
Setiap kali Putra melihat Lia, hatinya selalu berdebar kencang. Sejak pertama kali mereka bertemu di kafe tempat Lia bekerja, Putra merasa ada sesuatu yang istimewa pada wanita itu. Lia adalah sosok yang ceria, penuh kehangatan, dan selalu menyambut setiap pelanggan dengan senyuman tulusnya.
Putra adalah seorang fotografer berbakat yang sering ditugaskan untuk mengabadikan momen-momen bahagia dalam acara pernikahan. Setiap kali dia datang ke kafe untuk melihat Lia, hatinya selalu berbunga-bunga. Dia ingin lebih dekat dengan Lia, tapi dia merasa ragu dan takut mengungkapkan perasaannya.
Mereka sering bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing. Lia adalah seorang komedian yang bercita-cita menjadi yang terbaik di seluruh dunia, sedangkan Putra adalah seorang fotografer yang ingin mengabadikan momen-momen indah dalam hidup orang lain.
Namun, di balik senyuman ceria yang selalu dilontarkan Lia, Putra bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh wanita itu. Dia melihat bahwa ada sedikit kesedihan yang tersembunyi di balik senyuman Lia.
Suatu hari, saat Putra mengunjungi kafe untuk melihat Lia, dia melihat Lia duduk sendiri di sudut kafe dengan tatapan kosong. Lia mencoba menyembunyikan perasaannya, tapi Putra bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang mengganggu hatinya.
Putra menghampiri Lia dengan hati-hati, "Hai, apa yang terjadi? Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
Lia tersenyum, mencoba menyembunyikan perasaannya, "Oh, tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lelah."
Putra tahu bahwa senyuman Lia itu palsu. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu. Dia duduk di samping Lia, memberinya kehangatan dengan kehadirannya.
"Lia, kita sudah kenal cukup lama, jadi aku tahu ketika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu. Kamu bisa bercerita padaku," ucap Putra dengan lembut.
Lia merasa haru dengan perhatian Putra. Dia merasa bahwa dia bisa percaya padanya. "Sebenarnya, ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranku. Aku merasa sedih karena akhir-akhir ini banyak pertunjukan yang tidak berjalan sesuai harapan. Aku merasa seperti impianku untuk menjadi komedian terbesar semakin jauh," kata Lia dengan jujur.
Putra mendengarkan dengan penuh perhatian. Dia bisa merasakan kepedihan di balik senyuman palsu Lia. Dia ingin memberinya dukungan dan kekuatan untuk menghadapi kesulitan tersebut.
"Lia, kamu adalah komedian yang luar biasa. Aku percaya pada bakatmu dan impianmu. Jangan biarkan kegagalan sementara menghentikanmu. Teruslah berjuang dan percayalah pada dirimu sendiri," ucap Putra dengan penuh keyakinan.
Lia merasa hangat dengan kata-kata Putra. Dia merasa beruntung memiliki teman seperti Putra yang selalu memberinya dukungan dan semangat.
Setelah pertemuan itu, Putra merasa semakin dekat dengan Lia. Dia merasa ingin lebih banyak lagi menghabiskan waktu bersama wanita itu. Setiap kali dia datang ke kafe, dia selalu mencari-cari kehadiran Lia.
Sementara itu, perasaan Putra untuk Lia semakin tumbuh lebih dari sekadar teman. Setiap kali mereka berdua bertukar pandang atau tersenyum satu sama lain, hati Putra berdegup kencang. Dia merasa ada sesuatu yang khusus pada wanita itu.
Namun, Putra masih merasa ragu untuk mengungkapkan perasaannya. Dia tidak ingin mengganggu persahabatannya dengan Lia. Dia takut bahwa jika dia mengungkapkan perasaannya, Lia akan menjauh darinya.
__ADS_1
Suatu malam, saat Putra sedang mengedit foto-foto pernikahan di kediamannya, dia merasa terusik oleh perasaannya yang semakin dalam terhadap Lia. Dia merasa bahwa dia tidak bisa terus menyimpan perasaannya sendiri.
Putra mengambil keputusan untuk bertemu dengan Suci, sahabat Lia yang juga menjadi teman baiknya. Dia merasa bahwa Suci mungkin bisa memberikan nasihat dan panduan untuk membantunya menghadapi perasaannya terhadap Lia.
Setelah memberitahu Suci tentang perasaannya, Suci tersenyum dan menggenggam tangan Putra. "Putra, aku bisa melihat sejak lama bahwa kamu menyukai Lia lebih dari sekadar teman. Kamu harus berani mengungkapkan perasaanmu," ucap Suci dengan tulus.
Putra merasa lega karena Suci mendukung keputusannya untuk mengungkapkan perasaannya pada Lia. Namun, dia masih merasa gugup dan takut dengan kemungkinan hasil yang bisa terjadi.
Keesokan harinya, Putra mengunjungi kafe tempat Lia bekerja. Dia memutuskan bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Dia tidak ingin menyimpan perasaannya lagi, karena dia tahu bahwa dia takkan bahagia jika tidak berani berjuang untuk cinta yang sesungguhnya.
Lia terlihat sibuk melayani pelanggan di kafe. Putra duduk di meja dan menunggu kesempatan untuk berbicara dengan Lia.
