
Hari ini adalah hari kelulusan bagi siswa SMA di seluruh Indonesia. Semua merayakan kelulusannya dengan penuh syukur dan euporia. Tak terkecuali Tami dan teman-temannya yang juga merayakan kelulusannya dengan penuh suka cita. Mereka saling berpelukan satu sama saling sebagai ungkapan kebahagian.
“Akhirnya selesai juga masa putih abu-abu kita” ucap Rio dengan wajah sumringah.
“Iya. Sebentar lagi nyandang status mahasiswa kita. Jadi gak sabar mau masuk kampus dan ngegebet kakak tingkat” ucap Cita dengan penuh semangat.
“Gayamu, emang udah tahu mau ambil jurusan apa dan kuliah dimana” celetuk rio sambil menoyor kepala Cita.
“Ya tau lah… aku bakal ambil jurusan ekonomi di kampus Biru” jawab cita dengan percaya diri.
Kampus Biru merupakan salah satu kampus swasta yang terkenal di Kota A. Mahasiswa yang kuliah disana sebagian besar merupakan mahasiswa dari golongan ‘beruang’. Maksudnya mahasiswa kalangan atas yang memiliki banyak uang untuk mereka buang.
Cita merupakan salah satu dari golongan ‘beruang’ tersebut karena keluarganya memiliki banyak bisnis yang bahkan tiap menit mengalirkan uang ke rekening keluarganya.
“Tami…. Kita kuliah di kampus yang sama ya” rengek Cita sambil memeluk Tami.
Namun Tami hanya tersenyum miris menanggapi rengekan Cita. Hal ini karena ia merasa sadar diri bahwa dirinya tak akan mampu untuk berkuliah disana. Jangankan untuk mendaftar, untuk menginjakkan kaki di area parker kampus tersebut saja ia tidak memiliki rasa percaya diri.
Bagaimana tidak, semua mahasiswa disana berpenampilan dengan gaya high style. Baju, sepatu, tas, kendaraan, ponsel bahkan aksesorisnya saja didapat dengan harga yang tidak masuk akal menurut Tami. Sementara ia hanyalah remahan rengginang yang sudah kena angin jika berada area kampus tersebut.
Lihat nanti Cit, aku saja belum tahu mau lanjut kuliah atau akan bekerja saja membantu keluargaku. Kau tahu kan aku sekolah disini saja karena beasiswa” sahut Tami sambil tersenyum miris.
“Jangan begitu, aku akan membantumu untuk mencari beasiswa disana. Jika dapat beasiswa kau bisa kuliah sambil bekerja. Kau harus kuliah agar bisa dapat pekerjaan dengan gaji layak. Dengan begitu keluargamu akan terbantu” jawab Cita memberi semangat pada Tami.
“Sudah jangan bersedih dulu. Kita rayakan kelulusan kita hari ini. Ayo makan di restoran X aku traktir kalian” ajak Rio bersemangat.
“Ayo….” Sambut Tami dan Cita dengan penuh semangat.
Tami, Cita dan Rio merupakan tiga sahabat. Tami dan Rio bersahabat sejak SMP. Namun ketika masuk di SMA mereka bertemu dengan Cita dan akhirnya mereka menjadi tiga sahabat.
--- - - -
“Assalamu’alaikum Ibu… Tami pulang” teriak Tami dari depan rumah.
“Wa’alaikumsalam… gimana nak? Apa kamu lulus?” tanya ibu Tami.
"Alhamdulillah lulus bu. Nilainya juga bagus. Bisa Tami gunakan untuk cari beasiswa bu biar bisa kuliah” jawab Tami dengan penuh semangat.
“Maafkan ibu nak karena tidak bisa menjadi orang tua yang baik buat kamu. Coba saja kamu tinggal sama ayah kamu, pasti kamu tidak susah begini” keluh ibu Tami.
“Tidak apa bu, Tami bahagia kok hidup sama ibu” jawab Tami sambil memeluk ibunya.
