
Di sebuah sudut kafe kecil yang penuh cahaya dan keceriaan, Lia berdiri di atas panggung dengan mikrofon di tangan. Wajahnya yang ceria dan mata yang berbinar-binar menangkap perhatian setiap orang di ruangan itu. Ia adalah seorang pelawak berbakat yang sukses membuat penonton tertawa dengan rutinitas komedinya yang segar dan cerdas.
Putra, seorang fotografer muda yang baru saja pindah ke kota ini, tak sengaja melewati kafe tersebut. Ia melihat keramaian di dalam dan memutuskan untuk masuk sejenak. Begitu ia masuk, pandangannya tertuju pada panggung di mana Lia sedang tampil. Putra tertarik oleh senyuman dan energi yang memancar dari wanita itu. Ia tak bisa melepaskan pandangannya dari Lia yang tampil begitu percaya diri.
Saat Lia meluncurkan lelucon demi lelucon, seluruh ruangan diisi dengan tawa riuh. Ia memiliki cara unik untuk mengamati hal-hal sehari-hari dan mengubahnya menjadi komedi yang menghibur. Tawa penonton, termasuk Putra, begitu menghantui dan tak terbendung.
Putra terkesan dengan bakat Lia dan menyadari bahwa ada sesuatu yang istimewa tentang wanita itu. Ia tidak hanya memiliki kecerdasan dalam menulis materi komedinya, tetapi juga mampu menyampaikannya dengan sangat percaya diri dan menarik. Putra takjub dengan kemampuannya untuk membuat orang lain tertawa dan merasa bahagia.
Semakin lama Putra mengamati Lia, semakin ia terpesona oleh pesona wanita itu. Putra memutuskan untuk mengambil fotonya, meski ia bukanlah fotografer acara. Tanpa Lia sadari, Putra mengambil beberapa foto dari panggung, mencoba menangkap ekspresi dan gerakan cantiknya dalam momen-momen yang berbeda.
Lia melanjutkan pertunjukannya dengan pesona dan keceriaan yang tak tertandingi. Saat panggungnya berakhir, ia mendapat tepuk tangan meriah dari penonton. Putra ikut-ikutan memberi tepuk tangan, walau di dalam hatinya, ia terpesona oleh kesederhanaan Lia yang menerima apresiasi dari penonton.
Setelah panggung selesai, Lia turun dari panggung dan berbaur dengan pengunjung lainnya. Ia ramah dan dengan sukacita menerima pujian dan obrolan dari beberapa penonton yang ingin mengenalnya lebih dekat.
Putra duduk di sudut kafe, mencoba mengamati Lia dari kejauhan. Hati Putra berdebar tak menentu, ia merasa canggung dan tak tahu harus berbuat apa. Ia tak pernah terpikir untuk menyapa Lia atau bahkan mendekatinya. Ia hanya ingin melihat Lia dari kejauhan, merasakan kehangatan dari senyumnya dan mendengar suara lembutnya.
Lia tiba-tiba melihat sosok Putra yang duduk di sudut kafe. Ia merasa ada sesuatu yang istimewa tentang pria itu. Meskipun tidak kenal, Lia bisa merasakan kehadiran Putra yang membuat hatinya berbunga-bunga. Ia merasa canggung namun penasaran tentang siapa pria itu sebenarnya.
Saat Lia berjalan ke arahnya, Putra berusaha mempertahankan ketenangannya. Ia berharap Lia tidak menyadari bahwa ia telah memotretnya tanpa izin. Tapi mata Lia yang penuh keceriaan menatapnya dengan ramah.
"Hei, terima kasih sudah datang menonton pertunjukanku," sapa Lia dengan hangat.
Putra tersenyum kikuk, "Tidak ada masalah, kau sangat menghibur. Aku senang bisa melihat penampilanmu."
Lia tersenyum, mengangguk menghargai, "Terima kasih banyak! Aku senang kau menyukainya."
__ADS_1
Keduanya terdiam sejenak, merasa canggung di hadapan satu sama lain. Tapi suasana canggung itu tidak bertahan lama karena senyum Lia yang menghangatkan hati dan tatapan Putra yang tak bisa melepaskan pandangan dari kecantikan wanita di hadapannya.
