
Memelihara kucing memang tidak mudah. Setidaknya itu yang aku rasakan saat memelihara si manis. Mamak terus-terus teriak dengan apa yang dilakukan oleh si Manis. Entah itu bulunya yang rontok ke mana-mana. Bau air kencingnya yang menyengat hidung, atau tentang horden jendela yang robek akibat dicakar oleh si Manis. Bisa dibilang Mama “stres” dengan adanya Manis. Seringkali aku dengar keluhanya yang mengatakan bahwa jika bukan karena aku, Mama tidak akan pernah mengizinkan ada binatang peliharaan di rumah ini. Memang itu dikarenakan Mama yang sangat mencintai kebersihan. Bahkan dibilang over higienis. Itu tidak terlepas dari trauma Mama saat kehilangan Papa. Papa terkena penyakit liver yang dokter mengatakan bahwa karena kurangnya kebersihan yang terjaga. Kalau menurutku, bukan kebersihan di rumah yang membuat Papa sakit, tetapi kebersihan di tempat kerjanya. Papa yang menjadi petugas kebersihan rumah sakit, harus sering membersihkan banyak kotoran. Misalnya saja bekas operasi, bekas pasien yang meninggal atau yang lainnya. COBA DICARI YANG BENERNYA BAGAIMANA. Tetapi, Mama tidak pernah mau mendengarkan dan dia tidak mau kejadian seperti Papa terulang lagi. Dia tidak mau kalau salah satu dari Mama atau aku akan terkena liver dan harus terpisah.
“Yang meninggal pasti tidak merasakan apa-apa lagi. Tetapi, kasihan yang ditinggalkan. Kalau Mama duluan yang meninggal, Mama tidak bisa membayangkan kamu sendirian di dunia ini.”
Itulah kata-kata yang sering diucapkan oleh Mama. Sungguh membuatku merasakan betapa besarnya kasih sayang seorang Ibu. Seperti pepatah bilang, kasih ibu sepanjan g jalan, kasih anak sepanjang galah. Aku merasa bersalah dengan itu, maafkan aku Mama kalau belum bisa membahagiakanmu. Aku terpaksa memelihara si Manis demi bisa mendapatkan cinta Sega. Cinta sejatiku. Aku harap Mama mau mengerti dengan apa yang kulakukan ini.
Sudah satu minggu si Manis berada di rumah. Dan bagiku, satu minggu ini serasa satu tahun. Tidak lain karena aku sangat ingin sekali bertemu dengan Sega dengan alasan memeriksakan keadaan s Manis. Dan alasan itu yang bisa diterima Kisa untuk mengantarakanku ke tempat Sega. Walaun aku tahu Kisa sangat tidak mau untuk mengantarkanku ke sana tetapi Kisa tidak bisa menolak alasanku demi kesehatan Manis.
“Jangan lupa untuk minta suntikan rabies sama Sega.”
Suara Mama mengagetkanku yang sedang memberesi kandang si Manis. Dengan senyum semanis-manisnya, aku mengangguk kepada Mama.
“Iya, Ma. Lagian kemarin kan Sega sudah bilang kalau si Manis sudah disuntik rabies.”
“Pokoknya Mama mau pastiin kalau enggak ada penyakit yang bisa ditularkan si Manis ke kam.”
Kembali kupeluk tubuh Mama. Entah kenapa aku merasa bersalah kalau melihat Mama seperti ini. Begitu besar kasih sayang Mama, tetapi aku seolah sama sekali tidak memedulikan keadaan Mama. Mama seperti merasa kegelisahan yang kurasakan, tetapi tiba-tiba dia melepaskan pelukanku. Aku cukup kaget dan heran. Apalagi melihat wajah Mama yang tampak tidak senang saat melihatku.
“Kenapa, Ma? Mama marah?”
“Kamu tadi kan habis megang Manis. Sudah cuci tangan?”
Aku mau tertawa saat mendengar jawaban dari Mama. Rasa yang awalnya khawatir dengan sikap Mama, langsung berubah jadi lelucon ketika Mama mengatakan hal yang sama. “Sudah cuci tangan belum? Kamu kan habis megang ini itu.” walaupun Mama cerewet untuk masalah kebersihan, tetapi yakinlah itu semua dilakkan karena beliau amat sayang kepada kita.
“Sudah, Mama sayang.”
Mama tersenyum kepadaku. Dan saat itu, terdengar suara mobil mendekat diiringi dengan suara klakson.
__ADS_1
“Pasti itu Kisa. Cathy berangkat dulu, Bu.”
