Cinta Di Antara Ketawa Dan Berdebar Jantung

Cinta Di Antara Ketawa Dan Berdebar Jantung
"Suasana Saat Renovasi Cafe"


__ADS_3

Setelah keputusan untuk merenovasi kafe tempat kerjanya diambil, Lia dengan senang hati menyambut proyek perubahan besar ini. Namun, seperti halnya proyek renovasi lainnya, ini memakan waktu lebih lama dari yang diharapkan. Kafe itu harus ditutup sementara selama proses renovasi, dan Lia harus menganggur selama beberapa minggu sampai semuanya selesai.


Menghadapi situasi ini, Lia merasa campur aduk antara gembira dengan perubahan yang akan datang dan cemas karena ketidakpastian. Dia merasa sedih karena harus meninggalkan kafe tempat dia biasa berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Namun, Rico dengan hangat mendukungnya dan meyakinkan bahwa menganggur sementara bukanlah hal yang buruk.


"Kamu bisa menggunakan waktu ini untuk beristirahat dan mengejar hal-hal lain yang kamu sukai," ujar Rico dengan penuh semangat. "Ini juga kesempatan bagus untuk merenungkan kembali apa yang ingin kamu capai setelah kafe selesai direnovasi."


Lia tersenyum pada Rico dan merasa beruntung memiliki sahabat seperti dia yang selalu memberikan dukungan dan motivasi. Meskipun ia masih merasa agak cemas, kata-kata Rico membuatnya merasa lebih baik.


Selama beberapa minggu berikutnya, Lia berusaha untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai kegiatan yang menyenangkan. Dia mengunjungi pameran seni, mengikuti kelas tari, dan membaca buku yang selama ini tertunda. Lia merasa senang bisa mengeksplorasi passion-nya yang lain dan menemukan kebahagiaan di dalamnya.


Rico juga sering mengajak Lia untuk berjalan-jalan dan mencoba restoran dan kafe baru yang menarik. Mereka berdua tertawa dan berbagi cerita, membuat waktu yang dihabiskan tanpa pekerjaan menjadi lebih menyenangkan.


Namun, di balik senyuman dan keceriaan, ada rasa keresahan dalam hati Lia. Meskipun dia bersyukur atas dukungan Rico, dia merindukan kebersamaan dengan Putra. Putra, sebagai fotografer industri, sangat sibuk dengan pekerjaannya yang membutuhkan banyak perjalanan. Kegiatan mereka bersama menjadi terbatas, dan Putra sering kali harus absen dari pertemuan mereka karena kesibukannya.


Satu malam, Lia merenung di dalam kamarnya, memandangi ponselnya yang tak kunjung berdering. Dia merasa kesepian dan terpikirkan oleh perbedaan situasi mereka berdua. "Apa aku terlalu menggantungkan perasaanku pada Putra?" pikirnya dalam hati.


Rico, yang datang untuk mengunjungi Lia di kamarnya, melihat ekspresi cemas di wajahnya. "Apa yang sedang kamu pikirkan, Lia?"

__ADS_1


Lia menghela nafas dan menceritakan perasaannya tentang rasa kesepian dan keresahannya karena jarangnya bertemu dengan Putra akibat pekerjaannya yang sibuk.


Rico mendengarkan dengan penuh perhatian, dan kemudian dengan lembut berkata, "Lia, kamu tahu bahwa Putra juga merasa bersalah karena jarang bisa bersama kita. Pekerjaannya memang mengharuskannya untuk sering berpergian, tapi itu tidak berarti dia tidak peduli padamu. Kalian tetap sahabat terbaik, dan dia selalu ada untukmu, meskipun mungkin tidak selalu bisa hadir secara fisik."


Lia merasa lega mendengar kata-kata Rico dan mengangguk. "Aku tahu, Rico. Terkadang aku hanya merasa kesepian dan rindu dengannya."


Rico tersenyum lembut, "Itu normal, Lia. Tapi jangan biarkan perasaan itu merusak hubungan kalian. Kalian tetap sahabat terdekat, dan kita semua saling mendukung dalam perjalanan hidup kita masing-masing."


Mendengar perkataan Rico, Lia merasa lebih tenang dan merasa beruntung memiliki sahabat seperti dia. Meskipun rasa keresahan masih ada, Lia berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih memahami situasi Putra dan untuk selalu menjaga hubungan persahabatan mereka dengan baik.


