Cinta Me

Cinta Me
4. Bertemu Kembali


__ADS_3

Setelah selesai acara makan malam yang cukup menegangkan tersebut, Tami pulang ke rumahnya diantar oleh Satria. Sebelumnya ia telah menghubungi sahabatnya memberitahukan bahwa ia pulang duluan bersama Satria.


Satria mengantarkan Tami pulang dengan menggunakan mobil mewahnya. Sepanjang perjalanan hanya ada sepi yang menemani mmereka di dalam mobil tersebut. Setelah lumayan lama berdiam diri, akhirnya Satria berbicara kepada Tami.


“Terima kasih dan maaf” ucap Satria sambil melirik Tami.


Tami yang mendengar kata maaf dari mulut Satria pun menjadi bingung. Pasalnya ia masih belum mengerti dengan semua kejadian hari ini.


“Untuk apa?” tanya Tami sambil melihat ke arah Satria yang masih focus mengemudi.


“Untuk semua yang terjadi hari ini. Maaf membuatmu tak bingung dan tak nyaman dengan kejadian hari ini, dan terima kasih karena telah membantuku bebas dari ulat bulu itu” terang Satria sambil tersenyum.


“Ulat bulu?” tanya Tami lagi.


“Ya. Syifa. Anak teman papaku. Sebenarnya aku tahu kalau orangtuaku dan temannya itu berniat akan menjodohkanku dan Syifa. Awalnya aku hanya akan datang sendirian dan akan pergi setelah beberapa saat. Namun beruntun saat masuk di mall aku bertemu denganmu. Saat itulah muncul ide untuk mengajak seorang wanita di acara itu. Sehingga aku tidak perlu bersama dengannya saat makan siang tadi” jelas Satria yang membuat Tami menganggukan kepalanya tanda bahwa ia mengerti.


“Berikan aku nomor ponsel dan nomor rekeningmu” pinta Satria.


“Untuk apa?” tanya Tami lagi.


“Berikan saja. Mana Tahu suatu saat aku membutuhkan bantuanmu lagi” ucapnya dengan nada sedikit memaksa.


 


Tami pun mengambil kertas memo pulpen yang ada di dashboard mobil Satria, kemudian ia mencatat nomor ponsel dan nomor rekeningnya dikertas memo tersebut.


Tak lama kemudian mobil yang dikendarai Satria tiba didepan sebuah rumah yang sangat sederhana.


“Benar ini rumahmu?” tanya Satria yang dijawab anggukan oleh Tami.


“Apa anda mau mampir? Tanya Tami yang basa basi menawarkan Satria untuk mampir ke rumahnya.


“Tidak. Aku masih ada urusan lain. Mungkin lain waktu” ucapnya pada Tami.


‘*Lain waktu? Memangnya kau berharap kita bertemu kembali?’ batin Tami*.


“Terima kasih karena telah mengantarku pulang. Maaf merepotkan” ucap Tami setelah turun dari mobil. Setelah itu mobil Satria pun melaju meninggalkan rumah Tami.


---- ---- ----- -----


Tami berjalan memasuki halaman rumahnya. Namun ia merasa bingung karena melihat ada mobil sedan berwarna metalik parker di halaman rumahnya.

__ADS_1


‘*Siapa ya? Perasaan tadi Cita tidak pakai mobil seperti ini. Apa tadi dia beli mobil baru?’ batin Tami*


Ia mengira bahwa itu adalah mobil Cita. Karena beberapa tahun terakhir hanya ada satu orang yang datang ke rumahnya dengan menggunakan mobil, yaitu Cita sahabatnya.


“Assalamu’alaikum bu. Tami pulang” ucap Tami. Namun ia terkejut karena melihat ada seseorang yang sedang duduk di ruang tamu bersama ibunya.


“Wa’alaikumsalam. Sini nak” ucap ibu Tami sambil membawa Tami duduk di sofa.


Tami duduk dengan wajah bingungnya melihat ada seorang pria paruh baya itu. Ia pun kemudian memberanikan diri membuka suaranya untuk bertanya.


“Maaf tuan. Bukankah tuan kemarin yang direstoran? Tanya Tami yang dijawab dengan senyuman oleh prria tersebut.


“Akhirnya kita bertemu kembali” ucap pria itu dengan tersenyum. Ada binar kebahagian dimatanya saat melihat Tami.


“Kalian sudah saling kenal?” tanya ibu Tami.


“Tuan ini sering datang ke restoran tempat Tami kerja bu” jelas Tami.


“Jadi ini Cinta?” tanya pria paruh baya tersebut.


Tami yang mendengar perkataan orang tersebut pun mengerutkan dahinya. Ia masih merasa bingung karena orang tersebut menyebutnya dengan nama Cinta.


Cinta merupakan panggilan kecil Tami. Karena nama lengkapnya adalah Cintami Putri Wijaya, namun saat ia bersekolah, ibunya menyingkat namanya menjadi Cintami PW. Sejak bayi kedua orangtuanya memanggilnya dengan sebutan Cinta. Namun saat melarikan diri, ibunya mengganti panggilan tersebut dengan sebutan Tami untuk menghilangkan jejak.