Saat Putra menghampiri Lia, dia berusaha tersenyum meski hatinya berdebar kencang. Dia ingin terlihat ceria, tapi dia tidak ingin menunjukkan perasaan campur aduk yang tengah menggelayuti hatinya.
"Lia, ada yang ingin kubicarakan denganmu," ucap Putra dengan suara lembut.
Lia mengangguk, menunjukkan bahwa dia mendengarkan dengan perhatian.
Lia menatap Putra dengan wajah penuh pertanyaan. "Apa yang kamu maksud, Putra?"
Putra memberanikan diri untuk melanjutkan, meskipun dia merasa canggung. "Aku merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan antara kita. Aku merasa ada perasaan yang tumbuh di dalam hatiku untukmu, Lia."
Lia terdiam sejenak, terkejut mendengar pengakuan Putra. Dia tidak pernah menduga bahwa Putra memiliki perasaan khusus padanya.
"Tapi, aku tahu bahwa kamu memiliki perasaan untuk Rico," kata Putra dengan suara lembut, tetapi dia tidak bisa menyembunyikan sedikit kekecewaan dalam suaranya.
Lia merasa terjepit dalam kebingungan. Dia merasa bersalah karena tidak bisa merasakan hal yang sama untuk Putra. Sebenarnya, dia menyukai Putra sebagai seorang teman, tapi hatinya selalu tertuju pada Rico.
"Putra, aku tidak tahu harus berkata apa. Aku menghargai perasaanmu, tapi aku sudah memiliki perasaan khusus untuk Rico," ucap Lia dengan tulus.
Putra tersenyum palsu, mencoba menyembunyikan kekecewaannya. "Tentu saja, aku mengerti. Tidak masalah, Lia. Aku senang bisa menjadi bagian dari kehidupanmu sebagai seorang teman."
__ADS_1
Lia merasa bersalah melihat senyuman palsu itu. Dia ingin Putra tahu betapa dia menghargai persahabatan mereka dan betapa dia berarti bagi Lia.
"Putra, aku benar-benar menghargai persahabatan kita. Kamu adalah teman yang luar biasa, dan aku tidak ingin kehilanganmu," ucap Lia dengan lembut.
Putra mencoba tersenyum lebih tulus kali ini. "Aku juga menghargai persahabatan kita, Lia. Aku tidak ingin kehilanganmu sebagai teman."
Meskipun Putra berusaha terlihat bahagia dengan situasi ini, hatinya sedih dan terluka. Dia mencoba menerima kenyataan bahwa perasaannya tidak berbalas, tapi dia juga harus berusaha menyembunyikan perasaannya agar tidak mengganggu persahabatan mereka.
Seiring berjalannya waktu, Putra terus berusaha menjaga hubungannya dengan Lia tetap baik. Dia merasa bahwa Lia adalah sosok yang berarti banyak baginya, bahkan sebagai seorang teman.
Namun, perasaannya terhadap Lia tidak pernah benar-benar hilang. Setiap kali dia melihat Lia bahagia bersama Rico, hatinya selalu terasa tertusuk rasa cemburu yang tak dapat dihindari.
Pada suatu hari, saat Putra sedang bekerja mengambil foto-foto pernikahan di luar kota, dia melihat Rico dan Lia berjalan berdua di taman. Mereka terlihat begitu bahagia, tersenyum dan tertawa bersama.
Putra merasa hatinya sakit melihat pemandangan itu. Dia merasa iri pada Rico karena dia adalah pria yang bisa membuat Lia bahagia, sedangkan dia sendiri hanya bisa menyembunyikan perasaannya dan menahan rasa cemburu.
Setelah pernikahan berakhir, Putra menghabiskan malamnya dalam kesendirian. Dia merasa hampa dan kesepian. Dia tahu bahwa dia harus berusaha melepaskan perasaannya, tapi hatinya tak bisa menahan rasa sakit yang tengah dia rasakan.
Keesokan harinya, Putra kembali ke kota dan mengunjungi kafe tempat Lia bekerja. Dia melihat Lia sedang melayani pelanggan dengan senyuman tulusnya, dan hatinya merasa hangat melihatnya.
Putra menyadari bahwa dia tidak bisa terus menyembunyikan perasaannya. Dia tahu bahwa dia harus berani menghadapi kenyataan dan berbicara jujur dengan Lia.
Dia menghampiri Lia dan meminta dia untuk berbicara di luar kafe. Lia mengangguk, melihat ekspresi serius di wajah Putra.
Mereka berdua duduk di bangku taman di depan kafe. Putra menarik napas dalam-dalam, mencari keberanian untuk mengungkapkan perasaannya sekali lagi.
"Lia, aku tahu bahwa perasaanku tidak berbalas. Aku sudah mencoba untuk menyembunyikannya dan tetap menjaga persahabatan kita, tapi rasanya semakin sulit bagiku," ucap Putra dengan jujur.
Lia menatap Putra dengan mata lembut. "Putra, aku menghargai perasaanmu dan kejujuranmu. Aku tahu bahwa ini bukanlah hal yang mudah bagimu," kata Lia dengan lembut.
Putra mengangguk, merasa lega karena Lia mengerti perasaannya. "Aku hanya ingin kamu tahu, Lia, bahwa aku akan selalu ada untukmu. Aku akan selalu menjadi teman yang mendukungmu dan bahagia melihatmu bahagia,"
__ADS_1
Lia tersenyum lembut, "Terima kasih"