__ADS_1
Flashback On
Sebenarnya waktu masih kecil Tami dan keluarganya hidup berkecukupan. Bahkan bisa dibilang ia berasal dari keluarga kaya. Ayahnya merupakan pemilik beberapa mall, restoran besar dan hotel berbintang yang ada di beberapa kota di Indonesia. Namun karena banyaknya saingan yang ingin menghancurkannya melalui keluarganya, ibu Tami akhirnya pergi meninggalkan ayahnya dengan membawa Tami kecil.
Hal itu dilakukan karena beberapa kali Tami kecil hampir diculik dan dicelakai oleh orang-orang suruhan saingan ayahnya. Ibu Tami sangat mengkhawatirkan keselamatan Tami kecil. Saat membawa Tami kabur dari rumah, ibu Tami hanya menuliskan surat untuk suaminya yang ditinggalkannya diatas tempat tidur Tami. Ia meminta agar sang suami membuat berita kematian anak dan istrinya yang terjadi di luar negeri. Hal ini demi keselamatan anaknya.
Setelah ditinggalkan anak dan istrinya, ayah Tami pun membuat berita tersebut sesuai dengan keinginan sang istri. Setelah berita kematian tersebut, situasi sudah kembali tenang. Tidak ada lagi terror yang datang ke rumah besar itu.
Namun ayah Tami benar-benar kehilangan kabar tentang anak dan istrinya. Ibu Tami tidak pernah menghubungi suaminya barang sekali pun. Itu karena ia masih takut jika saja ada mata-mata dari saingan suaminya.
Bahkan ibu Tami sempat mengasingkan diri di sebuah dengan selama beberapa tahun. Hingga akkhirnya Tami masuk SMP Tami berinisiatif membawa Tami ke kota agar mendapatkan pendidikan yang layak.
Flashback off.
--- ---- ----- ----
Sepulangnya dari sekolah, Cita bermaksud menemui ayahnya untuk bisa membantu Tami mendapatkan beasiswa di kampus yang akan ia masuki nanti.
Tok tok tok
“Ayah…. Boleh Cita masuk” tanya Cita di depan ruang kerja ayahnya.
“Ada apa? Hmmm? Tanya ayah Cita kepada putri bungsunya itu.
“Ayah… apa bisa bantu Tami agar dapat beasiswa di kampus biru? Kasihan Tami yah, dia anak pintar dan selalu dapat nilai bagus. Tapi karna biaya ia terancam tidak bisa kuliah yah” pinta Cita dengan menunjukkan kesedihannya.
“Kamu serius mau ayah bantu dia” tanya ayah Cita dengan menatap wajah putrinya dengan serius.
“Serius ayah, cita dah anggap Tami saudara yah. Apa ayah tidak lihat kalau Cita sudah berubah sejak berteman dengan Rio dan Tami” tanya Cita.
Sebelum berteman dengan Tami dan Rio, Cita merupakan anak yang suka menghamburkan uang. Ia bahkan suka melawan jika dinasehati keluarganya. Bahkan di sekolah pun ia sering menjadi siswa yang bermasalah karena suka bolos dengan teman-temannya. Karena itulah ayahnya memindahkan Cita dari sekolah elitnya ke sekolah biasa-biasa saja. Disanalah ia bertemu dengan Rio dan Tami yang akhirnya sedikit demi sedikit mampu mengubah sifat Cita menjadi lebih baik.
“Baiklah ayah akan berusaha untuk membantu. Tapi jika ia tidak mendapatkan beasiswa dari kampus itu, kantor ayah yang akan memberikannya beasiswa dengan catatan dia harus sambil bekerja di kantor ayah” jawab ayah Cita yang sontak membuat Cita memeluk ayahnya dengan gembira.
“Terima kasih ayah. Besok Cita akan ke rumah Tami memberikan kabar gembira ini” ucap Cita sambil pamit keluar dari ruangan kerja sang ayah.
