Cinta Me

Cinta Me
6. Kampus


__ADS_3

Hari ini adalah hari senin. Setelah weekend yang cukup melelahkan baginya, Tami kembali melanjutkan aktifitasnya sebagai mahasiswa dikampus Biru. Ia berangkat menuju kampusnya dengan menggunakan bus seperti biasanya. Setibanya dihalte kampus, Tami berjalan menuju ruang kuliahnya. Hari ini jam kuliah mundur setengah jam karena dosennya memberi kabar kepada mahasiswa melalui grup aplikasi chatting bahwa ia akan terlambat 30 menit.


Saat Tami sedang berjalan menuju ruangannya, ia dikagetkan dengan kedua sahabatnya yang sudah menunggu kedatangan Tami. Mereka siap memberondong Tami dengan berbagai pertanyaan tentang kejadian di mall kemarin. Melihat ekspresi kesal yang dibuat-buat oleh kedua sahabatnya itu, Tami pun hanya nyengir kuda.


“Cepat ceritakan. Jangan ada yang ditutup\-tutupi” Cita membuka suaranya yang disambut anggukan oleh Rio dengan tangan bersedekap di dadanya.


“Jangan di jalan seperti ini. Ayo kita duduk di taman” ajak Tami pada kedua sahabatnya itu. Mereka pun mengikuti Tami berjalan menuju taman dan mencari tempat duduk yang aman dan sepi agar mereka bisa lebih leluasa berbicara.


“Apa benar pria itu calon suamimu?” tanya Rio yang memulai sesi introgasinya.


“Sejak kapan kau menjalin hubungan dengannya. Kenapa tidak cerita? Apa kau sudah tidak menganggap kami lagi?” lanjut Cita kemudian.


Huufftt.... Tami menghela nafas panjang dan diam sejenak sebelum memulai ceritanya kepada kedua sahabatnya itu.


Tami pun menceritakan semua yang berhubungan dengan Satria kepada kedua sahabatnya itu tanpa ada yang ditutupinya. Kedua sahabatnya itu hanya bisa melongo saja mendengarkan cerita Tami.


Selesai bercerita, Tami dan Cita pun berjalan menuju kelasnya karena perkuliahan sebentar lagi akan segera dimulai. Sementara Rio yang mengambil jurusan berbeda menuju kantin untuk bertemu dengan teman-temannya.


--- --- --- ----


Saat ini Satria sedang dalam perjalanan menuju kampus Tami. Ia bermaksud ingin menemui Tami di kampusnya. Entah kenapa setelah acara makan siang itu ia terus saja memikirkan Tami.


Setelah orang suruhannya memberikan informasi mengenai tempat kuliah Tami, ia pun akhirnya bergegas menuju kampus Biru, tempat Tami berkuliah.


Ia mengendarai mobilnya sambil mendengarkan lagu-lagu cinta yang menunjukkan ciri khas orang yang sedang jatuh cinta. Bahkan ia pun sesekali sambil bernyanyi sambil tersenyum membayangkan wajah Tami. Jatuh cinta memang membuat orang terlihat gila. Bahkan hanya memikirkan saja bisa membuat senyum-senyum sendiri.


Tak berapa lama, tibalah Satria didepan kampus Biru. Setelah memarkirkan mobilnya, Satria turun dan berjalan menuju ruang kuliah Tami. Karena ia merupakan alumni kampus ini, tentu saja mencari ruang kuliah Tami bukanlah hal yang sulit baginya.


Kehadiran Satria di kampus Biru membuat suasana menjadi riuh. Mahasiswi yang melihat kedatangan pemuda tampan yang kharismatik itu menjadi sangat histeris.


Ya Tuhan tampan sekali


kalau dosen ganteng gitu, semangat banget gue kuliah

__ADS_1


Abang senyum dong


Mirip artis Korea gaes


Dan..... Masih banyak lagi kalimat-kalimat absurd yang dikeluarkan oleh mahasiswi itu saat melihat Satria.


Selesai menarik perhatian hampir semua mahasiswi yang sedang berada di luar kelas, tibalah Satrian di depan ruang kuliah Tami. Ia masih berdiri menunggu kuliah Tami selesai. Namun keberadaannya mengusik konsentrasi mahasiswi yang sedang berada di dalam kelas, tak terkecuali Tami dan Cita.


"Calon suami kamu tuh" bisik Cita tepat ditelinga Tami.


"Calon suami halu" ralat Tami.


"Tapi ngapain dia kemari Tam? Kalian janjian?" Tanya Cita penasaran.


"Nggak. Mana ku tahu. Mungkin dia ada urusan sama Pak Arka" balas Tami.


Pak Arka merupakan dosen muda yang saat ini berada diruang kuliah Tami. Usianya lebih kurang dengan usia Satria. Tak heran jika Tami mengira bahwa Satria mungkin ada urusan dengan Arka. Walaupun sebenarnya Satria dan Arka memang berteman.


