
Jantungku berdegup kencang ketika kakiku sudah membawa tubuh dengan hati yang dipenuhi kerinduan ini sampai di depan pintu. Dari belakang aku bisa mendengar teriakan Sri dan Kisa yang memanggilku.
“Cathy..tunggu..!” suara Kisa terdengar lantang dan aku tahu tersirat kemarahan dalam suara itu.
“Cathy..jangan bodoh.”
Aku berbalik saat mendengar suara Sri. Entah kenapa aku sangat marah dengan mereka berdua.
“Kenapa kalian..”
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, tangan Kisa langsung menangkap tanganku. Kemarahanku tiba-tiba hilang ketika kulihat kekhawatiran di mata Sri dan Kisa.
“Jangan konyol. Buat apa kamu masuk ke dalam sana?”
“Kenapa aku tidak boleh masuk?”
“Kami tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi kepadamu.” Suara Sri terdengar tegas. Walaupun begitu, aku masih bisa merasakan kekhawatiran dalam suaranya tersebut.
“Apa yang salah dengan masuk ke dalam toko binatang tersebut?” Aku mencoba untuk mencari pembenaran dengan apa yang kulakukan. Sri dan Kisa yang awalnya terlihat sangat keras, sekarang melunak. Aku tahu mereka mengendur karena melihat wajahku. Dan aku tidak kaget dengan itu karena Kisa dan Sri sudah menemaniku bertahun-tahun.
“Ayolah, Cathy,” Kisa memulai bicara, “kamu tahu kan kalau di dalam ada Sega. Dan aku rasa sekarang bukan waktu yang tepat untukmu bertemu dengan Sega.
Aku terdiam. Antara mengiyakan atau membantah perkataan Sega. Sega seolah tahu apa yang kurasakan. Aku sendiri juga bingung apakah aku siap untuk bertemu dengan Sega.
“Sekarang kita pulang.” Kisa menarik tanganku dan dengan sekuat tenaga dia membawaku keluar. Sekuat tenaga juga, aku mencoba untuk melepaskan cengkraman tangan Kisa dariku tanganku. Dan usahaku tidak sia-sia. Aku langsung berlari masuk ke dalam toko binatang itu saat berhasil melepaskan tanganku dari tangan Kisa.
“Dasar keras kepala.” Aku masih bisa mendengar perkataan Kisa yang terdengar sangat kesal.
__ADS_1
****
Aku tidak tahu mengapa banyak orang yang ada di toko binatang ini. Mereka sangat nyaman berada di sini. Entah kenapa. Bahkan aku melihat seorang ibu yang menggendong kucing dan membiarkan anaknya yang masih berumur lima tahun menangis. Kisa yang melihat itu langsung mengajak sang anak bermain. Anak yang tadinya menangis terdiam dan asyik bermain bersama Kisa. Aku tidak tahu kenapa sampai hati wanita itu mendiamkan anaknya demi seekor kucing. Entahlah. Apakah menurutnya kucing lebih berarti dari anaknya sendiri? Aku tidak tahu.
Masih saja kuperhatikan Kisa yang menggendong si bocah tadi. Bocah yang kubilang sangat lucu dengan badannya yang gembul dan rambut keriting panjang sebahu. Aku pun tergerak untuk mendekati anak tersebut ketika si Ibu datang dan langsung merebut si bocah dari tangan Kisa.
“Mau kamu apakan anakku?”
Dengan kasar, sang ibu menarik bocah dari Kisa. Kisa hanya tersenyum melihat ibu tersebut.
“Tadi anak ibu menangis.”
“Terus kenapa kalau nangis? Biarin aja. Enggak usah ikut campur urusan orang.”
Ibu langsung pergi membawa anaknya yang kembali menangis. Dengan kasar, si ibu langsung mencubit pantat si anak dengan keras. “Diam!” Teriak ibu tersebut membuat semua orang yang ada di dalam toko sontak menengok. Tanpa rasa bersalah, ibu meneruskan marahnya. “Gara-gara kamu, semua ngelihatin.”
Ibu tersebut langsung membawa kelinci yang sudah dibelinya dan pergi meninggalkan toko dengan marah. Banyak dari para pengunjung yang menggelengkan kepalanya melihat kejadian ini. Kisa hanya tersenyum simpul.
Setelah mengatakan itu, kisa menatap ke arahku. Tatapan berupa sindiran yang aku sendiri tidak tahu apa maksudnya.
“Cathy!”