Segera kuambil kandang Manis dan langsung menyalami Mama sebelum berlari ke luar rumah.
“Hati-hati Cathy.”
Pesan Mama tidak aku hiraukan lagi. Sudah tidak terbendung hati ini untuk pergi ke toko binatang. Bertemu dengan Sega yang selalu kudamba. Tetapi, betapa marahnya saat aku lihat Tuta keluar dari dalam mobil Kisa. Entah apa yang ada di pikiran Kisa dengan membawa Tuta ke rumah. Yang pasti, aku masih yakin kalau dia tahu reaksiku ketika melihat Tuta. Aku akan marah dan bisa-bisa kesadaranku hilang dalam amarah itu.
Dan memang Kisa tahu benar reaksiku. Karena itu, dia langsung menangkupkan kedua tangannya di depan dada untuk meminta maaf. Berbeda dengan Tuta yang langsung berlutut di depanku.
“Apa-apaan sih?”
Jelas aku tahu apa yang akan dilakukan oleh Tuta. Tetapi, aku tidak mau tahu lagi. Aku langsung berbalik masuk ke dalam rumah saat tangan Tuta memegang tanganku.
“Matahari jelas tidak bisa menggambarkan keindahanmu pagi ini. Karena banyak orang yang terbakar panasnya. Tetapi, sinarmu meneduhkan, lebih dari teduhnya pohon yang bisa kujumpai di puncak Sindoro. Dan edelweis ini setidaknya bisa menggambarkan betapa aku ingin menyimpan hatimu.”
“Sudah berapa kali gue bilang? Puisi elo enggak ada artinya buat gue.”
“Sejak pertama kali gue kasih puisi ke elo, gue sudah hitung sebanyak seribu seratus dua belas kali. Dan walaupun harus kubaca sejuta kalipun, aku sama sekali enggak akan nyerah Cathy untuk bisa mendapatkan cintamu.”
Aku cukup kaget dengan jawaban Tuta. Bagaimana dia bisa menghitung banyaknya omonganku? Atau itu hanya olok-olokan dia saja?
“Apa yang elo katakan, selalu gue inget Cathy.”
Aku tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Tuta. Apa benar dia bisa mengingat semua yang kukatakan?
“Kalau begitu, apa yang gue bilang saat tadi ketemu sama elo? Saat terakhir ketemu di depan toko binatang. Dan saat setahun yang lalu gue marah sama elo.”
__ADS_1
Tuta tampak tersenyum. Padahal, aku berharap dia akan mengerutkan kening atau setidaknya kesal dengan pertanyaanku tersebut.
“Kamu mau dengar jawabannya?”
“Pakai nanya lagi. Apa emang?”
“Kamu tahu Cathy? Cinta tidak butuh jawaban. Seperti itulah cintaku padamu. Yang penting kamu tahu kalau aku mencintaimu.”
Darah di kepalaku seperti naik ke ubun-ubun. Panas sekaligus kesal. Secepatnya kuambil kembali kandang Manis dan membawanya masuk ke dalam. Tetapi, saat kulihat wajah Mama, niat itu aku urungkan. Mama langsung menyambut kedatangan Tuta.
“Eh, ada Tuta. Apa kabarnya? Lama enggak ke sini.”
“Kabar baik, Bu. Kebetulan kemarin habis dari Sindoro.”
Seperti kebiasaan pada umumnya, Tuta mencium tangan Mama. Ada rasa tidak ikhlas ketika Tuta mencium tangan Mama. Aku secepatnya ingin dia pergi dari rumah ini. Tetapi, apa dayaku ketika Mama mengajak Tuta untuk duduk di depan rumah.
“Kamu enggak perlu pergi ke tempat Sega. Tuta bisa memeriksa si Manis sehat atau enggak.”
“Heran. Kenapa sih elo gitu banget? Tahu gue enggak suka sama Tuta. Tetapi, elo bawa Tuta terus ke sini.”
“Cathy. Yang aku tahu, satu-satunya cara menghilangkan paranoid adalah dengan melawan paranoid itu. Kamu takut sama ayam, dekati ayam. Analoginya begitu. Kamu benci sama Tuta, aku akan bawa terus Tuta ke hadapan kamu.”
Aku sudah kehabisan kata-kata untuk membantah Kisa. Dan karena itulah aku merasa sudah tidak perlu lagi berada di depan rumah. Aku melihat Manis agar tidak kulihat muka Kisa yang pastinya kecewa. Dan sampai kapanpun Kisa tidak akan bisa mendekatkanku dengan Tuta.
***
__ADS_1