
Saat sedang menikmati teh dan berbincang dengan Ibu, seorang laki-laki datang membawakan karangan bunga. Aku sangat mengenal laki-laki itu karena hampir tiap pagi dia membawakan bunga untukku. Senyumnya langsung terkembang begitu melihatku.
"Di mana-mana seorang gadis itu akan senang menerima bunga. Enggak tahu kenapa Cathy selalu manyun saat melihat bunga ini."
Ternyata laki-laki itu melihat ketidaksukaan yang aku rasakan. Memang, aku paling tidak bisa untuk menutupi apa yang kurasakan. Dan tentu saja karena hampir setiap hari laki-laki itu mengirimkan bunga untukku, pastilah dia tahu perubahan mimik wajahku. Apa yang dia antar juga sama sebuket bunga mawar putih dan pasti ada selembar kertas di atasnya.
"Ini bunganya Tuan Putri."
Lagi-lagi laki-laki itu menggodaku. Kata-kata sama yang selalu dia ucapkan. Aku pun mengambil buket bunga dari laki-laki itu. Kertas yang ada di atas buket bunga itu sama sekali tidak aku perhatikan. Karena aku sudah tahu apa yang ada di dalamnya. Tidak ada alasan untuk menyimpan kertas itu. Tanganku dengan kasar mengambil kemudian meremas kertas itu dan membuangnya.
"Kok dibuang?"
Bergegas Ibu mengambil kertas itu. Hal yang selalu dia lakukan ketika melihatku membuang selembar kertas dari buket bunga. Dengan kasar aku berkata kepada laki-laki itu.
"Mau tahu kenapa aku enggak suka kamu kirimin bunga? Karena bunga yang kamu kirim itu bunga palsu."
Laki-laki itu hanya tersenyum.
"Aku pernah dengar alasan dia kenapa selalu mengirim bunga palsu. Agar cintanya bisa tetap bertahan seperti bunga itu."
Belum sempat aku berdiri, laki-laki pengantar bunga itu langsung pergi setelah mengucapkan salam kepada ibuku. Ibu hanya tersenyum melihat tingkahku dengan laki-laki pengantar bunga itu. Karena sering mengantarkan bunga untukku, lama-lama aku dan laki-laki itu jadi akrab.
"Jadi perempuan itu jangan suka marah-marah. Apalagi di depan laki-laki, bisa-bisa laki-laki pada takut deketin kamu."
"Ibu apa-apaan sih?"
"Lho, benar kan kata Ibu? Siapa sih yang enggak takut sama perempuan yang suka marah-marah?"
"Iya...Iya...!"
Aku hanya bisa mengiyakan apa yang dikatakan oleh Ibu. Tidak ada laki-laki yang suka dengan perempuan pemarah. Tentu saja sebaliknya, tidak ada perempuan yang suka dengan laki-laki pemarah. Marah itu sifat alami manusia dan tidak ada manusia yang tidak mempunyai rasa marah. Karena marah bersifat melindungi. Seperti yang dikatakan oleh Kisa, induk ayam yang marah akan mematuk siapa saja yang mendekati anak-anaknya. Bisa dibayangkan kalau induk ayam ini tidak mempunyai amarah, tentu anak-anaknya akan dengan mudah diserang oleh binatang buas. Tentu saja, amarah tidak bisa dibiarkan tanpa aturan. Karena marah yang tidak ada aturan hanya akan menjadikan seseorang itu tidak lebih mulia dari binatang. Amarah yang melampaui batas akan menjadikan seseorang melakukan hal yang merugikan orang lain bahkan dirinya sendiri. Kisa sering mengajariku cara menahan amarah. Tarik nafas dalam-dalam melalui hidung, tahan beberapa lama, kemudian hembuskan perlahan lewat mulut. Buang kemarahan itu bersama dengan nafas yang keluar dari mulut. Tidak lupa Kisa selalu mengatakan agar merubah posisi saat marah. Saat marah dalam posisi berdiri, duduklah agar kemarahan itu hilang. Saat marah dalam posisi duduk, berbaringlah. Apabila masih ada kemarahan di dalam hati, mandilah karena air bisa menenangkan kemarahan yang ada di dalam dada. Amarah ibarat api yang akan membakar apa saja yang dikenainya jika tidak dikendalikan.
"Kesyahduan pagi ini adalah ketika memandangmu. Kebahagiaanku adalah bersamamu."