Waktu pun berlalu dengan cepat, dan akhirnya, kafe tempat kerja Lia selesai direnovasi. Lia merasa bahagia melihat kafe itu kembali berdiri dengan indah dan lebih modern. Proses renovasi memang menuntut kesabaran, tapi hasilnya sangat memuaskan.


Lia merasa senang bisa kembali berada di kafe tempat dia begitu banyak menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatnya. Dia merasa beruntung memiliki teman-teman sebaik Rico dan Putra, yang selalu ada untuknya dalam suka maupun duka.


Rico dan Lia duduk bersama di sudut kafe setelah jam buka. Mereka menikmati secangkir kopi sambil menatap keluar jendela yang menghadap jalan. Rico akhirnya mencoba untuk mengungkapkan perasaannya dengan hati-hati.


"Lia, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan," ujar Rico dengan lembut. "Aku senang melihat kafe ini selesai direnovasi, dan aku juga senang melihat betapa dekatnya hubunganmu dengan Putra. Tapi aku merasa sedikit kecewa karena rasanya selalu kau memikirkan Putra dan kurang memberi perhatian kepadaku."

__ADS_1


Lia terkejut mendengar perkataan Rico. Dia tidak pernah bermaksud mengabaikan Rico atau membuatnya merasa kurang penting. "Maafkan aku, Rico. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa seperti itu. Aku sangat menghargai persahabatan kita, dan aku senang bisa memiliki sahabat sebaik kamu."


Rico tersenyum pahit. "Aku tahu kamu menghargai persahabatan kita, tapi kadang-kadang rasanya aku menjadi sahabat nomor dua setelah Putra."


Lia merasa sedih mendengar perasaan Rico. Dia merasa bersalah karena mungkin tanpa disadari telah memberikan lebih banyak perhatian pada Putra daripada Rico.


"Dengar, Rico," ucap Lia dengan tulus. "Aku memang memiliki hubungan yang dekat dengan Putra, tapi itu tidak berarti kamu kurang penting bagiku. Kamu selalu ada untukku, mendukungku, dan menjadi sahabat yang baik. Aku mungkin sering memikirkan Putra karena dia sibuk dengan pekerjaannya dan jarang bertemu, jadi aku merasa perlu memastikan dia juga baik-baik saja."


Rico mengangguk memahami, tapi rasa kecewanya masih ada. "Aku mengerti, Lia. Tapi terkadang aku merasa seperti orang ketiga dalam hubungan persahabatan kita. Aku ingin menjadi sahabat yang istimewa bagimu juga."


Lia menyadari bahwa dia harus lebih memperhatikan perasaan Rico dan memberikan perhatian yang lebih seimbang pada sahabatnya ini. "Aku berjanji, Rico, akan lebih memperhatikan perasaanmu dan memastikan kamu tahu bahwa kamu juga sangat berarti bagiku."


Rico tersenyum senang mendengar janji Lia. "Terima kasih, Lia. Aku tahu kamu adalah orang baik yang selalu peduli dengan orang lain, tapi tolong ingat bahwa aku juga ingin merasa istimewa dalam hubungan kita."


Lia tersenyum dan mengambil tangan Rico dengan penuh kasih sayang. "Tentu saja, Rico. Kamu istimewa bagiku, dan hubungan kita adalah hal yang sangat berharga. Aku berjanji untuk lebih sensitif terhadap perasaanmu dan memberikanmu perhatian yang kamu butuhkan."


Rico merasa lega dan berterima kasih pada Lia. Hubungan persahabatan mereka semakin kuat karena mereka berdua saling mendukung dan berusaha untuk lebih mengerti perasaan masing-masing.

__ADS_1


Beberapa waktu kemudian, Rico merasa lebih bahagia dan puas dengan hubungan persahabatannya dengan Lia. Lia pun lebih berhati-hati dalam memberikan perhatian pada sahabatnya ini, sehingga Rico merasa dihargai dan diperhatikan.


Ketika Putra meluangkan waktu untuk berkumpul bersama mereka, Rico tidak lagi merasa cemburu atau terabaikan. Dia tahu bahwa hubungan persahabatan mereka bertiga adalah sesuatu yang unik dan berharga, dan setiap orang memiliki peran penting dalam kehidupan masing-masing.


__ADS_2