Putra merasa seperti ada sesuatu yang menarik dalam senyuman Lia. Hatinya berdebar sangat hebat,ia merasa seperti berteriak dalam keheningan. Ketika Lia tersenyum padanya, dunianya berhenti sejenak. Putra terpesona oleh tatapan matanya yang penuh kehangatan, seakan menembus jiwa dan membaca setiap perasaannya.
"Sudah lama kau tinggal di kota ini?" tanya Lia mencoba memecah keheningan.
Putra menggelengkan kepala, "Aku baru pindah beberapa bulan lalu. Kota ini benar-benar menarik."
Lia tertarik dengan kehidupan Putra yang baru, "Bagaimana kesan pertamamu tentang kota ini?"
Putra tersenyum, "Kota ini memiliki pesonanya sendiri, dan aku merasa nyaman di sini. Apalagi, ada hal-hal menarik yang bisa kutangkap dalam foto-foto."
Lia tertarik dengan pekerjaan Putra sebagai fotografer, "Kamu suka fotografi?"
Putra mengangguk, "Iya, fotografi adalah cara bagiku untuk mengekspresikan perasaanku dan melihat dunia dengan perspektif yang berbeda."
"Lia, sepertinya aku harus pergi sekarang," ucap Putra dengan sedikit penyesalan.
Lia tersenyum pahit, "Tentu saja, aku mengerti. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu."
Putra merasa seperti ada sesuatu yang tertahan di dadanya, tapi ia tidak tahu bagaimana harus mengungkapkannya. Ia hanya mengangguk dan memberikan senyuman terakhir sebelum berjalan menuju pintu.
Sesampai di luar kafe, Putra berhenti sejenak. Ia merasa seperti ada sesuatu yang terlewatkan, dan ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan hati yang berdebar, ia mengambil kembali kameranya dan melangkah kembali ke dalam kafe.
Lia yang terkejut melihat Putra kembali, bertanya dengan cemas, "Apakah ada sesuatu yang terlupa?"
__ADS_1
Putra menggelengkan kepala, "Tidak, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu."
Lia menatapnya dengan perasaan campur aduk, "Apa itu?"
Putra meraih nafas dalam-dalam, "Aku ingin mengabadikan momen ini." Ia menunjukkan kamera yang dipegangnya. "Bisakah aku mengambil fotomu?"
Lia tersenyum lebar, "Tentu, mengapa tidak?" Ia berdiri tegak di depan panggung dan memberikan senyuman terbaiknya.
Putra dengan cermat mengatur sudut dan pencahayaan untuk mendapatkan foto yang sempurna. Namun, saat ia menekan tombol, tangan Putra gemetar karena perasaan yang tak pernah dirasakannya sebelumnya. Ia merasa begitu kagum oleh kecantikan dan keceriaan wanita di hadapannya.
Tak terasa, Putra mengambil beberapa foto Lia, dari berbagai sudut dan ekspresi. Tawa dan senyum Lia semakin menghipnotisnya. Setiap momen yang tertangkap oleh kamera itu, seolah memperkuat perasaannya yang tumbuh menjadi lebih dalam.
Setelah selesai mengambil foto, Putra menatap Lia dengan tulus, "Kau cantik, Lia."
Lia terkejut dan tersipu malu, "Terima kasih, tapi aku hanyalah seorang pelawak."
Putra tersenyum, "Bagiku, kau adalah wanita yang menawan dengan senyum yang tak tertandingi."
Lia merasa hatinya berbunga-bunga mendengar kata-kata dari Putra. Ia merasa begitu spesial dan dihargai. Dalam keheningan singkat, kedua hati mereka berbicara, dan tanpa mereka sadari, benih-benih cinta telah ditanam dalam pertemuan pertama mereka.
Setelah momen yang menyenangkan itu, Putra merasa sulit untuk pergi lagi. Mereka terus berbicara dan saling mengenal satu sama lain lebih dalam. Ketika waktu sudah terlalu larut, mereka sepakat untuk bertemu lagi di waktu yang lain.
Ketika Putra berjalan menuju pintu untuk pergi, Lia dengan ragu-ragu bertanya, "Apakah kita bisa bertemu lagi?"
Putra tersenyum hangat, "Tentu saja, aku akan senang untuk bertemu lagi."
__ADS_1
Dengan hati yang riang, mereka berdua mengucapkan selamat tinggal dan masing-masing kembali ke kehidupan mereka. Tetapi di dalam hati mereka, keduanya merasakan getaran dari pertemuan pertama mereka. Dan di bawah bintang-bintang yang bersinar di langit malam.