
Satria membukakan pintu mobilnya dan meminta Tami untuk masuk. Tami yang masih bingung pun hanya menuruti Satria. Kemudian Satria pun masuk ke dalam mobil dan duduk dibelakang kemudi. Ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kau mau membawaku kemana? Bukankah urusan kita sudah selesai?" tanya Tami sambil menatap Satria yang sedang fokus kejalan.
"Kencan" jawab Satria santai.
Satu kata yang keluar dari mulut Satria itu sukses membuat Tami melongo. Beberapa saat kemudian setelah tersadar ia berteriak.
"Apa!!! Stop!!!" teriak Tami yang membuat Satria kaget dan mengerem secara mendadak. Beruntung jalanan saat itu dalam kondisi lengang.
huufftt... Satria menghela nafasnya.
"Kenapa berteriak? Apa kau sangat terkejut karena pria tampan sepertiku mau mengajakmu kencan?" tanya Satria dengan sangat percaya dirinya.
"Kau!! Kau pikir kau siapa bisa berbuat seenaknya kepadaku hah? Kau tiba-tiba datang ke kampusku, menyeret ku keluar dari kampus, dan sekarang kau tiba-tiba bilang kita kencan. Kau pikir kau siapa hah?!! Teriak Tami dengan nafas tersengal-sengal. Tami merasa sangat kesal karena Satria memperlakukannya sesuka hatinya.
Satria yang sedari tadi memperhatikan bibir mungil tapi saat ia mengomel, tiba-tiba saja ia mencium bibir Tami dan ********** dengan lembut. Tami yang masih shock dengan perbuatan Satria hanya bengong. Ciuman Satria tersebut berlangsung beberapa saat.
"Bernafaslah" ucap Satria lembut sambil menyentuh pundak Tami.
"Kau....kur" ucapan Tami terhenti karena langsung dipotong oleh Satria.
"Mulai saat ini kau adalah kekasihku. Aku tidak terima penolakan. Jika kau menolakku, aku bisa melakukan lebih dari ciuman yang mungkin akan membuatmu menyesal" ancam Satria.
'Buset dah, ni orang nembak cewek kok pakek ngancem ya' batin Tami.
Mendengar ucapan Satria yang sepertinya serius itu, tentu saja Tami merasa takut. Ia takut jika Satria akan melakukan hal yang dikatakannya tersebut. Karena tidak punya pilihan, akhirnya Tami pun hanya mengangguk sebagai tanda setuju. Satria pun tersenyum senang dengan jawaban Tami. Ia mengacak rambut Tami pelan.
"Baiklah sekarang kau hanya perlu duduk manis dan kita akan pergi berkencan" Satria kemudian menjalankan mobilnya.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Mereka masih hanyut dalam pikiran masing-masing. Satria yang saat ini sedang merasa bahagia, sedangkan Tami yang masih merasa bingung dengan kejadian tiba-tiba itu.
Sebenarnya Tami masih merasa takut untuk membuka hatinya kembali setelah pengkhianatan yang diterimanya beberapa tahun lalu.
Tak lama kemudian, mobil Satria tiba disebuah mall. Ia mengajak Tami masuk ke sebuah restoran untuk makan siang.
"Kita makan siang dulu. Kau pasti laparkan?" tanya Satria.
"Baiklah. Tapi kenapa makan disini?" tanya Tami.
"Kau tidak suka? Kalau kau tidak suka dan tidak nyaman kita bisa cari restoran lain" ajak Satria.
"Bukan begitu. Hanya saja aku tidak biasa makan ditempat mahal seperti ini. Pemborosan" ucap Tami sambil nyengir kuda.
"Mulai sekarang kau harus membiasakan diri karena aku akan sering mengajakmu ke tempat seperti ini" ucap Satria yang hanya dibalas senyuman oleh Tami.
--- ---- -----
Setelah selesai makan, Satria mengajak Tami untuk jalan-jalan. Sesekali Satria menyuruh Tami untuk memilih barang yang disukainya, namun Tami menolak. Tami masih merasa ini adalah situasi yang sangat canggung. Melihat Tami yang masih merasa canggung, Satria menggandeng tangan Tami dan membawanya ke toko sepatu. Ia meminta Tami untuk duduk di sofa yang ada di toko tersebut. Satria memanggil salah seorang karyawan toko tersebut dan memintanya untuk memilih beberapa sepatu yang cocok untuk Tami.
__ADS_1
"Ini sepatunya nona. Silahkan di coba" ucap karyawan tersebut sambil membawa beberapa sepatu.
"Saya gak mau beli mbak. Lagian kok banyak banget" ucap Tami menolak
"Udah coba saja. Aku yang membelinya untuk mu. Jangan menolak" perintah Satria.
Tami pun kemudian mencoba beberapa sepatu yang dibawa oleh karyawan itu. Sebenarnya Tami menyukai semuanya, bahkan semuanya pas di kakinya. Hanya saja melihat banroll harganya membuat matanya melotot. Karena harga satu sepatu saja mencapai 3 jutaan. Tentu saja bagi Tami yang biasa membeli sepatu dengan harga diskon 200 ribuan, sepatu tersebut sangat mahal.
'Ya ampun, harga satu sepatu disini bisa untuk beli selusin sepatu yang biasa aku pakai' batin Tami.
"Bagaimana? Ada yang kau suka? Tanya Satria. Sebenarnya ia sudah memperhatikan wajah Tami saat ia mencoba sepatu tersebut. Satria tahu kalau sebenarnya Tami menyukainya, hanya saja dia ingin Tami memilih sendiri.
"Tidak. Sepertinya tidak da yang cocok denganku" ucap Tami sambil menggelengkan kepalanya.
