Cinta Me

Cinta Me
2. Beasiswa


__ADS_3

Di dalam ruang kerjanya, Bagus membuka map yang diberikan Cita padanya tadi. Ia memperhatikan ijazah dan transkrip nilai Tami. Ia sangat kagum melihat nilai Tami yang lulus dengan nilai nyaris sempurna. Kemudian ia beralih pada kartu keluarga Tami. Matanya melotot saat melihat nama yang tertera di kartu keluarga tersebut.


Di kartu keluarga tersebut tertera nama Prima Wijaya sebagai ayah Tami. Bagus yang merasa familiar dengan nama tersebut pun menghubungi Prima yang juga merupakan teman baiknya.


Ia mengambil ponselnya dan mencari nomor Prima Wijaya kemudian menghubunginya.


Tuuut..... tuttt....tuuuutt


"Halo Prima"


"Ada apa Gus? Apa ada hal penting hingga kau menghubungi ku secara pribadi seperti ini?


"Iya, aku ingin tanya apakah nama istrimu itu Dian Sasmita dan nama anakmu Cintami Putri Wijaya?"


"Benar? Ada apa? Apa kau ada mendengar kabar tentang mereka?"


"Ternyata benar dia orangnya. Ternyata anakku sudah lama berteman dengan anakmu. Mereka satu sekolah dan sekarang ingin kuliah ditempat yang sama. Hanya saja anakmu tak punya biaya sehingga anakku memintaku untuk membantunya mendapatkan beasiswa"


"Tolong katakan pada anakku bahwa ia mendapatkan beasiswa itu. Aku yang akan membayar semuanya. Tapi ku mohon jangan katakan padanya jika ayahnya yang membiayainya"


"Kenapa? Apa kau tak ingin bertemu mereka?"


"Bukan begitu. hanya saja aku belum siap jika nanti ia akan membenciku karena menganggap aku telah menelantarkan mereka. Ku mohon"


"Baiklah. Kita lakukan sesuai rencana"


----- ------ ------


Sebulan setelah kelulusan tersebut, akhirnya Tami bisa berkuliah di kampus biru. Tentu saja dengan beasiswa yang ia dapatkan dengan bantuan ayah Cita.


Setelah melewati masa perploncoan turun temurun yang notabene merupakan ritual sakral yang harus dilewati mahasiswa baru, akhirnya Tami dan teman seangkatannya berhasil menyandang gelar mahasiswa semester awal.


Meskipun berpenampilan sederhana, namun Tami tetap terlihat cantik. Beberapa pasang mata selalu meliriknya ketika ia berjalan. Ada yang kagum dan ada juga yang merasa iri dan kesal melihat penampilannya, terutama mahasiswi.


Bagaimana tidak, dengan menggunakan sneakers warna putih, celana jeans panjang dan atasan kemeja berwarna pink salem dengan rambut yang tergerai, ia terlihat cukup cantik dan menarik. Ditambah kulit putih dan lesung pipinya yang semakin membuat Tami terlihat sangat cantik. Apalagi barang-barang dikenakannya hanyalah barang biasa saja, bukan barang branded ataupun barang limited edition.


Tami berangkat ke kampusnya menggunakan bis umum. Setibanya di halte depan kampus, Tami berjalan dengan semangat untuk memulai kelas pertamanya.


“Tamii….tunggu” teriak Cita yang baru saja turun dari mobilnya. Tami yang mendengr suara Cita pun menoleh ke belakang.



“Hai Cit, wah kamu cantik banget” puji Tami yang melihat penampilan Cita yang super wow dengan barang\-barang brandednya tersebut.



“Kamu juga cantik. Ciee yang gak pakai seragam lagi” ledek Cita. Mereka pun tertawa sambil berjalan menuju kelas.


Setibanya di depan kelas, mereka berbaur dengan teman baru di kelasnya. Mereka mengikuti mata kuliah pertamanya dengan baik dan penuh semangat. Setelah dosen keluar dari kelas, mereka berjalan menuju kantin.


“Kita makan dulu menjelang mata kuliah berikutnya dua jam lagi” ajak Cita sambil duduk dikursi yang ada di kantin.


Mereka memesan makanan dan menikmatinya. Setelah selesai, mereka menuju taman kampus sambil menuju jam kuliah berikutnya.

__ADS_1


“Gimana kerjaan baru kamu di restoran itu” tanya Cita setibanya mereka taman kampus.



“Ya gitu deh. Karena aku kuliah jadi aku kebagian shift sore sampai malam. Untungnya managernya baik dan teman\-teman disana juga baik sama aku” jelas Tami.


--- --- --- ---


Sementara itu, di sebuah rumah yang cukup besar dan megah, seorang pria paruh baya sedang duduk di taman rumahnya sambil memandangi sebuah foto. Difoto tersebut terdapat seorang wanita cantik dan pria tampan serta seorang anak yang berusia 5 tahun dengan senyum bahagianya.


“Aku harap secepatnya kita bisa bersama lagi” gumamnya sambil menatap foto tersebut.


Pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu adalah Prima Wijaya, ayah Tami. Selama 13 tahun terakhir ia mencari keberadaan anak dan istrinya. Namun masih belum menemukan titik terang. Ia sempat mendapat kabar bahwa anak dan istrinya tinggal di sebuah desa kecil di kota X. namun setelah didatangi ternyata mereka telah pindah. Informasi kepindahan tersebut didapatnya dari tetangga ibu Tami di desa. Hanya saja mereka tidak tahu ibu Tami pindah ke kota mana. Sejak saat itu, informasi keberadaan keluarganya seperti menemui jalan buntu.


