
Shelia yang masih duduk disamping Elvan dengan di temani Bi Ijah, ia pun mendapat telepon masuk dari mamanya yang sedang berada di Singapura, tetapi ia mengabaikan nya karena kesal dengan mamanya yang dari kemarin tidak mau jawab telepon darinya.
Kemudian beralih ke handphone bi ijah yang berbunyi, bi Ijah pun mengangkat panggilan telponnya.
"Hallo... Iya nya." Jawab bi Ijah.
"Bi apa ada anak-anak disitu, saya telepon ke handphone nya gak ada yang jawab telepon dari saya." Tanya Mama Shelia dari dalam telepon bi Ijah.
"Iya nya ini non Shelia ada disini." Sahut Bi Ijah.
"Kasihkan telepon nya sebentar e Shelia bi." Ujar majikannya lagi.
"Ini non, mama mau ngomong." Bi Ijah jah pun menyodorkan Handphone nya ke Shelia.
"Hallo... Shelia, maafin mama nak tadi mama sibuk gak sempat jawab telepon nya, semalam mama kelelahan jadi gak sempat juga telepon balik Shelia." Ujar mamanya.
Shelia hanya terdiam dengan rasa kesal dan marah ke mamanya yang selalu menyibukkan diri dengan kerjaan nya, dan selalu mengabaikan anak-anaknya. Shelia melihat ke arah muka Abang nya, karena kasiha sama abangnya dalam keadaan berbaring tapi tak ada perhatian dari orangtuanya, lalu ia pun memegang tangan Elvan sedang tangan kirinya memegang handphone.
"Hallo... Shelia kamu masih Disana nak ?" Suara dari dalam telepon lagi, sedang Shelia hanya terdiam dan lalu melihat jari tangan Elvan yang bergerak-gerak dan dengan tubuh yang kejang Shelia pun terkaget dan berteriak memanggil nama abangnya.
"Abang... Bang.. Kamu kenapa bang, tolong suster dokter tolong." Suara Shelia tiba-tiba berteriak dan mamanya terdengar dari telepon nya suara Shelia yang sedang panik.
"Shelia kamu kenapa, ada apa dengan Abang kamu, Shelia Hallo jawab mama Shelia." Teriakan dari dalam telepon.
Shelia yang keluar memanggil dokter, handphone nya pun di kasihkan kembali ke bi Ijah, "Hallo nya apa masih Disana ?" t
Tanya Bi Ijah.
"Iya bi, saya masih disini apa yang terjadi sama anak-anak bi ?" Tanya balik Mama Shelia.
Dokter pun datang ke ruang UGD di ikuti dengan Shelia, dan langsung mengecek keadaan Elvan.
"Nyonya, den Elvan sedang dirawat di rumah sakit, sekarang lagi di priksa." Sahut bi Ijah kemudian.
Tiba-tiba telepon nya mati, dengan kagetnya mama Elvan di tempat sana shock dan langsung mematikan teleponnya. Bi Ijah yang masih di ruang UGD menemani Elvan dan Shelia lalu menyimpan kembali handphone nya di saku, sedang dokter dan suster yang masih mengecek keadaan Elvan.
"Gimana dengan Abang saya dok ?" Tanya Shelia.
"Tidak ada masalah semua normal, semoga ini bertanda membaik Pasien segera sadar." Ujar dokter.
"Syukurlah, terimakasih dok." Ucap Shelia.
Kemudian dokter pun pergi dari ruang UGD, dan datang lah Zeline dari arah luar dan masuk ke ruangan tersebut.
"Gimana keadaan nya ?" Tanya Zeline tetiba datang.
"Tadi jari abang sempat bergerak dan kata dokter baik-baik saja." Jawabnya.
__ADS_1
"Syukurlah... Ini aku bawain makanan kamu makan dulu ya." Ujar Zeline.
"Terimakasih..." Ucap Shelia.
Shelia pun menerima makanan dari Zeline dan pergi keluar cari tempat untuk memakannya, sedang Zeline di ruang UGD di temani Bi Ijah.
"Bibi sudah makan ?" Tanya Zeline.
"Sudah non." jawabnya.
Zeline kemudian duduk di samping keranjang tidur Elvan, terdengar suara Elvan yang mengerang sembari memanggil nama Kanza.
"Za... Jangan pergi, tunggu aku... Aza..." Suara Elvan mengigau memanggil Kanza.
"Hai... kamu baik-baik aja kan ?" Tanya Zeline sambil memegang lengan Elvan.
"Den... Den Elvan, ini bibi den sadar den." Ujar Bi Ijah sembari menggenggam tangan majikannya.
"Za... Kanzaaaaa..." Suara Elvan yang terus mengigau menjerit sembari perlahan membuka matanya.
"Den... Aden sudah sadar." Ujar Bi Ijah.
" Non... Non Shelia den Elvan sudah sadar non." Bi Ijah yang merasa senang memanggil adik Elvan.
Elvan yang baru membuat matanya memandang disekelilingnya merasa heran dan asing, Shelia kemudian masuk kedalam mendekati Elvan.
"Bang ini Shelia, abang baik-baik saja kan ?" Ujar Shelia sembari menggenggam tangan Abang nya.
