-kantor besar. Aneh sekali. Dan masih teringat jelas saat aku mencoba menyuruh Sega untuk melamar suatu lowongan pekerjaan, dia hanya tersenyum penuh arti. Dan artinya masih belum bisa kutemukan sampai saat ini.
“Sudah sampai, Non.”
Suara sopir taksi membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
“Terima kasih, Pak. Berapa ongkosnya?”
“Seratus dua puluh ribu.”
Segera kukeluarkan uang pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu dan menyerahkan kepada sopir.
“Ambil kembaliannya, Pak.”
“Terima kasih, Non.”
Bisa kulihat dengan jelas wajah sumringah sopir taksi itu. Bukannya sok dermawan atau banyak uang, tetapi aku lebih suka memberi uang lebih kepada sopir taksi daripada memberikan uang kepada pengemis di jalan-jalan ataupun kepada para pengamen. Alasannya hanya satu karena aku tidak suka dengan orang-orang yang meminta-minta padahal badan meraka jelas masih kuat. Tambah kesal lagi ketika membaca banyak berita yang menyebutkan bahwa banyak pengemis yang mendapatkan penghasilan 10 juta sebulan. Mereka menjadikan pengemis ini sebagai pekerjaan, bukan karena terpaksa. Dan untuk pengamen, aku hanya tidak mau saja anak-anak jalanan itu betah di jalan. Kenapa mereka tidak mau sekolah dan tidak mau ditertibkan? Karena jelas saja mereka dapat penghasilan dari jalan.
Perlahan aku melangkah masuk ke dalam toko binatang. Tetapi, suara yang sangat tidak aku ingin dengar, tiba-tiba memanggil.
“Cathy.”
Aku tahu itu adalah suara Kisa dan pasti dia akan melarangku untuk pergi ke toko binatang. Kulangkahkan kaki lebih cepat agar bisa menghindari Kisa. Tetapi, usahaku sia-sia karena Kisa sudah berdiri di depanku dengan tangan yang sudah memegang tanganku.
“Awas. Gue mau masuk!”
“Cathy, cepat pulang.”
“Enggak.”
Cathy mencoba untuk memaksa masuk sambil membawa kurungan si Manis.
__ADS_1