“Maaf tuan, sebentar lagi jam 5 sore anda ada meeting dengan Tuan Satria dari perusahaan Sapta Grup” ucap Andy asistennya.



“Baiklah, aku kan bersiap dulu. Persiapkan semuanya” titahnya pada Andy yang disambut anggukan oleh Andy.


--- --- ---


Waktu tepat menunjukkan pukul 3 sore. Tami yang sudah pulang 3 jam lalu dari kampusnya, bergegas untuk berangkat kerja di restoran.


“Bu Tami kerja dulu ya” pamitnya pada sang ibu sambil menyalami dan mencium punggung tangan ibunya.



“Kamu hati\-hati nak” jawab ibu Tami sambil mengelus kepala sang anak di jawab anggukan oleh Tami.


Setibanya di restoran, Tami langsung melaksanakan tugasnya sebagai pelayan di restoran tersebut.


“Tam, antar daftar menu ke ruang VIP no 3 ya” minta Rama yang merupakan manager di restoran tersebut.



“Baik pak” jawab Tami yang langsung mengambil buku menu dan membawanya menuju ruang VIP.


Rama merupakan manager di restoran tersebut. Usianya masih cukup muda yakni 23 tahun. Ia sudah bekerja disana selama 3 tahun terakhir. Restoran tempat Tami bekerja dulunya hanya sebuah kedai kecil. Namun karena pemilik kedai tersebut sakit keras akhirnya ia menjual kedai tersebut dengan seorang pengusaha yang tak lain adalah ayah Tami 3 tahun yang lalu.


Meskipun restoran tersebut dekat dengan rumahnya, namun Tami dan ibunya takpernah berkunjung ke sana. Bukan karena tak ingin, hanya saja mereka tak mampu untuk menikmati salah satu menu disana yang harganya per menunya cukup untuk makan mereka satu minggu.


“Pemisi… “sapa Tami dengan ramah kepada tamu yang ada di ruang VIP tersebut.


“Menunya tuan” lanjut Tami sambil menyodorkan buku tamu kepada masing\-masing orang yang ada diruangan VIP tersebut.


Saat para pelanggan yang ada di ruang VIP itu sedang memilih menunya, Tami memperhatikan mereka secara sekilas. Namun saat matanya memandang seorang pelanggan paruh baya, ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan perasaannya. Ia merasa mengenal orang tersebut. Diperhatikannya secara seksama sosok pria paruh baya itu. Diusianya yang sudah sangat matang itu, pria tersebut masih terlihat segar dan tampan.


‘*Aneh. Kenapa aku merasa seperti kenal dengan Tuan ini’ batinnya*.


Setelah mencatat pesanan ia pun pamit untuk menyiapkan pesanan pelanggan tersebut. Tak lama kemudian Tami kembali dengan membawa pesanan.


--- --- --- ---

__ADS_1


Setelah makan siang dan meeting selesai, Prima berbicara santai dengan Satria. Satria merupakan pemuda berusia 25 tahun. Ia menjabat seorang direktur di perusahan milik keluarganya.


“Satria, apa kamu sudah menikah” tanya Prima. Setelah urusan pekerjaan selesai, mereka menggunakan bahasa non formal.



“Belum om” jawabnya santai sambil meneguk minumannya.



“Kalau kekasih? Kamu punya? Karena sepertinya saat ada acara om tidak pernah melihat kamu membawa pasangan” tanyanya lagi.



“Dulu pernah punya om, tapi dua tahun lalu kami berpisah” jawab Satria dengan wajah sendunya. Terpancar kekecewaan mendalam dari sorot matanya.



“Maaf. Kapan\-kapan om kenalkan dengan putri. Om harap sampai saat itu tiba kamu masih sendiri” canda Prima.


Setelah selesai berbincang-bincang, mereka keluar dari ruangan tersebut. Satria yang berjalan sambil memainkan ponselnya tanpa sengaja menabrak seorang pelayan yang sedang membawa minuman. Sontak saja pelayan tersebut terjatuh dan minuman yang dibawanya tumpah ke baju Satria.


“Apa kau tidak punya mata?” bentak Satria hingga membuat pelanggan yang ada disana menatap mereka.



“Ma…maaf tuan… saya tidak sengaja” jawab Tami dengan wajah ketakutan.



“Sudahlah jangan diperpanja. Kasian anak ini” Prima menenangkan Satria dan sambil tersenyum dengan mata berbinar melihat kearah pelayan tersebut. Dengan wajah kesalnya Satria pun keluar dari restoran tersebut.


---- ---- ---- ----


Sepulangnya dari restoran tersebut, Prima masuk ke kamarnya dan melihat foto keluarganya.


“Kamu sangat cantik nak. Tapi ayah belum punya keberanian untuk memelukmu. Apa kalian hidup bahagia selama ini?” lirihnya.


Saat ia sedang terhanyut dengan foto yang dipegangnya, ponsel miliknya pun berbunyi.


Drrrt…..drrrrt….


“Bagaimana?”



………….



“Kerja bagus” Prima kemudian menutup telponnya. Setelah menerima telpon tersebut, Prima tersenyum. Tampak gurat kebahagian diwajahnya.


__ADS_1


‘*Aku akan membawa kalian kembali ke rumah ini lagi*’ gumamnya dalam hati.


__ADS_2