"Ini di tempat apa, ini dimana?" Tanya Elvan.
Shelia menangis sedih melihat keadaan abangnya.
"Abang dirumah sakit, abang kecelakaan jadi di rawat disini." Sahut Shelia.
"Abang jangan banyak ngomong dulu, abang baru pulih." Ujar Shelia.
Elvan yang belum sepenuhnya sadar pun dia masih merasa heran dan kebingungan memandang sekeliling nya, ia pun melihat Zeline yang berdiri disamping tidurnya.
"Dia Siapa ?" Tanya El.
"Itu kak Zeline yang membantu abang membawa kesini, abang gak ingat dia teman Abang." Sahut Shelia.
"Hai... Kamu istirahat dulu jangan banyak mikir dulu." Ujar Zeline dengan cemas.
Elvan pun mengalihkan pandanganya kedepan dan terdiam mengingat apa yang terjadi pada dirinya, kemudian dia memegang kepalanya kesakitan.
"Aduhhh auw....." Rintihan Elvan.
__ADS_1
"Bang.. Abang baik-baik saja kan, apa ada yang sakit kepalanya, Shelia panggilkan dokter ya." Ujar Shelia.
Elvan pun hanya terdiam, lalu ia menggerakkan kakinya, tapi tak berasa apapun, ia terus berusaha mengangkat kaki kanannya tapi tak bisa. Ia pun lalu memegang kakinya tak berasa apapun dari sentuhan nya.
"Kaki aku... Kaki aku kenapa, apa yang terjadi, kenapa tidak bisa di gerakkan dan tidak berasa apapun... Kenapaaaa..." Ujar Elvan shock dan panik.
"Bang... Abang tenang dulu ya, shelai panggilkan dokter." Sahut Shelia.
Shelia pun keluar memanggil kan dokter, sedang bi ijah memegang tangan Elvan dan menengkannya. Zeline yang masih terus berdiri disamping Elvan pun kebingungan mau ngomong apa dan berbuat apa, hati nya di selimuti ketakutan dan kecemasan yang sudah menabrak Elvan dengan merahasiakan nya.
"Tenang dulu ya den, bentar lagi dokter datang mengecek keadaan aden." Ujar bi Ijah.
"Ayo dok tolongin abang aku, apa yang terjadi pada kaki nya." Ujar Shelia sambil berjalan bersama dokter, setelah mendekat ke ranjang tidur Elvan dokterpun memeriksa nya.
"Apa yang anda rasakan ?" Tanya dokter.
"Kaki saya tidak bisa di gerakkan dan saat di pegang tidak berasa apapun." Sahut Elvan.
"Kita siapkan untuk mengecek keseluruhan tubuh El ya, kita akan melakukan CT Scan (Computed Tomography Scan) untuk mengetahui apakah ada keretakan pada tulang kakinya." Ujar dokter.
"Baik dok lakukan apa yang terbaik untuknya." Sahut Zeline.
"Sembuhkan Abang saya dok bagaimana pun caranya, jangan sampai terjadi apapun dengan Abang saya, tolong dok lakukan yang terbaik untuknya." Ujar Shelia sembari menangis.
"Kami akan berusaha melakukan perawatan sebaik mungkin." Sahut dokter.
Elvan pun kemudian di bawah ke ruangan di mana ia akan melakukan CT Scan (Computed Tomography Scan), Zeline dan Shelia yang di temani bi Ijah pun menunggu di luar untuk menunggu Elvan.
Zeline duduk termenung teringat nama yang di sebutkan oleh Elvan sewaktu mengigau, "Kanza... Kanza sepertinya aku perna dengar nama itu, tapi dimana ya." Gumamnya.
Ia duduk dan terus berfikir, sedang di samping Zeline yang ada Shelia duduk ia mendapat panggilan masuk. Shelia pun menerima panggilan telponnya.
"Hallo... Shelia, ada apa dengan abang kamu." Suara dari dalam telepon menanyakan kabar anaknya.
"Mama masih peduli sama anak-anak nya ?" Sahut Shelia.
"Kenapa kamu ngomong gitu Shelia, jelas mama peduli lah." Ujar mamanya lagi dari dalam telepon.
"Kemarin Shelia mau kasih kabar mengenai abang, mama selalu sibuk dengan kerjaan dan mengabaikan kita, sekarang masih mau nanyain kabar Abang, Abang sekarang di rumah sakit dan sekarang Abang lagi ada pemeriksaan di kakinya, kalau mama masih peduli sama kita, mama cepat kembali ke sini tengokin kita !" Shelia pun langsung mematikan teleponnya.
Zeline pun yang disamping nya menenangkan Shelia dengan mengelus-elus badannya, ia pun masih kepikiran nama yang di sebutkan Elvan.
" Oh ya aku baru ingat, Kanza aku pernah ketemu dia di cafe tadi pagi bareng Kenzi, apakah dia ada hubungannya dengan Elvan." Gumamnya lagi.
"Hai... Kenapa kak ?" Tanya Shelia sembari menepuk pundak Zeline.
Zeline pun terkaget " Gapapa.." Sahut Zeline tersenyum ke arah Shelia.
__ADS_1