"Benarkah?" Tanya Satria penuh selidik.
"Hmmm" jawab Tami.
'Bukan gak cocok, tapi jiwa miskinku meronta bang' batin Tami.
"Baiklah. Tunggu disini sebentar" ucap Satria seraya berlalu meninggalkan Tami.
Setelah Satria pergi, Tami berdiri dan melihat-lihat sepatu yang ada di toko tersebut. Saat ia sedang melihat-lihat, tiba-tiba saja ada suara yang mengagetkannya.
"Wah wah... Orang miskin ngapain masuk ke toko mahal seperti ini? Mau mencuri?" Sinis wanita tersebut yang ternyata adalah Della.
Mendengar ucapan Della tersebut, Tami hendak berlalu meninggalkan mereka. Namun tangannya ditahan oleh Della. Andre yang melihat itu pun hanya tersenyum mengejek.
"Mau kemana? Takut ketahuan kalau kau mencuri" ucap Della dengan suara keras sehingga menarik perhatian beberapa orang pengunjung.
"Jaga bicaramu dan jangan sembarangan menuduh" ucap Tami kesal.
Sebenarnya Tami merasa heran kenapa Della selalu tak menyukainya. Padahal Della memiliki segalanya. Ia berasal dari keluarga kaya. Sangat berbanding dengan Tami. Tapi Della sepertinya selalu merasa iri dengam Tami. Entah apa yang membuatnya seperti itu, Tami pun tak mengerti.
Melihat keributan tersebut, beberapa orang security datang menghampiri mereka.
"Maaf ada apa ini ribut-ribut?" Tanya salah seorang security itu.
"Ini pak, si miskin ini ketahuan ingin mencuri. Lebih baik bawa saja dia ke pos pengamanan" ucap Della memprovokasi.
"Aku tidak mencuri" kata Tami membela diri.
"Kami berdua saksinya" ucap Della lagi menunjuk dirinya dan Andre dengan jari telunjuknya.
"Lebih baik dijelaskan di pos saja" ucap security tersebut.
Saat beberapa security tersebut hendak menyentuh tangan Tami untuk membawanya ke pos, Satria datang menghampirinya.
"Ada apa ini? Kenapa kalian ingin membawanya?" Tanya Satria dengan nada sedikit tinggi.
__ADS_1
"Nona ini bilang kalau dia ingin mencuri di toko ini tuan. Jadi kami ingin memeriksanya di pos" kata security tersebut memberikan penjelasan.
"Jika kalian berani menyentuhnya sedikit saja, ku patahkan tangan kalian" bentak Satria.
"Dan kau (menunjuk Della), apa kau punya bukti mengatakan jika kekasihku mencuri disini? Aku bahkan bisa membelikan isi toko ini untuknya jika dia mau" ucap Satria tepat didepan muka Della.
Della yang merasa terpojok pun akhirnya pergi meninggalkan mereka yang masih berkerumun dengan wajah kesal. Tentu saja kepergiannya mendapat sorakan yang orang-orang yang ada disana.
Satria pun menarik tangan Tami keluar dari toko itu.
"Kenapa kau tadi diam saja diperlakukan seperti itu?" Tanya Satria lembut.
"Aku hanya tidak ingin berdebat dan memperkeruh suasana" ucap Tami.
"Lain kali jangan seperti itu. Kau harus membela dirimu sendiri. Aku akan selalu melindungimu" ucap Satria yang membuat Tami tersenyum.
Setelah keluar dari toko sepatu tersebut, mereka pun memutuskan untuk pulang karena hari sudah sore dan Tami hari bekerja. Satria mengantar Tami pulang kerumahnya dan kemudian ia pun langsung pulang.
-------- -------
Tami masuk ke kamarnya dan membersihkan diri. Setelah selesai ia pun duduk untuk menonton tv karena masih ada waktu 2 jam lagi sebelum ia masuk kerja. Saat Tami sedang asyik nonton drama kesukaannya, ada yang mengetuk pintu.
Tok tok tok
Tami pun membuka pintu dan melihat siapa yang datang.
"Paket mbak" ucap orang tersebut yang ternyata adalah kurir yang ditugaskan untuk mengantar barang.
"Maaf pak tapi saya tidak memesan atau membeli apapun" jawab Tami ramah.
"Tapi ini alamtnua disini mbak. Atas nama mbak Cintami bukan?" Tanya orang tersebut.
"Benar itu nama saya" kata Tami heran
"Kalau begitu tolong diterima mbak' ucap orang itu menyodorkan beberapa barang kepada Tami dan meninggalkannya.
"Siapa yang beli ini sih. Bagaimana kalau isinya bom" gumam Tami.
Walaupun ada rasa takut, tapi rasa penasaran Tami lebih besar dari rasa takutnya. Akhirnya ia pun memutuskan untuk membuka pket tersebut. Setelah membukanya, Tami sangat terkejut. Karena isi paket tersebut merupakan semua sepatu yang ia coba di toko tadi. Didalam salah satu kotak sepatu, Tami menemukan sepucuk surat.
'Tolong diterima. Ini semua hadiah untukmu karena telah membuatku bahagia'
Kekasihmu Satria
Tami pun tersenyum membaca surat tersebut. Ia membawa semua barang-barang itu masuk ke dalam rumah. Kemudian ia memfoto barang tersebut dan mengirim foto tersebut ke akun chat Satria.
'Terima kasih ' isi pesan yang disertai foto tersebut.
Setelah selesai mengirimkan pesan pada Satria, Tami pun bersiap karena ia akan berangkat kerja di restoran.
__ADS_1