
Beberapa bulan telah berlalu sejak perasaan Putra terhadap Lia terungkap. Meskipun Putra berusaha untuk tetap tegar dan menjaga persahabatannya dengan Lia, hatinya masih terluka. Dia merasa bahwa langkah terbaik untuknya adalah menjauh sejenak dari Lia dan Rico, agar dia bisa memperbaiki hatinya yang hancur.
Pekerjaan fotografi menjadi pilihan Putra untuk mencari kedamaian. Dia mendapatkan tawaran untuk bekerja pada proyek-proyek yang membutuhkan perhatian penuhnya, dan dia menerima tawaran tersebut tanpa ragu. Keputusan itu membuatnya pergi ke berbagai tempat jauh, meninggalkan kota tempat tinggalnya.
Putra berharap bahwa jarak dan waktu yang dia berikan akan membantunya untuk mengatasi perasaannya dan menghindari situasi yang rumit dengan Lia dan Rico. Dia tahu bahwa dia harus melepaskan perasaannya dan menghadapinya dengan bijaksana.
Namun, saat Putra pergi, Rico dan Lia semakin dekat satu sama lain. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, tertawa, dan berbagi momen-momen indah. Tidak sadar, hubungan mereka semakin intens, dan perasaan mereka semakin mendalam.
Namun, di balik kebahagiaan itu, ada masalah yang mulai muncul di antara Rico dan Lia. Mereka berdua memiliki kepribadian yang kuat, dan terkadang pertentangan pendapat menghantui hubungan mereka. Mereka sering berdebat tentang hal-hal kecil, dan ketegangan mulai muncul di antara mereka.
Lia merasa khawatir dengan perubahan suasana hati Rico. Dia merasa bahwa Rico semakin mudah marah dan merasa tertekan. Rico sendiri merasa kesal karena merasa Lia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang komedian dan tidak memberikan cukup perhatian padanya.
Suatu malam, ketika Rico dan Lia sedang makan malam bersama di sebuah restoran, pertengkaran kecil yang seharusnya tak berarti meledak menjadi konflik yang lebih besar. Kata-kata yang pedas dan emosi yang memuncak membuat mereka berdua mengambil jeda sejenak.
Lia mencoba untuk menenangkan Rico, tetapi suasana hati Rico semakin buruk. Dia merasa tidak dihargai dan tidak dipedulikan oleh Lia. Rico merasa cemburu pada perhatian yang diberikan Lia pada pekerjaannya.
Sementara itu, Putra yang sedang jauh dari kota, merasa resah. Meskipun dia mencoba untuk fokus pada pekerjaannya, pikirannya selalu terhampar pada Lia. Ketidakhadirannya dalam kehidupan Lia membuatnya merasa cemas dan khawatir.
Suatu malam, Putra memutuskan untuk menelepon Lia. Dia merindukan suara Lia, meskipun dia tahu bahwa panggilan itu mungkin akan membuatnya merasa sedikit cemburu.
Lia terkejut saat melihat nama Putra di layar teleponnya. Dia ragu untuk mengangkatnya, tapi hatinya merindukan temannya yang jauh. Akhirnya, dia memutuskan untuk menerima panggilan itu.
"Putra? Apa yang terjadi? Kenapa kamu tidak memberitahuku sebelum pergi?" tanya Lia dengan suara lembut.
Putra merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Lia. Dia tidak ingin membuat Lia merasa bersalah atau khawatir tentangnya. "Maaf, Lia. Aku tahu aku harus memberitahumu sebelum pergi, tapi aku butuh waktu untuk menjernihkan pikiranku," jawabnya.
Lia merasa sedikit kesal dengan penjelasan Putra. "Tapi kamu bisa memberitahuku, kan? Aku adalah temanmu, Putra. Aku khawatir tentangmu."
Putra terdiam sejenak, menyadari bahwa dia telah membuat Lia merasa khawatir. "Maafkan aku, Lia. Aku berjanji akan memberitahumu di lain waktu jika aku perlu pergi lagi," ucapnya dengan tulus.
Lia menghela nafas, mencoba mengendalikan emosinya. "Baiklah, Putra. Tapi kamu harus tahu bahwa kamu adalah teman yang berarti bagiku. Jangan pernah merasa bahwa kamu harus menyembunyikan sesuatu dariku," ucapnya dengan tegas.
__ADS_1
Putra tersenyum lembut, meskipun dia tahu bahwa Lia tidak bisa melihat senyumannya melalui telepon. "Aku tahu, Lia. Terima kasih karena selalu ada untukku," ucapnya dengan penuh rasa terima kasih.
Percakapan mereka berlanjut, dan mereka bercerita tentang kehidupan masing-masing selama Putra pergi. Lia bercerita tentang pertunjukan komedinya yang semakin sukses, sementara Putra bercerita tentang perjalanan fotografinya yang menarik.
Namun, di balik percakapan ceria itu, ada rasa cemburu yang terpendam di hati Putra. Dia tidak bisa menahan perasaannya, meskipun dia tahu bahwa dia harus tetap menjaga jarak.
Setelah percakapan selesai, Putra merasa lebih cemas tentang hubungan Rico dan Lia. Dia merasa bahwa ketidakhadirannya dalam kehidupan Lia membuat mereka semakin dekat, tapi dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.
Beberapa minggu berlalu, dan Putra akhirnya kembali ke kota. Dia merindukan Lia, meskipun hatinya masih bimbang tentang bagaimana cara menghadapinya.
Ketika dia bertemu dengan Lia, dia merasa canggung. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan atau bagaimana harus bersikap. Namun, dia berusaha tersenyum dan berbicara dengan normal, menyembunyikan perasaannya yang rumit.
dia bisa merasakan bahwa Putra mungkin masih memiliki perasaan khusus pada Lia. Rico mencoba mengatasi rasa cemburunya, tapi dia merasa semakin tertekan dengan kehadiran Putra di sekitar Lia.
