
Sepulangnya mengantar Tami ke rumahnya, Satria pergi menemui temannya di sebuah Club. Ia dan temannya biasa menghabiskan waktu di club jika ada waktu senggang atau saat sedag merasa penat.
Saat diperjalanan dari rumah Tami, Satria menghubungi Wilson, asisten sekaligus sahabatnya itu. Ia mengajak Wilson bertemu di club milik Brian yang juga merupakan temannya.
Setibanya di club ternama tersebut, ia sudah ditunggu oleh kedua temannya tersebut. Ia menghampiri temannya yang duduk di meja barista dan memesan minuman kesukaannya. Setelah meneguk minumannya, ia menghela nafas berat.
“Ada apa? Apa ada masalah serius? Tanya Wilson yang sudah sangat paham dengan sifat Satria. Bahkan melihat ekspresi dari Satria saja Wilson bisa mengetahui apakah teman sekaligus boss nya itu sedang merasa bahagia, marah, atau pun sedang ada masalah. Saat ini Wilson melihat bawa ekspresi Satria sedang kesal.
“Kalian ingat si ulat bulu. Yang dulu satu sekolah dengan kita?” tanya Satria menatap kedua temannya.
Brian tergelak mendengar kata ulat bulu. Ia ingat bagaimana wanita itu selalu mengganggu mereka hanya untuk mendapatkan perhatian Satria. Bahkan ia tak segan-segan merusak hubungan Satria dengan kekasihnya kala itu. Ia tak ingin jika ada wanita lain yang dekat dengan Satria.
“Kenapa tiba\-tiba kau menyebutnya? Apa kau bertemu dengannya? Kalian reuni tanpa mengajak kami” tanya Wilson.
Mendengar perkataan Wilson, sontak saja membuat Satria melemparkan cemilan yang ada dihadapannya ke wajah Wilson.
“Papa ingin menjodohkan kami” ucap Satria yang membuat kedua temannya yang sedang meneguk minum itu langsung menyemburkan minumannya secara bersamaan.
“Apa kau bilang!” tanya keduanya secara bersamaan dan sedikit berteriak.
“Apa kalian tuli” Satria membalas pertanyaan kedua temannya dengan sedikit berteriak juga. Kedua temannya yang melihat Satria semakin kesal itu pun hanya menyegir kuda.
“Lalu kau setuju?” kali ini Brian membuka suaranya.
__ADS_1
“Apa kau gila? Tentu saja aku menolaknya. Tapi papa memaksaku untuk ikut makan siang yang sudah di atur itu” jawab Satria.
“Lalu? Aku yakin kau bukan anak baik yang semudah itu menuruti kehendak papamu” kata Wilson yang memang sangat memahami sahabatnya itu.
“Aku? Tentu saja aku datang. Dengan membawa seorang gadis tentunya” jawab Satria santai dan tersenyum mengingaat wajah Tami.
“Kau membawa wanita malam untuk kau bawa ke hadapan keluargamu?” tanya Brian lagi. Mereka sangat tahu jika Satria tidak memiliki kekasih saat ini. Karena terkadang saat membutuhkan sentuhan, Satria sering ‘memakai’ wanita yang ada di club Brian tersebut.
“Jaga bicaramu. Yang aku bawa ini adalah gadis baik\-baik. Meskipun umurnya cukup jauh dari ku, tapi… aku sangat yakin jika ia wanita baik\-baik” jelas Satria.
Mendengar ucapan Satria, kedua temannya bertepuk tangan sambil tertawa. Ini karena sudah sangat lama mereka tak mendengar Satria memuji seorang gadis. Karena dimatanya tak ada yang istimewa dari wanita yang membuatnya harus mengeluarkan pujian yang sangat membosankan.
“Belum. Kami baru dua kali bertemu” jawab Satria lagi sambil menyesap minumannya.
“Belum? Artinya kau ada keinginan untuk menjalin hubungan dengannya? Wah wah ini adalah kabar luar biasa” ucap Brian.
Satria hanya tersenyum mendengar ucapan Brian. Dalam hati ia berharap agar suatu saat ia benar-benar bisa menjalin hubungan dengan wanita itu.
--- --- --- ---
Setelah bertemu dengan teman-temannya, Satria pulang ke apartemennya. Sejak bekerja, ia memilih untuk tinggal sendiri demi kenyamanannya. Setelah selesai membersihkan diri, Satria merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
__ADS_1
Ia membayangkan wajah Tami yang hari ini terlihat lebih cantik dari pada pertemuan pertamanya di restoran. Tentu saja, karena saat itu Tami bahkan hanya menggunakan pakaian pelayan restoran.
Satria tersenyum sendiri membayangkan wajah Tami. Setelah acara makan siang keluarga itu, ia merasakan ada yang aneh dengan hatinya. Bahkan hanya dengan membayangkan wajah Tami saja membuatnya merasa bahagia.
‘*Apakah ini cinta pada pandangan kedua?’ tanya Satria pada dirinya sendiri*.
Ia kemudian mengambil kertas di meja samping tempat tidurnya. Kertas memo yang ia bawa dari mobilnya tadi. Disana tercatat nomor telpon dan nomor rekening Tami. Ia ingat bahwa ia belum memberikan sesuatu sebagai ucapan terima kasih pada Tami karena telah membantunya tadi.
Akhirnya ia pun membuka akun mobile banking-nya. Kemudian ia mengetik nomor rekening yang ditulis Tami tadi dan ia mengetikkan nominal sejumlah 20 juta. Jumlah yang menurutnya masih sedikit, namun terbilang cukup pantas sebagai ucapan terima kasih kepada seseorang.
Setelah selesai melakukan transaksi m-banking-nya tersebut, Satria pun kembali mengetikkan nomor telpon yang tertera di kertas tersebut. Kemudian ia melakukan panggilan telpon dengan pemilik nomor tersebut.
Tuuut….tuuuttt….tuttttt
………
“Apa benar ini dengan Tami?”
……….
“Ini Satria. Aku sudah mentransfer uang ke rekening kamu. Itu sebagai ucapan terima kasihku karena kau sudah membantuku hari ini”
………..
“Jangan menolak. Ambillah, itu hak mu. Jika kau menolak mungkin besok aku akan datang kerumah mu untuk melamarmu sebagai ucapan terima kasihku” ucap Satria dengan sedikit tersenyum.
……….
Tiba-tiba sambungan telpon tersebut terputus. Satria menggenggam ponselnya sambil tersenyum. Ia berharap ke depannya bisa benar-benar menjadikan Tami kekasihnya. Karena sepertinya ia mulai menyukai Tami pada pandangan keduanya.
Satria berencana akan melakukan pendekatan dengan Tami. Ia pun ingin mencari tahu lebih banyak hal tentang Tami. Kemudian ia menghubungi seseorang untuk mencari informasi tentang Tami.
“Halo. Coba kau cari informasi tentang Tami. Dia bekerja di restoran X. Alamatnya di xxxx. Kalau perlu ikuti dia agar bisa tau tentang dia” perintahnya pada seseorang diseberang telpon.
__ADS_1
Setelah memberikan perintah tersebut, Satria pun mematikan telponnya. Ia berharap beberapa hari ke depan ia sudah bisa mendapatkan informasi lebih jelas tentang Tami.