
Suasa menjadi sunyi. "Daddy bilang kalau anda mempunyai anak laki laki, maka Daddy menyuruh kami untuk berteman dengan anak anda." ucap Anggara yang sedang mengarang.
"Ha? Anak laki laki?." Tanya bapak tsb sambil menyipitkan mata nya.
"Hussst... anak perempuan kali brow." bisik Askan sembari menyenggol Anggara.
Lirih Anggara dengan gugup. "Eee maksud saya anak perempuan."
Ia berpikir ingin menjodohkan anak nya dengan Anggara. Ia yakin kalau anak perempuan nya akan hidup kaya raya jika anak nya bersama Anggara.
Mereka pun berjalan menuju rumah pak Ardiyansah untuk mencari bukti dirumah nya.
"Silahkan duduk dulu tuan muda. Saya mau buat cemilan dulu." Ujar pak Ardi.
Saat ia sedang membuat cemilan, Anggara dan Askan membuka lemari-lemari yang ada di sekitar mereka. Diruang tamu sama sekali tidak ada bukti yang mencurigakan.
Mereka berjinjit ke arah kamar pak Ardi agar tidak ketahuan.
"Yakin lu ini kamar nya?." Ucap Anggara.
"Udh lo ikutin aja dah, siapa tau ada bukti di kamar ini." sahut Askan sambil berjalan kembali.
Saat sedang mencari informasi Askan tidak sengaja melihat foto Asyinta. Ucap askan "jir, ini bukan nya kakel itu ya?."
"Hah, mana coba sini gua lihat."
ia menjelitkan mata nya sambil membuka mulut.
"Iya kan?." Tanya Askan.
Anggara mengangguk. Karena penasaran kenapa ada foto Asyinta di laci kamar ini, mereka berdua mengobrak abrik berkas berkas pak Ardi. Tak sengaja buku diary terjatuh ke kaki Anggara. Ternyata itu adalah diary pak Ardiyansah.
Ia menatap ke arah Askan. Anggara menarik satu bangku untuk membaca.
Isi diary tersebut "Awal nya saya menganggap kita bertiga adalah sahabat. Seiring nya waktu saya menyadari sikap Baswana. Ia lebih dekat dengan Andani dari pada saya. Sejak saat itu saya mulai membenci Andani. Saya menyoret Andani dari foto kami bertiga. I hate Andani! Semenjak saat itu mereka ingin jalan jalan ke luar saya tak di ajak sama mereka. Saya pun berpikir untuk memitnah Andani supaya Baswana membenci dia."
Askan sontak kaget melihat cerita tersebut. Begitu pula dengan Anggara. Anggara yakin kalau papa Cinta tidak bersalah. Yang bersalah adalah... Ardiyansah?
Mereka melanjutkan membaca cerita tersebut.
"Saat saya sudah membuat Andani di benci saya merasa bersalah akan semua ini. Karna ke irian, saya melupakan kenangan kami bertiga saat dahula kala. Diary ini akan menjadi kenangan yang menyakitkan. Tak akan pernah saya lupakan masa kelam itu. Rasa nya ingin meminta maaf ke Andani, tapi ..... Saya tidak mau Baswana malah membenci diri saya. I'm sorry Andani♡."
"WHATTT?" Ucap Askan berteriak. Anggara sontak menutup mulut Askan.
"Sssttt.. huh, ini akan kita bawa ke rumah, saat Sampai di rumah kita akan lanjutkan membahas buku ini."
Anggara menarik tangan Askan dan keluar dari kamar. Pak Ardi membawa cemilan yang sudah ia goreng ke ruang tamu.
__ADS_1
Ucap Anggara saat di ruang tamu "Maaf. Kami disuruh Daddy untuk pulang. Ada acara keluarga. Sekali lagi saya minta maaf, lain kali kami akan berkunjung lagi."
***
Mereka pun sampai di rumah. Dan bergegas ke kamar.
"Huh. Jadi selama ini Ardiyansah yang telah menggelap kan uang perusahaan Daddy. Dan ia menuduh Pak Andani. Kurang ajar." Sahut Askan.
Huft... *menghela nafas. Angga menelpon cinta untuk bertemu di kafe.
**********
Sesampai di kafe dan mendengar cerita tersebut Cinta menjadi sangat emosi kepada pak Ardiyansah.
"HAH! JADI SELAMA INI PAPA GUE DITUDUH? Anterin gue ke rumah orang itu sekarang!." Ujar cinta.
Anggara menenangkan Cinta. "Kamu gk boleh grasak grusuk. Kita berdua akan kasih tau Daddy terlebih dahulu."
"Ta-.."
"No tapi tapi."