“Jangan lupa suruh dia membawa berkas yang dibutuhkan ke ayah” pinta Bagas.
“Baik yah, besok Cita ke rumah Tami dan berkasnya Cita bawa pulang. Makasih ayah” ucap Cita sambil memeluk ayahnya.
Setelah selesai merayu ayahnya Cita pun kembali ke kamarnya.
__ADS_1
--- --- --- ---
Keesokan harinya Cita mengunjungi rumah Tami untuk memberikan kabar mengenai beasiswanya.
“Assalamu’alaikum bu, Taminya ada” tanya Cita sambil menyalami ibu tami yang sedang berada di halaman rumah.
“Wa’alaikumsalam Cita,, ada di dalam. Masuk saja tadi tami lagi di dapur” jawab ibu Tami.
“Baik bu Cita masuk dulu” ucap Cita sambil berjalan masuk ke rumah Tami.
Cita dan Rio memang sering bermain ke rumah Tami. Bahkan ibu Tami memperlakukan merekaseperti anak sendiri. Meskipun rumah Tami tergolong kecil kalau dibandingkan dengan rumah Cinta, namun ia merasa nyaman berada di rumah Tami. Bahkan tak jarang Cita menginap di rumah Tami sambil belajar.
“Sedang masak Tam?” tanya Cita saat melihat Tami sedang asik di depan kompor. Tami yang kaget sontak saja menoleh kebelakang melihaat siapa yang datang.
“Kamu Cit, kapan datang? Ini ibu tadi buat kue, aku cuma angkat saja. Mau coba?” tanya Tami yang menghampiri Cita sambil membawakan kue buatannya.
Cita mengambil kue yang baru saja matang tersebut.
“Barusan. Resep baru ibu ya?” tanya Cita sambil mengunyah kue yang dijawab anggukan oleh Tami.
“Seperti biasa selalu enak” jawab Cita sambil mengacungkan dua jempolnya ke arah Tami.
Ibu Tami memang pandai memasak. Selama ini ia menghasilkan uang dengan bekerja di sebuah bakery dan terkadang membuat kue jika ada pesanan. Tak jarang di akhirnya pekan Tami membantu ibunya lembur membuat kue jika pesanan sedang ramai.
“Oh ya Tam, kamu serius mau kuliahkan kalau dapat beasiswa?” tanya Cita yang masih terus mengunyah kue.
“Kalau bisa kenapa enggak” jawab Tami.
“Semalam aku sudah bicara dengan ayah, dan katanya ayah akan bantu kamu. Bahkan kalau kamu tidak dapat beasiswa di kampus biru, perusahaan ayah yang akan memberikan beasiswa padamu. Tapi jika beasiswa perusahaan kamu harus sambil bekerja di perusahaan, karena beasiswa itu diperuntukkan bagi karyawan disana” jelas Cita.
“Kamu Serius Cit?” tanya Tami bersemangat yang dijawab anggukan oleh Cinta. Sontak saja Tami langsung memeluk sahabatnya itu.
“Terimakasih Cita. Aku sungguh berterima kasih sama kamu” ucap Tami meneteskan air mata haru.
“Udahlah jangan berlebihan Tam, justru aku yang berterima kasih karena kamu dan Rio sudah mengubahku jadi anak yang lebih baik. Oh ya aku minta berkas kamu ya untuk beasiswa itu nanti aku kasih ke ayah” ucap Cita membalas pelukan Tami.
“Hmmm…. Aku siapkan dulu” Tami bangun dari duduknya dan masuk ke kamar untuk mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan.
Sepulangnya dari rumah Tami, Cita menemui ayahnya untuk menyerahkan berkas Tami kepada ayahnya. Ia sangat berharap agar Tami bisa mendapatkan beasiswa di kampus Biru tempat ia kuliah nanti agar ia bisa sama-sama dengan Tami. Bahkan ia meminta Tami untuk mengambil jurusan yang sama dengannya.
__ADS_1