Ibu membacakan puisi yang ada di kertas. Puisi dari Tuta yang aku tahu jelas dia buat semalam. Karena Tuta hanya bisa menuliskan puisi itu saat malam hari. Dalam keheningan. Tuta adalah seorang yang suka dengan keheningan. Aku tahu pasti itu. Dan dalam keheningan—keheningan malam itu, Tuta selalu membuatkan puisi untukku untuk ditaruh di buket bunga pada pagi harinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak memilih Tuta saja? Dia sangat perhatian sama kamu."
Lagi-lagi Ibu mengatakan hal itu kepadaku. Entah sudah yang keberapa kalinya aku sudah tidak ingat lagi. Buket bunga dan kertas bertuliskan puisi itu selalu Ibu simpan setelah aku membuangnya.
"Kalau enggak cinta mau diapain, Bu?"
Jawaban itu juga yang meluncur dari mulutku. Seolah-olah dialog kami itu adalah latihan untuk persiapan drama. Kami ulang-ulang terus sampai hafal kata-kata yang akan diucapkan. Meluncur begitu saja karena sudah dihafal di luar kepala.
"Yah...tapi suatu saat nanti Ibu mau melihat kamu menikah, Cathy."
Kata-kata terakhir Ibu kembali membuatku terdiam. Walaupun kata-kata itu juga sering meluncur dari kedua bibirnya, tetapi masih saja membuatku tidak tahu harus berkata apa untuk menjawabnya. Aku ingin menikah Ibu. Tetapi, hanya dengan Sega. Walaupun kata-kata itu sudah lama kusiapkan, tetapi aku tidak sanggup untuk mengatakannya. Sega. Sampai kapan aku harus mengejar cintanya, aku sendiri tidak tahu. Ibu sendiri sepertinya sudah tahu jawabanku dan merasa pertanyaannya adalah hal yang salah. Baik aku dan Ibu sama-sama diam dan tidak keluar satu patah katapun.
♥♥♥
TIN...TIN...
Mobil Kisa memasuki pelataran rumahku dan membuyarkan keheningan yang tercipta di antara aku dan Ibu.
"Kisa sudah datang. Cathy pergi dulu, Bu."
Aku pun berusaha untuk mengalihkan pembicaraan begitu Kisa datang. Kisa benar-benar datang di saat yang tepat. Dengan cepat aku berdiri di dekat pintu sopir sebelum Kisa keluar karena aku tahu Kisa pasti ingin menyalami Ibu. Dan memang benar, Kisa langsung berniat keluar. Sekuat tenaga aku berusaha menahan pintu agar Kisa tetap berada di dalam mobil.
"Tapi, gue ingin salaman dulu sama Ibu."
Kisa kembali berusaha mendorong pintu mobil, tetapi usahanya itu berhenti saat aku menatap tajam ke matanya.
"Ok...Ok..!"
Kisa masuk kembali ke dalam mobil. Sri yang berada di sebelah Kisa, langsung turun dari mobil dan naik ke jok belakang mobil. Aku pun langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di depan bersama dengan Kisa. Kisa tersenyum ke arah Ibu dan membunyikan klakson dua kali. Tahu apa yang menjadi isyarat Kisa, Ibu mengangguk sambil tersenyum. Kedua tangannya melambai ke arah mobil. Ada rasa haru ketika melihat Ibu. Melihat seberapa besar pengorbanan yang sudah dia berikan kepadaku. Terutama setelah Ayah meninggal, ibu selalu memberikan semuanya kepadaku. Memberikan yang benar-benar terbaik untukku. Aku merasa sangat bersalah ketika memutuskan pembicaraannya tadi, tetapi aku tidak mau berdebat dengannya.
"Malah melamun."
Aku terlonjak mendengar Kisa. Aku benar-benar melamun sampai aku tidak sadar mobil yang dikendarai Kisa sudah berjalan jauh dari rumah.
"Beneran kamu mau beli kucing?"
Sri yang dari tadi diam, mulai membuka pembicaraan. Memang begitulah sifat Sri. Tiba-tiba muncul dan membuat semua kaget. Aku sendiri kaget mendengar perkataan Sri.
"Elo bener-bener kayak jailangkung ya Sri. Ngomong tiba-tiba."
__ADS_1
"Iya. Kayak muncul dari kematian." Kisa tidak mau kalah dalam mengejek Sri. Memang Sri sering menjadi bahan olok-olokan di antara begitu. Walaupun sering diolok-olok, Sri sama sekali tidak marah. Dia malah seolah-olah bangga menjadi bahan olok-olokan kami. Tentu saja, olok-olokan yang masih dalam batas wajar.
"Ditanya apa, malah jawab apa."
"Yah...ngambek deh dia."
Aku dan Kisa hanya tertawa dengan jawaban Sri. Karena kita tahu kalau apa yang diomongkan oleh Sri tersebut hanyalah sebuah candaan belaka.