Ia memeluk Cinta dengan erat. Sementara itu Askan yang masih duduk di samping kursi mereka sontak tersedak es teh manis.
"Uhuk Uhuk."
"Lo gapapa?." Tanya Anggara.
"Oh gapapa, gapapa banget." Sahut Askan.
Selepas dari mengobrol Angga mengantar Cinta pulang sampai di depan pagar. Sedangkan Askan langsung pulang ke rumah sambil menunggu Anggara pulang.
*******
Sesampai di rumah. Ia bergegas menemui Askan dan membawa buku diary punya pak Ardiyansah ke ruang kerja ayah nya. Sayang nya Daddy mereka tidak ada di rumah, di karena kan sedang mencari musuh nya yang sedang melarikan diri.
"Bikk, ini Daddy kemana ya Bik?." Tanya Anggara.
"tadi tuan Baswana bibik lihat keluar rumah dengan pakaian yang rapi, bibik gak tau den tuan mau kemana. Soal nya tuan Baswana seperti buru buru enggak pamit terlebih dahulu ke mommy den, jadi bibik gak denger.." Jawab bibik.
"Oh oke Bik, makasih." Ucap Anggara.
"Jadi gimana??" Tanya Askan.
Anggara menyuruh Askan untuk bersabar sampai Daddy mereka pulang ke rumah. Saat malam hari mereka langsung ke kamar Daddy mereka.
Toktoktok...
__ADS_1
"Masuk." Sahut Daddy.
Berjalan dengan perlahan sambil memegang buku diary tersebut.
Ucap Anggara "dad... Anggara mau ngasih ini ke Daddy, ini penting dad, harus Daddy baca sekarang."
"Sepenting apa?." Tanya daddy sambil menarik buku yang ada di tangan Anggara.
Ia membuka buku itu dengan perlahan dan membaca diary tersebut.
Di pertengahan membaca ia langsung melotot kan kedua mata nya sambil menyebut what the ****?!!! .
Selesai membaca diary ia bertanya kepada Askan dan Anggara.
"Apa ini semua benar?! ARDIYANSAH YANG SUDAH MEMBUAT HUBUNGAN PERTEMANAN KAMI HANCUR?." Sambil menghentakkan meja.
Askan mengangguk dan berkata "ini semua benar dad, kami sendiri yang ke rumah Ardiyansah untuk mencari bukti bahwa bukan pak Andani yang bersalah."
"ARRRGH.....!!!!" teriakan tuan Baswana sungguh menggebarkan suasana rumah sehingga terdengar sampai dapur.
Baswana sungguh tak menyangka bahwa Ardiyansah yang sudah membuat hubungan pertemanan mereka bertiga hancur. Ia menelpon anak buah nya ke alamat yang dia kirim dan pergi ke rumah Ardiyansah.
Angga dan Askan penasaran apa yang akan terjadi. Ia menyusul daddy nya dengan membintit dari belakang mobil Daddy mereka.
Semua mobil sudah berderet di depan rumah Ardiyansah. Begitu juga dengan Ardiyansah yang sekarang masih di ikat tangan nya oleh anak buah baswana, agar ia tidak lari. Ardiyansah memberontak terhadap mereka yang sedang mengikat tangannya.
Mobil Baswana pun sampai. Ia mengeluarkan satu kaki nya terlebih dahulu lalu turun dari mobil.
"Ba-baswana.." lirih Ardiyansah, sehingga dari atas sampai bawa badan nya bergetar.
Baswana berjalan mendekati Ardiyansah sambil membuka kacamata nya yang bewarna hitam Badas.
Askan dan Anggara pun sampai ke arah rumah Ardiyansah. Mobil nya mereka taro di parkiran dekat gedung agar tidak ketahuan Daddy nya. Mereka mengintip dari rumput rumput yang ada di rumah Ardiyansah.
"Kenapa anda sangat terkejut? Santay saja, saya." Sahut Baswana.
Tangan Baswana terlempar ke arah pipi Ardiyansah. Ardiyansah kaget kalau Baswana akan menampar diri nya.
"Ke-kenapa kau menampar ku?..." Ucap Ardiyansah.
"Tidak perlu berbohong lagi kepada saya. Apa maksud mu memitnah Andani."
"Baswana.. anda bicara apa? Saya tak mengerti apa yang kamu bicarakan." Keringat Ardiyansah bercucuran ke bawah.
Baswana mengusap kening Ardiyansah yang berkeringat. Dan membisikkan ke kuping nya "husstt. Saya sudah membaca diary yang kamu tulis di buku mu. Tidak perlu berpura pura lagi. Saya tanya sekali lagi, apa maksud mu berbuat seperti itu?"
****
__ADS_1