
Suatu hari, suasana di kafe tempat Lia bekerja terasa berbeda ketika Sisilia Amelia, atau yang akrab dipanggil Amel, datang berkunjung. Saat melihat Amel untuk pertama kalinya, Rico dan Putra tidak bisa membantah pesona wanita itu yang begitu memikat.
Amel adalah wanita cantik dengan kulit putih eksotis, rambut pirang kecokelatan, dan mata biru yang menawan. Dia memiliki pesona yang menarik dan menawan siapa pun yang berada di sekitarnya. Saat memasuki kafe, langkahnya penuh percaya diri dan senyumannya membuat suasana kafe semakin ceria.
Kehadiran Amel membuat Rico dan Putra merasa gugup dan canggung. Mereka berdua merasa terpesona oleh kecantikan Amel, dan perasaan mereka semakin rumit karena keduanya tertarik pada wanita yang sama.
Lia, yang peka terhadap perubahan suasana, merasa ada yang tidak beres. Dia menyadari bahwa Rico dan Putra terlihat canggung di sekitar Amel, dan rasa cemburu mulai menggelegak di dalam hatinya. Namun, sebagai sahabat yang baik, Lia berusaha untuk tidak membiarkan perasaan cemburunya mengganggu hubungan persahabatan mereka bertiga.
Amel dengan ramah menghampiri Rico, Putra, dan Lia. Dia tampak sangat bersahabat dan mengajak mereka berbincang dengan hangat. Rico dan Putra berusaha untuk bersikap wajar, meskipun perasaan dalam hati semakin rumit.
Selama beberapa minggu, kehadiran Amel semakin sering terlihat di kafe. Dia tampak sangat dekat dengan Rico dan Putra, dan hubungannya dengan Lia juga semakin akrab. Mereka sering tertawa dan menghabiskan waktu bersama, membuat perasaan mereka semakin tercampur aduk.
Lia merasa semakin cemas dan tidak nyaman dengan perasaannya. Dia tidak ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan persahabatan mereka bertiga, tapi rasa cemburu dan ketidaknyamanan semakin sulit untuk ditahan.
Sementara itu, Rico dan Putra juga merasa semakin bingung. Mereka tahu bahwa hubungan persahabatan mereka lebih penting daripada perasaan romantis, tetapi tidak bisa menghindari rasa tertarik pada Amel.
Suatu malam, ketika mereka bertiga kembali berkumpul di kafe, suasana tegang semakin terasa. Lia memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya dengan hati-hati.
"Lia, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan," ucap Lia perlahan. "Aku merasa agak cemas dengan hubungan kita bertiga. Aku tidak ingin perasaan cemburu mengganggu persahabatan kita."
Rico dan Putra saling pandang dengan perasaan yang sama. Mereka merasa lega bahwa Lia membuka perasaannya.
Lia melanjutkan, "Aku merasa cemburu ketika melihat kalian berdua dekat dengan Amel. Tapi aku tahu bahwa aku tidak bisa mengendalikan perasaan itu. Aku hanya ingin kalian tahu bahwa persahabatan kita sangat berarti bagiku, dan aku berusaha untuk tidak membiarkan perasaan cemburu mengganggu hubungan kita."
Rico dan Putra mengangguk paham. Mereka merasa terharu dengan kejujuran Lia. Rico berkata, "Lia, kamu adalah sahabat yang luar biasa, dan kami sangat menghargai hubungan kita. Kami berdua tidak ingin membuatmu merasa cemburu atau tidak nyaman. Kita harus tetap berusaha untuk menjaga hubungan persahabatan ini."
__ADS_1
Putra menambahkan, "Ya, Lia. Aku mengerti perasaanmu, dan aku berjanji untuk tetap menghargai persahabatan kita. Kita adalah sahabat, dan itu adalah yang terpenting bagi kita."
Lia tersenyum lega mendengar dukungan dari sahabat-sahabatnya. Meskipun rasa cemburu masih ada, tapi dia merasa lega karena telah berbicara terbuka tentang perasaannya.
Sejak itu, mereka bertiga berusaha untuk tetap menjaga hubungan persahabatan mereka dan tidak membiarkan perasaan rumit mengganggu. Mereka saling mengerti dan mendukung satu sama lain, dan Lia berusaha untuk lebih memahami perasaan Rico dan Putra.
Namun, perasaan cemburu tidak sepenuhnya hilang. Putra dan Rico masih merasa tertarik pada Amel, tetapi mereka berdua berusaha untuk tetap berhati-hati dan tidak membuat hubungan persahabatan mereka terganggu.
Setelah kedatangan Amel, Putra memutuskan untuk mengajaknya bekerja sama sebagai model untuk proyek fotografi yang sedang dia kerjakan. Amel dengan senang hati menerima tawaran itu, dan keduanya berkolaborasi dalam sesi foto yang sangat sukses.
Lia merasa cemburu melihat kedekatan antara Putra dan Amel dalam proyek fotografi tersebut. Dia merasa sedikit terancam dan khawatir bahwa hubungan persahabatan mereka bertiga bisa berubah karena kehadiran Amel.