Karena melihat konsentrasi mahasiswa yang ada di ruangan sudah berada diluar ruangan, akhirnya Arka pun menutup kuliahnya. Kemudian ia menghampiri Satria yang sejak tadi berdiri sambil menebarkan senyumnya yang penuh pesona itu, yang sebenarnya membuat Arka merasa kesal.


"Siapa yang tebar pesona, aku kesini mau jemput kekasihku" jawab Satria dengan percaya diri.


Arka yang sudah lama berteman dengan Satria pun berdecih. Ia tentu saja tidak langsung percaya dengan ucapan Satria.


"Kekasih halu? Kita lihat saja nanti." Balas Arka dengan senyum mengejek.


"Terserah. Udah sana" Satria mendorong Arka dan mengibaskan tangannya pertanda mengusir Arka.


Setelah Arka keluar dari ruangan, mahasiswa pun membubarkan diri. Karena penasaran dengan Satria, sebgaian mahasiswi yang ada diruangan itu pun buru-buru beranjak dari tempat duduknya. Mereka berjalan antusias mendekati Satria hanya untuk melihatnya dari jarak dekat.


Tami dan Cita yang merasa tidak nyaman dengan situasi itu memilih tetap berada di ruangan sampai situasi sedikit sepi. Tak lama setelah Pak Arka keluar, Tami dikagetkan dengan kemunculan Satria dihadapannya.


"Kenapa nggak keluar? Aku nungguin kamu lho daritadi" ucap Satria dengan tatapan tajam ke arah Tami. Ia merasa sedikit kesal karena Tami tak kunjung keluar dari ruangannya.

__ADS_1


Mendengar perkataan Satria, Tami pun melihat keseluruh ruangan. Disana hanya tersisa ia dan Cita. Kemudian ia menunjuk jari telunjuknya ke arahnya sendir dengan maksud bertanya kepada Satria.


"Maksud anda? Saya? Tanya Tami lagi memastikan.


"Nggak usah bicara formal, panggil Satria aja" ucap Satria. Kemudian ia menarik tangan Tami agar mengikutinya keluar dari ruangan tersebut.


Tami yang ditarik oleh Satria pun menoleh ke arah Cita, namun sahabatnya itu hanya melambaikan tangan kepadanya tanpa ada maksud mencegah Satria. Padahal Tami berharap jika Cita menghentikan Satria agar tidak membawanya.


Satria pun terus memegang tangan Tami sambil berjalan menuju parkiran. Tanpa disadari oleh Tami, ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka. Sepasang anak manusia itu menatap Tami dan Satria dengan tatapan tak suka.


"Apa dia sekarang menjual dirinya kepada orang kaya itu?" Tanya wanita tersebut.


"Bukan urusanku lagi. Aku pun tak peduli apa yang dilakukanya" jawab pria itu datar namun pandangannya masih tetap mengikuti Tami dan Satria.


'Bagaimana bisa ia mendapatkan pria yang sempurna seperti itu. Ku kira dia masih belum bisa move on dari ku'. Aku harus mendekatinya lagi.' batin Andre


Flashback on


Saat Tami dibangku Kelas 2 SMA, tepatnya lebih kurang 2 tahun yang lalu, Tami menjalin hubungan dengan Andre, ketua tim basket di sekolahnya. Andre merupakan salah satu cowok populer di sekolahnya. Karena selain tampan ia juga jago main basket, bahkan juga merupakan ketua OSIS di sekolahnya itu.


Tami dan Andre telah menjadi sepasang kekasih beberapa bulan, namun hubungan mereka harus berakhir karena Della teman satu kelasnya menjadi perusak hubungan mereka.


Entah sejak kapan Andre dan Della menjalin hubungan, Tami tak pernah tahu itu. Karena Tami mengetahui hubungan mereka secara tidak sengaja saat ia tiba-tiba datang ke rumah Andre. Hari itu Andre izin sekolah dengan alasan sakit. Sementara Della juga tidak masuk dengan alasan ada acara keluarga.


Sepulang sekolah Tami pun berinisiatif menjenguk Andre dirumahnya, namun siapa sangka ia mendapati Andre sedang berciuman panas dengan Della.


Melihat adegan yang tak biasa tersebut, Tami merasa hancur. Ia tak dapat membendung air matanya. Ia menangis saat itu juga mendapati penghianatan Andre. Della yang memang tak pernah menyukai Tami pun akhirnya buka suara.


"Kau sudah lihat bukan. Kami sudah menjalin hubungan dibelakang mu selama dua bulan terakhir" ucap Della dengan angkuhnya.


"Andre??" Tami melihat Andre minta penjelasan dengan keadaan masih menangis. Namun Andre hanya diam dan memandang Tami dengan tatapan kasian dan sedikit senyuman. Namun ia tak berbicara satu kata pun.


Karena Andre tak memberikan penjelasan apapun, akhirnya Tami memutuskan hubungan mereka saat itu juga. Ia benar-benar merasa sakit hati dengan kelakuan Andre yang berselingkuh dibelakang. Karena selama ini mereka baik-baik saja, bahkan tidak pernah selisih pendapat sekalipun.

__ADS_1


Flashback off


__ADS_2