"Serius ini...!" Kali ini Sri terlihat benar-benar kesal.
"Gue juga dua rius mau beli kucing. Emangnya kenapa?"
"Malah balik banya. Gue yang harusnya nanya, kenapa tiba-tiba elo pingin beli kucing. Selama ini kan elo enggak pernah deket sama binatang?"
"Nanti juga elo tahu sendiri alasan gue beli kucing."
"Bukan karena rumah elo banyak tikus, kan?"
Lagi-lagi Sri sukses membuatku dan Kisa tertawa. Sri tahu benar bagaimana aku merawat rumah. Barang-barang yang tidak terpakai, langsung aku simpan di gudang ataupun jika memang sudah benar-benar tidak dipakai, aku akan memberikan barang itu secara gratis ke tukang loak yang lewat di depan rumah. Perjalanan menuju ke toko binatang sangat menyenangkan dengan canda tawa di antara kami bertiga.
♥♥♥
“Kalau yang itu gimana, Mas?”
Seorang pelanggan menunjuk seekor kucing berwarna putih. Kucing angora berukuran besar dan gemuk itu memang menarik perhatian hampir semua orang yang mendatangi sudut di mana kucing-kucing ditempatkan. Memang kucing itu sangat manis. Bulunya sangat lembut dan sudah dari kecil si Manis aku rawat. Entah kenapa, setiap ada yang menanyakan tentang si Manis, aku pasti dengan berat hati menjawab pertanyannya. Aku sama sekali tidak mau ada yang mengambil si Manis dari toko ini. Rasa sayangku sudah sangat besar.
Kalau mengingat saat si Manis pertama kali datang ke toko ini, orang-orang yang saat ini ingin memelihara si Manis, pasti tidak akan menoleh ke si Manis sedikitpun. Badan si Manis saat itu kurus kering dan sangat lemah. Matanya sayu seolah menunggu ajal datang. Kalau sekarang bulu si Manis putih bersih dan juga lebat, jangan berpikiran bahwa itu memang sudah sejak lama seperti itu. Saat si Manis datang ke sini, jangankan bulunya berwarna putih, bulunya lebih terlihat berwarna coklat karena saking kotornya karena tidak pernah dibersihkan. Juga banyak bulu yang rontok dan beberapa bagian tubuhnya nyaris tidak berbulu alias botak. Pemilik toko pun awalnya tidak mau untuk membeli si Manis, tetapi setelah aku bisa meyakinkan bahwa akan merawat si Manis, pemilik toko akhirnya mau menerima si Manis.
Saat ini si Manis sudah seperti menjadi mascot dari toko binatang ini. Kurungannya diletakkan di bagian yang bisa terlihat dari mana saja. Tentu saja agar orang-orang bisa dengan mudah melihat kecantikan si Manis. Berbeda saat aku memelihara si Manis yang masih penyakitan. Aku meletakkannya di gudang belakang dan pemilik toko mewanti-wanti agar jangan sampai ada orang yang melihat si Manis. Takutnya calon pembeli pada kabur karena berpikiran bahwa toko binatang ini banyak penyakitnya.
Yang tidak habis aku pikir, kenapa orang-orang selalu melihat sesuatu dari luarnya saja. Saat si Manis sudah cantik, semua orang berebut memeliharanya. Tetapi, tidak ada orang yang mau memelihara si Manis saat dia masih sakit-sakitan. Jangankan untuk membelinya, dikasih pun tidak ada yang mau. Itulah yang paling tidak aku suka dari sifat manusia yang terus memilih hanya dari penampilan luar.
♥♥♥
Setelah setengah jam kami lalui dengan penuh canda tawa. Akhirnya kami sampai di toko binatang yang dituju. Jantungku berhenti berdetak ketika melihat sebuah mobil jip warna merah terparkir di depan toko binatang itu. Mobil Sega. Sama sepertiku, aku juga melihat kekagetan di wajah Sri dan Kisa. Apa yang harus kulakukan? Baru kali ini aku melihat segala sesuatu yang berhubungan dengan Sega. Kisa sengaja menjauhkanku dari semua hal yang berhubungan dengan Sega. Barang-barang pemberian Sega, bahkan tulisan Sega pun tidak boleh ada di dekatku. Aku kangen. Aku kangen kepada Sega.
Sebelum Kisa menahanku, aku berlari keluar dari mobil dan masuk ke dalam toko binatang. Rasa kangen ini sudah membuncah di dada. Satu bulan bukanlah waktu yang sebentar untuk cinta.
♥♥♥
__ADS_1