Suatu hari, ketika Rico, Lia, Putra, dan Amel berkumpul di kafe, suasana terasa canggung. Lia mencoba untuk menekan perasaannya, tetapi rasanya sulit ketika melihat Putra dan Amel tertawa bersama dan berbicara dengan penuh keakraban.
"Lia, ada yang ingin aku katakan," ucap Putra dengan lembut. "Aku tahu bahwa Amel adalah wanita yang menarik dan mungkin kedekatan kami dalam proyek fotografi ini membuatmu cemburu. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa persahabatan kita sangat berarti bagiku, dan tidak ada yang akan mengubah itu."
Lia tersenyum lembut mendengar kata-kata Putra. "Aku tahu, Putra. Aku hanya merasa cemas dan khawatir, tapi aku tidak ingin membiarkan perasaan cemburu mengganggu hubungan kita."
Rico menambahkan, "Kamu tahu, Lia, persahabatan kita adalah sesuatu yang berharga. Kita sudah melewati begitu banyak bersama-sama, dan aku tidak ingin melihatnya hancur karena cemburu."
Putra setuju, "Betul, Rico. Persahabatan kita adalah sesuatu yang unik dan berarti bagi kita. Kita bisa memiliki hubungan persahabatan yang kuat tanpa harus membandingkan perasaan cinta atau cemburu."
Amel juga ikut bicara, "Aku mengerti perasaan kalian, dan aku hanya ingin menjadi teman kalian semua. Kalian adalah orang-orang yang luar biasa, dan aku merasa beruntung bisa menjadi bagian dari persahabatan ini."
Lia merasa lega mendengar dukungan dari sahabat-sahabatnya. Meskipun perasaan cemburu masih ada, tapi dia merasa senang karena mereka tetap menghargai hubungan persahabatan mereka tapi masih ada yang ganjel di hati lia.
__ADS_1
Lia tidak tahu dari mana asal amel dan apa tujuannya datang ke kota kecil ini, meski demikian lia tetap tidak mencari tahu lebih dalam dengan beberapa alasan.
Seiring berjalannya waktu, Lia berusaha untuk lebih memahami perasaan cemburunya dan belajar untuk mengendalikannya. Dia tahu bahwa persahabatan mereka adalah prioritas yang lebih penting daripada perasaan cemburu yang mungkin muncul dari waktu ke waktu.
Putra juga berusaha untuk tetap bersikap profesional dalam kolaborasinya dengan Amel sebagai model. Dia menyadari bahwa Amel adalah teman dan rekan kerja yang berbakat, dan dia ingin menghargai kerjasama mereka tanpa membuat hubungan persahabatan rumit.
Sementara itu, Rico tetap menjadi pendengar yang baik dan dukungan bagi Lia. Dia selalu siap mendengar ketika Lia ingin berbicara tentang perasaannya, dan dia berusaha untuk memberikan nasihat yang bijaksana.
Rico merasa perlu untuk berbicara dengan Amel secara pribadi. Dia ingin membicarakan tentang perasaannya terhadap Putra dan Lia serta memastikan bahwa Amel memahami betapa pentingnya persahabatan mereka bertiga.
Mereka bertemu di sebuah kafe yang nyaman, dan Rico memulai percakapan dengan lembut, "Amel, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Tentang persahabatan kita bertiga, aku ingin memastikan bahwa kamu mengerti betapa berartinya bagi kami."
Amel tersenyum dan mengangguk, "Tentu, Rico. Aku menghargai persahabatan kita, dan aku senang menjadi bagian dari hubungan ini."
Rico melanjutkan, "Tapi aku merasa perlu untuk mengingatkan kita semua untuk tidak mengambil lebih dari persahabatan ini. Putra dan Lia adalah sahabat yang sangat berarti bagi saya, dan aku tahu bahwa kamu juga dekat dengan mereka."
Amel tersenyum penuh pengertian, "Aku mengerti, Rico. Kalian adalah sahabat yang luar biasa, dan aku tidak ingin menjadi alasan hancurnya hubungan persahabatan kita. Aku hanya ingin bersenang-senang dan berbagi momen yang indah bersama."
Rico mengangguk, "Terima kasih atas pengertiannya, Amel. Aku hanya ingin pastikan bahwa kita semua saling menghargai satu sama lain. Persahabatan kita adalah hadiah yang berharga, dan aku tidak ingin ada cemburu atau ketidaknyamanan di antara kita."
Amel menjawab dengan tulus, "Aku berjanji untuk selalu menghargai persahabatan kita dan tidak akan mencampuri masalah pribadi kalian berdua. Saya akan tetap bersikap wajar dan memahami batas-batas yang ada."
Rico merasa lega mendengar komitmen Amel. Dia tahu bahwa Amel adalah orang yang baik dan menghargai hubungan persahabatan mereka. Dia juga ingin memastikan bahwa Putra dan Lia juga memiliki pemahaman yang sama.
Setelah percakapan itu, Rico berbicara dengan Lia dan Putra secara terpisah. Dia menegaskan lagi betapa pentingnya persahabatan mereka bertiga dan memastikan bahwa mereka semua berada pada Situasi yang sama.
__ADS_1