Suasana di antara mereka menjadi semakin tegang setiap kali Putra dan Rico berada dalam satu ruangan. Putra mencoba untuk tetap menjaga jarak dan tidak ikut campur dalam hubungan Rico dan Lia, tapi dia tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.
Lia merasa bingung dengan perubahan sikap Putra dan Rico. Dia merasa bahwa ada ketegangan di antara mereka berdua, tapi dia tidak tahu apa yang terjadi. Meskipun dia ingin bertanya kepada keduanya, dia juga tidak ingin mencampuri urusan pribadi mereka.
Lia mencoba untuk menciptakan suasana yang lebih santai, tapi dia merasa kesulitan mengendalikan situasi. Hubungan mereka bertiga menjadi tegang, dan ketegangan itu semakin terasa di setiap percakapan mereka.
Setelah malam itu, Putra memutuskan untuk mengambil tindakan. Dia tahu bahwa dia harus berbicara dengan Rico dan Lia untuk mengatasi ketegangan yang ada di antara mereka. Meskipun dia tidak ingin mencampuri hubungan mereka, dia ingin mencari cara untuk mengembalikan kedamaian dan keakraban di antara mereka bertiga.
Malam berikutnya, Putra dan Rico duduk berdua di taman, dengan suasana yang cukup canggung di antara mereka. Putra mengambil napas dalam-dalam, mencari keberanian untuk membuka pembicaraan.
"Rico, aku ingin bicara denganmu tentang sesuatu," ucap Putra dengan suara serius.
Rico menatap Putra dengan tatapan tajam, "Apa yang ingin kamu bicarakan?"
Putra mencoba memilih kata-kata dengan hati-hati, "Aku merasa ada ketegangan antara kita berdua, dan aku tidak ingin hal itu mempengaruhi hubungan kita dengan Lia."
Rico mengangguk, "Aku juga merasa hal yang sama. Tapi aku tidak tahu apa yang harus dilakukan."
__ADS_1
Putra tersenyum, merasa lega bahwa Rico juga merasakan hal yang sama. "Mungkin kita bisa mencari cara untuk saling menghargai dan mendukung satu sama lain, tanpa harus bersaing atau merasa cemburu," usulnya.
Rico mengangguk setuju, "Kamu benar. Aku tidak ingin persahabatan kita rusak karena hal ini."
Mereka berdua berbicara dengan tulus dan mencoba untuk memahami perasaan satu sama lain. Meskipun mereka berbeda dalam perasaan terhadap Lia, mereka menyadari bahwa persahabatan mereka berdua juga berharga.
Setelah berbicara dengan Rico, Putra merasa lega dan senang bahwa mereka berdua bisa mencapai kesepakatan untuk tetap menjaga persahabatan mereka. Namun, dia tahu bahwa dia juga harus berbicara dengan Lia tentang perasaannya.
Keesokan harinya, Putra dan Lia duduk bersama di taman. Putra merasa gugup, tapi dia tahu bahwa dia harus berbicara jujur dengan Lia.
"Lia, aku tahu bahwa perasaanku terhadapmu tidak berubah. Aku mencintaimu, tapi aku juga tahu bahwa perasaanku tidak akan pernah terbalas," ucap Putra dengan tulus.
Lia terkejut mendengar pengakuan Putra. Dia tidak mengharapkan bahwa Putra akan membuka perasaannya lagi setelah beberapa bulan lalu.
"Putra, aku menghargai perasaanmu, tapi aku tetap mencintai Rico," kata Lia dengan lembut.
Putra mengangguk, "Aku tahu, Lia. Aku hanya ingin kamu tahu betapa berartinya persahabatan kita bagiku. Aku tidak ingin perasaanku mengganggu hubungan kita."
Lia tersenyum lembut, "Terima kasih, Putra. Kamu adalah teman yang berarti bagi saya, dan aku tidak ingin kehilanganmu."
Putra tersenyum balas, "Sama-sama, Lia. Aku akan selalu ada untukmu, sebagai teman yang mendukungmu dan ingin melihatmu bahagia."
Meskipun hati Putra masih terluka, dia merasa lega bahwa dia sudah berbicara jujur dengan Lia. Dia tahu bahwa dia harus menerima kenyataan dan berdamai dengan perasaannya.
Beberapa minggu berlalu, dan ketegangan di antara Putra, Lia, dan Rico mulai mereda. Mereka berusaha untuk menghargai perasaan satu sama lain dan menjaga persahabatan mereka tetap kuat.
Putra tetap bekerja sebagai fotografer, mengambil berbagai proyek yang menarik. Dia merasa lebih bahagia dengan pekerjaannya dan mencoba untuk fokus pada passionnya.
Sementara itu, Rico dan Lia juga berusaha untuk mengatasi masalah dalam hubungan mereka. Mereka berdua menyadari bahwa hubungan itu bukan tanpa masalah, tapi mereka berkomitmen untuk mengatasi masalah itu bersama-sama.
Pada suatu malam, ketika mereka bertiga berkumpul lagi di kafe tempat Lia bekerja, mereka merasa senang karena hubungan persahabatan mereka kembali harmonis. Ketegangan di antara mereka telah berkurang, dan mereka merasa lebih nyaman dan akrab satu sama lain.
__ADS_1
Putra merasa bahagia melihat Rico dan Lia bahagia bersama. Meskipun hatinya masih terluka, dia tahu bahwa dia akan selalu berada di sana untuk mereka sebagai teman yang mendukung. Namun itu tetap saja susah bagi putra.