Suara itu. Setelah beberapa bulan akhirnya aku kembali mendengar suara itu. Suara Sega yang terdengar tegas membuatku bingung. Dadaku berdegup kencang, tubuhku kaku sulit untuk digerakkan. Suara itu lebih dari sekedar hipnotis untukku. Sudah seperti perintah otak untuk semua bagian tubuh yang harus dijalankan.
Aku pun menoleh ke asal suara. Sekelebat kulihat raut muka Sri dan juga Kisa yang tampak tidak suka dengan apa yang mereka lihat. Aku tahu pasti itu karena mereka melihat Sega. Saat kutatap kedua mata Sega, aku bingung apa yang sedang kurasakan. Apakah bahagia, marah, atau perasaan apa itu aku sama sekali tidak tahu. Bahagia karena akhirnya aku bisa bertemu dengan Sega. Marah karena dia begitu tega untuk menolak cintaku untuk yang kesekian kalinya. Berdebar karena cintaku yang telah lama mati sekarang tumbuh kembali. Melihat Sega seperti mendapatkan air di musim hujan. Sejuk dan menumbuhkan kembali cintaku kepadanya.
“Se..Sega, apa kabar?” Aku mencoba untuk menyapa Sega walaupun dengan kegugupan yang teramat besar.
__ADS_1
“Baik. Kamu sendiri bagaimana?” Seperti biasanya, Sega menjawab sambil memberikan senyumnya. Senyum yang mampu membasuh jiwaku yang sedang dahaga akan kasih sayang. Dan senyum itulah yang selalu aku nantikan ketika aku bertemu dengan Sega.
“Ada perlu apa?” Lamunanku buyar dengan apayang jadi pertanyaan Sega.
“Em..aku sedang mencari kucing untuk peliharaan. Menurut kamu, apa yang sebaiknya aku ambil? Kucing persia, atau angora?”
Belum sempat Sega menjawab pertanyaanku, Kisa datang dan langsung membawa Sega ke pojok ruangan. Sedangkan Sri, menahanku untuk mengikuti ke mana Sega dan Kisa pergi.
“Kamu di sini saja, Cathy.” Sri memegang tanganku dengan kencang. Aku hanya bias melihat Sega dan Kisa yang berbicara di sudut ruangan. Tampak ekspresi keduanya tegang dan saling berdebat satu dengan yang lain. Setelah beberapa lama, akhirnya Sega dan Kisa kembali. Sega langsung memegang tanganku dan mengajakku pergi. Tampak raut wajah Kisa yang pasrah. Aku tidak peduli dan dengan senang hati mengikuit ke mana Sega membawaku.
Sega membawaku ke sebuah ruangan di mana banyak sekali kucing di tempat itu. Kucing-kucing ditempatkan di dalam kandangnya masing-masing. Ada kucing yang berwarna hitam dengan bulu lebat dan juga ada kucing dengan bulu sedikit, tetapi memiliki warna yang lebih banyak. Sega berjalan ke sebuah kandang di mana kucing berbulu lebat dan berwarna putih ada di dalam kandang tersebut. Dengan sigap, Sega membuka kandang dan mengambil kucing yang ada di dalam kandang tersebut. Dengan penuh saying, Sega mengambil kucing di dalam kandang dan menggendongnya di depan dada sambil mengelus-elus kucing tersebut. Si kucing juga tampak sangat nyaman di gendongan Sega.
“Kamu mau mengambil ini? Namanya Si Putih. Sepertinya, dia sangat kepingin untuk pergi dari sini. Dari kecil dia sudah ada di sini, tetapi sampai sekarang tidak ada yang mau mengambilnya untuk dirawat.”
Sega menyerahkan kucing putih itu padaku. Reflex aku mundur ke belakang dan takut dengan apa yang diperlihatkan oleh Sega. Kucing, bulu, aku sama sekali tidak tertarik. Sega yang melihat reaksiku, langsung tersenyum.
“Tidak usah takut. Dia tidak menggigit.”
Sega kembali mengelus kepala kucing dengan sayang. Dan kembali si kucing memerlihatkan sifat jinaknya dengan memejamkan mata seolah menikmati belaian dari Sega. Diam-diam aku membayangkan menjadi kucing itu. Berada dalam pelukan Sega dan..
“Cathy..Cathy..!”
Panggilan Kisa membuyarkan lamunanku. Sega dan Sri sudah berada di depanku dan mengajakku pergi.
__ADS_1