Cinta Balas Budi

Cinta Balas Budi
Elvan terpukul dengan kakinya yang lumpuh


__ADS_3

Mobil Kanza yang baru sampai di halaman rumahnya terhenti, ia pun turun dari mobilnya dan menuju ke pintu depan rumah nya.


"Non baru pulang, tadi ada yang mengirimkan ini." Ujar Bi Ina sembari menyodorkan amplop.


"Makasih bi, mama sama papa udah pulang ?" Tanya Kanza.


"Belum non." Sahutnya.


"Ya udah Aza ke atas dulu."


"Iya non bibi juga mau menyiapkan untuk makan malam, kalau butuh apa-apa non Aza paling bibi aja." Ujar bi Ina.


Kanza pun melangkah ke atas menuju kamarnya, setelah sampai di kamarnya ia pun duduk di kursi yang ada di kamarnya, ia langsung membuka isi amplop tersebut. Isi amplop yang memberi tahu bahwa Kanza telah di terima di universitas yang ia tuju untuk melanjutkan pendidikan.


"Gimana ya dengan Elvan apakah dia diterima bareng aku di universitas ini, aku akan coba hubungi Elvan lagi siapa tau ia angkat." Gumamnya.


Kanza kemudian mengambil handphone nya di dalam tas yang di taruh di meja di sekitar kamarnya, ia pun kemudian mencoba menghubungi Elvan tapi masih tetap tidak ada jawaban.


"El... Kemana si kamu, aku harus mencari kamu kemana udah tiga hari ini gak ada kabar, gak jawab pesan aku, telpon aku." Gumamnya lagi.


Kanza pun kelelahan dan beranjak dari kursi menuju ranjang tidur nya untuk istirahat sejenak membaringkan tubuhnya ke keranjang tidur nya.


****


Di rumah sakit Elvan yang selesai melakukan CT scan ia pun berpindah ke ruang rawat.


"Bang... Shelia ke ruang dokter dulu ya untuk melihat hasilnya, abang di anter sama kak Zeline dan Bi Ijah dulu ya."


Elvan yang berbaring di ranjang sembari di dorong oleh petugas rumah sakit dan di temani Zeline berjalan menuju ruang rawatnya, Elvan pun memanggutkan kepalanya untuk menjawab Shelia. Sedang Shelia terus melangkah berjalan ke arah ruangan dokter yang menangani Elvan.


Sesampainya di ruang rawat, Zeline pun menyuruh Elvan untuk beristirahat. "Kamu istirahat dulu ya."


Elvan hanya terdiam dan ia teringat kejadian sebelum kecelakaan, ia teringat saat di taman pergi meninggalkan Kanza sendirian di taman dan berjanji akan kembali sampai terjadi kecelakaan. Elvan pun kesakitan karena teringat kejadian tersebut dan memegang kepalanya.


"Aaaaarrrggghh..." Jerit Elvan kesakitan.


"Den... Aden kenapa, kepala Aden sakit bibi panggilkan dokter ya?" Tanya Bi Ijah.


"Tidak bi El tidak apa-apa, hanya sedikit sakit aja kepala teringat kejadian kecelakaan." Jawab Elvan.


Zeline pun cemas dan gelisah mendengar apa yang di katakan Elvan. "Aduh apakah dia ingat mobil aku yang sudah menabrak nya, apakah dia lihat dalam mobil itu aku lah yang mengendarai nya." Gumam Zeline.

__ADS_1


Shelia yang tiba di ruang rawat abangnya membawa hasil CT scan, melihat El yang sedang berbicara sama Bi Ijah mengenai kecelakaanya Shelia yang kesal karena abangnya lumpuh ia pun langsung emosi mendengar Elvan mengingat terjadinya kecelakaan tersebut.


"Bang... Abang kenapa, abang ingat mobil yang sudah menabrak abang, biar kita laporkan ke polisi dan cari tahu pemilik mobil tersebut." Ujar Shelia.


Sedang Zeline yang berdiri di belakang Shelia semakin cemas dan ketakutan. "Ya Tuhan apakah aku harus mengakui saja, kalau aku lah yang sudah menabrak nya." Gumam Zeline lagi dalam hatinya


"Aku cuma ingat, sebelum kecelakaan itu berada di taman bareng Kanza setelah itu tiba-tiba ada mobil menabrak warna putih tapi aku tidak melihat no plat mobilnya, aku sempat tersedar sebentar ingat ada perempuan yang datang menolong aku." Sahut Elvan.


"Itu mungkin kak Zeline dia yang membawa abang kesini." Ujar Shelia.


Zeline pun tersenyum dan merasa sedikit lega setelah Elvan berkata tidak melihat detail kejadian kecelakaannya. "Aku harus mengganti mobil jangan bawah mobil ini lagi." Gumam Zeline lagi dalam hati.


"Aza... Aza pasti mencari aku, dia pasti kecewa sama aku." Elvan yang teringat Kanza ia pun merasa gelisah, dan terbangun dari tidurnyaia mencari handphone nya.


"Abang... Abang tenang dulu, abang nyariin apa ?" Tanya Shelia.


"Handphone aku mana, tas... Tas aku mana ?" Jawab Elvan. Ia pun ingin beranjak dari Keranjang tidur nya, tapi Elvan tidak bisa mengangkat menggerakkan kakinya.