“Kamu sungguh cantik nak. Boleh om peluk kamu?” tanya Prima yang dijawab anggukan oleh Tami.


Prima pun memeluk Tami dengan haru. Sementara Dian, ibu Tami meneteskan air mata harunya. Ia juga merasa sedih karena tidak mengenalkan Prima sebagai ayahnya pada Tami karena permintaan Prima sendiri. Ia takut jika tiba-tiba ia muncul dengan status sebagai ayahnya justru Tami tidak akan menerimanya.


Flashback on


Tok tok tok


“Permisi” suara ketukan pintu dan salam tersebut membuat Dian, ibu Tami yang sedang memasak di dapur berlari untuk membuka pintu.


“Siap……pa?” Dian sangat terkejut saat membuka pintu. Ia mendapati pria yang selama ini sangat dirindukannya berdiri tepat dihadapannya. Bertahun\-tahun sudah ia tak pernah melihat wajah pria tersebut.


“Boleh aku masuk?” tanya pria itu yang membuat Dian tersentak dari rasa terkejutnya.


“i…iya. Silahkan” pria tersebut masuk kedalam setelah dipersilahkan oleh sang tuan rumah.


Melihat pria tersebut duduk di hadapannya, Dian meneteskan air matanya. Air mata kerinduan yang selama ini terbendung, tumpah sudah saat melihat seseorang yang sudah ia tinggalkan begitu lama tiba-tiba muncul. Melihat Dian yang menangis, pria yang merupakan Prima, suami Dian yang sudah lama ia tinggalkan itupun berdiri dari duduknya dan memeluk Dian. Mereka menangis melepaskan kerinduan yang sudah bertahun-tahun terpendam.

__ADS_1


Setelah selesai menangis bersama, mereka pun melerai pelukan tersebut seraya saling menanyakan kabar masing-masing.


“Bagaimana kabar kamu? Anak kita? Kamu sangat pandai bersembunyi. Bertahun\-tahun aku mencari kalian” lirih Prima.


“Kami baik mas. Anak kita sudah dewasa sekarang. Ia sedang keluar bersama temannya” jelas ibu Tami.


“Apa boleh aku bertemu dengannya?” ibu Tami hanya mengangguk sambil tersenyum mendengar ucapan Prima.


“Tapi nanti tolong perkenalkan aku sebagai teman ayahnya. Aku takut ia tidak ingin bertemu denganku jika ia tahu aku ayahnya yang sudah menyia\-nyiakan kalian” pinta Prima.


“Ini bukan salahmu mas. Aku yang membawanya pergi demi keselamatannya” lirih ibu Tami.


“Aku mohon. Biarkan aku dekat dengannya dengan caraku” pinta Prima


 


Flashback off


---- ---- ---- -----


Setelah makan malam, Tami masuk ke kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya di kasur. Ia merasa cukup lelah hari ini. Setelah bertemu dengan Prima, entah mengapa ia merasa ada perasaan aneh di hatinya. Ia merasa seperti telah lama mengenal Prima.


Selama ini Tami tak pernah tahu wajah ayahnya karena ibunya tak pernah menunjukkan foto sang ayah. Saat Tami bertanya tentang ayahnya, ibunya selalu menangis dan menghindari pembicaraan. Hal tersebut membuat Tami merasa kasihan pada sang ibu. Hingga akhirnya ia saat duduk dibangku sekolah dasar kelas 4 ia sudah tak pernnah menannyakan perihal ayahnya.


Tami menghela nafas, dalam hati ia berharap jika suatu saat ia masih diberikan waktu untuk bertemu dengan ayahnya. Setiap malam ia selalu berdoa agar selalu diberikan umur panjang. Ia juga berharap agar ayahnya masih hidup dan masih dalam keadaan baik-baik saja.


Tiba-tiba ponselnya bergetar, tanda ada notifikasi yang masuk. Tami membuka ponselnya, dan matanya melotot melihat nominal uang yang masuk ke dalam rekeningnya. Ada seseorang yang mengirimkan uang senilai 20 juta ke rekeningnya. Bagi Tami uang segitu jumlah yang sangat besar.


Tak lama kemudian ponselnya kembali bergetar, ada nomor tak dikenal menghubunginya. Awalnya ia mengabaikan panggilan tersebut, tapi setelah panggilan kedua, ia pun menganggkat panggilan tersebut. Karena ia menganggap jika ada lebih dari satu kali panggilan, artinya itu suatu hal yang penting.


“Halo…”


…………


“Ia saya sendiri”


…………


“Apa? Itu terlalu banyak tuan. Sangat tidak sebanding” jawab Tami.


……………

__ADS_1


“Baiklah. Aku terima” Tami mematikan telponnya.


Lagi-lagi Tami menghela nafasnya berat. Ia masih syok dengan jumlah uang yang masuk ke rekeningnya tersebut. Dalam hatinya berkata jika apa yang dilakukannyansangat tidak sebanding dengan nominal uang tersebut. Bahkan jumlahnya hampir satu tahun gajinya bekerja di restoran. Tak lama kemudian, Tami pun tidur dengan masih memegang ponselnya.


__ADS_2