"Aaarrrgggh..." Elvan pun kesal berteriak memukuli kakinya, ia sangat sedih kecewa pada dirinya yang tidak bisa pergi menemui Kanza.


"Kanza pasti menunggu aku, dia pasti akan kecewa sama aku yang sudah meninggal dia." Elvan terus marah-marah sama dirinya.


Shelia pun menangis melihat keadaan abangnya. "Abang... Abang yang tenang ya." Ujar Shelia.


Shelia pun kemudian memeluk abang nya, dan Bi Ijah pun menyodorkan tas yang di cari Elvan. "Ini den tas aden."


Shelia pun melepaskan pelukannya pada abang nya "Abang mau ambil handphone?" Tanya Shelia.


"Bagaimana mama, apa mama tau aku disini ?" Tanya balik Elvan.


"Tadi nyonya telepon dan bibi kasih tau aden disini, nyonya terdengar shock lalu mematikan teleponnya." Jawab bi Ijah.


"Mama tidak akan peduli itu, dia hanya mementingkan bisnisnya." Ujar Elvan.


Shelia pun menangis ia merasa bingung ingin ngomong apa sama abang nya mengenai hasil CT scan nya " Bang...." Panggil Shelia.


"Bi tolong ambilkan handphone aku di dalam tas." Suruh Elvan ke bi Ijah.


Bi Ijah pun mengambilkan dan memberikan nya ke Elvan, Elvan pun menerimanya langsung menyalakan handphone nya, terdapat banyak pesan dan panggilan masuk dari mamanya dan dari Kanza. Elvan pun membuka satu persatu pesan dari Kanza


Isi pesan " Elvan kamu kenapa tidak balik lagi, aku menunggu kamu." Kanza.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak angkat telepon aku."


"Aku mencari kamu, aku tadi mendatangi rumah kamu, tapi kamu tidak ada, kamu pergi kemana, kenapa tidak kasih kabar ?"


"Apa kamu marah sama aku, jelaskan salah aku apa, aku minta maaf kalau slalu bikin kamu kesal."


"sudah tiga hari ini kamu tidak ada kabar, aku selalu menanti kamu, aku rindu kamu " Kanza.


Tak terasa sebutir air mata Elvan jatuh di pipinya, "Aku harus temui Kanza dan menjelaskan langsung padanya apa yang terjadi saat ini sama aku, tapi apa yang terjadi sama kaki aku tidak bisa di gerakkan." Ujar Elvan yang terus berusaha beranjak dari Keranjang tidur nya.


"Bang... Abang baru siuman, abang tenang dulu ya, abang yang banyak istirahat dulu, abang bisa menghubunginya lewat telepon." Sahut Shelia.


"Tapi aku harus bicara langsung sama Kanza, tidak bisa lewat telepon." Ujar Elvan lagi.


"Tapi abang tidak akan bisa pergi dari sini, dan abang tidak bisa berjalan lagi !" Sahut Shelia.


"Apa... Kamu ngomong apa Shelia ?!" Elvan pun kaget mendengar ucapan Shelia dia terus bertanya sembari memegang kedua bahu adiknya.


"Jawab Shelia." Jerit Elvan.


"Abang tenang dulu ya." Jawab Shelia sembari melepaskan tangan abangnya dari bahunya dan memegang kedua tangan Elvan.


"Bang... Kata dokter ada keretakan tulang di kaki kanan abang yang mungkin akan membuat Abang jadi lumpuh." Shelia pun menangis mengatakan kabar yang buruk pada abang nya.


Zeline pun yang berdiri di depan Shelia yang sedang duduk di atas ranjang tidur Elvan, ia pun terkaget mengangkat kedua tangannya dan menutup nya ke mulutnya.


"Oh no... Aku semakin berasa bersalah, dia lumpuh." Gumam Zeline dengan tubuh yang lemas mendengar hal itu.


"Gak mungkin, aku lumpuh ?" Gumam Elvan dengan sedih dan terpukul dengan apa yang terjadi pada nya.


"Abang tenang ya, kata dokter abang masih bisa sembuh dengan menjalani pengobatan dan terapi." Ujar Shelia menenangkan Elvan sembari tersenyum tipis.


"Tolong aku mau istirahat, biarkan aku sendiri." Ujar Elvan.


Elvan pun kembali berbaring, sedang Shelia berdiri dan beranjak dari Keranjang tidur Elvan.


"Ya sudah Shelia dan yang lain keluar dulu, kalau ada apa-apa abang pencet tombol untuk memanggil suster, biar suster nanti datang kemari, abang istirahat ya." Shelia pun pergi keluar mengajak Zeline dan Bi Ijah.


"Shelia aku pulang dulu, besok kesini lagi pagi-pagi." Zeline pun pamit setelah keluar dari ruangan rawat Elvan.


"Iya kak terimakasih sudah menolong abang, dan peduli pada kita." Ucap Shelia.

__ADS_1


Zeline tersenyum sembari mengelus-elus pundak Shelia " Aku pergi dulu ya." Pamit nya lagi.


Zeline pun pergi terus melangkah menuju pintu keluar rumah sakit.


__ADS_2